
Hyuji membuka kelopak mata saat suara alarm dari ponselnya meraung, menariknya kembali dari dunia mimpi yang terasa lebih menyenangkan. Mengerjap beberapa kali hingga kesadaran sudah kembali sepenuhnya, meraih ponsel dan mematikan dering.
Sudah dua minggu sejak pengajuan cerai itu berlalu, dan hari ini adalah sidang pertama mereka.
Hyuji ingat jika John hanya memintanya datang dipersidangan terakhir, karena pria itu akan mengurus semuanya. Hyuji meraih ponsel dan mendapati sebuah balon pesan dan dua buah panggilan telepon.
John.
Kau tidak perlu datang ke Seoul, hari ini akan berjalan sebagaimana mestinya.
Maaf tidak pernah menghubungimu, Akhir-akhir ini aku sibuk!
Semoga harimu menyenangkan Hyu, makanlah dengan baik!
Hyuji tidak tau harus berekspresi senang atau sedih. Semuanya masih terasa berat meskipun kini, dirinya sudah lebih bisa menerima perpisahan yang ada didepan mata. Mungkin akan terdengar sedikit egois, tapi Hyuji tidak berniat memberikan balasan terhadap pesan yang dikirim John untuknya.
Hyuji harus segera bangun dan mulai mempersiapkan semua keperluan untuk kembali membuka kedai setelah sekian lama dirinya larut dalam kesedihan. Dia sadar, dirinya harus tetap bertahan hidup dengan cara apapun. Dia ingin menepati janji pada sang kakak.
Namun, persegi pintarnya kembali bergetar diatas nakas. Nama John terpampang disana. Hyuji meraih dan menekan tombol hijau untuk mulai berbicara dengan John.
"Eummm... " jawab Hyuji dengan suara parau sambil memijat dahinya pelan.
"Kau sudah membaca pesanku? "
"Eummm! "
"Maaf baru menghubungimu sekarang Hyu, "
"Tidak masalah! Kau sudah punya pekerjaan besar sekarang John! Jangan pikirkan tentang aku, bekerjalah dengan baik dan jangan lupa makan!"
"Tentu saja, aku akan selalu mengingatnya! Kau sakit Hyu? Mengapa suaramu seperti itu?"
"Tidak, aku baru saja bangun dan akan mulai membuka kedai nanti malam! "
"O... h, maaf tidak bisa membantumu! "
"Tidak perlu merasa bersalah seperti itu John! Sudahlah, intinya jangan membuat aku tidak nyaman!"
Percakapan telepon itu berlangsung cukup lama, dan berakhir karena Hyuji berdalih akan segera memulai aktifitas. Namun dirinya masih terpaku, diam diatas sofa berukuran sedang. Meremat ponsel, menahan rasa sakit yang timbul dalam hati.
"Benar! Inilah kenyataannya! Aku harus tetap berjalan diatas kedua kakiku meski terasa sangat berat sampai-sampai tidak sanggup! Aku akan terus berusaha hingga titik dimana Tuhan mengajakku kembali nanti! " gumam Hyuji menyemangati diri sendiri.
Sedangkan, jauh disana. John menatap pendaran Mentari yang perlahan menyilaukan mata dari dalam ruangan yang cukup luas, kedua telapak yang ia sematkan kedalam saku celana membuatnya sadar jika dirinya kini kembali dalam kehidupan yang menyesakkan. Dipenuhi berkas dan juga tumpukan jadwal pekerjaan yang membuat stress dalam satu waktu.
"Aku jadi merindukan Hyuji! " batinnya mengenang.
John menghela nafas dalam, kembali duduk dan meraih berkas diatas mejanya.
***
Malam ini Hyuji mulai membuka kembali kedai, disambut gembira oleh pemilik kedai lain yang sudah akrab dengan Hyuji. Bahkan mereka memberi dukungan dan semangat agar Hyuji tetap tegar, saat mendengar Hyuji berpisah dengan suaminya, John.
"Selamat menikmati, silahkan datang kembali..." ucap Hyuji ramah kepada pelanggan yang baru saja menyelesaikan transaksi jual beli dengannya.
Hyuji bersyukur, masih ada pelanggan yang datang meskipun dirinya sempat vakum selama beberapa minggu.
