
Ruangan yang sangat luas itu cukup membuat suara tamparan yang John terima dipipinya terdengar menggema. Hampir tersungkur, John tetap berdiri diatas kedua kaki yang masih berbalut celana formal yang ia kenakan untuk pertemuan keluarga hari ini.
Pipinya terasa panas dan nyeri. John hanya bisa menahan sambil memutar lidah didalam mulut, ada sedikit rasa besi berkarat didalam sana. Namun tak bisa memberikan reaksi apapun atas kekerasan yang diterimanya. Begitupun sang ibu yang hanya bisa melihat tanpa melakukan apapun.
"Kau pikir siapa dirimu, berani mempermalukan papamu sendiri seperti itu?" lanjut sang ayah dengan emosi yang meletup-letup.
John masih diam, mencoba membawa fitur tubuh pada posisi yang seharusnya.
"Papa tidak pernah mengajarkanmu bagaimana bersikap tidak sopan kepada orang lain seperti itu! Kau membuat papa malu John!!" geram sang ayah.
John mengusap pipinya, mungkin sudah terlambat karena pipi itu kini sudah memerah.
"Pa, katakan dengan jelas kepadaku! Bagian mana yang membuat papa malu? Aku rasa, aku tidak melakukan hal apapun yang membuat papa harus merasa malu!"
"Dasar anak kurang—" bentak sang ayah dengan suara menggelegar dan telapak terangkat tinggi, hendak melayangkan lagi pukulan untuk putranya itu.
"Pa, cukup!" sahut sang mama dengan suara yang cukup keras.
John hanya memejam, bersiap menerima pukulan yang mungkin akan membuat pipinya membiru esok hari.
"John! Kau tau tuan Choi itu orang yang cukup berpengaruh untuk perusahaan kita!"
"Mama salah! Aku bisa membuat perusahaan yang aku pimpin bergerak tanpa bantuan siapapun!" tutur John sedikit berbisik, dengan seringai, percaya diri, yang tentu saja bisa dilihat dan dibuktikan dengan kenyataan. Perusahaan yang dipimpinnya sedang berkembang pesat dalam kurun waktu kurang dari dua bulan.
"Kau—"
Ucapan sang ayah kembali terhenti saat ibunya mengangkat telapak sebagai isyarat.
"Aku tidak tau kau hidup seperti apa bersama wanita itu! Tapi ibu kecewa kau berubah karena wanita yang tidak jelas asal-usul nya itu! "
John mengangkat wajah, rahangnya mengeras. Dia benci saat ibunya menuduh penuh kebencian pada Hyuji.
"Mam, dia tidak mengubah apapun dariku! Aku hanya sadar jika selama ini dunia yang aku jalani tidak seindah saat hidup bersama Hyuji! Penuh kesederhanaan dan juga kasih sayang! Aku hidup tenang bersama dia!"
"Jadi kau pikir, seperti apa Mama membesarkan dirimu selama ini! Kau sadar?Kau sudah membandingkan kasih sayang yang mama berikan selama ini dengan wanita—"
"Kekangan!!" sahut John lantang. "Mama mengekang hidupku! Mengikat tali kekang dileherku hingga aku merasa ingin mati saja!" lanjut John dengan manik bulat yang berkaca-kaca.
Sang ibu tercekat. Dia baru tau jika John merasakan perhatian yang selama ini ia curahkan adalah sebuah kekangan. Sang ibu menggeleng.
"Kau salah sayang, mama—"
"Mama pasti baru mendengarnya bukan? Karena aku memang ingin menghargai mama selama ini sebagai orang yang sudah melahirkan dan membesarkanku! Asal mama tau, aku tidak akan berhenti menyayangi mama dan papa sampai kapanpun meskipun kalian tidak pernah sadar sudah menghancurkan semua mimpiku! Bahkan kebahagiaan yang selama ini berusaha aku bangun!"
John membungkuk, membawa langkah mundur untuk segera pergi dari istana bak penjara itu. Namun kembali terhenti saat benaknya sudah tak mampu lagi menahan kerapuhan.
"Mama, jangan lagi mengganggu Hyuji! Karena setelah ini, dia tidak ada hubungan apapun dengan kita! Dan juga—" John menghentikan kalimatnya sejenak, kemudian melanjutkan. "—aku tidak tau apa yang sedang mama sembunyikan tentang Hyuji dariku! Karena dia tak mau mengatakan apapun tentang mama padaku! Jadi aku mohon, jangan membuat Hyuji semakin tersiksa! Jangan mengganggunya lagi!"
