Another Winter

Another Winter
another Winter 13



"Jangan pernah pergi dariku Hyu! Aku mohon!"


Suara John terus terngiang dikepala Hyuji, tentang dia yang tak ingin Hyuji pergi darinya, tentang dia yang memohon dengan wajah sayu dan juga manik bulat yang Indah.


Apalagi, ditambah pergulatan panas mereka diatas ranjang setelah konfersasi itu berakhir. Suara geraman John benar-benar membuat candu pada rungu Hyuji. Mendadak pipi Hyuji bersemu merah, begitu juga senyuman dan juga detak jantung yang sudah tidak bisa ia kontrol saat membayangkan wajah tampan suaminya itu.


"Tidak, tidak! Kenapa aku jadi terus memikirkan hal mesum seperti ini? Ini salah! " gumam Hyuji menarik nafas.


Tepat dihadapannya, televisi sedang menyiarkan acara kesukaan Hyuji disiang hari. Drama romansa tentang CEO yang menikahi seorang pembantu rumah tangganya dengan alur yang sedikit berbelit, tapi Hyuji suka.


Agaknya, kisah mereka hampir saja serupa. Namun pemuda itu tetap hidup sebagai CEO.


Tiba-tiba ponsel diatas meja yang tak jauh darinya bergetar. Tanda sebuah pesan masuk. Hyuji menarik sarung tangan yang sudah bercampur adonan dan meraih ponsel tersebut.


"Ini... "


Hyuji tidak asing lagi dengan nomor yang mengirim pesan padanya. Dia ingat betul setiap digit angka yang mengirim pesan gambar saat itu.


Buru-buru Hyuji menekan balon pesan itu.


Temui aku sekarang juga, ditaman kompleks!


Hyuji mengerut dahi. Bagaimana bisa dia bertemu orang asing yang bahkan tak menyebutkan namanya. Tak peduli, Hyuji berniat tak menggubris dan melanjutkan pekerjaan.


Diluar mendung semakin menggelap, mungkin akan turun hujan sore ini.


Akan tetapi, ponsel itu berdering. Hyuji melihat bagaimana ponsel itu bergerak memutar karena getar. Tatapannya tertuju pada nomor cantik yang terpampang di display layar.


Dengan perasaan ragu dan kalut yang menyelubungi hati, Hyuji meraih persegi pintar itu. Menggeser tombol hijau dan mengarahkan tepat ditelinga kanannya.


Untuk beberapa detik, Hyuji diam. Tak terdengar suara siapapun diseberang. Hingga suara seorang wanita mengejutkannya.


"Apa kau tidak punya sopan santun Huh? Kau membiarkan ibu dari suamimu menunggumu seperti ini eoh?! "


Ibu suamimu? Jadi? Yang mengirim gambar John saat itu --- batin Hyuji bermonolog. Seperti dihujam pisau tajam tepat di jantungnya, Hyuji mendadak sulit bernafas. Telapak tangan Hyuji bergetar hebat kala mengetahui siapa yang ingin menghancurkan hubungan dan rumah tangganya dengan John. Yang tak lain dan tak bukan adalah Joana Wilson, ibu mertuanya sendiri.


"YAH!!! ---"


"Iya ibu, saya akan sampai disana secepat mungkin! " jawab Hyuji dengan nada takut sebelum wanita itu memutus telepon sepihak.


Tanpa berfikir panjang, Hyuji menyahut sebuah sweater panjang yang akan membungkus dirinya yang hanya berpakaian santai. Tak lupa dompet dan juga kunci rumah, membiarkan adonan itu tergeletak begitu saja diruang tengah. Hyuji berlari menuju taman kompleks.


Hyuji tak tau mengapa akhir-akhir ini tubuhnya mudah sekali lelah. Masih dengan nafas yang terengah hebat saat mendapati presensi wanita sedang duduk dengan punggung tegak diatas kursi taman. Hyuji menyeka keringat yang muncul di kening, menata surai yang berantakan karena terpaan angin saat berlari.


Dan dengan sisa nafas yang ada di paru-paru, Hyuji membungkuk hormat memberi salam.


