
Minggu,
Hyuji ingat, jika dulu ibunya pernah menginginkan dan berdo'a untuk semua anaknya agar bahagia di setiap perjalanan hidup mereka masing-masing.
Agaknya, mungkin, do'a untuk Hyuji belum sampai di langit. Semua belum terwujud saat ini, karena bagaimana jalan berbatu dan berliku sedang dihadapi Hyuji.
Hyuji mengerjap dengan kelopak sembab kala melihat jam yang tergantung di dinding itu menunjuk angka enam lebih sepuluh menit. Sejak semalam dia tertidur ditemani selembar kertas pemberian John. Kini, pagi ini saat kembali membuka mata, dia dihadapkan kembali pada kenyataan bahwa inilah jalan yang harus ia tempuh. Perpisahan didepan mata, dan juga, anak di dalam kandungan, buah cintanya bersama pria yang menemani selama dua tahun ini, John Wilson.
Ayo kita menikah!
Hei! Bahkan kita baru mengenal satu bulan yang lalu! Kenapa kau mengajakku menikah tiba-tiba seperti ini?
Pria yang usianya dua tahun lebih muda darinya itu menatapnya lekat, memberikan tatapan sendu dengan kedua manik rusanya yang Indah.
Aku butuh bantuanmu untuk keluar dari penjara keluargaku! Ibuku memaksaku menikah dengan seseorang, tapi aku tidak mencintainya!
Lalu bagaimana denganku? Apa kau mencintaiku?
Hyuji ingat tidak ada jawaban apapun saat itu, John hanya diam.
Nafas Hyuji kembali terasa sesak, jemarinya yang semula menggantung diudara beralih meraih tepian sofa untuk ia remat. Hendak bangkit dan mencoba menepis semua kecamuk dalam dirinya untuk sehari ini. Ya, setidaknya dia berharap sang kakak tidak terlalu khawatir saat melihatnya nanti.
Baru beberapa langkah hendak ke kamar mandi, bel rumah berbunyi. Biasanya, jika tidak salah, tetangga yang tinggal disamping rumah akan sesekali memberikan Gimbab* dan susu hangat untuknya. Hyuji memutar langkah, tanpa melihat layar pada intercom, Hyuji berjalan menuju pintu dan meraih pengait kunci, kemudian membuka kenop pintu.
"Neee—"
Maniknya terbelalak, nafasnya tercekat saat mendapati sosok tinggi dan tampan berdiri tegak dihadapannya, mengejutkan.
"Ka-kakak? "
"Hai Hyu, kau pasti terkejut kan? Kakak sengaja datang lebih pagi tanpa memberitahumu sebagai kejutan!" jawab Jin sembari mengangkat oleh-oleh untuk sang adik dan iparnya.
"Dimana John?! " tanya Jin sambil melongok kedalam rumah.
Pertanyaan itu sontak membuat Hyuji gelagapan, dia bahkan belum menyiapkan jawaban untuk setiap pertanyaan yang mungkin akan ia dengar dari kakaknya. Hyuji terlalu sibuk bersedih dan merutuki diri sendiri semalaman.
"J-john? Di-dia sedang ada diluar kota! "
Sang kakak mengerut dahi, namun beberapa detik kemudian tersenyum lembut pada Hyuji yang terlihat gugup. Mengusap pucuk kepala sang adik perlahan.
"Apa kau akan membiarkan kakakmu berdiri diluar seperti ini? "
"A-ahahah... Maaf, aku terlalu gugup karena kakak datang tiba-tiba seperti ini! Ayo masuk kak! "
Tidak,
Bagaimana ini?
Hyuji membawa kakaknya masuk kedalam rumah sederhana yang ia tempati dengan perasaan kalut. Dia teringat akan testpack yang ia geletakkan di atas nakas kamar, buru-buru dia berlari kesana bertujuan untuk menyembunyikan benda itu.
Akan tetapi, dia melupakan secarik kertas yang ia biarkan tergeletak diatas meja ruang tengah.
Jin berjalan bingung karena melihat tingkah Hyuji yang tiba-tiba saja berlari, hingga langkah besarnya sampai diruang tengah dan memasrahkan diri duduk diatas sofa. Awalnya, dia hanya mendapati foto pernikahan adik dengan iparnya itu tersandar diatas meja dekat televisi, tanpa sebuah bingkai.
Janggal?
Tentu saja, RyuJin mencoba menepis dan menganggap mungkin Hyuji sedang melakukan perawatan pada foto tersebut. Hingga maniknya menangkap lembaran diatas meja. Terbelalak saat melihat isi surat dan sudah disetujui oleh kedua belah pihak.
Ryujin terdiam pada posisinya meskipun suara Hyuji yang tercekat kembali terdengar.
"Kakak—"
Manik keduanya tertaut, Hyuji kira dirinya sudah selamat karena berhasil dengan benda pipih dengan dua garis yang berhasil ia sembunyikan. Nyatanya tidak, sang kakak menatap nyalang. Dia bahkan membodohkan dirinya sendiri bagaimana bisa merupakan kertas itu?
