Another Winter

Another Winter
another Winter 34



"Pakai saja dapur itu untuk memasak sesuatu yang kau inginkan! Pergunakan sesukamu! "


Hyuji masih ingat betul ucapan John beberapa menit yang lalu. Dan dia berniat hendak menggunakannya saat ini. membayangkan dirinya bisa memasak dengan leluasa di dapur seluas itu, membuatnya ingin memiliki satu saja tempat yang seperti itu juga.


Namun atensinya kembali terburai saat bel berdenting. Hyuji kira, John meninggalkan sesuatu hingga membuatnya kembali. Akan tetapi, sosok lain yang bukan John sedang berdiri didepan pintu berhasil Hyuji buka.


Seorang wanita. Menatap sama terkejutnya dengan Hyuji.


"Kau— mengapa bisa ada disini?"


Tak bisa memberikan jawaban apapun, Hyuji hanya bisa menggigit bibir bawahnya cemas. Ini salahnya memang, mengapa dia mau saja menuruti John untuk berada di apartemen itu. Padahal Hyuji tau, siapa saja bisa datang kesana. Entah itu ibu, ayah, atau orang lain yang dekat dengan John.


"K-kau sendiri mengapa kesini?" tanya Hyuji terbata. Memutar balik pertanyaan untuk presensi dihadapannya.


Wanita itu memutar bola mata jengah, kemudian tersenyum sarkas dan menautkan itu pada Hyuji.


"Aku heran, mengapa John masih membawamu ke apartemennya sedangkan kalian resmi berpisah hari ini! "


Benar, itu adalah kenyataan pahit yang harus ditelan Hyuji meskipun sulit. Wanita itu berhasil membuatnya kembali merutuki diri.


Tanpa sungkan, wanita itu berjalan masuk melewati Hyuji yang masih terpaku di sisi pintu yang terbuka.


Harum, itu yang Hyuji tangkap dengan Indra penghirup saat wanita itu berhasil melewati dirinya begitu saja.


"Aku kira, untuk alasan apa lagi John mengubah Pin pintu rumah! Ternyata itu karena dia menyembunyikan dirimu didalam apartemennya!"


Sungguh, ingin sekali Hyuji meremat bibir bergincu pink itu. Bagaimana bisa ucapan yang keluar dari bibirnya itu seolah membuat Hyuji merasa menjadi wanita simpanan saja. Kesal, Hyuji mengeratkan rahang. Kemudian berjalan masuk menyamakan langkah dengan wanita itu.


"JiEun-ssi??" dengan nada tajam, bertanya. "Aku berada disini karena John yang meminta!"


"Apa kau bodoh? Lalu mengapa kau menurutinya~" sarkasnya dengan seringai tajam.


Sekali lagi, tak ada jawaban yang terlintas diotak Hyuji. Sama sekali tidak ada.


"Mengapa kau tidak menolaknya saja dan pulang ketempatmu?!"


Sumpah demi apapun, Hyuji muak sekali mendengarnya. Jika saja dia baik-baik saja, dia benar-benar akan kembali ke Yangcheon setelah menerima surat putusan dari persidangan itu. Pupil Hyuji bergetar, tatapannya berubah sendu. "Katakan saja apa maksudmu datang kesini JiEun-ah!"


Wanita itu tertawa sedikit lantang saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Hyuji kepadanya. Dengan tatapan mengintimidasi, menautkan manik pada Hyuji tanpa berkedip, penuh dengki didalam sorot, JiEun kembali berucap. "Apa salah jika aku datang ke rumah calon suamiku?"


Hyuji melangkah mundur, menjauhkan diri dari sosok JiEun yang tiba-tiba membuat gejolak didalam perutnya kembali meledak-ledak. Mual sekali.


Tak menimpali, Hyuji meraih tas selempang hitam yang ia letakkan diatas sofa empuk dan mahal tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan manik berair, dia menatap JiEun yang masih memperhatikan, sekali lagi, kemudian pergi begitu saja. Muak. Sungguh memuakkan.


-


Sekotak besar ayam pedas menggantung pada telapak tangan kanan John. Sesekali dia mengangkat kotak itu sembari tersenyum, mengingat Hyuji pasti akan sangat senang dengan sesuatu yang dibawanya itu. Dia sengaja pulang lebih cepat karena sudah berjanji pada Hyuji akan mengantar dia kembali ke Yangcheon.


