Another Winter

Another Winter
another Winter 36



"Seperti inikah rasanya dihancurkan oleh sebuah perasaan kak?" Suara Hyuji memecah keheningan, dengan tatapan lurus kedepan dan kosong bersama terpaan angin senja yang memberi sensasi sejuk saat menyapa kedua manik Hyuji yang sedang berpendar.


Sudah sebulan sejak perpisahannya dengan John berlalu , dan ditambah lagi, dia melihat berita tentang pertunangan John dan JiEun yang begitu mewah dari media, menata satu demi satu, dengan kokoh membangun sebuah rasa trauma pada diri Hyuji.


"Kenapa? Kau ingin menyerah?" tanya RyuJin spontan saat mendapati pendaran putus asa dari kedua manik saudarinya itu.


Hyuji menggeleng, ini adalah keputusan yang ia ambil saat itu. Setidaknya, dia sudah melepas salah satu beban yang bergelayut pada bahu ringkih yang sudah seperti ambruk dan jatuh tersungkur ketanah. "Tidak!" seru Hyuji memberikan respon.


Hyuji menengok dimana sang kakak duduk. Dia merasa sedikit tidak enak karena memberitahu keadaannya yang kacau, hingga tanpa berfikir panjang, RyuJin bertolak dari daegu ke Yangcheon begitu saja.


"Apa aku kembali saja ke daegu dan menceritakan semua pada ayah dan ibu?" tanya Hyuji tiba-tiba, membuat Jin menoleh seketika. "Bagaimanapun juga mereka akan tau kak! Jadi, sebelum mereka mendengar berita tentangku dari orang lain, sebaiknya aku mengatakan dulu!"


"Kakak akan membantumu bicara!"


"Tidak perlu! Sejauh ini, aku sudah merepotkan kakak! Jadi kali ini aku akan bicara sendiri pada mereka!"


"Kau yakin?"


Hyuji mengangguk dengan senyuman hangat yang muncul dari birainya.


"Lalu, bagaimana dengan rumah yang kau tinggali itu? Apa akan kau biarkan begitu saja?"


Hyuji diam sejenak untuk mencari jawaban yang tepat, lantas kembali mengedarkan pandangan pada semburat orange dilangit senja. "Aku akan meninggalkan rumah itu beserta semua kenangan didalamnya!" tutur Hyuji sendu, memutar pandangan pada bentangan taman luas yang letaknya cukup dekat dari rumah. Hyuji meremat kuat besi ayunan yang sedang menopang dirinya.


"Setelah itu, aku akan mencari tempat tinggal lain yang bisa membuatku hidup nyaman dan melupakan semua rasa berat dibahuku kak!" Hyuji menjeda sejenak guna menarik nafas agar paru-paru tetap bekerja dengan baik. "Aku akan membesarkan anakku disana!"


"Tinggal saja di tempatku!"


"Kak GiNa akan terusik dengan kehadiranku disana kak!"


"Tidak, aku akan memberi penjelasan pada—"


"Kak... Aku tidak ingin rumah tangga kakak bernasib sama sepertiku! Kakak berkunjung saja jika merindukanku! Akan tetapi, aku tidak akan tinggal satu atap dengan kakak dan menyulut konflik antara kakak dan kak GiNa!"


Hyuji tau betul tipikal sosok seorang GiNa. Wanita itu tidak mau diusik, apalagi diberi beban. Meskipun kakak iparnya itu termasuk orang yang baik.


"Lalu kau akan pergi kemana?"


"Busan!"


Seketika, kedua netra RyuJin membola sempurna. Jarak antara busan dan daegu sangat jauh, dan tidak mungkin ditempuh dalam waktu satu atau dua jam.


"Itu terlalu jauh Hyu! Kita juga tidak ada saudara disana! Bagaimana kalau kau melahirkan nanti?"


"Kak, aku akan pergi kesana setelah melahirkan! Mengapa kakak berasumsi tanpa bertanya dulu?" sanggah Hyuji cepat. "Aku punya teman yang tinggal disana! Aku akan meminta tolong dia untuk mencarikan aku tempat tinggal!"


"Kau yang bicaranya kurang jelas!"


Hyuji terkekeh, kakinya bertolak untuk membuat ayunan itu bergerak.


