Another Winter

Another Winter
another Winter 29



Playlist Song▶Endless Story.


Happy Reading...


••


••


John Wilson.


Siapa yang tidak mengenalnya saat ini. Pria muda yang masih baru saja terjun dan mulai dikenal di dunia bisnis perusahaan itu mampu membuat para pebisnis senior menaruh perhatian penuh padanya. Usianya yang baru memasuki dua puluh delapan tahun, rupanya tak menjadikan dia merasa minder dalam urusan bisnis. Bahkan tender besar pun berhasil ia takhlukkan dalam waktu singkat dengan jabatan yang baru saja ia duduki, menjadikan dirinya semakin di perbincangkan kalangan pebisnis senior.


Selain itu, jabatannya sebagai pemegang perusahaan yang memang sudah ternama itu, mampu menjadikan dirinya sebuah ancaman bagi para pebisnis lain yang menjadi rivalnya. ——


Setidaknya, itulah artikel yang dibaca John dari koran langganan yang datang pagi ini. Namanya dicetak tebal, dieluhkan orang banyak, bahkan selalu menarik perhatian siapapun ketika langkahnya terdengar mengetuk lantai.


Akan tetapi, tidak ada satupun dari mereka mampu menyelam isi didalam hatinya. Jika saja ada, mereka pasti akan menemukan John yang terkapar dengan wajah menyedihkan, hati yang berkeping, dan jiwa yang rapuh, atau bahkan raga yang terlihat kekar diatas tumpuan kaki yang sebenarnya sudah seperti tidak memiliki tenaga untuk sekedar menapak. Hancur.


Saat menyusuri lobby perusahaan, John memastikan jadwal pekerjaannya sudah ia lakukan sesuai dengan schedule yang dibawa sang sekretaris.


Kaki jenjang dalam balutan celana bahan berwarna gelap dan sepatu pantofel mengkilat warna senada itu melangkah cepat agar segera sampai diruangannya, berharap bisa melepas penat sejenak sebelum memikirkan hal lain. Tentang sidang keduanya yang jatuh pada hari ini, dia juga perlu menghubungi pengacara yang mewakilinya.


"Anda bisa meninggalkan saya pak Lee!" titahnya dengan nada sopan—terkesan datar, pada pria tua yang berdiri disamping meja kerjanya. Pak Lee sudah mengabdi puluhan tahun diperusahaan yang sekarang ia pimpin.


"Baik, jika anda memerlukan sesuatu silahkan menghubungi saya"


John hanya memberikan sebuah anggukan disisi bahu kanannya. Membiarkan pria itu meninggalkan ruangan.


Menunduk dengan helaan nafas yang cukup besar, melirik sekilas jam dinding kemudian meraih ponsel yang sedari tadi ia letakkan pada saku jas kerjanya. John menghubungi seseorang.


Bibir bawahnya ia gigit resah saat tak kunjung mendapat jawaban setelah bunyi beep telepon terdengar menyahut berulang kali. John mengakhirinya, mendesah putus asa sembari menengadahkan wajahnya ke langit-langit ruangan dengan manik terpejam.


Ketika maniknya kembali terbuka, ia dapati senja yang sudah sirna, berganti gelap yang mulai merambah pada langit orange yang perlahan bersembunyi dalam kelam. Sejenak, jemarinya ingin sekali kembali menekan tombol hijau pada layar ponsel agar tersambung dengan sang pemilik nomor panggilan, namun ia urungkan, sebab dirinya tak ingin membuat seseorang disana merasa tidak nyaman.


Ponsel itu bergetar, berpendar dengan sebuah nama terpampang pada display berukuran enam inchi miliknya.


Lawyer.


"Eung...! "


"Semua berjalan baik tuan! Anda hanya perlu menghadiri sidang putusan terakhir!"


"Baiklah! Terima kasih atas kerja keras anda, Pak Yoon!"


Setelah menurunkan persegi pintar tersebut, hatinya seperti dihancurkan untuk kesekian kali. John yang tidak ingin semua berakhir harus menerima kenyataan bahwa dirinya akan benar-benar berpisah dengan sosok wanita yang selama ini sangat ia cintai. Song Hyuji.


Sidang terakhir ya?


Pikirannya kacau, manik rusa itu kembali menatap bebas keluar dengan sendu pada sorotnya. Mendapati hari yang sudah berubah gelap dengan sempurna. Rahang tegasnya bergetar, jemarinya meremas kuat pada persegi pintar di genggaman sebagai penyalur rasa sesal yang muncul pada setiap jengkal perasaan.


"Akhirnya semua harus menjadi sekacau ini! Mengapa mama—" terhenti, nafasnya terasa berat. "—mengapa tega merusak kebahagiaan yang selama ini berusaha aku bangun mati-matian bersama Hyuji! "


"Aku—" ucap John terputus. Nafasnya tersengal, tak sanggup lagi melanjutkan. Bibir mengatup rapat, bahu yang biasanya terlihat kokoh itu jatuh begitu saja, dia hanya bisa tergugu dalam diam diruangan sepi yang dingin. Seorang diri.


Akan tetapi, tiba-tiba saja pintu ruangan dibuka seseorang. Memaksa John untuk mengesat liquid bening yang beberapa kali melewati kelopak matanya.


Presensi cantik dalam balutan pakaian casual dan rambut pendeknya. Choi JiEun.


Manik mereka bersirobok, tertaut beberapa saat hingga John menyadari sesuatu. JiEun memangkas rambut panjangnya sebahu, membuat John tertawa miring disudut bibir.


"Apa kau mencoba menggodaku sekarang?" tanya John sarkas sembari membuang muka.


Terdengar suara hak tinggi JiEun mengetuk lantai ruangan, semakin dekat di Indra perungu John. Hingga kini, wanita itu berdiri tepat disampingnya. John sempat ingin menarik langkah menjauh, namun dirinya masih bisa menghargai orang lain terutama seorang perempuan.


"Tidak! Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar!"


John memutar pandangan, menatap lekat wajah JiEun yang berada tak jauh darinya. John hanya diam menunggu kalimat selanjutnya yang akan JiEun katakan padanya. Akan tetapi, tiba-tiba saja John menangkap sebuah senyum seringai dari bibir mungil sang gadis.


"Mamamu berencana akan menikahkan kita secepatnya!"


"Aku sudah tau! " jawab John datar.


"Apa kau juga tau jika mama dan papamu besok akan menemui papa? "


Apa?


John membolakan kedua maniknya, ia tak tau sama sekali akan hal itu. Dan disaat John masih digulung dalam rasa kejut yang membuat urat wajah dan netranya hampir meledak, JiEun melanjutkan. "Mereka akan membahas rencana itu keseluruhan!" sambung JiEun sembari mengubah posisi pandangan melewati bentangan dinding kaca ruangan bersuhu dua puluh derajat celcius itu.


"Jadi kita juga harus bersiap untuk menerima segala kemungkinan jika saja berita itu didengar oleh media!"


John menggeleng tak percaya dengan tatapan nyalang dan senyuman sarkas yang mengerikan.


"Benarkah? Lalu, kau sendiri, apa sudah siap untuk menerima diriku yang sudah berubah? JiEun-ssi? "


"John, kau sendirian! Kau tidak akan bisa—"


"Mari kita ikuti skenarionya! Sampai kau merasa lelah! Dan juga, kau sendiri yang akan memintaku untuk pergi! "[]


••


••


Terima kasih sudah membaca.


Salam Hati Warna Ungu,


💜💜💜


Vizca.