Another Winter

Another Winter
another Winter 37



Playlist song▶ Serenade to Spring by Secret Garden.


Happy Reading...



Ada banyak hal yang membuat Hyuji selalu bersyukur sudah dilahirkan kedunia, meskipun tidak semuanya menyenangkan. Akan tetapi, dia sadar, bukankah hidup memang seperti itu? Kadang diatas, kadang juga harus mengikuti putaran roda dan berpindah ke poros bawah?!


Pertama, Hyuji bersyukur karena terlahir dilingkungan keluarga sederhana dan penuh kasih sayang. Kedua, bersyukur karena masalah dan bebannya terangkat sedikit demi sedikit meskipun meninggalkan luka. Ketiga, bersyukur karena akan menjadi seorang ibu. Dan masih banyak hal yang membuatnya merasa menjadi wanita yang bisa merasakan sebuah makna kata beruntung.


Apalagi saat ini, disampingnya, sosok sang kakak yang sangat ia kagumi sedang membantu membawa beberapa barang bawaan yang jumlahnya cukup banyak untuk kembali ke daegu.


"Kakak tidak lelah? Aku bisa menggantikan kakak mengemudi sebentar!"


"Tidak perlu! Kau duduk manis saja disana!"


Hyuji mengangguk, melihat sisi kanan dan menurunkan kaca jendela mobil yang dikemudikan Ryujin.


Menghirup udara segar dari pepohonan tinggi yang menghiasi sepanjang jalan memasuki kota kelahirannya, daegu.


Hingga sampailah Hyuji didepan sebuah pelataran luas rumah berdesign sedikit usang. Pintu dan jendela yang masih sama, dan juga pohon Oak itu masih tumbuh subur, semakin besar dan rindang, bahkan masih berdiri kokoh diujung halaman, disamping rumah orangtuanya. Hyuji ingat, dulu saat masih anak-anak, selalu bermain dibawah sana bersama Reyna, Roy yang masih sangat kecil dalam gandengan , dan juga kedua kakak laki-lakinya. Senyuman terlukis di birai Hyuji begitu saja.


"Kau senang bisa kembali kesini?" Tutur Ryujin setelah berhasil memarkir mobil sambil menarik tuas hand rem disamping kursi kemudi.


Hyuji tercekat. "Ah, tentu saja kak! Aku lahir dan besar disini! Mana mungkin aku tidak senang!"


"Kita sudah sampai! Cepat temui ayah dan ibu! Aku sudah memberitau mereka jika kau akan datang dan tinggal disini beberapa waktu! Selebihnya, jelaskan sendiri alasanmu kepada mereka!"


Hyuji mengangguk, melepas Seatbelt yang sedari tadi mengungkungnya. Kemudian berjalan menapaki halaman, menoleh sekilas dan mendapati sang kakak sedang mengeluarkan barang bawaan yang ia bawa, dari dalam mobil.


Mendapati susana rumah yang hening, Hyuji melangkah masuk begitu saja. Aroma rumah yang hampir dua tahun tidak Hyuji rasakan, masih sama. Hyuji menyukainya. Dan juga, aroma sedap yang berasal dari dapur membuat langkahnya untuk tidak sabar segera memeluk sosok yang sedang berada disana.


Hyuji melihat dengan jelas sang ibu sedang sibuk memasak. Usia yang tak lagi muda membuat postur sang ibu juga berubah. Hyuji mengesat airmatanya diam-diam, otak Hyuji berfikir keras bagaimana cara menyampaikan kabar perpisahannya dengan John nanti.


"Ibu... " panggil Hyuji lirih.


Sang ibu menoleh, tersenyum lebar, mematikan tungku masak dan berjalan sedikit tertatih demi mendekat pada sosok Putri yang sangat dirindukannya.


"Kau sudah sampai Hyu... " sapanya dengan suara parau, kemudian memeluk dan mencium pipi Hyuji. "Ibu tidak mendengar kau datang! Duduklah dulu, ibu hampir selesai memasak! Kau pasti sudah lapar!"


"Tidak, Hyu ingin membantu ibu!"


"Kau pasti lelah! Duduklah saja, ibu akan menyelesaikannya sendiri! Dimana Ryujin?"


"Diluar! Mengangkat barang bawaan Hyu!"


"Ah, baiklah, baiklah! Duduklah dan kita akan makan siang!"


"Diamana Ayah?"


