Another Winter

Another Winter
another Winter 14



Jalanan kembali menuju rumah tak seperti saat ia melangkah keluar beberapa saat yang lalu. Terpaan dingin dengan udara yang mampu menerbangkan guguran daun, Hyuji merasa raganya terasa lebih ringan dari daun yang terbawa angin.


Dengan manik sembab dan kuyu, dia menatap langit yang gelap dengan awan abu-abu tebal.


Ingin berteriak menyebut nama seseorang, berharap yang dimaksud mendengarkan. Tapi dia sudah tak sanggup lagi bersuara, rasanya sudah habis, turut terbawa angin yang masih menampar seraut menyedihkan miliknya.


"Sial!! " umpat Hyuji sambil meremas surai pendek selegam malam miliknya. Airmata juga tak mau berhenti menetes.


Hingga bangunan sederhana tempatnya dan John bermukim berada didepan mata. Membuka pagar dan melangkah masuk dengan terburu-buru karena mual yang membuat terganggu akhir-akhir ini kembali datang.


Hyuji mengusap perut ratanya. Semua yang ia makan hari ini terbuang tanpa sisa. Hyuji juga mulai mengingat jika dia belum mendapati tamu bulanan sejak satu bulan terakhir.


"Apa mungkin aku hamil? " terka Hyuji memperhatikan perut rata yang sedang diusapnya penuh afeksi. "Jika memang aku sedang mengandung, tidak mungkin aku meminta John meninggalkan diriku!"


Saat fikiran Hyuji bergulat dengan asumsi yang ada didalam kepala, ponsel Hyuji kembali meraung.


"Halo... "


"Hyu, ini aku Rommy! "


"Rommy? Darimana kau tau nomor ponselku?"


"Kak RyuJin yang memberikannya padaku! "


"Kakak? "


"Eung! Hyu, bisakah kita bertemu sebentar? "


Hyuji terdiam, dia tak mau mematik api untuk kedua kali. John pasti akan membuatnya tak bisa menghindari hukuman yang diberikan jika mereka bertemu.


"Maaf Rom, sepertinya tidak bisa! Suamiku sedang bekerja! "


"Sebentar saja! Aku ada didekat rumahmu! "


Mendadak rasa tak enak menyergah perasaan Hyuji. Tapi, apa salahnya, hanya bertemu dan tidak melakukan apapun. Dengan rasa ragu Hyuji meng-iyakan ajakan bertemu Rommy didepan rumah.


Hyuji keluar dan mendapati Rommy berada diluar pagar rumahnya. Hyuji takut jika John tiba-tiba muncul karena John bisa pulang kapan saja tanpa diduga. Rommy melambai dengan lesung pipi menghiasi kedua sisinya, diluar pagar rumah Hyuji.


"Ini untukmu! " menyodorkan sekantong buah kepada Hyuji.


"Terima kasih Rom! " ucap Hyuji saat menerimanya dari tangan Rommy.


Keduanya hanya berbincang bagaimana masa-masa mereka di bangku sekolah dulu.


***


John mempercepat langkahnya saat rintik hujan mulai turun. BibirJohn tak berhenti tersenyum kala dia sudah tak sabar melihat betapa bahagia Hyuji saat melihat ayam pedas kesukaan yang dibawanya nanti.


Namun langkah penuh semangat itu terhenti seketika, kala mendapati Hyuji sedang membalas lambaian seorang pria yang saat ini berjalan meninggalkan rumah mereka. Telapak besar John mengepal kuat, rahangnya mengeras, kilat matanya penuh emosi. Tak menunggu detik selanjutnya dia segera memacu langkah cepat bersamaan hujan yang turun cukup deras.


Hyuji yang barusaja masuk kedalam rumah dan hampir menutup pintu harus dikejutkan oleh John yang membuka pintu dengan keras hingga Hyuji terpelanting kebelakang. Kemudian mendorong pintu tersebut dengan wajah bersungut-sungut.


"John?! Apa yang kau lakukan?! " kesal Hyuji dengan nada sedikit meninggi.


Tak menjawab, John menarik paksa Hyuji kedalam dan menendang daun pintu itu hingga berdebum nyaring.


Hyuji terbeliak melihat kemarahan John, dugaannya pasti tidak salah. John baru saja melihat dia dan Rommy.


Hyuji tak tau harus memberikan jawaban atau tidak. Dan dia memilih diam. Kini, manik John tertuju ada sekantong buah yang masih ada pada genggaman Hyuji. John menampik kasar hingga kantong itu jatuh diatas lantai dan buah yang menggelinding berserahkan.


"Kau rela menemui seorang laki-laki yang bukan suamimu hanya demi sekantong buah apel?! Hyu, apa kau sudah bosan denganku? Bahkan aku bisa membelikanmu jauh lebih banyak dari pria itu! " cerca John dengan kedua manik bulat memerah karena emosi.


"Kau salah faham John dia hanya--"


"Diam!! "


John menarik Hyuji kasar, namun berhasil ditepis oleh Hyuji sebelum pria yang sedang dikuasai amarah itu berhasil membawanya masuk kedalam kamar.


"Aku mohon dengarkan aku dulu John! Dia hanya teman lama! "


"Teman? " John tersenyum sarkas.


"Aku mohon jangan memancing pertengkaran John! Aku sedang kacau hari ini! "


"Omong kosong! Lalu kau mengundang pria itu datang untuk menenangkan dirimu? Begitu?! " ucap John dengan nada tinggi.


Diluar, hujan semakin deras.


"Aku bisa menerima jika kau bertemu dengan seorang teman dengan izinku! Tapi tidak untuk sebuah perselingkuhan! "


"AKU TIDAK BERSELINGKUH JOHN! DIA HANYA TEMAN...!!! " Teriak Hyuji meyakinkan.


"Aku kecewa padamu Hyu! "


"John! Sudah aku katakan aku tidak menduakan dirimu! "


"F*CK!!! "


Suasana menjadi hening karena umpatan kasar John yang terlontar dengan sangat keras. Lengannya sudah meraih foto perkawinan mereka yang tergantung di dinding ruang tengah selama dua tahun dan menatap dengan sebuah seringaian.


"Aku rasa kita cukup sampai disini Hyu! "


John melempar foto berpigura itu kelantai hingga hancur. Hyuji hanya menatap kehancuran didepan matanya dalam diam.


"Kita akhiri semuanya! "


"John... " Panggil Hyuji dengan suara parau.


"Jangan sebut namaku! "


Hyuji tertunduk kecewa. Membiarkan airmatanya kembali menetes.


"Jadi ini akhir dari semuanya? Kau menginginkan aku pergi! "


"Kau sudah tau jawabannya! "


Hyuji tak percaya dunianya benar-benar hancur di hari yang sama. Tangis Hyuji pecah memenuhi ruangan.


"Baiklah! Aku akan pergi seperti yang pernah aku katakan padamu! Kau yang memintanya bukan?"


John tak bergeming, hanya mendongakkan wajahnya sambil menahan airmata, menatap langit-langit rumah yang terasa hampa. Lantas menyahut tajam. "Aku yang akan pergi!"[]