Another Winter

Another Winter
another Winter 15



Debuman keras pintu kembali terdengar. Bersama sosok John yang sudah raib dari pandangan, Hyuji hanya bisa bersimpuh dilantai yang berantakan. Pecahan kaca, buah yang bergelinding, serta suara guntur dan derasnya hujan menambah pilu hatinya.


"Kenapa jadi seperti ini?! " rutuknya penuh sesal pada diri sendiri.


"John, mengapa kau mengingkari janjimu sendiri? Kau bilang tak akan meninggalkan aku! "


Hyuji membawa dirinya kembali berlari kedalam kamar mandi, memuntahkan kembali rasa mual yang terus menghujam dan bergejolak.


***


Ditengah tangisan langit yang cukup mengerikan dalam hari yang semakin menggelap, John berjalan seorang diri. Hampir tersungkur diatas aspal yang sudah tergenang air hujan, John mendesah frustasi. Meremat surainya yang sudah basah kuyup. Airmata yang bercampur air langit itu bahkan terlihat tidak berbeda.


Perlahan sebuah penyesalan merambah pada benak. Penyesalan tentang dirinya yang tak mampu menjaga Hyuji, penyesalan tentang dirinya yang tak mampu memenuhi janji yan ia ucapkan, dan penyesalan tentang keegoisannya yang tak mau menerima penjelasan dari Hyuji. Kalau sudah terjadi seperti ini, John ingin sekali berlutut dihadapan Hyuji agar memberikan maaf padanya. John benar-benar menyesal sekarang.


Ditengah kecamuk sesal dalam bingkai hujan, John membawa dirinya untuk berhenti dibawah sorot temaram lampu jalanan. Sepi, tidak ada seorangpun yang melewati bentangan aspal karena hujan deras yang sedang turun membasahi bumi korea.


Tubuhnya mulai menggigil, bibirnya bergetar, giginya bergemerutuk, sedangkan dia tak tau harus pergi kemana saat ini. Tidak ada sanak ataupun saudara disini. John berjongkok, meringkuk tepat dibawah sorot lampu, mencoba meredam rasa dingin yang mulai menyerangnya. Dia bahkan berfikir akan mati beku disini.


Suara hujan masih terdengar jelas dikedua perungunya, tapi mengapa air yang semula menetes menghujam punggung kekar dan lebanya itu mendadak berhenti. John mendongak, mendapati presensi Hyuji dengan sebuah payung cukup besar ditelapak tangannya.


"Bodoh!! Sudah tau hujan deras seperti ini, mengapa masih nekad pergi dari rumah?! "


John tertunduk kembali dengan wajah sedikit pucat dan tubuh bergetar dalam gigil.


Lima belas menit yang lalu,


Hyuji menyeka sisa air dimulutnya. Memirsa keadaan rumah yang berantakan dengan pecahan kaca pigura, dan juga buah-buahan yang bergelinding. Hujan masih terdengar cukup deras diluar sana. Dirinya kembali teringat sosok John yang beberapa menit lalu pergi dari rumah.


Hyuji menimbang sebuah rasa khawatir yang berkecamuk didalam hati.


"Persetan dengan harga diri!! "


Hyuji meraih sebuah mantel hujan dan sebuah payung, berjalan keluar rumah demi mencari sosok John Wilson. Tidak peduli rasa perih di pergelangan kaki akibat terkena percikan kaca saat John membanting pigura foto pernikahan mereka tadi.


Kaki Hyuji berlari cepat demi mengejar sosok John, masih mencari hingga persimpangan jalan yang sepi menuju jalan utama. Dikejauhan terlihat bayangan samar John sedang berjalan. Hyuji mempercepat langkah agar tidak kehilangan John.


Dipandanginya pria itu meringkuk. Hatinya mencelos. Kendati demikian, dia tetap melangkah mendekat pada sosok dibawah temaram itu. ——


"Ayo pulang dan keringkan dirimu dulu! Kau bisa pergi kemanapun, sesukamu, saat hujan sudah reda nanti! "


John menatap sengit awalnya,


"Jangan ngeyel, atau kau akan terserang demam! "


Tak menampik tawaran Hyuji, John membawa torsonya untuk berdiri. Berjalan kembali bersama Hyuji yang sedikit terkekeh.


"Kau itu seperti anak kecil saja John! "


Pemilik nama itu menatap tak suka saat Hyuji menyebutnya anak kecil.


"Seharusnya kau berfikir dengan isi kepalamu yang sudah berkembangbiak itu, kemana kau pergi ditengah hujan dan malam hari seperti ini? Siapa yang akan kau tuju, tidak ada keluarga disini!" sarkas Hyuji tepat sasaran.


Tanpa berbicara, John meraih paksa pegangan payung dan menggenggamnya kuat-kuat. Kesal sekali menyadari kebodohannya sendiri.


"Kau boleh memarahiku karena lancang mengajakmu kembali pulang!" Hyuji menjeda, menautkan kedua telapaknya cemas kemudian melanjutkan. "Setidaknya, maksudku, seharusnya kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin! Bukan diselimuti emosi dan ego seperti ini! "


John hanya diam.


"Kau bebas menentukan pilihanmu untuk meninggalkan aku, mengakhiri pernikahan yang sudah kita lalui selama dua tahun ini! Aku tidak akan memaksamu untuk tetap bersamaku, karena nyatanya ibumu memang tak pernah suka padaku! "


Mendadak, sebuah denyut sakit menyerang ulu hati John saat mendengar penuturan Hyuji.


"Aku akan menerimanya! Jika kau yang meminta, bukan orang lain, John! "


Waktu mendadak seolah seperti berhenti. Perasaan hati John seakan hancur, berbaur dengan rintik hujan yang tak kunjung mereda. Kemudian, terdengar kembali suara lirih Hyuji diantara gemuruh.


"Ya, aku akan melakukannya! "[]