"Aku akan membantu ayah berkebun, atau menjual makanan sementara, untuk membantu perekonomian ayah selama aku tinggal disana! Tapi, jika temanku itu menemukan tempat tinggal lebih cepat, aku juga akan menempati rumah itu meskipun belum memasuki waktu persalinan! Aku tidak ingin merepotkan siapapun, termasuk ibu dan ayah."


Baiklah, RyuJin percaya karena Hyuji adalah sosok yang mandiri dan bertanggung jawab atas semua pilihan yang menjadi keputusannya.


"Hubungi kakak jika kau membutuhkan bantuan! Kakak akan membantu mengangkut barang-barangmu!"


"Tentu saja, aku tidak akan menolak untuk satu hal itu! Karena aku tidak memiliki kekuatan dan otot super untuk mengangkat barang-barang berat!"


RyuJin meraih pucuk kepala Hyuji dan mengacaknya hingga berantakan penuh kasih untuk menunjukkan kasih sayangnya pada sang adik. Masih dengan cara yang sama seperti yang ia lakukan saat usia mereka masih belasan tahun dan duduk di bangku sekolah dulu. Membuat Hyuji kesal adalah hal paling menyenangkan yang tak pernah tergantikan oleh apapun bagi seorang kakak bernama RyuJin.


Dua buah koper besar, satu tiket penerbangan menuju amerika terlampir diatas meja, dan sosok tampan berbalut kaos hitam bertulis balenciaga, kemeja kotak sebagai outer, celana boogie Jeans, rambut belah samping yang tertata rapi, dan juga sepatu boots hitam sedikit tinggi sedang duduk tenang diatas sofa sambil memainkan ponselnya.


"Kau yakin akan pergi John?"


"Tentu saja mam! Aku harus memperluas jaringan perusahaan kita yang ada disana!" jawab John tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari ponsel yang ada pada telapak besarnya.


"Padahal mama akan mempercepat rencana pernikahan—"


"Mam—" sahut John cepat, kedua lengannya terlempar diatas sofa, bola matanya berputar malas, jengah. "...Aku butuh waktu untuk kembali menjadi seorang suami!"


"Okey, okey! Mama tau! Bekerjalah yang rajin dan buat JiEun bahagia!" titah sang mama dengan penuh semangat sambil mengusap surai John.


John kembali menatap ponsel, mengingat bagaimana Hyuji menawarkan sesuatu yang sungguh tak ingin ia dengar.


Kau atau aku yang pergi dari sini?


Sebenarnya John tidak begitu tau maksud pertanyaan Hyuji, tapi sejak saat itu John menjadi tidak tenang hingga memutuskan untuk meninggalkan bumi kelahirannya.


"Kau tidak akan lama disana kan sayang?"


Suara sang ibu kembali menariknya dalam kesadaran, John kembali melihat sosok sang ibu yang begitu bersemangat. Mengedikkan bahu sekilas sebagai tanggapan, kemudian berucap. "Tidak tau! Dua, tidak! Tiga tahun mungkin waktu yang pas!"


"Apa? itu sangat lama John?"


"Mam, aku akan kembali setelah perusahaan berkembang dengan baik disana!"


John memang pekerja keras, dia tidak akan berhenti jika sesuatu yang di genggamnya ia rasa belum sempurna.


"Mama punya uang dan bisa mengunjungiku dan sekalian traveling kesana tanpa kesulitan!" tutur John dengan entengnya, mengerti betul proporsi sang ibu.


"Bukan masalah mama... "


John menelisik, jauh kedalam pupil mata sang ibu.


"—tapi JiEun! Dia akan bosan menunggu!"


Menghela nafas panjang, John menyandarkan kepalanya pada punggung sofa. Menatap langit-langit yang masih berwarna sama, abu-abu.


"Jika dia bosan, tolong katakan padanya, tinggalkan saja aku dan mencari pengganti—"


"Tidak, tidak! " sahut sang mama mengehentikan kalimat John yang hampir sempurna. "Mama hanya ingin berpesan padamu, jangan terjerumus pergaulan bebas disana! Jangan membawa wanita sembarangan keatas ranjang!"


"Mam, aku bukan pria seperti itu!" tegas John. "Aku akan tetap mencintai satu wanita didalam hatiku! Dan tidak berniat menggantikannya dengan siapapun!"[]




Update sambil revisi.


Terima kasih sudah membaca. Tinggalkan jejak jika berkenan.


Salam Hati Warna Ungu,


💜💜💜


Vizca.