
Ruangan yang hangat, aroma rumah yang sangat-sangat disukainya bisa kembali ia hirup. Berantakan, tapi tak membuat John ingin pergi dari sana saat ini.
"Pergilah kekamar mandi, aku akan mengantar baju hangat untukmu! "
Tanpa bersuara, John melangkah begitu saja.
Canggung, tentu saja. Hyuji mencoba membuat suasana menjadi senetral mungkin, berbicara seolah dirinya tidak terluka dengan apa yang sudah terlewati hari ini. Melangkah kedalam kamar guna mengambilkan pakaian hangat seperti yang ia janjikan, Hyuji kembali merasa sesak karena aroma citrus yang menguar dari pakaian bersih untuk John dalam genggamannya.
Mendadak jantungnya terasa sangat sakit, menggigit bibir bawah sekilas, Hyuji kembali menata raut wajah sebelum mengetuk pintu kamar mandi, dimana pria yang sangat dicintainya berada didalam sana.
Setelah mengetuk sebanyak tiga kali pada bilah pintu yang terbuat dari bahan vinyl itu.
"Bajumu, aku letakkan diatas meja! "
"Eoh! " jawab John dari dalam kamar mandi, membuat senyuman kecil mengembang pada birai Hyuji.
Hyuji menjauh setelahnya, berniat membersihkan rumah yang berantakan, dan membuatkan suaminya itu minuman hangat agar tak terserang flu.
"Ah, dia pasti belum makan juga kan? Akan aku buatkan ramen juga agar dia tidak masuk angin! " ucap Hyuji bermonolog sembari menyapu pecahan kaca dan memungut buah yang tergeletak dilantai. Menatap sekilas buah pemberian Rommy, dan memasukkannya kedalam keranjang sampah tanpa berfikir panjang. "Maaf Rom, aku tidak ingin john pergi dariku! "
Well, dia memang berbohong pada ucapannya yang rela melepas John. Yang pada kenyataan semakin merundung jiwa dan raganya.
Dua puluh menit berlalu begitu saja. John berjalan keruang tengah dengan rambut setengah basah, sweater tebal berwarna salem dan celana boogie yang sudah disiapkan Hyuji untuknya tadi.
Semangkuk besar ramen yang masih mengepulkan asap, segelas minuman hangat, semangkuk nasi, kimchi dan juga sekotak ayam pedas yang ia bawa sepulang kerja tadi, menyambut John dimeja makan.
Menatap sekeliling, dia tak mendapati sosok Hyuji didalam ruangan. Hanya makanan hangat dan foto pernikahan mereka tanpa bingkai yang tersandar pada sofa. Hingga bunyi pintu terbuka membuatnya harus berpura-pura untuk tak peduli.
Didapatinya Hyuji yang sedang melipat payung basah dan mengibaskan pakaian yang sepertinya terkena percikan air hujan.
"Oh? Kau sudah selesai? Diluar, hujannya masih sangat deras! Makanlah dulu, aku yakin kau pasti lapar! " tutur Hyuji melewati John dan duduk dikursi meja makan kecil di dapur sederhana mereka. "Kemari dan makanlah dulu John! "
Kriuk keras didalam perut yang tak bisa ia tutupi, Hyuji mendengarnya lalu tersenyum lembut.
"Percayalah, aku tidak memasukkan racun atau semacamnya didalam makanan ini! Kau akan tetap hidup setelah makan ini John! " goda Hyuji, sambil melahap nasinya. Membuat perut John yang memang sudah sangat lapar tergugah. Dia berjalan mendekat dan duduk dihadapan Hyuji.
Hyuji kembali terkekeh setelah melihat wajah imut dan maskulin John yang terpancar dalam satu waktu setelah mandi.
"Kenapa?! " tanya John dengan nada tak suka sama sekali.
"Tidak! Tidak ada apa-apa! Kau terlihat tampan dengan pakaian itu! Aku pernah bilang padamu bukan? Dulu, saat kita memilihnya di Myeongdong! "
Beralih John yang menatap raut Hyuji yang sedang tertawa seperti tanpa beban. Hatinya kembali menghangat, sejenak melupakan masalah yang membuat mereka diambang kehancuran beberapa saat yang lalu, John menikmati makanan dan minuman yang dihidangkan Hyuji dengan lahap.
"Kau duduk saja disana! Aku yang akan mencuci piringnya! " titah John setelah sesi makan malam selesai.
