Another Winter

Another Winter
another Winter 44



YeNa John,


Sebuah nama yang dipilih Hyuji karena begitu berkesan didalam hatinya. YeNa, merupakan dua kata yang ia ambil dari kata Yeppeo; Cantik/Indah, dan Nal; Hari, YeNa berarti Hari yang Indah. Sedangkan John, ia ambil dari nama sang mantan suami, yang tidak lain adalah ayah dari putrinya. Hyuji tidak ingin putrinya besar tanpa nama keluarga atau menyandang nama keluarga 'Song' yang sama dengan dirinya.


***


"Yena? Jadi namamu Yena?"


Gadis kecil itu mengangguk memastikan. John menyukai gadis kecil yang sedang berjongkok dibalik lipatan kedua tangan kecil dalam balutan jaket tebal berwarna gelap, dengan syal dan topi berwarna merah jambu, membuat gadis kecil itu terlihat menggemaskan.


Lagi,


Mimpi ini datang lagi,


John hanya mampu bergumam diantara mimpi tanpa mampu membuka kedua maniknya. Setelah hampir empat tahun merasakan mimpi sama yang entah mengapa menyiksa sekali, malam ini, untuk pertama kalinya dia mendapati gadis itu mau menyebutkan namanya.


Kemudian, John menolehkan kepala kesegala arah untuk mencari keberadaan orang tua gadis kecil bernama YeNa itu. Tidak terlihat siapapun, hanya kepulan asap dingin yang timbul dari tumpukan salju yang baru saja berhenti turun dari langit.


"Kau yakin tadi pergi kesini bersama ibumu sayang?" tanya John kembali ingin memastikan, karena tak melihat siapapun. Gadis kecil YeNa mengangguk.


Kembali mengedarkan pandangan, John mencoba berdiri diatas sepatu boots hitamnya yang tinggi. Mencari-cari keberadaan sang ibu seperti yang disebutkan YeNa.


"Tapi, tidak ada siapa p—"


Suara John tercekat, hatinya terasa ngilu begitu saja. Ditangkapnya sosok berwajah pilu yang berdiri tidak jauh darinya, pupil mata John bergetar. "Hyu... " panggilnya lirih.


Hyuji menjauh, dia melangkahkan kakinya semakin cepat. John berusaha mengejar dengan langkah lebar, namun tak berhasil. Hyuji menghilang begitu saja entah kemana.


"HYU...!!!"


Pekik John, tersadar dari bunga tidur dengan lengan mengapung diudara memanggil nama Hyuji. Nafasnya terengah hebat, bulir besar keringat membasahi dahi John.


Menyadari hanya sebuah mimpi, John melepas bebas tangannya diatas selimut penuh kekecewaan.


"Ternyata mimpi, " sesal John penuh kecewa sambil mengatur nafas dan detak jantungnya yang masih berantakan.


Akan tetapi, beragam pertanyaan muncul dalam benak John. Lantas apa hubungannya gadis kecil bernama YeNa itu dengan wanita yang dicintainya?


"YeNa...?? " batin John mengulang nama gadis yang ia lihat didalam mimpi.


Mendadak kepala John terasa pusing memikirkan hal itu. John membanting tubuh diatas kasur empuknya, menghela nafas panjang sambil kembali mencoba memejamkan kedua mata. Sesaat kemudian memandang keluar jendela apartemen.


"Haaah... pasti di sana salju sudah mulai turun!" racaunya penuh kerinduan pada negara kelahiran dan juga seseorang. "Maaf aku belum bisa datang pada musim dingin pertama setelah perpisahan kita Hyu! Aku akan kembali saat semua sudah selesai! Dan aku harap kau tidak melupakan janjiku Hyu! Aku akan datang pada musim ketiga, dan akan membawamu kembali ke sisiku!"


***


"Ibu, bawakan YeNa pemen stawbe-iy saat pulang keja nanti!"


"Gigimu akan sakit jika setiap hari makan permen sayang! Mama akan membawakan ayam saja, okey? Deal?!"


Hyuji menghela nafas dalam, keras kepala sekali putrinya ini. Sama seperti... 'mereka berdua' dulu.


Bibi Hong mencoba merayu dengan berkata manis pada YeNa, dia akan mendapatkan lagi permen jika sudah bisa mengatakan huruf 'R' dengan benar. Akan tetapi, semua tidak mempan, YeNa malah merajuk dengan menghentak kaki dengan bibir mengerucut lucu serta kedua manik bulat yang berair.


"Baiklah, baiklah! Akan ibu belikan nanti! Tapi YeNa janji tidak boleh nakal! Jangan membuat bibi Hong capek!"


YeNa mengangguk antusias, poninya terpantul menggemaskan diantara pipi bulat yang merah karena cuaca dingin.


"Jangan bermain diluar karena akan turun salju lebat hari ini!" titah Hyuji kepada putrinya, yang disanggupi dengan sebuah anggukan sekali lagi. "Janji!" lanjut Hyuji sembari menyodorkan jari kelingking dihadapan YeNa.


"Eung... YeNa janji tidak akan membuat nenek Hong capek!" tutur YeNa membuat Janji dengan menautkan kelingkingnya pada kelingking sang ibu.


"Putri ibu yang baik...!" puji Hyuji sambil mencubit gemas pipi bulat YeNa dan mengusap lembut pucuk kepala YeNa penuh sayang, kemudian berdiri dan bersiap untuk berangkat bekerja. Mengais lembaran Won untuk kelangsungan hidup mereka berdua.


YeNa tersenyum, menampakkan gigi kelinci dan juga hidung serta mata yang berkerut lucu. Mengingatkan Hyuji pada seseorang yang memiliki bentuk senyuman yang sama persis dengan putrinya itu, John.


"Hyu berangkat dulu bi! Maaf sudah membuat bibi repot selama ini!"


"Tidak! Bibi senang bisa menjaga gadis penurut dan baik seperti YeNa! Benarkan sayang?"


Hati Hyuji menghangat seketika. Kemudian melangkahkan kakinya melewati pagar rumah yang masih terkatup rapat diantara salju yang masih menggumpal.


"Ibu hebat!" tutur YeNa sedikit berteriak, sambil mengangkat lengan mengacungkan jempol tangannya yang imut saat melihat Hyuji hampir mencapai pintu gerbang rumah bibi Hong.


"Terima kasih sayang! Ibu berangkat dulu!" sahut Hyuji dengan suara lembut dan sebuah senyuman hangat.


"Eung... "


YeNa mengangguk senang karena sepulang kerja sang ibu nanti, dia akan mendapat permen lolipop strawberry kesukaannya lagi.


Sudah hampir satu tahun ini Hyuji diterima bekerja disebuah perusahaan penerbit besar di busan sebagai editor tim.


Hyuji berbalik demi melihat pada pintu pagar yang terbuat dari kayu itu. Mengulum senyum yang seolah lebih terihat seperti sebuah ratapan. Sadar akan satu hal yang selama ini menjadi harapan kosong untuknya.


"Mengapa aku mengharapkan sesuatu yang memang tidak akan pernah terjadi!" rutuknya pilu, jemari yang terbungkus sarung tangan tebal itu mengepal sempurna. Kemudian melanjutkan."Sudah musim ketiga,dan dia belum juga menepati apa yang dia janjikan!" Hyuji tersenyum getir. "Omong kosong!"[]




Terima kasih sudah membaca another Winter.


Salam Hati Warna Ungu,


💜💜💜


Vizca.