
Playlist rekomemdation▶Song From A Secret Garden by Secret Garden.
Happy reading...
-
Malam dingin tak menghentikan langkahnya. John melewati gang dengan birai yang mengembangkan senyuman tanpa henti, menuju rumah yang dulu ia tinggali bersama Hyuji di Yangcheon. Daerah ini sudah banyak yang berubah. Sepertinya jika dia datang saat musim semi pasti lebih Indah. Pohon sakura dan juga Ginkgo itu pastilah akan mempercantik jalanan.
Namun kini, yang dia saksikan tidak sesuai dengan ekspektasi dalam benaknya. Halaman rumah yang ia tuju sudah ditumbuhi rumput liar yang tumbuh agak tinggi, bulatan pengait pintu pagar juga berkarat. Bibir John terkatup menyaksikan itu semua.
Apa lagi saat sudah berhasil melewati pagar dan juga rerumputan dihalaman rumah lama mereka dulu, dirinya disambut lampu teras yang redup dan berkedip—nyaris putus. Tombol intercom didepan pintu sudah tidak berfungsi. Gagang pintunya juga keras sekali, tidak bisa digerakkan. John mengintip kedalam, hanya gelap.
John menggeleng, tidak bisa menerima kenyataan jika rumah itu sudah ditinggalkan.
"Hyu... " panggilnya pelan. Mengetuk pintu beberapa kali, berharap jika seseorang akan muncul dari dalam rumah dan menyambutnya dengan senyuman seperti dulu. "Hyuji, aku datang!" panggilnya sekali lagi. "Kau didalam kan Hyu? Tolong cepat buka pintunya, aku sudah kedinginan!"
Sudah jelas tidak mungkin akan ada sambutan apapun. John mengetuk sekali lagi, hendak menyebut nama Hyuji untuk kesekian kali, namun terhenti karena tiba-tiba seseorang berteriak dari luar pagar.
"Hey, nak! Rumah itu sudah lama ditinggalkan!"
Seorang pria paruhbaya itu memperjelas kenyataan. Membawa John kembali dalam kesadaran, kemudian membungkuk sopan dan berjalan mendekat.
"Itu... Apa rumahnya sudah lama ditinggalkan paman?"
Pria paruhbaya itu mengangguk memastikan. "Iya, sudah hampir empat tahun! Aku dengar pasangan muda yang menempatinya berpisah! Aku sempat melihat wanita pemilik rumah ini masih menempatinya beberapa waktu, tapi kemudian menghilang begitu saja! Aku tidak tau kemana dia pergi!" terang sang paman, membuat John bagai ditusuk busur panah tepat di jantung. Membuatnya tidak bisa bernafas, sesak sekali.
"Kau teman salah satu pemilik rumah ini?" lanjut sang paman, membuyarkan lamunan John.
Pandangan John berubah kosong, dia tak sanggup lagi menerima kenyataan bahwa Hyuji telah pergi begitu lama. "I-iya..." bohongnya menutupi bahwa dirinya adalah pemilik rumah ini juga. "Terima kasih atas informasinya paman, saya akan menghubungi mereka saja kalau begitu!"
Paman itu mengangguk dan pergi. John kembali menghampiri hamparan pintu yang terkatup rapat. Semua memori tentang rumah ini terputar begitu saja didalam kepala.
John mengulurkan tangan, mengusap belah pintu berdebu tebal dengan pupil bergetar. Hingga kini, dirinya berjongkok dan menangis dalam dekap kedua lipatan tangan kekarnya.
"Dimana kamu Hyu..."
John tau, Hyuji tidak mungkin pulang ke daegu. Akan tetapi ponsel disakunya bergetar, nama Son muncul pada display layar. John mengesat airmata, dan mengatur nafas.
"Eung... "
"Saya sudah menemukan lokasi dimana Hyuji berada!"
"Katakan!" tanya John tidak sabaran. Berdiri kasar dan melangkah pergi meninggalkan rumah lama itu.
"Dari sinyal ponsel yang saya lacak, dia berada dibusan tuan! Lokasinya tidak jauh dari rumah anda!"
"Benarkah?" tanya John dengan binar bahagia.
"Iya tuan!"
"Baiklah, aku akan segera kembali ke busan!"
John mengakhiri panggilannya, tersenyum lebar sembari membalik tubuh untuk melihat rumah itu sekali lagi. "Aku akan menemukan kalian!"
***
Hyuji membawa dua kantong belanja bulanan di telapak kanan, sedangkan telapak lainnya menggenggam jemari kecil berbalut sarung tangan berwarna hitam milik putrinya.
Gadis itu menarik lengannya dari genggaman sang ibu dan berlari tak jauh dari pagar rumah yang bahkan belum Hyuji kunci.
"Jangan keluar sayang, ibu mau meletakkan barang belanjaan dan memberikan titipan nenek Hong!"
Gadis kecil itu mengangguk paham dengan pipi memerah seperti cherry. Hyuji lihat gadis kecilnya itu berjongkok dan mengeruk salju disana, Hyuji tidak begitu khawatir karena YeNa tidak akan keluar jika dia tidak memberikan izin—biasanya seperti itu. Langkahnya pergi menjauh begitu saja.
YeNa, tiba-tiba saja melihat seekor burung yang mengepakkan sayap mencoba terbang, namun kembali terjatuh diluar pagar rumah. YeNa mengintip dari balik pintu pagar, memasang wajah iba pada sang burung.
Dan kesalahan terbesar Hyuji adalah tidak menutup pintu pagar tersebut hingga YeNa keluar begitu saja demi menangkap dan bermaksud menyelamatkan burung tersebut.
