Another Winter

Another Winter
another Winter 43



Satu bulan berlalu.


Hyuji menerima gajinya dari bibi hong. Mengulurkan telapak menahan rasa sungkan, Hyuji membungkuk dengan perut besarnya sebagai ucapan terima kasih.


Ditemani Mentari yang sudah mulai turun dan hendak kembali bersembunyi diantara tingginya bangunan gedung yang berlomba mencapai langit, Hyuji memberanikan diri pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dibusan. Dia ingin membeli beberapa stel pakaian bayi dengan hasil upah yang ia terima dari bibi Hong dan juga sisa uang tabungan yang ia miliki.


Menunggu bus datang, Hyuji tertunduk dalam senyum sendiri saat calon bayi itu tak kunjung berhenti bergerak menendang hampir seluruh sisi perutnya. Hyuji mengusap penuh perhatian.


Hingga bus itu datang dan membawanya ke tempat tujuan.


Dingin, mungkin itulah yang dirasakan Hyuji saat turun dari bus. Merapatkan coat hitam yang membalut tubuhnya, Hyuji berjalan masuk ke area pusat perbelanjaan yang terlihat penuh sesak.


Sempat berputar-putar dan bertanya pada security, akhirnya Hyuji sampai dipertokoan yang khusus menjual pakaian bayi dan anak-anak. Hyuji memilah, bahkan kalap dan keluar dari rencana yang hanya akan membeli beberapa stel saja. Akan tetapi, kini didalam keranjang belanjanya banyak sekali pakaian bayi dan beberapa perlengkapan lain yang ia beli, karena tidak kuat menahan rasa gemas.


"Maaf kak Ryu, aku pinjam uangmu dulu! Nanti aku kembalikan jika sudah ada! " gumamnya sambil memejam saat mengeluarkan kartu kredit yang diberi Ryujin saat dia pindah ke busan.


Suasana hati Hyuji benar-benar senang saat ini. Menenteng satu tas besar pakaian bayi dan hampir saja mencapai pintu keluar, tanpa sengaja bahunya bertabrakan dengan seseorang karena tidak fokus pada jalan—sangking senangnya.


"Ah, maafkan saya, ini kesalahan saya karena tidak fokus pada—"


"Anda Hyuji kan?"


Pertanyaan itu sontak membuat Hyuji menaikkan pandangan demi mengetahui presensi yang mengenalnya. Akan tetapi, saat kedua maniknya berhasil merangkum sosok yang berdiri dihadapannya, Hyuji bahkan tak mengenal sama sekali orang tersebut.


"Anda... siapa?" tanya Hyuji sopan.


***


Diam-diam, John juga membangun sebuah usaha di busan. Bukan sebuah perusahaan besar seperti yang ayahnya miliki, melainkan usaha semacam cafe seperti yang pernah ia bangun di seoul dan menjadi sukses.


John benar-benar tidak nyaman harus bekerja dibawah tekanan seperti saat ini. Kendati demikian, dia berusaha keras untuk tetap melakukannya walaupun terasa memuakkan. Membawa perusahaan yang dirintis sang ayah bertambah besar, menambah keuntungan untuk tabungannya dan juga, akan meninggalkan semua ketika sudah tiba saatnya nanti.


"Bagaimana pembangunannya?" tanya John pada orang diseberang telepon.


"Berjalan sesuai rencana tuan!"


"Syukurlah! Aku harap semua selesai tanpa masalah dalam jangka waktu tiga tahun kedepan!"


"Saya akan memastikan semua itu berjalan dengan baik dan tanpa kendala tuan John!"


John mengangguk kecil, menghela nafas lega. Di New York, waktu sudah menjelang pagi dan John masih berada didepan layar komputer di apartemennya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang menguras isi otak.


"Itu... Saya... " tutur orang diseberang—ragu.


"Katakan saja!"


"Tidak! Tidak jadi!" sahutnya ketika John meminta penjelasan. Tak ingin membuat masalah, diapun mengurungkan niatnya untuk memberitau John jika dia bertemu dengan wanita yang mirip sekali dengan mantan istri boss nya itu, tempo hari. Lagi pula, dia sudah memastikan, dan wanita itu bilang namanya bukan Hyuji, jadi dia mengambil kesimpulan jika dirinya yang salah tebak—pikirnya.


"Kau butuh uang? Aku akan segera mentransfer—"


"Tidak, tidak! Bukan itu tuan John!" potongnya cepat sebelum John menyelesaikan kalimatnya.


"Ya sudah! Lanjutkan saja pekerjaanmu dengan baik! Aku menunggu hasilnya!"


"Baik Tuan!"


Panggilan berakhir, John kembali menatap pendar layar komputer dan masih berkutat dengan sibuknya. Sekali lagi, jarinya terhenti seketika, bibirnya mengerucut kedepan, mengingat hal yang hendak dikatakan sang asisten tadi membuat John bertanya-tanya.


Apa yang membuat pria assisten itu mengurungkan niatnya berbicara? John penasaran.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa Mama mengetahui rencanaku?"


John memutar lidah didalam mulut, manik mengedar bebas, pikirannya menerka hingga lelah. Namun tak berharap jika hal terburuk itu benar-benar terjadi.


