Another Winter

Another Winter
another Winter 46



Winter Desember,


Sebuah kenangan, dan juga...


Sebuah janji.


Hyuji pikir, masa lalu pahit yang ia dapat dari sahabatnya—Reyna, yang pergi untuk selamanya pada musim dingin beberapa tahun lalu akan menjadi kenangan pahit terakhir yang ia rasakan. Nyatanya itu semua tidak sesuai dengan harapan Hyuji.


Kini, setelah beberapa tahun belakangan berjuang keras seorang diri demi kehidupannya dan Yena, Hyuji harus dihadapkan pada sebuah angan dan harapan yang benar-benar membuat dia tanpa sadar menantikan moment tersebut datang menyapa. Meskipun mungkin akan berakhir mengecewakan dirinya kembali—sekali lagi.


Salju turun lebat malam ini. Dibalik selimut tebal diatas ranjang berukuran sedang yang tidak begitu memantul, dan juga ruangan dengan suhu diatur cukup hangat, Hyuji membuka album foto untuk ia perlihatkan kembali foto ibu dan ayahnya pada YeNa, serta tidak ia lupakan kedua kakak beserta keluarga kecilnya.


"Apa paman iyu punya teman untuk YeNa?"


Ya tuhan, ingin sekali Hyuji mencubit gemas pipi chubby putrinya itu, saat berkata demikian. "Tentu saja sayang! Paman Ryu punya teman untuk Ye—panggilan sayang dari Hyuji) yang sangat tampan dan juga jago bermain bola!"


"Tapi, YeNa suka bemain boneka dan pemen stawbe-iy!" protesnya kekeh saat mendengar teman bermainnya lebih suka bemain bola daripada boneka, dengan suara madu yang menggemaskan.


"Baiklah! Kalau begitu, nanti saat bertemu dengannya, YeNa berbagi permen strawberry saja!" titah Hyuji dengan suara lembut penuh sayang sambil mengusap dan mencium pucuk kepala beraroma strawberry milik YeNa. Entah mengapa gadis kecilnya itu suka sekali semua yang berhubungan dengan strawberry—sama seperti dirinya.


Gadis kecil Hyuji mengangguk senang dengan bunny smile yang menggemaskan. Kemudian jari-jari kecil itu bergerak membalik album foto dan menampakkan sosok yang selama ini diceritakan sang ibu dan selalu membuatnya antusias bertanya, sebab dia sangat penasaran dengan apa itu sosok ayah.


"Lalu, ayah! Kapan dia akan datang ibu? YeNa sudah indu, ingin betemu ayah!" tanya YeNa, mendongakkan kepala demi menautkan manik rusa dengan hazel bulat itu pada sang ibu.


Mendadak, birai Hyuji seolah dikunci rapat. Tak tau apa yang harus ia katakan agar YeNa merasa senang, dan juga tidak meninggalkan kesan buruk untuk John pada YeNa, dengan jawaban yang ia tuturkan.


"Ayah? Dia masih harus bekerja keras sayang!" Hyuji memeluk tubuh kecil YeNa, erat sekali. "Nanti, suatu saat pasti ayahmu akan datang untuk menemuimu!"


"Tapi kapan... YeNa ingin sekali betemu..." rajuknya dengan suara parau yang masih terdengar menggemaskan dan juga bibir tipis dan kecil yang mengerucut kedepan.


Diam-diam, Hyuji mengesat airmata diatas kepala YeNa. Dia sudah tak sanggup menahan sembilu dihati yang mencengkeram kuat, bahkan nyaris kembali menghancurkan hati yang sudah kembali berbentuk.


"Ayahmu akan datang, untuk menemuimu! Menemui kita... "


***


Jika beberapa jam yang lalu dia tidak ingin berlama-lama menapakkan kaki di Seoul, Nyatanya pada detik ini kedua tumpuan tubuh kekar itu berdiri tegak dibalik sosok yang sangat ingin dia temui. Sang ibu.


Tersulut emosi, bahkan siap mencerca sang ibu dengan berjuta kecamuk serupa bom waktu didalam benaknya yang sudah ingin meledak. Memporak porandakan seluruh isi istana megah yang ia pijak saat ini.


"Kapan kau datang John?" tutur sang ibu datar, meskipun ada sedikit raut terkejut tergambar diwajah tenangnya.


Bukannya memberikan jawaban, John malah kembali bertanya dengan nada tak kalah dingin. "Katakan mengapa mama menyembunyikan hal besar tentang Hyuji dariku?"


Sang ibu berdecak kesal, membuang muka karena muak saat putranya itu datang-datang sudah menyebut nama Hyuji.


"Bisa kau jelaskan mengapa kau membatalkan pertunanganmu dengan JiEun saja, daripada membahas wanita tidak penting itu?!" jawabnya sarkas.


"Mama sudah pernah mendengar alasanku bukan? Jadi aku tidak perlu mengulanginya lagi!"


"Kau sudah mempermalukan keluarga Wilson, John! Mama kecewa denganmu!"


John tersenyum miring. "Lalu bagaimana nasib wanita yang sudah aku tinggalkan dengan seorang anak itu? Mengapa mama lebih memikirkan ego mama daripada cucu mama sendiri?!"


