
Warning!!
Mature and depiction of sexual intercourse, skip untuk pembaca dibawah umur. Jangan ngeyel!! Jadilah pembaca bijak.
---o0o---
Jika musim dingin adalah kenangan terburuk Hyuji karena kehilangan sahabat yang sangat ia sayangi, mungkin pada musim semi lah Tuhan memberikan anugrahnya berupa sebuah kebahagiaan.
Hyuji juga mengingat saat Reyna berkata jika John adalah pemuda baik. Dia masih tak bisa melupakan ucapan sahabatnya itu.
Cahaya matahari masih bersembunyi dibalik gedung-gedung tinggi bertingkat puluhan. Disurainya lembut rambut John yang tadi berantakan. Hyuji memanjakan suaminya itu.
Tiba-tiba saja John bangkit dari pangkuan. "Jangan bergerak Hyu! "
John melangkah lebar menuju nakas guna mengambil ponsel, kemudian kembali berbaring dipangkuan Hyuji sambil menyalakan persegi pintarnya tersebut.
Waktu menunjukkan pukul enam lebih sepuluh menit, John membuka playlist musik dan memutar sebuah instrumen syahdu. Meletakkan ponsel tersebut disamping dirinya dan kembali merasakan usapan lembut Hyuji pada surai dan juga keningnya.
"Hyu... "
"Hemmm..? "
"Sepertinya hari ini akan turun hujan! "
"Benarkah? Sepertinya tidak?!"
"Nanti sore aku temani belanja! "
"Eummm! " jawab Hyuji singkat sambil mengangguk.
John dan Hyuji kembali diam. Menikmati musik yang sedang mangalun lembut memenuhi ruangan.
"Aku ingin dipanggil daddy!" ucap John tiba-tiba, masih dengan mata terpejam dan merasakan usapan Hyuji.
"Kau ini jangan mengada-ada John! "
"Aku serius Hyu! "
"Kalau begitu kita adopsi kucing saja!"
John mengeratkan rahangnya kesal. Apakah Hyuji pura-pura? Atau memang dia tidak peka dengan ucapan John.
"Memangnya kucing bisa memanggilku daddy? "
Hyuji terdiam. John tiba-tiba mengejutkan Hyuji karena memeluk pinggang kecil dengan perut rata milik Hyuji. Membenamkan wajahnya disana, sesekali Hyuji dapat mendengar nafas besar John. Pria itu sedang dikungkung nafsu.
"Jo-John... hentikan, geli! "
Memang ini adalah pertama kali Hyuji diperlakukan seorang pria seperti itu. Mendengar namanya disebut, bukannya berhenti, John sedikit mengangkat tubuh dengan kedua lengan hingga sampai didada Hyuji. Kembali membenamkan wajahnya disana, membuat Hyuji yang merasa geli berusaha menyingkirkan kepala John dengan sedikit menarik surai suaminya menjauh.
John malah bangkit dan beringas. Kedua lengan kekar itu meraih dada Hyuji dan meremasnya lembut. Sementara bibirnya sudah menjelajah birai Hyuji.
Beberapa menit kemudian, John melepas ciumannya. Nafas mereka berdua saling memburu.
"Kau percaya padaku kan Hyu?" tanya John dengan suara parau dan kedua manik terlampau sayu.
Hyuji mengangguk, sedikit ragu, namun tak bisa menolak jika dia juga menginginkan John saat ini.
Hingga Hyuji sadar saat mereka berdua sudah tak terbalut apapun. Kedua lengan yang bergelayut pada leher kekar sang Alpha, Hyuji kembali meremang saat sapuan lembut menyentuh leher dalamnya. Memejam dengan suara rintihan yang tertahan dalam kerongkongan. John mulai menyapa Hyuji.
Keringat yang membasahi kening mereka dalam panasnya suhu yang mereka ciptakan, Hyuji memekik saat dia merasakan sebuah benda asing mulai memasuki dirinya.
"J-John... " panggilnya dengan suara tersengal menahan rintih. Pria itu menyibak surai basah Hyuji, membelai penuh sayang saat melihat Omega-nya memicing sambil meremat punggung kokohnya.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja! " rayu John agar Hyuji merasa nyaman saat dirinya yang menyapa Hyuji semakin jauh dan dalam.
