Another Winter

Another Winter
another Winter 19



YangCheon, 10 PM KST.


John berjalan dengan langkah yang sedikit terhuyung. Kedua sisi pipinya memerah, bau alkohol menyelimuti dirinya.


Entah mengapa, hari ini dia ingin sekali menjejalkan minuman yang selama ini ia hindari itu, Soju*. Berharap sedikit masalah dapat ia lupakan sejenak. Langkah itu terhenti didekat sebuah tiang, memandangi sang istri yang tersenyum ramah kepada pelanggan, hatinya turut menghangat.


"Cantik sekali... " gumamnya di ambang batas kesadaran.


Mendadak, John berjongkok, perutnya terasa panas dan mual. Dan tak lama kemudian memuntahkan semua alkohol itu dari dalam perutnya. John memang memiliki toleransi yang rendah terhadap alkohol, sebab itulah dia menghindarinya.


"Sial!! " keluhnya sambil mengusap bibir tipis yang sedikit basah.


Tak ingin menyusahkan Hyuji, John memutar langkah. Berniat pulang dan menenangkan diri dirumah.


***


Hyuji menghela nafas, perasaan khawatir tentang John yang tidak menghubungi sama sekali selama seharian penuh membuat hatinya gelisah. Bahkan, pesan yang ia kirim pagi ini tak kunjung mendapat balasan.


Hampir mencapai gagang pintu rumah dengan dua tas besar dikedua telapak tangan, Hyuji kembali tidak bisa menahan rasa gundahnya. Menurunkan barang bawaan, beralih mengeluarkan ponsel dari saku tas kecil yang berada di pinggang, Hyuji menekan tombol hijau untuk menghubungi John.


"Kemana sebenarnya si brengs*k ini?" geram Hyuji karena tak kunjung mendapat jawaban atas panggilan yang ia lakukan. "Awas saja kalau sampai aku tidak melihatmu didalam rumah!" kesal Hyuji sambil menekan passcode rumah dan dengan tergesa kerena dirundung cemas dan kesal saat melepas alas kakinya.


Namun, sesuatu menyambut indra penghirupnya saat pintu berhasil terbuka. Seketika mual itu datang kembali, mengaduk seluruh isi perut Hyuji. Kendati demikian, semua sirna sebab maniknya mendapati sosok John yang tergeletak diatas sofa. Dengan keadaan yang sudah berantakan. Ingin sekali mengumpat, namun Hyuji menahan kuat-kuat.


Meletakkan dua tas besar yang dari tadi bergelayut pada kedua lengan, berjalan mendekat kepada John. Melirik Jam dinding yang menunjuk pada angka sebelas lebih tiga puluh menit.


"Apa yang dilakukan pria ini? Mengapa dia mabuk seperti ini? Berapa banyak soju yang diminumnya hingga seperti ini? Sudah tau tidak bisa minum juga?!" gerutu kesal Hyuji sambil menahan mual akibat bau alkohol yang menyengat.


Tiba-tiba John membuka kedua manik dan menyuguhkan sebuah senyuman hangat untuk Hyuji yang masih berdiri disampingnya.


"Sudah pulang Hyu? Aku menunggumu sejak tadi!"


"Hei, kamu minum?"


John hanya mengangguk sebagai jawaban pasti untuk wanitanya itu.


"Kenapa kau—"


"Tolong, sekali saja biarkan aku seperti ini!" potongnya dengan suara parau dan nafas teratur.


"Kau pernah bilang tidak akan pernah menyentuh soju—"


"Please..." pinta John perlahan.


Hyuji dapat menyaksikan bagaimana airmata itu menetes dari ujung mata John yang kembali ia pejamkan.


Dia menangis?


Batin Hyuji penuh tanya saat melihat lelehan liquid bening itu. Hyuji duduk di tepian sofa, mengusap kening John dengan penuh perhatian. Bahkan hatinya turut sakit menyaksikan John menangis, yang bahkan belum pernah sama sekali ia lihat.


"Aku tidak tau apa yang sedang kau rasakan hingga membuat dirimu sendiri menjadi seperti ini! Tapi, setidaknya, berbagilah denganku! Kesedihanmu, masalahmu, atau apapun yang menyakitimu! Karena aku ada untuk melengkapi dirimu... " tutur Hyuji sangat lembut.


John meraih pinggang dan membenamkan wajahnya di pangkuan Hyuji, menangis tanpa suara disana. Netra Hyuji turut memburam saat melihat punggung kekar prianya itu seperti bergetar. John tergugu. Hyuji meraih surai yang sempat ia olok kemarin, dan mengusapnya penuh afeksi.


"S-sa... maksudku, John! Katakan ada apa?"


Pria itu tak menjawab, hanya mempererat pelukannya. Hyuji terpaku dalam kejut saat John mengeluarkan suara tangis yang cukup keras, hatinya tersayat pilu.


"Ba-baiklah, beristirahatlah! Kita bisa membicarakan ini besok! "


John menggeleng, membuat Hyuji semakin tak mengerti apa yang sedang dialami suaminya tersebut.


"Kau ingat saat pertama kali kau mengajakku bertemu John?" ucap Hyuji mencoba menghangatkan situasi. "Saat itu, musim dingin, bersama Reyna juga! Ah, aku jadi rindu Reyna! "


John sedikit tenang, hanya suara isak yang masih tertinggal, yang masih Hyuji rasakan.


"Kau tau? Aku terkejut karena pemuda yang kutemui saat itu sangat tampan! "


Hyuji tersenyum sebab mendapati John kini mengangkat wajahnya, menoleh ke arah samping demi mendengar kesan Hyuji saat melihat dirinya untuk yang pertama kalinya, dulu. Yang tentunya belum pernah ia dengar sama sekali.