"Buyung, kemailah! Aku akan menolongmu..." ucap YeNa memberitau, sambil mengejar burung yang semakin menjauh.
Hyuji keluar dari rumah membawa segelas minuman hangat pada cangkir kecil yang biasa ia gunakan untuk memberi YeNa susu. Akan tetapi dia membolakan kedua mata saat tak melihat presensi YeNa di halaman. Wajah Hyuji mendadap panik. Memanggil putrinya beberapa kali dengan suara agak keras, hingga bibi dan paman Hong turut terkejut dan keluar dari dalam rumah.
"Ada apa Hyu?"
"YeNa tidak ada bi... " jawabnya panik.
Hyuji berlari mengintip keluar, tidak ada siapapun. Hyuji mulai ketakutan.
"Ada?"
Hyuji menggeleng dengan wajah panik, khawatir dan juga takut. Hyuji menggigit cemas ibu jarinya dengan manik berair, cukup deras. Ia bahkan membodohkan dirinya sendiri, bahkan bersumpah tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu kepada YeNa. Karena gadis kecilnya itu adalah sumber kekuatan dan hidup bagi Hyuji.
"Kita berpencar saja!"
Tanpa memperpanjang pembicaraan, semua pergi kearah berbeda. Menyebut nama YeNa dengan lantang, berharap gadis kecil itu tiba-tiba muncul dari tempatnya bersembunyi.
***
Namun tiba-tiba burung itu terbang begitu saja, tinggi, dan jauh. YeNa mendongak kelangit dan kecewa.
"Kenapa pegi? Kau kan sakit?"
YeNa memperhatikan sekitar, sepi. Tidak ada ibu, tidak ada bibi Hong, hanya dia sendiri diantara bentangan salju yang masih menggumpal. Dalam balutan jaket tebal dan hangat, topi dan syal rajut, dan sepatu boots berwarna coklat menutup rapat telapak kaki kecilnya.
YeNa panik. "Ibu... " panggilnya dengan suara bergetar ketakutan. "Ibu! Ibu dimana? Ye, takut!"
Dia tersesat. YeNa meringkuk dan menangis ditepian jalan seorang diri.
Pria itu berjalan mendekat, sudah hampir separuh jalan dia memutar langkah kembali karena melihat seorang gadis kecil berjalan seorang diri tanpa pengawasan sedikitpun.
Terdengar sayup suara madu yang manis sekali saat gadis itu menyebut kata ibu berulang kali.
Dejavu.
John merasa pernah mengalami hal demikian, sama persis. Tapi dia lupa begitu saja.
John menyamakan posisi dengan gadis kecil yang sedang menangis dalam ringkukan itu.
"Kau sendirian sayang? Dimana ibumu?"
Sekali lagi, John berusaha mengingat semuanya.
Gadis itu semakin ketakutan, dia mempererat lipatan tangannya untuk menyembunyikan wajah. "Paman siapa? Paman oang jahat?"
Ya Tuhan, gemas sekali suaranya. John tersenyum, meraih pucuk kepala berkupluk merah jambu itu untuk ia usap penuh kasih. "Paman jangan menculikku! Ibu akan besedih!"
John tertawa semakin lebar mendengar suara cadelnya. "Tidak, paman bukan orang jahat! dimana rumahmu, biar paman antar!"
"Bena-kah? Paman bukan oang jahat?"
"Tentu saja, paman orang baik!"
Gadis itu menggerakkan badannya, mengintip dari balik siku tangan yang masih terlipat. Kerlipan mata bulat berair itu membuat John mengingat seketika dimana dia pernah mengalami kejadian serupa.
Mimpi.
Ya, mimpi.
John terkejut, wajahnya berubah tegang saat sadar mimpi yang selama ini mengganggu tidurnya itu berubah menjadi nyata didepan mata.
"Ayah... " ucap YeNa samar, namun sedikit tertangkap pendengaran John.
"Y-yaa??? " sahut John gugup.
"Paman mi-ip dengan ayah!" tutur YeNa mencoba memberikan penjelasan, masih bersembunyi.
Manik John turut memburam, benak John turut bertanya-tanya. Bukankah seharusnya, putrinya juga sebesar ini? Dengan bibir bergetar dan perasaan kalut, John memberanikan diri untuk bertanya.
"S-siapa namamu nak?"
"YENA!!! " pekik seseorang dari balik punggung John.
Suara ini? Aku mengenalnya! Dia...
Tanpa melihat sang laki-laki disamping gadis kecil itu, Hyuji meraih dan memeluk erat YeNa dalam dekapan. Menciumnya berkali-kali dengan derai airmata. John melihat dengan jelas keduanya berdiri tak jauh dari jangkauan, hatinya bagai dihantam batu besar saat itu juga.
Keduanya, nyata didepan mata.
Dua wanita cantik yang ia cari beberapa hari ini berdiri dihadapan kakinya yang masih tertekuk diatas salju. Airmatanya luruh. Tubuhnya bergetar. Kemudian bibirnya berucap dalam kemelut batin yang terisak.
"Hyu... "[]
•
•
Aduh si buyung, kenapa te-bang??
Terima kasih sudah membaca. Vi's sarankan untuk memutar playlist yang Vi's rekomen, karena suasananya akan benar-benar membuat hati... Ugghhh!!!
Andai NT bisa mengunggah file musik, Vi's akan masukkan playlistnya biar mudah. Tapi sayangnya, NT tidak didukung dengan fitur tersebut. Jadi silahkan memutar playlist sendu apapun yang kalian suka dari ponsel.
Salam Hati Warna Ungu,
💜💜💜
Vizca.