Another Winter

Another Winter
another Winter 22



Bentangan sungai Han yang luas menjadi pemandangan John kembali sejak dua hari terakhir. Menempati apartemen mewah yang sebelumnya ia tinggalkan selama dua tahun lamanya ternyata tak membuat perubahan pada apartemen itu, kecuali cat dinding dikamar dan ruang tamu.


"Bagaimana menurutmu warna cat baru dikamarmu sayang?" tanya Joana sambil melihat John yang sedang menatap bebas kearah sungai Han.


Seolah tak terjadi apapun hari ini, wanita itu berhasil menyembunyikan sebuah rahasia besar dari putranya sendiri.


"Tidak buruk! Apa mama sendiri yang memilih?"


"Tentu saja! Mama juga selalu memanggil petugas kebersihan untuk merawat apartemen ini selama kau tinggalkan! "


"Terima kasih mam! " jawab John tenang.


Tiba-tiba saja terdengar bel rumah berbunyi, John bahkan bertanya-tanya siapa tamu yang datang saat dirinya baru menempati apartemen itu selama dua hari.


"Ah, itu pasti JiEun! " celetuk sang ibu dengan nada penuh semangat dan melangkah keluar demi menyambut kedatangan gadis yang sangat disayanginya itu.


John menghela nafas saat mendengar nama JiEun, ternyata ibunya benar-benar tidak menyerah sama sekali.


John menatap seluruh sudut kamar luasnya, jauh lebih luas dari tempat yang ia tinggali bersama Hyuji. Perabot mahal dan bermerk, baju, serta fasilitas juga accesories mewah lainnya kini kembali ia nikmati. Memikirkan saja membuat John ingin mengumpati dirinya sendiri. Bagaimana dengan Hyuji yang ia tinggalkan disana? Pikiran itu terus menghantui setiap jengkal fikiran John.


Semua kecamuk itu sirna saat John mendengar suara pintu kamarnya dibuka, suara tawa sang ibu juga terdengar sangat antusias.


"JiEun datang membawa sesuatu untukmu John! "


John hanya menatap datar pada sosok JiEun dengan seikat bunga di tangannya. Beberapa detik kemudian, wanita yang dulu sempat mengisi hatinya itu perlahan mendekat, menyodorkan rangkaian bunga yang Indah dan masih segar.


"Lama tidak bertemu John, bagaimana kabarmu?"


"Baik, seperti yang kau lihat! "


Mendadak suasana menjadi canggung ketika John hanya bersikap dingin saat menerima bunga dari JiEun. Menyadari hal itu, Joana; ibu John, mengambil bunga dari tangan John dan meletakkan diatas ranjang berukuran king size itu kemudian berkata jika ada satu hal yang harus ia lakukan dan pergi begitu saja meninggalkan keduanya.


Saat mendengar debuman pintu utama yang menandakan sang ibusudah benar-benar pergi, John menarik senyuman simpul dari bibirnya.


"Darimana kau tau jika aku ada disini Ji? "


"Mamamu yang memberitahuku! "


"Lalu kau datang kesini begitu saja? "


JiEun mengangguk, dia sangat tau jika John tak menginginkan kehadirannya. JiEun sangat tau peringai John.


"Maaf aku sudah datang tanpa memberitahumu dulu! "


"Tak masalah, mama yang ingin kau kesini! "


Mendengar hal itu, hati JiEun terasa seperti dihujam sebilah pedang yang tajam. Sangat menyakitkan untuknya.


"Tidak! " jawabnya tegas kemudian berbalik membelakangi JiEun dan mengedarkan pandangan pada bentangan sungai Han yang berada tepat didepan bentangan tembok kaca kamar.


JiEun tertunduk, tersenyum getir saat mendengar jawaban singkat John yang sangat menyakitkan itu. Perlahan langkahnya mendekat pada sosok John, dengan ragu meraih pinggang kokoh John untuk ia peluk dengan kedua lengan. Menyandarkan dengan lembut salah satu sisi wajahnya di punggung lebar John.


