Another Winter

Another Winter
another Winter 50 (End)



Jika menilik kembali tentang makna sebuah perasaan seorang ayah, John mungkin memang masih pemula. Akan tetapi, dia bahkan bisa merasakan hatinya terasa nyeri saat melihat YeNa menangis dihadapan kedua matanya beberapa waktu lalu. Ia fikir, mungkin itu yang dirasakan ayah Hyuji beberapa tahun terakhir saat dirinya membuat Hyuji kecewa. John benar-benar menyesal.


Berakhir diatas meja bar kecil dirumah barunya, ditemani sebotol cairan semerah darah yang dituang dalam gelas tinggi. John tau dia tidak suka aroma apalagi rasa minuman tersebut. Akan tetapi, semua rasa yang kembali membelenggu hatinya membuat dia meneguk paksa Wine tersebut melewati tenggorokan.


Pandangannya lurus pada gelas yang sudah hampir kosong dihadapannya. Sensasi panas serta otak yang sudah tak mampu berfikir jernih, hanya pening yang semakin merangkak naik, dan juga rasa mual yang semakin menghujam lambung. John tergelak dalam tawanya seorang diri.


"Selamat!" kalimat rancauan pertama yang ia ucapkan setelah beberapa jam duduk terpaku diatas kursi tinggi di bar kecil tersebut. "Selamat karena kau sudah menghancurkan hidupmu sendiri John!"


John tergugu dalam lelap.


-


Kepala John terasa semakin berat, dan tanpa sadar dirinya sudah terbangun diruangan bernuansa abu-abu—warna kesukaannya. John mengerjap saat seseorang membuka gorden berwarna senada. Memicing guna menajamkan pandangan pada sosok yang sudah berani mengganggu kenyamanannya dibalik selimut tebal dimusim dingin.


"Ah, Son! Mengapa kau ganggu tidurku!" tutur John kesal sembari menggeliat dan menaikkan selimut guna menutup seluruh tubuhnya.


Tidak ada jawaban, hanya suara langkah yang terdengar mengetuk lantai, mengitari ranjang tempatnya berbaring hingga John bisa merasakan ranjang tersebut memantul lembut.


"Tinggalkan aku Son! Pergilah ke cafe untuk mengecek keadaan disana! Siapa tau kau bisa menemukan wanita cantik yang bisa kau nikahi dan kau ajak tidur bersama!" rancau John melantur dibalik selimut yang menutup seluruh bagian tubuhnya.


Tak ada sahutan apapun, ranjang kembali memantul dan suara pintu kamar terdengar mengatup lirih. John kembali menyamankan diri dan melanjutkan tidurnya karena masih merasakan efek dari wine yang ia teguk semalam.


Hingga John terpaksa kembali membuka maniknya saat ponsel diatas nakas bergetar kuat. Bahkan berdecak kesal karena merasa terganggu.


Telapak John terulur untuk meraba dan mencari keberadaan ponselnya, lalu mengusap display tanpa melihat nama yang tertera. Suara yang muncul sudah tidak asing di telinga John, bahkan dia sudah tau siapa yang bicara dari seberang.


"Ada apa kau menggangguku lagi Son?"


"Cafe anda sedang banyak pengunjung tuan! Apa—"


"Nanti saja, aku sedang tidak enak badan! Dan juga—Kau cerewet sekali hari ini Son? Kenapa mengatur dan mengganggu tidurku! menyebalkan!" cerca John sedikit membentak, kesal karena Son sudah mengganggu tidurnya dua kali, hari ini.


Son terdiam, mungkin dia sedang berfikir keras tentang ucapan yang dilontarkan oleh boss nya itu.


"Apa maksud anda tuan? Saya baru menghubungi anda sekarang, setelah mengecek keadaan cafe! Dan saya ingin melaporkan jika cafe anda sedang banyak pengunjung!" jelas dari seberang Son dengan intonasi yang masih kebingungan.


John terkesiap.


Tunggu.


Bukannya tadi pagi Son juga datang untuk membangunkannya? Setaunya, hanya Son yang hafal nomor passcode intercome rumah baru itu. Jika bukan Son, lalu-siapa?!


John bangkit dengan kasar sambil menyibak selimut. Dia mengakhiri panggilan Son sepihak. Tidak mungkin semua yang terjadi pagi ini hanya halusinasinya bukan?


John melirik pada gorden kamar, dan itu benar-benar terbuka. John melompat kasar dari atas kasur empuk, memungut pakaian yang berserahkan dilantai, dan berjalan cepat menuju pintu kamar untuk mengecek keadaan rumah yang dirasa tidak beres. Seseorang selain Son bisa masuk begitu saja? John khawatir orang bertujuan buruk sedang mengincar dirinya.