Kini dia kembali dengan semangat baru. Tidak ingin larut terlalu jauh dalam kesedihan hingga merutuki nasib. Hyuji kembali menata diri dan perasaannya. Ada sosok lain yang harus ia perjuangkan, calon anak yang ia kandung. Dan itu ia rasa lebih meringankan bebannya.
Dan hari berlalu begitu saja, hingga dia perlahan-lahan bisa melupakan setiap jengkal masalah yang sedang menerpa. Sidang perceraianpun berjalan sebagaimana mestinya, John menepati janjinya untuk membuat semua lebih mudah.
Mungkin, saat ini, semua kerja keras yang Hyuji lakukan, hanya ia curahkan untuk sang buah hati yang masih ada didalam kandungan. Dan dia bersyukur sekali karena sang kakak mau membantu menyokong hidup calon buah hatinya tersebut.
"Oo?! Hujan? " tuturnya saat tiba-tiba rintik hujan terdengar diatap kedai. Hyuji melihat beberapa pasang muda mudi memasuki kedai dan membeli beberapa makanan dan minuman yang ia jual, duduk pada bangku yang tersedia, membuat dirinya sedikit hanyut kedalam masa lalu.
Tiba-tiba salah satu pelanggan bertanya padanya, "Eonnie, kenapa aku tidak pernah melihat oppa yang biasanya bersama eonnie itu?"
Ah~dia benar-benar datang kembali kesini! gumamnya saat mengingat malam itu sang gadis pernah berjanji pada John akan datang lagi ke kedainya.
"Ah, dia sudah kembali ke Seoul! " jawab Hyuji ramah tamah.
"Seoul? A~h..."
Malam semakin larut, Hyuji sudah membersihkan sisanya berjualan dan bersiap untuk pulang. Akan tetapi, hujan masih belum juga mau mereda membuat Hyuji tertahan lebih lama di kedainya.
"Mau aku bantu? "
Suara seorang pria membuatnya terkejut, hampir melompat sangking kagetnya.
"Rommy? Bagaimana kau bisa kesini selarut ini? "
"Aku? Aku berniat membeli sundae, tapi kelihatannya sudah habis ya? "
"Iya, maaf! Datanglah lain kali! " tutur Hyuji sedikit memberi kesan menyesal.
Senyuman mengembang dibibir Rommy saat mendengar jawaban Hyuji. Menurutnya, Hyuji tidak pernah berubah sejak dulu.
"Dimana suamimu yang tengil itu?! " goda Rommy.
"Hei! Jangan begitu! "
Rommy tertawa lebar kali ini. Memamerkan lesung pipi pada kedua sisi wajahnya.
"Dia memang kekanakan! "
"Kau akan menyesal menyebutnya kekanakan! Dia itu lebih dari definisi orang dewasa Rom! Kau akan tersungkur bahkan menghuni rumah sakit jika dia melayangkan bogemnya saat mendengar kalimat itu darimu!"
"Jadi, dimana dia? Mengapa membiarkan istrinya sendirian ditengah malam seperti ini?"
Senyum Hyuji memudar, dia tertunduk dan meremat samar ujung pakaiannya.
"Kami, dalam proses sidang perceraian Rom!"
"Apa? "
Hanya menghembus nafas panjang tatkala Rommy menajamkan pandangan. Hyuji memberanikan diri mengangkat wajah, kemudian tersenyum lembut.
"Iya, kami memutuskan untuk berpisah karena satu alasan yang tidak bisa aku ceritakan padamu! Sidang pertama sudah berjalan, dan aku hanya perlu menunggu keputusan dari persidangan yang akan menentukan dan mengubah status baru untukku!"[]
••
••
Notes:
Vi's ingin tau dong, bagaimana pendapat kalian tentang another Winter sampai di bab ini? Jika berkenan, tulis pendapat kalian dikolom komentar. Vi's akan membaca dengan senang hati dan memberikan respon.
Sama seperti cerita sebelumnya, part cerita ini juga tidak akan terlalu panjang, hingga meluber ke konflik yang semakin tidak masuk akal. Vi's akan mencoba memberikan yang terbaik dan semoga terwujud.
Oh, untuk visual, Vi's hanya bisa menggambarkan melalui narasi saja. Karena bisa saja gambar seseorang yang kita unggah memiliki hak cipta. Jadi, selamat membayangkan sesuai yang kalian inginkan. Vi's juga melakukan hal yang sama kok. Muehehe...
Terima kasih.
Salam Hati Warna Ungu,
💜💜💜
Vizca.