Seketika John berpaling kesisi bahunya, mendapati pucuk kepala JiEun tepat di sisi bahu.


"John, tolong jangan seperti ini padaku! "


John masih berusaha mendengarkan JiEun yang berbicara sambil memeluknya. Matahari sudah mulai meredup dan membuat cahaya orange yang indah diluar sana, tapi tak sedikitpun membuat John merubah perasaannya.


"Aku menyesal tidak percaya padamu dan memilih pergi keluar negri! Aku benar-benar menyesal!"


John tersenyum sarkas, meraih perlahan lengan JiEun dan menjauhkan dari dirinya. Berbalik demi mendapati presensi JiEun.


"Semua sudah terjadi, dan aku tidak ingin kembali kemasa lalu itu!"


Airmata JiEun jatuh tak terbendung. Dalam lubuk hatinya, dia masih sangat menginginkan John kembali. Bahkan sebuah pemikiran curang dan picik mendominasi dirinya agar John bisa kembali padanya.


"Ji, ah tidak! Noona*, maaf, posisimu dulu sudah tergantikan oleh orang lain dan aku sangat mencintainya!" tutur John dengan seringai mengerikan dari bibir tipisnya.


"John—"


"Aku harap kau mengerti apa yang aku katakan! Dan jangan berharap lebih jika memang mama berhasil menikahkan kita! Aku tidak akan melakukan hal yang semestinya aku lakukan padamu! Maaf! " terang John sekilas, lalu pergi meninggalkan JiEun yang semakin bermandikan airmata ditempat yang membuat kakinya terpatri.


Dengan sudut mata yang sudah mulai mengering, JiEun bergumam. "Aku tidak akan melepas dirimu untuk kedua kalinya John! "


***


Ayo bertemu besok. Tentukan tempatnya! Ada sesuatu yang membutuhkan persetujuan dan tanda tangan darimu.


Belum sempat hatinya tenang karena kehadiran ibu John yang tiba-tiba, kini Hyuji harus dikejutkan kembali oleh pesan yang ia terima. Tak dapat lagi menangis, sepertinya airmata Hyuji sudah mulai mengering sekarang.


Hyuji hanya menatap lurus pada sebuah benda pipih yang tergeletak diatas meja. Ada dua strip merah jelas pada benda itu. Pupilnya hanya mampu bergetar tanpa sanggup mengeluarkan airmata. Kedua telapaknya meremat kuat pada ujung pakaian yang ia kenakan.


"Jadi begini akhirnya? " ucapnya pilu. "Kau tau Rey, hidupku jauh lebih berat dari yang aku bayangkan! Kau beruntung bisa mengakhirinya, meskipun menyakiti hati banyak orang!"


Hyuji kembali mengingat bagaimana perjalanan hidup sahabatnya yang sulit dan berakhir tragis. "Tapi aku tidak bisa Rey? Jika aku mengakhirinya seperti dirimu, sama saja aku menjadi seorang pembunuh! "


Hyuji tertunduk pelan, memandangi perutnya sekali lagi. "Ada kehidupan lain dalam diriku Rey! Dan aku tidak bisa mengakhiri semua ini sekarang! Semua baru saja dimulai, Tolong beritau aku bagaimana caranya menyelesaikan ini?"


Pening menyerang kepala Hyuji, membawa dirinya untuk merebah diatas sofa dengan kekacauan yang sudah hampir sempurna menghancurkan dirinya. "Ibu, aku merindukanmu..." gumam Hyuji pilu dengan manik terpejam, membayangkan sosok sang ibu yang sedang memapah kepalanya dipangkuan dan mengusap lembut setiap helai rambutnya. "Aku ingin pulang... " lanjutnya sembari menekuk kedua kakinya dan kembali tersedu.


Senja tak lagi menjadi bagian kebahagiaan Hyuji. Hanya kelam yang semakin membenamkan dirinya dalam kubangan kesedihan.


"John, aku mohon kembalilah padaku... "[]