
Kapsul listrik itu membawa mereka melewati beberapa kota dan juga stasiun-stasiun dengan bentuk peron yang hampir serupa. Pandangan John tak pernah sedikitpun luput dari Hyuji.
Wajah yang biasanya terlihat ceria, tenang, bahkan menyenangkan itu terlihat layu. John merasa bersalah sepenuhnya akan semua yang sedang melanda Hyuji saat ini.
Telapaknya terhenti saat hendak mencapai pucuk kepala Hyuji, tersenyum getir penuh penyesalan. Menatap dengan denyut menyakitkan dari dalam hati saat memandangi telapak tangan besarnya.
Begitu kapsul listrik yang membawa mereka sampai di tempat pemberhentian yang menjadi tujuan, Hyuji berlari kesudut bangunan luas tersebut guna mencari toilet umum. Mual yang sudah hampir dua jam ia tahan agar tak menyusahkan prianya itu akhirnya berhasil ia redakan. Mengusap sisa air pada sudut bibir, Hyuji keluar dengan wajah pucat.
"Ayo kita pergi kerumah sakit terlebih dahulu!" ajak John dengan suara lembut dan pelan.
"Tidak! Aku baik-baik saja! Aku rasa hanya masuk angin ringan! Kau tak perlu sok perhatian seperti itu padaku! " jawabnya ketus sembari berjalan mendahului John yang masih berdiri dengan raut khawatir.
John mengayunkan lengan yang hampir saja meraih pundak Hyuji hingga menepuk paha kanannya. Menggigit bibir bawah singkat, hingga meremas surai yang ia ikat karena sudah mulai memanjang. Berlari menghampiri Hyuji demi memastikan Hyuji tidak akan kenapa-kenapa.
Melewati pohon-pohon yang mulai menghijau, dan hampir memakan waktu lima belas menit ditempuh dengan berjalan kaki, akhirnya John dan Hyuji sampai di restoran yang diharapkan sang ibu.
Dua doorman berpakaian rapi dan berdasi kupu-kupu menyambut kedatangan keduanya. John bahkan tak tau jika pertemuan ini sepertinya akan menambah tiupan kencang serupa badai yang sedang berusaha menghancurkan bahtera rumah tangga yang ia nahkoda-i.
Dikejauhan, John dapat melihat raut sang ibu yang berubah kesal saat melihat dirinya membawa Hyuji. John menghentikan langkah Hyuji dengan menarik pergelangan kecil tangan Hyuji, membawa tubuh kurus Hyuji untuk berhadapan dengannya, kemudian merapikan anakan rambut Hyuji yang tidak berantakan sama sekali.
Hampir meronta, John segera bergumam tampa menggerakkan bibir sedikitpun. "Aku mohon, kau boleh membenciku dimanapun! Tapi aku mohon dengan sangat, jangan tunjukkan itu dihadapan mama! " Hyuji tercekat, dia menatap manik yang memancarkan aura hangat milik John. Kemudian mendengar suara madu itu kembali bersuara. "Karena mama akan semakin senang jika kau membenciku! Eoh!? Aku mohon padamu!"
Akhirnya Hyuji mengangguk menyanggupi permohonan John. Pria pemilik senyuman menggemaskan itu tersenyum lembut. "Terima kasih! "
Entah mengapa hari ini Hyuji sering sekali mendengar ucapan terima kasih dari John. Perasaannya mendadak gusar, tak dapat ia artikan sama sekali. Seperti sebuah sesak, tapi juga bahagia. Entahlah, atau itu hanya perasaannya saja. Mungkin.
Pupil Hyuji bergetar kala mendapati presensi lain disamping ibu mertuanya. Tak tau pasti siapa, tapi sosok itu seolah sudah tak asing lagi dikedua maniknya.
"Aku datang mam! " sapa John sembari menarik sandaran kursi untuk ditempati Hyuji. Dengan sepenuh hati, Hyuji membungkuk hormat untuk menyapa ibu mertuanya dan sosok gadis yang duduk menemani ibu John tersebut.
