Another Winter

Another Winter
another Winter 24



Rekomendasi playlist: Lean On Me by 10 cm.


Happy Reading...



Sudah cukup malam saat kembali ke dalam rumah. Dengan langkah berat Hyuji melewati temaram yang menyambut kedatangannya. Genggamannya membawa secarik kertas dengan tulisan huruf kapital dan tebal dibagian atas.


SURAT PENGAJUAN CERAI.


Hyuji merasakan nafasnya tersengal hebat dengan pupil bergetar pun telapak yang gemetaran. Masih tergambar jelas bagaimana beberapa menit yang lalu, John menarik dirinya untuk bersandar pada bahu kekar nan kokoh itu. Memintanya untuk selalu tertawa meskipun kehidupan mereka berdua berbanding terbalik dengan kenyataan.


Tak sanggup lagi menahan rasa sakit didada, Hyuji melayangkan pukulan beberapa kali dengan telapak yang mengepal. Berharap rasa ngilu itu pergi bersama nafas yang berhembus. Tapi nihil, semuanya masih sama, terasa begitu menyakitkan.


Jika saja John tau keadaan Hyuji yang sebenarnya, mungkin, pria itu tidak akan segan merobek lembaran kertas itu dihadapan Hyuji. Tapi dia tak melakukannya, Hyuji memilih opsi lain dengan membiarkan John tidak tau tentang apapun. Karena Hyuji yakin, sekeras apapun dia berusaha ingin kembali, sekeras itu pula badai yang akan memisahkan keduanya. Hyuji sudah menyerah sebab dirinya memang tak diinginkan sejak awal.


Hyuji merosot kelantai, tergugu dibawah temaram yang masih membawa sepercik kebahagiaan yang baru saja didapatkannya dari pribadi yang memenuhi ruang hati Hyuji.


Aku harap kau menerima keputusan ini Hyu!


Suara itu kembali terngiang. Bagaimana John berkata lembut sambil menyodorkan lembaran kertas itu. Memintanya untuk meninggalkan tanda tangan diatas kertas bermaterai tersebut.


Kau hanya perlu datang saat persidangan terakhir! Aku akan mempermudah semua prosesnya, karena aku juga mulai sibuk setelah ini Hyu! Mama memberikan satu perusahaan untuk aku kelolah!


Menyakitkan.


"Mengapa harus berakhir seperti ini? " rintihnya dalam derai airmata.


Hyuji tau, berpisah akan menjadi pilihan terbaik. Namun dirinya tak pernah menduga jika ketakutan dan rasa menyakitkan saat menerima kenyataan terasa jauh lebih mengerikan dari dugaannya.


Sejak kecil, Hyuji selalu mendapat perhatian lebih banyak daripada kedua kakaknya, menerima kasih sayang yang tidak biasa dari seluruh anggota keluarga, sebab itulah Hyuji memiliki sifat sedikit manja.


Berbeda dengan kenyataan hidupnya saat dewasa yang begitu berat. Mencoba kuat dan tegar terasa semakin sulit saat tidak ada siapapun disampingnya.


"Ibu... " panggilnya dengan suara parau.


***


John merebahkan diri diatas sofa empuk nan mahal di apartemennya. Masih teringat bagaimana ekspresi Hyuji saat menerima lembaran surat pengajuan cerai itu.


John menekuk lengan diatas kening, menutup sebagian wajah dan matanya, menghembus nafas kasar karena merasa beban dikedua bahunya terasa semakin berat saat kembali ke Seoul tanpa Hyuji.


Mungkin akan lebih menenangkan jika Hyuji memberinya izin tinggal semalam disana dan menemui kakak pertama Hyuji serta menjelaskan situasi pelik yang sedang terjadi diantara dirinya dan Hyuji keesokan harinya. Harapan akan kakak pertama Hyuji itu akan memberikan jalan keluar terbaik selain perpisahan, tapi Hyuji tak membiarkan itu terjadi dan memaksa John untuk segera kembali ke Seoul.


"Kau memang keras kepala Hyu... "


Tidak ada pilihan lain karena John melihat kesungguhan dari kedua manik Hyuji. Dia tau gadis itu sedang tertekan dan berusaha menutupi semuanya.


Ada banyak sekali pemberitahuan panggilan dan pesan yang masuk kedalam ponsel itu. Dua diantaranya dari JiEun.


Tiba-tiba saja getar ponsel mengejutkannya. Nama sang ibu tampil pada display ponsel tersebut. John berdecak merasa sedikit tidak nyaman, tapi pada akhirnya dia menerima panggilan tersebut.


"Eummm... "


"Dari mana saja dirimu? Mengapa seharian tidak bisa dihubungi?! "


"Aku ada janji dengan teman lama Mam, dan aku baru saja sampai dirumah! "


"Teman? Siapa? Bukan wanita itu kan? "


John memejam sejenak, bertanya-tanya, mengapa ibunya tidak pernah sekalipun mau menyebut nama Hyuji.


"Iya! Aku bertemu dengannya! "


"Apa? John! Mama sudah pernah bilang jangan menemui wanita itu karena kau akan menikah dengan JiEun! "


John geram, rahangnya mengerat kuat. Hatinya terasa seperti sebuah geranat yang siap meledak kapanpun.


"Mam, tolong jangan paksa aku untuk menerima perjodohan yang mama lakuka—"


"Tidak! Kau akan segera menikah dengan JiEun! "


Entah mengapa, John semakin lelah saja mendengar paksaan dari ibunya sendiri.


"Mam! Tolong, jangan paksa aku seperti anak kecil! Aku bahkan belum resmi berpisah dengan Hyuji! Mengapa sekarang Mama memaksaku menikah dengan JiEun noona*, sedangkan aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya! "


"Jadi kau mau mama melakukan sesuatu pada wanita yang sudah menjeratmu itu?! "


Sontak, John membuka lebar kedua maniknya. "Mam! Jangan gunakan Hyuji sebagai senjata untuk melemahkan diriku! Aku juga punya perasaan mam, begitu juga Hyuji! Setidaknya mama menghargai perasaan Hyuji meskipun tidak menghargai perasaan putramu sendiri!"


Hening sejenak, John dapat menebak jika saat ini ibunya sedang merangkai ide tidak masuk akal lain dengan ekspresi arogannya.


"Kalau begitu turuti ucapan mama dan menikahlah dengan JiEun! "


"Ah, terserah mama! Aku lelah! "


John mengakhiri panggilannya secara sepihak, tak ingin memperpanjang pembicaraan dengan sang ibu. Kemudian kembali mengnonakifkan ponselnya, melemparnya keras keatas meja sebagai pelampiasan kesal dan amarah yang membuncah.


"Menikah? Mama benar-benar keterlaluan! Bagaimana dia bisa memaksaku menikah, sedangkan aku tidak memiliki perasaan apapun dan masih terikat janji suci dengan orang lain!" gumamnya sambil menggeleng samar.


John menatap keluar menembus bentangan kaca yang menjadi dinding apartemen. Gelap, hanya itu yang ia temukan diluar sana. Lalu, bayangan Hyuji kembali menyelinap kedalam benaknya. Membuat John kembali menyimpulkan sebuah lengkungan senyum. "Apa yang harus aku lakukan sekarang Hyu? Aku benar-benar hancur sekarang! Kau tak perlu tau seberapa hancur diriku, kau juga tidak perlu tau seberapa besar aku mencintaimu, tapi aku harap kau sabar menunggu janjiku! "[]