"Aku juga masih ingat saat Reyna menyuruhku untuk mendekatimu! Rasanya malu setengah mati! Dan saat itu aku tidak tau jika kau sudah pernah bertemu Reyna sebelumnya!"


Entah mengapa, Hyuji ingin sekali mengungkapkannya saat ini. Seolah dia merasa sesuatu akan terjadi pada mereka berdua.


"Reyna bilang kamu itu pemuda baik, sebab itulah aku mengiyakan saat kau mengajakku menemui orang tuamu! Dan semua seolah hanya sebuah mimpi saat aku mendapati kita menikah begitu saja!" jeda Hyuji sesaat, kembali mengedarkan pandangan, kemudian melanjutkan. "Kau itu Cinta pertamaku John! "


"Hyu... " akhirnya John membuka suara.


"Kau percaya padaku bukan? "


"Tentu saja! "


"Lalu, apa kau masih akan tetap mencintaiku meskipun—"


Tiba-tiba saja John menghentikan pembicaraan, dan kembali mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Hyuji. Sesekali mengecup perut rata itu juga.


"Terima kasih sudah mencintaiku dalam waktu yang lama Hyu! "


"Kenapa kau bicara seperti itu?"


John berusaha bangkit, menatap kedua manik Hyuji dalam, penuh makna. Bibirnya mengatup dalam getar menahan tangis, kemudian tertunduk paksa menghindari tatapan Hyuji yang berubah sendu.


Hyuji memiringkan kepalanya agar dapat kembali melihat manik John yang sedang bersembunyi.


"Katakan, aku percaya padamu!" ucap Hyuji lembut dan hangat.


"Mungkin, kita tidak akan bisa bersama lagi! "


Nafas Hyuji tercekat. Bagai dihantam gada yang mengenai tepat di ulu hati, Hyuji mematung seketika. Kedua maniknya masih terpaku pada fitur tampan yang selama ini ia kagumi itu. Mendadak, seluruh tulangnya kebas hingga mati rasa, kedua hazelnya diselimuti nebula yang cukup tebal hingga tak sanggup lagi memandangi tegasnya bayangan John yang berada dihadapannya.


"Kita harus berpisah Hyu! "


Hyuji menarik senyuman paksa dibibirnya yang bergetar. Tak berhenti menatap fitur John, dengan air mata yang mulai turun dan jatuh diatas kedua pangkuannya.


"K-kau yakin dengan keputusanmu John?"


Dan waktu Hyuji seolah berhenti tepat di titik nol saat tak mendengar jawaban apapun dari John. Berharap ini hanya bunga tidur, dan semua akan sirna saat ia terbangun pada detik selanjutnya.


Hyuji tertawa, saat dirinya kembali ditarik oleh kesadaran. John sedang duduk dihadapannya, menatapnya, dan yang lebih menyakitkan yakni, semuanya bukanlah mimpi seperti yang ia harapkan. Hati Hyuji tercabik mengerikan. Sakit, dan ngilu secara bersamaan.


Hyuji tergugu dengan telapak yang meremas pakaian didadanya.


"Maafkan aku Hyu... "


Kali ini Hyuji yang menggeleng, tak bisa menerima begitu saja kenyataan pahit yang harus ia terima pada pernikahan yang memang sejak awal seharusnya tidak terjadi.


Apa yang akan ia katakan kepada kakaknya yang akan datang jika tak melihat John nanti? Apa yang harus ia katakan pada ayah dan ibunya tentang kegagalannya? Lalu, bagaimana dia akan hidup selanjutnya?, semua pertanyaan itu memaksa Hyuji untuk merasakan rasa sakit yang semakin menghujam.


"Kau keterlaluan John?! Bisa-bisanya kau katakan ini saat dirimu dalam keadaan mabuk seperti ini? "


"Hyu... "


"Silahkan! Tinggalkan saja aku, karena memang sejak awal tidak seharusnya aku hadir dan berada diposisi ini! Aku terlalu percaya diri dan memaksakan keadaan agar menerima diriku!"


John meraih pundak Hyuji.


"Percayalah padaku, " Suara John tercekat oleh salivanya sendiri. "Tetaplah berada disini! Dirumah kita! "


"Apa lagi yang harus aku percaya sekarang? Bahkan kau hanya membual tentang janjimu untuk tetap tinggal disini! " suara Hyuji semakin pilu ditengah isak, membuat John harus membawa tubuh itu kedalam pelukannya.


"Percayalah—jika pada musim dingin saat itu kita bertemu, pada musim dingin yang lainnya kita akan bertemu kembali! Saat itu, aku berjanji, aku akan membawamu kembali dan kau akan diakui oleh siapapun yang melihat dirimu bersamaku! Sebagai istri seorang John Wilson! Itu janjiku!"


Hyuji hanya tergugu.


"Berjanjilah, bertahanlah hingga saat itu datang! Musim dingin yang beku dan menyakitkan! Aku akan menemukan dirimu dan membawamu kembali! "[]




Baca pratinjau sambil dengerin musik sendu dari playlist , kenapa jadi ikutan mewek ya? Serasa menjadi Hyuji :`( ㅠ_ㅠ


BTW, di part inilah aku letakkan alasan mengapa memakai judul yang tertera di cover.


Badai sudah datang, kencangkan sabuk pengaman. Hehehe...


Terima kasih untuk yang sudah meninggalkan jejak like disini. Vi's sungguh-sungguh berterima kasih atas apresiasinya, Chingudeul...


Salam Hati Warna Ungu,


💜💜💜


Vizca.