
Sebelumnya, JiEun pikir akan menghabiskan akhir pekan yang menyenangkan. Menyelam sambil meminum air, hal itu yang menjadikan senyuman selalu terukir dibibir mungilnya saat melakukan perjalanan jauh ke amerika, negara dimana John tinggal saat ini. Berlibur ke luar negri dan juga bertemu pujaan hati. Ah, menyenangkan—Pikirnya.
Namun apa yang didapat disini tidaklah sesuai ekspektasi yang ia bangun saat berangkat hingga mendarat diatas tanah berpenduduk asing tersebut.
Senyuman JiEun sirna diatas dinginnya lantai apartemen mahal bernuansa setengah gelap itu. Bahkan perasaanya serasa hancur berkeping hingga memunculkan rasa dengki.
"Jadi kau ingin aku pergi dari sini atau pergi dari hidupmu?" tanya JiEun memastikan dengan tatapan nyalang.
John mengedik bahu tak peduli. "Keduanya!"
JiEun mengalih pandang dengan tawa getir. Dia benar-benar tak menyangka John berubah sejauh itu membenci dirinya.
"Apa kau tidak takut jika ayahku mempermalukan keluargamu didepan media? Kau lupa siapa ayahku?"
"Tidak! Sama sekali aku ingat, seratus persen!"
JiEun kehabisan kata-kata. Mengimbangi pembicaraan ini terasa begitu sulit, dengan rasa benci yang bercokol dihati John untuknya.
"Kau ingin aku menjadi bagaimana John? Katakan saja!"
John berjalan mendekat dengan pandangan mengintimidasi pada manik bulat JiEun yang dulu sangat ia kagumi. Ada sedikit ragu saat ingin menyakiti tatapan lembut yang kali ini ia dapati dari sosok JiEun.
"Noona, cukup pergi dari hidupku dan jangan membuat keributan! Hanya itu yang aku inginkan! Aku ingin hidup tenang dalam kesendirian!" bisiknya lembut tepat didepan wajah JiEun.
Sial!!
JiEun menghentak kakinya keras, menyahut tas yang tadi ia geletakkan diatas sofa empuk milik John. Tanpa berbalik untuk sekedar melihat atau mengucap perpisahan, JiEun pergi begitu saja dari apartemen John. Meninggalkan John yang saat ini sedang tersenyum tak kalah getir saat menyadari jika dirinya kembali menyakiti hati seseorang.
"Maaf harus melakukan itu, tapi aku tidak bisa membohongi perasaan dan diriku sendiri, JiEun, noona... "
***
"Tolong bantu kami menjaga Hyuji selama dia berada disini bibi!" pinta Ryujin pada si pemilik rumah sembari membungkuk sopan.
"Tentu saja, saya akan membantu Hyuji dan memperlakukan Hyuji seperti keluarga sendiri!"
Hyuji tersenyum manis, hatinya menghangat melihat tawa lembut bibi hong.
Langkahnya kembali melewati bilah pintu ruangan yang akan ia tempati mulai malam ini, saat presensi kedua kakak dan juga bibi Hong menghilang dari pandangan.
Mengamati ruangan yang terlihat lebih rapi dari sebelumnya, saat pertama kali dia datang bersama Yoona. Hyuji merebah diatas ranjang kecil namun empuk dengan sprei dan selimut sewarna tulang. Menhembus nafas lelah sambil mengusap perutnya yang menendang sisi perut kanannya beberapa kali.
"Kau juga menyukai tempat ini sayang? Ibu akan membesarkan dirimu disini kelak! Jadilah anak baik, eung?!" tuturnya sembari menyematkan senyuman hangat untuk calon bayinya.
Malam semakin kelam, udara yang bertiup dari jendela kecil itu berubah dingin. Hyuji beranjak dan menutup jendela tersebut. Lalu kembali berjalan kearah koper berisi pakaian, dan menatanya kedalam lemari yang ada.
Maniknya terhenti pada sepasang sarung tangan dan kaki, topi juga jaket rajut kecil berwarna hitam yang beberapa hari lalu diberikan sang ibu.