Terdiam, Joana terpatri dalam tatapan tajam putranya sendiri. Jantungnya mendadak berdentum kasar, tidak teratur, dan takut.


"Apa yang kau katakan John?"


Sebelah lengan berkacak pinggang, satu lengan lainnya mengepal dan ia letakkan didepan dahi. John tergelak tawa, menggeleng tak percaya jika sang ibu masih berusaha menutupi kebenaran itu.


Namun maniknya dapat merangkum pada raut yang semakin terlihat memucat dihadapannya. Ibunya sedang dirundung panik.


Tawa John semakin keras dan menggema, diikuti suara isakan pilu diantara bibirnya yang sedang bergetar dalam gelak tawanya sendiri, yang bahkan sama sekali belum pernah dilihat oleh sang ibu. John benar-benar putus asa dan kecewa, yang entah ia tujukan kepada siapa saat ini. Dirinya sendiri, atau keluarganya, atau bahkan alam yang mungkin sedang mempermainkan dirinya.


"Mam—" panggilnya sendu, "Mama keterlaluan!" John kembali tertawa. Meluapkan segala bentuk emosi yang selama ini ia kurung dalam belenggu hati kecilnya. "Mama ingin melihatku gila hemmm?!" lanjutnya sambil meremat sebagian surai yang beberapa menit lalu masih tertata rapi.


Joana terdiam, manik arogannya mulai memburam—ber-airmata.


"Atau—Mama ingin melihat aku mati perlahan karena semua keegoisan mama?"


Joana tertunduk melihat putranya yang kini jatuh bersimpuh diatas lantai dingin istana megah yang menjadi rumah selama ini.


"John—"


"Bahkan mama tega memisahkan aku dengan darah dagingku sendiri!" isak John diantara tegukan saliva yang tak kunjung mau berhenti melewati kerongkongan.


"Mama tidak bermaksud—"


"Sekarang mama puas melihatku hancur seperti ini? Mama puas?!" tanya nya kembali, dengan suara pelan—pilu sekali.


Hati Joana terasa remuk redam menyaksikan putranya yang begitu terluka karena ego yang ia miliki. Joana bahkan kini melangkah, memangkas jarak, menghampiri dan memeluk tubuh putranya yang bergetar hebat. Menangis tersedu diatas punggung kekar sang putra.


"Maafkan mama nak! Maafkan mama... "


John masih tergugu, suara tangisnya pecah tak sanggup lagi ia tahan.


Keduanya meluapkan kemelut mereka masing-masing. Hingga tanpa diduga oleh sang ibu, putranya kini bergerak dan memeluk erat memberikan balasan. Menangis semakin tergugu dibahu sang ibu, menyebut 'Mama', dan mengucap maaf berkali-kali dengan suara parau.


Joana, mengusap lembut surai sang putra. Ini pertama kali dia menyalurkan rasa rindu layaknya seorang ibu kepada putranya. Terasa asing diatas permukaan kulit tangan, akan tetapi hati Joana berubah menghangat, membuat wanita itu semakin keras menangis dalam pelukan John.


"Bawa kembali cucu dan menantu ibu... "


John terbelalak, manik rusa yang memerah itu terbuka lebar saat mendengar bisikan parau sang ibu ditengah tangis. John menarik tubuh ibunya sedikit menjauh, mengusap lembut airmata yang membasahi pipi sang pengandung.


"Mama... "


"Jangan membuat mama semakin merasa bersalah!" titah Joana diantara tunduk penyesalan.


John tersenyum, diantara rintik airmata yang masih menetes dari kedua pendarnya.


"Terima kasih mam!"


Joana mengangkat pandangan, menautkan pada wajah tampan sang putra. "Maafkan mama sudah membenci Hyuji! "


John merasa lega dan diselimuti rasa bahagia saat sang ibu menyebut nama wanita yang dicintainya itu.


"Bawa dia dan cucu mama kembali!"


Entah, John sudah tak mampu lagi menggambarkan bagaimana hatinya saat ini. Hanya bisa mengangguk kecil berkali-kali sebagai jawaban untuk permintaan sang ibu.


"Aigooo... Putra mama sudah menjadi papa sekarang!" ucap Joana sambil menangkup kedua pipi chubby John dan mengesat airmata yang masih membasahi pipi putranya itu.


John tergelak tawa dengan suara madunya. Birai tipis itu kembali bergetar—dalam senyum.


"Mama ingin melihat cucu mama secepatnya! Bawa mereka berdua kesini, sebagai keluarga Wilson! Mama percaya padamu sayang... " titah sang ibu sambil mengusap lembut pipi John.


John mengangguk menyanggupi, kemudian mencium kening sang ibu agak lama. Dan tak lupa mengucap Syukur kepada sang pemilik semesta didalam hati, karena kini ibunya sudah membuka hati untuk Hyuji, dan juga putri kecil yang ingin sekali segera John temui.


"Terima kasih mam! Aku akan membawa mereka pada mama!"


John membawa tubuh kecil sang ibu untuk bangkit dari alas simpuh yang dingin. Memeluknya sekali lagi.


"Aku akan melakukannya! Meskipun semua pastilah tidak mudah! Aku akan membawa mereka ke hadapan papa dan mama! John janji!"[]