"Jelaskan pada kakak tentang semua ini Hyu?!"
Hyuji melangkah gontai, mendekat pada kakaknya. Meremat kedua jemarinya didepan tubuh dengan bibir bawah yang ia gigit khawatir.
"Katakan... " tuntut RyuJin sekali lagi dengan lembut.
Hyuji tertunduk, tak sanggup lagi menahan kesedihan yang membelenggu jiwa dan raganya. Gejolak dalam perutnya kembali menyergah, membuat Hyuji harus berlari tunggang langgang kedalam kamar mandi dan mengeluarkan semua isi dalam lambungnya yang masih kosong di sana. Meninggalkan RyuJin dengan tatapan mengedar dan tak berekspresi. Bahkan bertanya pada diri sendiri, merutuk, bagaimana bisa dia tidak tau akan hal ini. Hal besar tentang kehidupan rumah tangga sang adik.
"Kakak tidak tau apa yang terjadi! Ceritakan satu persatu!"
Hyuji bergetar. Bahunya sudah terlampau layu dan jemarinya saling meremat takut diatas pangkuan.
"Seperti yang kakak tau tentang aku dan John! Kami tidak pernah mendapat persetujuan sejak awal! "
RyuJin mendengarkan sang adik lamat.
"Dan semuanya terjadi begitu saja! Kami memutuskan untuk berpisah! "
"Tapi mengapa? Kau tidak menyebutkan alasan yang jelas kepada kakak Hyu?! "
Hyuji hanya menggeleng, membuat rasa frustasi kakaknya mencuat ke permukaan. Pria yang sedari tadi tengah menahan gejolak emosi itu mulai meledak. Namun tak ingin membuat sang adik semakin terpuruk, dia hanya bisa membanting kasar tubuhnya pada punggung sofa sembari meremas surai penuh penyesalan.
"Lalu, sudah berapa bulan usia janin itu?!"
Apa? Bagaimana kakak bisa tau tentang ini?
Hyuji terbelalak dengan kelopak memerah yang basah. Gemuruh badai yang seolah menghujam dan menghancurkan hati Hyuji kembali datang. Meluluh lantakkan setiap engsel dirinya saat manik mereka tertaut kembali.
"A-aku belum membawanya ke dokter kak!" jawabnya ragu.
"Apa John tau jika kau hamil? "
Hyuji menggeleng. "Aku tidak ingin semua menjadi semakin sulit! "
RyuJin yang kesal meraih ponselnya dari dalam saku celana yang ia kenakan, membuat Hyuji terbelalak.
"Apa yang akan kakak lakukan? "
"Menghubungi dan memberitahu John! "
Hyuji berdiri kasar, meraih lengan Ryujin dan menurunkan ponsel kakaknya dengan wajah ketakutan. Kemudian bersimpuh dibawah kaki Ryujin. "Aku mohon jangan lakukan itu kak! "
"Apa maksudmu?"
"Aku mohon... " Isak Hyuji semakin terdengar pilu. Melihat itu, Jin akhirnya tak sanggup dan meraih pundak adiknya yang bergetar.
"Hyu, setidaknya akan ada yang—"
"Tidak! " Sahut Hyuji cepat. "Aku akan melewati semua ini dengan diriku sendiri!"
Menatap langit-langit rumah, Jin tak sanggup lagi membendung air mata. Turut merasakan betapa malangnya nasib Hyuji.
"Aku akan menjaga anak ini sendirian kak! Aku mohon...Biarkan aku melakukannya! " pintanya sekali lagi, dengan tubuh lemas dan nyaris tak mampu bergerak.
Diam sejenak, terenyuh. RyuJin mengesat airmatanya diam-diam.
"Baiklah, jika itu maumu! " suara Jin kembali terdengar lebih tenang. "Kembalilah ke daegu, tinggallah bersama ibu dan ayah! "
Entah untuk keberapa kali kepalanya menggeleng, Hyuji kembali menolak pendapat daei Ryujin.
"Aku akan tetap disini hingga anak ini lahir! "
"Hyu— John akan menuntut haknya tentang rumah ini,"
"Tidak kak! Dia tidak menuntut apapun dan membiarkan aku tetap menempati rumah ini!"
"Gila!! " desah sang kakak. "Apa kau setuju dengan itu? Kau akan semakin terpuruk Hyu?!"
Hyuji terdiam, menyandarkan kepalanya yang terasa semakin berat dipangkuan sang kakak. Dan mendapat balasan sebuah usapan penuh kasih.
"Aku akan baik-baik saja! Kakak tidak perlu mengkhawatirkan aku! Aku benar-benar akan baik-baik saja! "
"Kakak hanya ingin kau tidak melakukan hal buruk! "
"Aku tidak akan melakukan apapun, aku akan menjaga anak dalam kandunganku dengan baik, hidup dengan baik, hingga dia hadir ke dunia kelak! "[]