"Neee... " jawab Hyuji mengulas senyum manis dan melangkah menuju sofa.
Tak luput dari pandangan, John melihat Hyuji berjalan sedikit menyeret kaki kanannya. Namun ia harus berberes terlebih dahulu.
Suara gemericik air westafel dan piring yang sesekali berbenturan membuat Hyuji mengalihkan pandangannya pada punggung kekar John, sendu merangkak naik pada pupil mata Hyuji. Mungkin setelah moment ini, dia harus menerima kenyataan jika tak akan melihat lagi punggung lebar dan tubuh jangkung itu.
Mencoba tegar, Hyuji mengalihkan rasa gundah dengan menyalakan televisi ditengah derasnya hujan. John tak suka, hanya melirik pada ekor mata karena selama ini dia selalu melarang Hyuji menyalakan televisi saat hujan turun, tapi kali ini dia hanya bisa diam membiarkan begitu saja.
Suasana semakin canggung kala John telah selesai membersihkan piring, dia berdiri diambang jendela yang memperlihatkan hujan diluar yang masih menahannya disana.
"Kenapa kau berdiri disitu? Apa kakimu tidak lelah? Kemarilah! Duduk disini! " ajak Hyuji sambil menepuk badan sofa beberapa kali.
John berdecak kesal, masih mencoba menahan gengsi dalam diri tapi tubuhnya bertolak belakang dengan isi fikiran. Dan pada akhirnya dia berjalan menuju sofa, memberi isyarat agar Hyuji memberi jarak dengan dirinya.
Nahasnya, kaki Hyuji yang semula tertancap kaca dengan luka lumayan dalam itu terbentur kaki meja cukup keras. Memicing sambil menahan rasa sakit, akan tetapi darah kembali mengucur. Membuat John terbelalak dan sontak berjongkok dibawah tubuh Hyuji.
"Be-berdirilah! Tidak apa-apa, aku akan mengatasinya sendiri! "
"Diam! " titah John sambil mengernyitkan dahi dan alisnya. Kemudian menyentuh kaki Hyuji sejenak, lalu berdiri kasar.
"Hei, mau kemana? "
"Apa kau akan membiarkan luka itu terinfeksi dan membekas? " kesalnya sambil berjalan menuju nakas P3K yang terpaku didinding ruang keluarga tersebut.
Kembali dengan membawa gulungan kasa, revanol, dan juga obat merah, John mulai mengobati luka Hyuji.
Dia hanya bisa diam dan ternganga saat John mengobati lukanya itu dengan sangat telaten.
"Kenapa bisa terluka seperti ini? "
Hyuji hanya diam tak merespon.
"Kau membuatku merasa bersalah jika sampai terluka seperti ini Hyu! " lanjut John dengan suara parau. Masih merawat luka Hyuji.
"Jangan menyalahkan dirimu! Ini kecerobohanku sendiri! " jawab Hyuji dengan suara lemah.
"Kau berbohong bukan? Kau tidak pandai berbohong Hyu! Katakan kenapa kau terluka seperti ini?! "
Memikirkan alasan yang tepat, Hyuji menatap surai madu John yang masih kusut karena belum disisir.
"Terkena kaca! "
Jawaban Hyuji sontak membuat John menghentikan telapak yang memegang kaki Hyuji, mengangkat pandangan sebatas pinggang Hyuji.
"Pigora yang aku hancurkan?! " tanyanya sambil menautkan manik pada manik panik Hyuji.
John kembali menunduk dan mulai membebat luka Hyuji dengan perban.
"Maaf... "
"Tidak, kau tidak perlu---"
"Maafkan aku!! " tegasnya sekali lagi tanpa berani menatap manik Hyuji.
Ragu, Hyuji mengangkat lengannya dan mengusap pucuk surai John dengan lembut.
"Aku baik-baik saja John! Jangan khawatirkan aku berlebihan seperti ini! Aku baik-baik saja!"
Agaknya mereka dalam keadaan rapuh. John tergugu, menangis tepat dihadapan Hyuji.
"Hei, mengapa kau menangis seperti itu? "
"Maafkan aku Hyu... "
"Aku baik-baik saja John! "
"Maafkan aku... "
Hyuji turut bersimpuh, menangkup kedua pipi buntal John lalu mengusap air mata yang membasahi fitur mengagumkan itu.
"Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja!"[]