***


PlayList recommendation : Endless Love.


Jam menunjuk angka sepuluh malam dan dia masih belum bisa memejam mata sebab terlalu antusias dengan berbagai macam perlengkapan calon bayinya.


"Ibu sudah tidak sabar menunggumu ada dipangkuan ibu sayang!" ucap Hyuji sendu sambil mengusap perut besarnya.


Hyuji membungkuk meraih bungkusan bantal bayi dilantai. Akan tetapi, saat kembali menegakkan punggung, tiba-tiba saja perutnya terasa nyeri. Hyuji memicing, berjalan demi menggapai tepian ranjang dan mendudukkan diri disana. Masih menahan rasa sakit yang datang dan pergi, Hyuji mengulum senyum diantara rintih sakit yang ia tahan.


"Apa kau juga ingin segera bertemu ibu sayang?" tutur Hyuji disusul dengan gigitan pada bibir bawah menahan rasa nyeri. Kepalanya mendongak dengan manik sedikit memburam. Airmata Hyuji jatuh menetes begitu saja.


Hingga beberapa menit berlalu, dan sudah mencoba berbagai trik yang sering dikatakan oleh dokter yang memeriksanya, rasa sakit itu tak kunjung mau pergi.


Tertatih, Hyuji menuruni anakan tangga dan menekan bel rumah bibi Hong.


Pintu itu terbuka lebar, menampakkan sosok wanita paruh baya yang menatap khawatir karena melihat wajah Hyuji yang sudah memucat.


"Astaga, kau kenapa Hyu?"


"Maafkan Hyuji mengganggu bibi, perut Hyu sakit sekali, dan Hyu tidak bisa menahan lagi bi!"


"Ya Tuhan! Apa sudah waktunya kamu melahirkan?"


Hyuji menggeleng dan menahan rasa sakit yang kembali menghujam dengan membungkukkan punggung.


"Kalau begitu tunggu sebentar! Bibi akan mengambil jaket dan beberapa pakaian bayi untuk kita bawa kerumah sakit! Dimana kamu meletakkannya?"


Hyuji mengangguk. "Baru saja Hyu tata didalam lemari! Dan juga, tolong sekalian bibi bawa dompet dan ponsel Hyu!"


Tanpa banyak bicara, bibi Hong segera mengambil tindakan. Membangunkan paman Hong dan segera mengantar Hyuji menuju rumah sakit terdekat. Keringat Hyuji mengucur tanpa henti, dan dengan telaten bibi Hong memberikan perhatian dan kasih sayang pada Hyuji.


Hingga sampai dirumah sakit dan mendapat tindakan medis dengan cepat, Hyuji dibawa masuk ke ruang bersalin.


Usia kandungan Hyuji memang masih belum genap sembilan bulan. Akan tetapi, karena faktor kelelahan, Hyuji akhirnya melahirkan lebih cepat dari Hari Perkiraan Lahir (HPL) yang tertulis pada rekam medis.


Satu jam lebih melewati proses persalinan yang melelahkan dan menguras tenaga, akhirnya Hyuji berhasil melahirkan seorang Putri yang sehat dan cantik.


Airmata Hyuji tak kunjung berhenti saat dokter meletakkan bayi itu diatas tubuhnya yang masih terbaring lemah diatas ranjang bersalin. Bayi gembil dan mungil itu menggeliat dengan jari-jari yang menggemaskan. Hyuji meraihnya, mencium sekilas jemari itu penuh kasih.


"Putri anda sangat cantik nyonya! Matanya juga sangat Indah!" ucap salah satu dokter yang turut membantu persalinan.


Memang, bayi yang dilahirkannya sangatlah cantik. Rambutnya hitam legam dan lebat, hidung mancung, bibirnya semerah darah, kulitnya seputih salju, dan mata bulat yang Indah bukan main.


"Terima kasih dokter... " jawab Hyuji dengan suara parau, dan tanpa henti menatap putrinya yang sedang memainkan lidah. Sosok John melekat erat pada fitur sang putri. Hati Hyuji terasa kembali teriris, namun rasa bahagia yang muncul berhasil mengalihkan semuanya dengan cepat.


"Anda sudah menyiapkan nama untuk bayi cantik itu Nyonya?" tanya seorang perawat saat meraih telapak kaki putrinya untuk membuat jejak kaki pada selembar kertas tebal yang siap untuk digoresi sebuah tulisan.


Hyuji mengangguk pelan. "YeNa John." tuturnya lembut sambil mengusap kening putrinya yang sama persis dengan milik sang ayah, John.


"Waah, nama yang Indah!" Puji sang perawat sembari menggoreskan tinta Pink pada kertas tebal yang beberapa detik lalu diberi jejak kaki sang bayi.


"Eummm... " gumam Hyuji bersama ribuan bunga yang bermekaran didalam dadanya. "Karena hari ini adalah hari yang sangat Indah!"[]




Entah mengapa Vi's terbawa suasana saat menulis part ini. 😭


Terima kasih sudah membaca another Winter. Tinggalkan like dan komentar, serta Vote jika berkenan.


Sampai Jumpa di next Bab yang pastinya akan lebih—


Salam Hati Warna Ungu,


💜💜💜


Vizca.