Satu jam berlalu, sang Alpha semakin memperkuat dorongannya membuat sang omega kembali meremat surai basah yang terjuntai.
"John... "
"Benar, begitu sayang... "
Kegilaan semakin menjalar, John memekik pada tiga dorongan terakhir. Membiarkan dirinya memenuhi Hyuji. Hingga habis tak bersisa. Nafas John bergetar, torsonya serasa melayang diudara.
Mengecup lemah kening basah kemudian berbaring disamping Hyuji, John mengatur nafas yang serasa habis. Menoleh kearah Hyuji yang masih memejam disampingnya, meraih telapak kecil dibalik selimut kemudian menggenggam erat.
"Terima kasih sayang... Aku akan selalu mencintaimu! "
Hyuji mengangguk dan melihat manik rusa John yang sayu. Membiarkan prianya membelai wajah lelah sedikit pucat miliknya.
"Aku harap mereka bekerja dengan baik didalam sana, dan segera hadir untuk memanggilku daddy! "
"Eummm. "Jawab Hyuji singkat sambil menahan rasa sakit disekujur tubuh, terutama pangkal pahanya.
"Aku akan membuat sarapan setelah ini! "
"Eung. "
Hyuji benar-benar lelah dan tak sanggup menggerakkan tubuh sedikitpun. Tulangnya seperti barusaja dihancurkan oleh John.
Tiga puluh menit berlalu, John membawa dirinya memasuki kamar mandi dengan langkah gontai untuk membersihkan diri dan bersiap membuat sarapan untuk mereka berdua.
Hyuji, jangan ditanya seperti apa usahanya saat membawa diri untuk pergi ke kamar mandi. Hampir terjatuh, hingga ingin merangkak dilantai karena kakinya yang masih bergetar karena rasa lelah dan sakit yang luar biasa.
"John benar-benar tidak punya perasaan! Bagaimana dia bisa menyuruhku bertanya pada ibunya tentang benda yang ada pada dirinya!" Gerutunya kesal didalam kamar mandi. Hyuji juga mendapati beberapa bekas sesapan John didada, leher dan beberapa bagian lain.
Keluar dari kamar dengan rambut yang masih basah dan langkah yang terkesan tidak biasa, John menahan tawa.
"Jangan tertawa! Kau tau sesakit apa diriku sekarang John?! " bentak Hyuji dengan rasa kesalnya.
"Maaf, lain kali tidak akan seperti itu! Aku jamin! "
"Ck!! "
John membawa sepiring japchae dan dua mangkuk nasi. Tidak tertinggal kimchi yang beberapa hari lalu diterimanya dari ibu MinHo, temannya bekerja.
"Makanlah dengan baik sayang, kembalikan tenagamu agar kita bisa melewatinya sekali, tidak, dua kali lagi hari ini!" ucap John sambil menarik sandaran kursi dan duduk dihadapan Hyuji.
"Tidak! Kau bisa membunuhku jika kau melakukannya lagi John!"
"Tidak akan... "
Hyuji menatap nyalang pada fitur sempurna John yang sedang sibuk mengunyah makanan didalam mulutnya.
"Kau memiliki ukuran diluar nalar! "
"Uhuk, uhuk... "
John meraih segelas air putih untuk meredakan kerongkongannya yang tersedak nasi dan kimchi yang sedikit pedas. Dia tertohok dengan ucapan Hyuji.
"Aku juga tidak tau itu! Menurutku itu ukuran normal!"
"Kau bilang sebesar lengan ini ukuran normal? " tanya Hyuji sambil mengangkat lengannya didepan John. "Tidak! Aku hampir mati saat kau memaksa---"
"Ssshhh....Sudah! selesaikan dulu sarapanmu! nanti dingin, tidak enak!" sahut John cepat sebelum Hyuji semakin merambah ke pembicaraan yang semakin jauh.
Hari ini pun berlalu begitu saja, hingga senja menjelang yang mereka berdua habiskan untuk berbelanja. Dan malam harinya, John mengulang kembali kegiatan pagi hari tadi bersama Hyuji. Dengan penuh Cinta. Keduanya. []