John pergi, meninggalkan dua orang yang masih terpaku dan termangu diruang tamu luas istana mereka.
Mendadak, Joana merosotkan dirinya diatas kursi mahal ruang tamu. Menitihkan airmata.
"Pa, apa aku membuat keputusan yang salah untuk putraku?" tanya Joana pilu. "Apa selama ini aku terlalu egois? Aku hanya ingin dia hidup baik! Tanpa kekurangan apapun! "
Tuan Wilson meraih pundak sang istri, menepuknya beberapa kali. "Tidak! Ini memang terbaik untuk putra kita!"
***
Hyuji sibuk dengan pembeli yang datang silih berganti. Dia menyambutnya dengan penuh kegembiraan dan Sematan senyum ramah. Ya, sosok Hyuji perlahan kembali.
Hari berlalu begitu saja. Seminggu berjalan tanpa terasa, dan seminggu selanjutnya dia kan datang ke Seoul untuk menghadiri sidang terakhirnya bersama John.
"Tolong beri saya tiga tusuk odeng! "
"Hai Hyu!"
Hyuji mendongak, "Hei Rom! Ambil saja sendiri yang kau inginkan!"
"Gratis?!" goda Rommy, memperlihatkan dua lesung pipi dikedua sisi wajahnya.
"Kau mau membuatku bangkrut ya? Lebih baik kau pergi jika tidak punya uang untuk membayar makananku!" jawab Hyuji dengan nada bercanda yang sama sarkasnya.
Keduanya terpingkal setelah itu, Hyuji mengambilkan odeng sesuai pesanan Rommy.
"Terima kasih!" tuturnya sambil menerima gelas kertas khusus anti panas berisi odeng dari Hyuji, kemudian berjalan menuju lemari pendingin. Melongokkan wajah kedalam mesin pendingin itu dan mencari sesuatu didalam sana.
"Kau tidak menjual soju*?"
Hyuji menggeleng. "Tidak! Suamiku tidak memperbolehkan aku menjual alkohol! Tidak baik untuk otak katanya!"
"Suamimu tidak keren!"
Hyuji melirik pada rommy, kesal sekali. Mengapa dia selalu meremehkan John dibelakang seperti ini? Bahkan Hyuji dapat menebak, pasti telinga John memanas saat ini.
"Alkohol tidak baik buat kesehatan dan juga otak Rom!"
"Itu hanya alasan suamimu agar kau menurutinya!"
"Tidak! Itu kenyataan!"
Baiklah, Rommy mengalah. Dia mengangguk dalam senyum.
"Mengalah untuk wanita cantik bukanlah hal yang merugikan, bukan?!! "
"issshhh..." Desah Hyuji kesal sambil mengangkat telapak tangannya.
Meraih sekaleng minuman karbonasi kemudian berjalan mendekat pada Hyuji, Rommy kembali merangkum senyuman Hyuji yang sangat disukainya saat masih duduk di bangku sekolah dulu.
"Bagaimana kabar Reyna?! Sudah lama aku tidak melihatnya?"
Hyuji kembali terdiam, senyuman diwajahnya luntur. Rautnya berubah sedih, namun mencoba memaksa untuk tetap tertawa meskipun terasa sulit.
"Dia sudah pergi!"
"Pergi? Kemana? " tanya Rommy memicing, dia tak tau apapun.
"Ke surga! Dia sudah—meninggalkan dunia ini! "
"Apa? " Rommy membolakan mata terkejut. Dia benar-benar tidak mendengar berita apapun dari Reyna setelah lulus dari sekolah dan keluarganya pindah ke YangCheon.
"Sudahlah! Intinya, dia sudah mendapat tempat terbaik disisi Tuhan!"
Mereka terdiam, hembusan angin menyapu wajah Hyuji yang sedikit memerah karena rasa bersalah itu kembali merambah pada dirinya.
"Maaf Hyu, aku tidak tau!"
"Tidak apa-apa! Hanya saja kau membuatku merindukannya lagi..."
Hyuji tersenyum dalam tunduk, perih.
Rommy memberanikan diri meraih pundak Hyuji dan mengusap pelan, membuat Hyuji menautkan atensi pada pemuda dihadapannya.
"Maaf... "[]