Bayi itu akan lahir dimusim dingin, jadi jaga dia tetap hangat, pakaikan topi dan jaket rajut ini untuk menutup tubuh kecilnya nanti.
Hyuji kembali bergetar, merasakan bagaimana kasih sayang sang ibu pada calon bayinya. Memeluk erat ketiga benda kecil buatan ibunya tersebut dengan getir. "Aku akan memakaikan ini padanya nanti ibu!"
-
Pasti akan sangat menyenangkan nanti, jika pagi hari seperti ini disambut sebuah senyuman menggemaskan dari tubuh kecil yang menggeliat mencari kenyamanan saat cuaca mulai dingin. Hyuji sudah membayangkannya sejauh itu, membuatnya tersenyum kala membuka sepasang manik yang terlihat sedikit membengkak.
Mengayunkan kaki menuruni ranjang, dan melawan rasa berat yang membuatnya malas setengah mati, Hyuji menyahut handuk dan bersiap menuju kamar mandi yabg ada di belakang rumah bibi Hong. Perutnya terasa sedikit ngilu saat digunakan untuk bergerak, Hyuji mendesis.
Hyuji ingat betul apa yang dikatakan oleh dokter saat memeriksakan kandungannya bulan lalu, dia hanya perlu menarik nafas panjang.
Dan kini, usia kandungan itu sudah menginjak tujuh bulan. Semakin dekat dengan waktu bersalin, Hyuji juga mempersiapkan dirinya.
Sudah hampir satu bulan berjalan Hyuji menempati rumah itu dan membantu bibi Hong menjual mie dan tteokbokki dikedai depan rumah. Bibi Hong hidup berdua dengan suaminya, dan dia mempunyai satu pegawai dikedai, dan juga Hyuji.
Setelah menyelesaikan urusannya dikamar mandi dan juga mencuci pakaian, Hyuji bersiap untuk pergi kedapur kedai untuk membantu bibi Hong.
Wanita itu tersenyum ramah saat melihat presensi Hyuji dibalik pintu belakang dapur kedai.
"Beristirahatlah dulu, kau pasti lelah!"
"Tidak bi, Hyu malah ingin terus melakukan sesuatu agar tidak bosan! "
"Baiklah, kalau begitu tolong potong lobak dan daun bawang itu!"
Hyuji mengangguk menyanggupi, kemudian duduk diatas kursi dan mulai memotong daun bawang seperti biasanya.
Hyuji terlihat serius memotong daun bawang sesuai instruksi bibi Hong.
"Apa dia tidak pernah menanyakan kabar kalian?"
Hyuji terperanjat, membuat bibi Hong mengulangi pertanyaannya.
"Mantan suamimu! Apa dia benar-benar sudah melupakan dirimu? Apa dia tidak pernah menanyakan kabarmu?"
Hyuji kembali menatap pisau yang ia pergunakan untuk kembali memotong Batang daun bawang. "Sebenarnya, beberapa waktu lalu, dia melakukannya bi! Tapi Hyu tidak memberikan balasan! Hyu hanya tidak ingin disebut 'tak tau malu' nantinya!" jawab Hyuji sedikit ragu.
"Apa dia pria baik?"
Hyuji menghentikan telapaknya seketika, menatap lurus pada potongan daun bawang yang bertumpuk. Pandangannya kosong, tak tau harus menjawab apa.
Akan tetapi, beberapa detik kemudian bibirnya bergumam pelan memberikan jawaban. "Dia—baik! Bahkan untuk ukuran masyarakat dengan level tertinggi, dia adalah pemuda baik! Tapi semua itu tidak ada gunanya bi, dia sudah membuat Hyu kecewa! Dan—" Hyuji tersengal nafasnya sendiri, menoleh kearah bibi Hong yang sedang memperhatikan dirinya, Hyuji kembali melanjutkan.
"—yang lebih menyakitkan, Hyu belum bisa melupakan semua kenangan saat bersamanya dulu!"[]
•
•
Ada yang bisa menebak endingnya bakalan seperti apa?
Silahkan tinggalkan di kolom komentar.
Terima kasih sudah membaca dan berapresiasi.
Salam Hati Warna Ungu,
💜💜💜
Vizca.