Gadis disamping ibunya itu menatap penuh afeksi pada Hyuji.
"Mama menyuruhmu datang sendiri kan? "
"Lalu kenapa? Aku hanya tidak ingin bosan diperjalanan dan disini! Jadi apa salahnya jika aku ajak Hyuji!" tukas John santai sambil membawa diri untuk duduk pada kursi berukir yang terlihat berkelas itu.
Tiba-tiba gadis cantik itu menyodorkan telapak tangan pada Hyuji—memperkenalkan diri.
"Hai, aku JiEun! "
Betapa hancur hati Hyuji saat orang yang ada dihadapannya saat ini adalah mantan kekasih suaminya. Hyuji menoleh sekilas pada John, kemudian menyambut telapak kecil yang halus dan ramping itu dengan sebuah senyuman yang ia paksakan.
"Hyuji! " jawabnya singkat.
Hyuji tertunduk gelisah, meremat jemari erat dibawah meja. John yang memperhatikan itu pun meraih dan mengusap lembut.
"Benarkan ibu? "
Ibu? Hyuji sontak mengangkat pandangan. Menyaksikan bagaimana ibu mertuanya itu memberikan perhatian dan juga senyuman hangat pada sosok JiEun.
"Benar! Ternyata John masih tidak bisa melupakan dirimu sayang! Lihat saja, gadis yang menjadi istrinya itu ternyata memiliki bentuk fisik yang menyerupai dirimu dulu! "
Mendengar hal itu, hati Hyuji seperti diremat dan di suguhkan sebagai makanan hewan. Dia benar-benar tak bisa bertahan lebih lama untuk duduk disana.
Cahaya temaram diluar terlihat lebih menarik daripada makanan nikmat yang mulai disuguhkan satu persatu oleh pramusaji restoran.
"Makanlah sayang! Setelah itu ---"
"Aku ingin keluar John! " sahut Hyuji tanpa berfikir ulang sambil menyibakkan lap makan yang dipasang John di atas pahanya beberapa detik lewat.
Ibu John tersenyum mencibik.
"Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkan sopan santun dan tata cara menghargai di meja makan? " sarkas Joana—ibu John.
Hyuji tak pernah marah jika dirinya harus dihina, direndahkan atau bahkan diinjak dengan kata-kata yang tidak masuk akal. Tapi, orang tuanya selalu mengajari bagaimana cara ber etika baik pada siapapun.
"Ibu! Saya tidak pernah marah ataupun sakit hati saat ibu menghina dan merendahkan harga diri saya sekalipun! Tapi saya mohon, jangan membuat orang tua saya terlihat bodoh dan tidak mendidik saya dengan benar! Itu menyakiti hati saya! " Hyuji mendorong pelan kursi di belakangnya. Membungkuk guna undur diri, pada ibu mertuanya, dan juga JiEun.
John menatap nyalang pada sang ibu. "Sekarang mama puas menyakiti hati wanita sebaik Hyuji? Aku kecewa padamu Mam! "
Turut meninggalkan tempat, JiEun sempat terkejut saat John mengejar Hyuji. Setaunya, John akan melakukan itu pada seseorang yang benar-benar disayanginya.
"Dia mencintai wanita lain! Bukan lagi diriku! " gumam JiEun dalam hati.
Ibu John mengumpat keras, menatap kepergian putranya yang sedang mengejar wanita yang bahkan sangat dibenci.
"Putraku benar-benar disesatkan oleh gadis itu! " tuturnya geram sembari meremat sendok dan garpu pada kedua telapaknya.
JiEun meraih telapak itu dan mengusapnya.
"Sudahlah ibu, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dulu! "
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan masalah mereka berakhir! Kita lihat saja, seberapa kuat John mempertahankan hubungan mereka! " Ucanya berlanjut dengan sebuah seringaian tajam pada sudut bibir.
"Aku berjanji akan membawa John kembali padamu, Eun!"[]