"Dia akan pulang sebentar lagi!" jawab sang ibu sambil mengarahkan Hyuji untuk duduk di kursi meja makan yang berada tak jauh dari dapur.


Rindu, Hyuji rindu sekali pada ibunya. Tangan kurus Hyuji terulur begitu saja untuk kembali memeluk sang ibu, hangat dan nyaman.


"Kenapa kau tidak datang bersama suamimu saja? Malah meminta kakakmu yang mengantar?"


"Itu... " gugup setengah mati, Hyuji bahkan tak tau cara memulai berbicara. "Ah, kita tunggu ayah pulang! Nanti akan aku ceritakan!"


Ryujin datang membawa sebuah koper besar dan satu tas jinjing berukuran sedang.


"Kakak sendiri yang meminta membawanya! Kenapa sekarang malah protes didepan ibu?"


Sudah menjadi keharusan bagi Ryujin untuk menggoda dan membuat Hyuji naik pitam. Dan sang ibu hanya tertawa melihat keduanya masih sama seperti dulu.


"Kau akan semakin kesulitan jika SuJi juga berada disini Ryu!"


"Ah, ibu benar! Mereka akan berkomplot untuk menghancurkan kakak tertua mereka!" cerocos Ryujin mencibik.


Seketika tawa Hyuji dan ibunya meledak. Suasana yang sangat dirindukan oleh Hyuji, kebersamaan yang penuh kasih dan hangat.


-


Hyuji dan kedua orangtua, serta Ryujin menyantap makan siang saat sang ayah sudah kembali dari kebun. Berbicara ringan dan santai diantara udara sejuk yang terus berhembus dari jendela rumah, menambah kesan hangat kekeluargaan kembali begitu saja.


"Kemana John Hyu?" tanya ayah Hyuji, seketika membuat Hyuji dan Ryujin saling menatap.


"Sebaiknya kita makan dulu ayah, Hyuji baru datang dan Ryu harus segera kembali kerumah!" jawab sang ibu tenang.


"Ah, baiklah!"


Beberapa menit kemudian, makan siang berakhir. Hyuji membantu ibunya membersihkan sisa makanan dan piring kotor, serta mencuci semua di dapur kecil yang masih sama.


Ryujin berpamitan, seolah tak ingin mengacaukan suasana saat Hyuji berbicara dengan ayah dan ibu nanti.


Sekilas, Ryujin menepuk bahu Hyuji, memberi isyarat agar Hyuji membicarakan tentang keadaannya dengan baik.


Ruangan sudah benar-benar kembali menjadi bersih. Hyuji melihat kedua orang tuanya sedang duduk berdua diruang tengah sambil mendengarkan siaran berita diselingi musik pansori* dari radio. Hyuji turut membaur diantara mereka berdua.


"Lama tidak pulang ke daegu, rasanya sangat nyaman... " ucap Hyuji membuka pembicaraan.


"Kenapa tidak kau sempatkan diri pulang ke rumah jika ada waktu luang?" jawab sang ibu dengan suara renta.


"Itu—" Suara Hyuji kembali tercekat, dia meremat cemas kedua telapak tangan yang berada dipangkuan, menggigit bibir bawah karena takut membuat kedua orang tuanya kecewa. "...ada yang ingin Hyuji sampaikan pada ayah dan ibu!"


"Katakan saja! Apa kami akan mempunyai cucu darimu dan John Hyu?" goda sang ayah yang ternyata memang benar adanya.


Bagaimana ini?


Bagaimana cara mengatakannya pada ayah dan ibu?


Hyuji semakin khawatir, akan tetapi dia harus tetap mengatakan berita kurang menyenangkan ini meskipun akan menyakiti dan membuat kedua orangtuanya kecewa.


"Tentang Hyuji dan John—" lagi-lagi suara Hyuji terhenti. Kali ini disertai desir darah yang semakin cepat, pusing tiba-tiba menyergah, membuat pening pada kepala Hyuji semakin menjadi. "— Hyuji saat ini sedang mengandung anak dari John, ayah, ibu! Tapi, kami sudah berpisah sekitar dua bulan yang lalu!"[]




*Pansori*) \= Pansori dikenal sebagai opera tradisional Korea, yang terdiri dari cerita panjang yang dinyanyikan oleh seorang penampil*. 


Terima kasih sudah membaca. Tinggalkan jejak jika berkenan.


Salam Hati Warna Ungu,


💜💜💜


Vizca.