Menikmati ayam itu berdua, diatas meja makan dapur, saling menatap dan tertawa, tidak lupa obrolan santai yang menghangatkan suasana, semua itu muncul begitu menyenangkan didalam kepala John. Membuatnya sekali lagi mengulum senyum.


Menekan passcode rumah yang sebelumnya sudah ia ubah, John berhasil melangkah masuk dengan raut penuh kebahagiaan.


"Aku membawa sesuatu untukmu Hyu!" teriaknya lantang memenuhi seantero ruangan.


Namun apa yang ia dapatkan? Bukan sosok Hyuji, melainkan JiEun yang sedang berdiri mengedarkan pandangan pada sungai Han. John berubah dingin, semua senyum dan juga perasaan bahagianya sirna begitu saja.


"Kau sudah pulang John?"


Lengan John jatuh lemas. Manik rusanya datar memperhatikan JiEun yang berusaha memangkas jarak.


"Diam disana dan katakan dimana Hyuji!"


"Dia sudah pergi!" sahut JiEun dengan enteng.


"Bagaimana kau bisa masuk kesini Noona?"


"Oh! Tentu saja wanita itu yang membuka pintu untukku! Pasti dia pikir itu dirimu! Chh, dasar wanita tidak tau malu!"


Tanpa bicara apapun, John membalik badan hendak pergi dan meninggalkan JiEun, bermaksud untuk mengejar Hyuji. Akan tetapi langkahnya kembali terhenti saat JiEun kembali mengatakan sesuatu.


"Seharusnya kau berterima kasih padaku, karena aku sudah membuat wanita itu pergi dari sini John!"


Menoleh kearah bahu kanan, John tak begitu peduli. Namun ia masih menunggu JiEun melanjutkan kalimatnya.


"Mamamu akan kesini sebentar lagi! Dan jika kau pergi mengejarnya, aku akan beritau—"


"Katakan saja! Aku tidak peduli Noona!"


"Mamamu bilang dia akan membuat Hyuji pergi dari Yangcheon jika masih melihatmu menemuinya!"


Suara manis JiEun itu berhasil menghentikan langkah John sepenuhnya. JiEun dapat melihat bahu John merosot begitu saja, tertunduk seperti dikuasai frustasi. Kemudian John berbalik, mengamati JiEun yang terlihat terengah. John yakin JiEun sedang menahan amarah.


"Katakan! Sebenci apa kalian kepada Hyuji sampai memperlakukan dia seperti itu?"


Tak ada jawaban.


"Hyuji bahkan tidak pernah menyakiti atau menyentuh dirimu Noona?! Tapi kau terlalu jauh ikut membuat wanita sebaik Hyuji terpuruk!"


JiEun tidak tau harus menjawab apa. Bibirnya terkatup rapat.


"Bahkan, jika kau mengenal Hyuji lebih jauh, kau bisa menjadikan dia sahabat terbaikmu karena dia wanita tulus dan tidak mengharap pamrih! Apa kau menganggap Hyuji seperti barang yang lusuh dan pantas dibuang karena dia tidak setara dengan dirimu?"


"Kau tidak perlu tau alasanku membencinya!"


"Itu karena kau terlalu sibuk dengan egomu!"


"Kau salah! Aku membencinya karena dia telah merebutmu dariku!"


Merebut ya?


John mengedarkan pandangan, mengangguk paham. Menatap langit-langit rumah sbari merapatkan bibir.


"Bukankah dirimu yang tidak memberiku pilihan? Kau memilih pergi meninggalkan diriku demi dirimu sendiri! Dan saat ada Hyuji yang berhasil membawaku kembali, kau menganggap dia merebutku darimu?" tukas John dengan tautan mata yang tajam.


JiEun tercengang, nafasnya sudah tidak beraturan sebab emosi semakin membuncah dari dalam dirinya.


"Kau yang salah Noona! Hyuji tak pernah merebut diriku dari siapapun! Bahkan dari orang tuaku sekalipun! Aku memilihnya! Dia segalanya untukku! "[]




Astagah...Si John kadung Bucin—! 😌...


Terima kasih sudah membaca.


Salam Hati Warna Ungu,


💜💜💜


Vizca.