Langkah ragu berhasil ia tapakkan melewati koridor kamar untuk mencapai ruangan tengah, karena dari sana john mendengar sayup-sayup suara televisi menyala. Pemandangannya asing bukan seperti rumah yang ia tempati beberapa hari ini.


Akan tetapi, tak ada siapapun.


John meraih remot dan mematikan acara telenovela dari saluran luar negeri itu. John bergidik ngeri, bulu romannya sukses meremang.


Oh tidak, dia benar-benar tidak menyukai efek dari wine yang menimbulkan delusi semakin tidak masuk akal. Bahkan dia membuka gorden, dan lupa mematikan televisi—pikirnya.


Ini tidak baik. Ia rasa mulai malam ini harus berhenti meneguk minuman beraroma aneh itu.


John mengusap kasar tengkuk leher dan berbalik hendak membersihkan diri. Namun apa yang ada dihadapan kedua netranya sungguh membuat kakinya terpaku dalam kejut yang luar biasa. Bahkan kali ini ia rasa delusi itu semakin tidak masuk akal.


Maniknya merangkum sosok Hyuji yang berdiri dalam balutan bathrobe putih dengan gulungan handuk diatas kepala. John mengerjap. Menoleh kekanan dan kekiri guna memastikan, mencoba mengembalikan kesadaran.


John terlonjak dari tempatnya berdiri. Jantungnya seolah jatuh merosot hingga kedasar perut saat sesuatu yang dianggap sebuah bayangan itu mampu mengajaknya bicara. Sesaat kemudian, John menggaruk pelipis samar.


"Jatah sarapan milikmu dari hotel sudah dingin, jadi terserah kau mau makan dimana!" tutur Hyuji sambil membuka gulungan handuk di rambutnya, kemudian mengusuk surai basah itu dengan lembut dihadapan John.


Oh God. Syukurlah, itu hanya mimpi buruk.


John lupa, mereka berdua sedang berada diluar negeri untuk melakukan bulan madu seperti yang sudah ia rencanakan sebelumnya. Bahkan mereka berdua sempat meminum wine kemarin malam, kemudian mereka—


"YeNa menelepon dan mencarimu tadi!"


Benar, ia hanya pergi berdua bersama Hyuji. Berdua.


John mengusap wajahnya kasar. Ia kembali bersyukur karena bayangan tentang ayah dan juga perpisahannya dengan Hyuji hanyalah sebuah mimpi. Mimpi buruk yang John harap tidak akan pernah terjadi.


Seketika itu juga, John melangkah mendekat pada Hyuji yang masih sibuk dengan rambut basahnya. Meraih pinggang kecil Hyuji untuk ia lingkari sebuah pelukan. Mencium tengkuk lembab Hyuji lembut.


"Selamat siang sayang! Aku hampir lupa jika kita sedang berada di sini!"


"Kau terlalu mabuk John! Kau juga memperlakukan aku dengan kasar diatas ranjang!"


John tertawa renyah. Bahagia sekali rasanya.


"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi! Dan juga, Kau cantik sekali pagi ini!" puji John pada sosok Hyuji sembari kembali menautkan birai dan menghirup aroma harum yang menguar dari tubuh segar Hyuji, yang kini sedang menatap John dari sisi bahu kanannya.


"Kau merayuku?" tanya Hyuji seduktif. "Kau bahkan menangis dalam tidurmu, sebenarnya kau mimpi apa kemarin malam!"


John menggeleng, menyembunyikan mimpi terlampau buruk itu dari Hyuji. "Tidak, aku hanya bermimpi jika dikejar hantu dan aku tak bisa berlari!"


Hyuji tersenyum kecil yang membuat John semakin luluh.


"Dasar cengeng! Jangan pernah menunjukkan tangisan mimpimu itu didepan YeNa! Dia akan mencercamu dengan beribu pertanyaan, atau kemungkinan terburuk kau akan ditertawakan!"


Tentu saja, dia tidak akan pernah menangis didepan YeNa. Dia akan selalu menjadi pria kuat dan tegar didepan putrinya itu.


"Kalau begitu—" John menjeda ucapannya. Menatap Hyuji ragu, kemudian mengecup birai Hyuji sekilas. "—berikan aku teman juga! Yang menggemaskan! Kau sudah punya YeNa! Jadi berikan aku satu yang seperti YeNa juga!"


Kedua netra sayu itu saling pandang. Hyuji tau maksud ucapan prianya.


"Seorang putra!"[]


—End—



Tinggal satu bab Epilog.


Bagaimana dengan Endingnya? Semoga suka ya...


Oh, Vi's juga ada cerita baru. Jika berkenan silahkan mampir. Ceritanya berbumbu romantis dan juga tak kalah 'Sad' dari cerita Vi's lainnya.


Jika tidak menemukan pada pencarian, klik aja profil Vi's. Dan selamat bergabung dalam cerita Virtual Song Hyuji dan John Wilson.


Terima kasih. 💜💜💜