"Maaf membuat ibu menunggu! "


Wanita itu hanya menatap tanpa rasa iba sedikitpun dari kedua maniknya. Hyuji menata nafas yang memburu, bibirnya terbuka karena engahan dan udara panas yang berhembus dari kerongkongan.


"A-ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan, sampai ibu datang jauh-jauh kemari? "


"Dimana putraku?! "


Pertanyaan itu sangat konyol bukan? Bukankah dia juga tau jika di jam seperti ini John sedang bekerja.


"Di-dia sedang bekerja ibu?! " jawabnya santun.


"Sebagai pengedar brosur dijalanan!?"


Apa?


Hyuji tercekat, dia baru mendengarnya. Selama ini John tidak pernah mengakui pekerjaan yang dilakukan dan selalu menghindar. Jadi dia bekerja sebagi pengedar brosur. Hyuji hanya memberikan sebuah anggukan meskipun tak tau yang sebenarnya. Dia akan bertanya pada John nanti.


"Mau sampai kapan kau akan memperbudak putraku seperti itu huh?! "


Hyuji meremat jemarinya cemas, dia hanya menunduk tak bisa bicara apapun. Seperti seorang anak kecil yang sedang dimarahi karena berbuat nakal.


Angin dingin kembali bertiup. Menghamburkan anakan rambut Hyuji hingga menutup sebagian wajahnya.


Hingga suara sang mertua kembali terdengar.


"Tinggalkan putraku! Akan kuberikan berapapun yang kau minta! " tegasnya dengan raut serius.


Seketika Hyuji mendongak, menatap tak percaya pada wanita bergincu merah menyala dihadapannya. Perlahan airmata luruh dari sudut mata Hyuji, jantungnya berpacu lebih cepat, dan hatinya berdenyut sakit. Kedua kaki yang sudah lelah berlari seolah ingin bersimpuh diatas tumpukan pasir taman.


Hyuji terbahak getir.


"Bagaimana bisa ibu menyuruh saya berpisah dari John? Ibuโ€”"


"Jangan panggil aku seperti itu! Aku tak suka!"


Benar, seharusnya seperti itu, sejak awal dia dan John bukanlah sosok yang pantas untuk bersanding. Kini, bibir Hyuji terkunci rapat. Hanya rintihan tertahan yang ia sembunyikan dibalik raut tenang dan tubuh ringkihnya. Mencoba tegar, namun pada kenyataan Hyuji hanyalah wanita biasa yang rapuh.


"Jadi anda menginginkan kami berpisah?! "


"Kau sudah tau jawabannya! "


Untuk kesekian kali dirinya dihancurkan oleh orang yang sangat ia hargai. Dunianya seolah runtuh saat ini, perasaan Hyuji hancur berserahkan menjadi kepingan yang akan membuat kaki Hyuji terluka saat menginjak untuk melangkah pergi.


"Tidak! "


"Jika kau menolak, aku akan melakukan dengan caraku sendiri! "


Wanita yang juga ibu mertuanya itu berdiri kasar. Berjalan meninggalkan Hyuji yang masih terpaku ditempat semula.


Panik menyerang Hyuji, tubuhnya bergetar seolah tak sanggup lagi hanya untuk sekedar berdiri. Meraih kursi taman dengan susah payah, Hyuji bersimpuh diatas pasir taman. Menangis sejadi-jadinya dengan sebelah tangan yang menjadi sandaran kepala, dan satu tangan yang lain meremat sweater.


"Kenapa harus seperti ini? Kenapa? "


Mendadak tangis Hyuji terhenti paksa. Dia bermonolog seolah dirinya adalah wanita yang kehilangan akal.


"Apa ini sebuah karma?! Ya, mungkin ini sebuah karma karena aku menghilangkan nyawa sahabatku! "


Hyuji menekuk lengannya, dan membenamkan wajahnya di dalam sana.


"Maafkan aku...Maaf..."[]


โ€ข


โ€ข


Vi's Here...


Tidak terasa sudah sampai pada konflik cerita. (Kayaknya daku sendiri yang terlalu rajin update, ๐Ÿ˜)


Terima kasih untuk yang masih Setia membaca karya Vi's. Tinggalkan jejak Like dan tinggalkan komentar yang membangun. Berikan Vote juga jika berkenan.


Sekali lagi terima kasih.


Salam Hati Warna Ungu,


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


Vizca.