Another Winter

Another Winter
another Winter 49



Diantara ribuan kata-kata Indah yang ia rangkai dan juga ingin ia ucapkan, John menarik telapak Hyuji yang berada diatas pangkuan celana Jeans berwarna gelap yang dikenakan pujaan hatinya itu. Penghangat kabin mobil mewah yang mereka naiki juga bekerja dengan baik hingga mampu menimang YeNa sampai tertidur pulas diatas pangkuan sang ibu.


John mencium pelan punggung tangan Hyuji tanpa mengalihkan fokus pada jalanan aspal yang licin karena salju, membuat jantung Hyuji meronta dalam debar, dan darahnya berdesir cepat menyusuri nadi.


"Cara apa yang kau gunakan untuk membujuk ibumu?" tanya Hyuji tiba-tiba memecah keheningan diantara instrumen musik yang John putar dengan volume rendah.


"Tidak ada! Aku hanya bilang jika aku akan berubah gila jika tidak bisa bersamamu!"


"John! Aku serius!"


"Apa kau lihat aku sedang bercanda?" sahut John cepat, dan sialnya, Hyuji benar-benar tak melihat raut bercanda di wajah tampan pria dibalik kursi kemudi itu. "Aku mengatakan itu Hyu! Dan mama memintaku untuk membawa kalian berdua kembali!" lanjutnya dengan senyuman yang sangat dinantikan Hyuji selama bertahun-tahun.


"Aku dengar kau menungguku!"


Ucapan John sukses membuat Hyuji menoleh seketika dengan pipi merona. Tatapan mereka bersirobok beberapa detik hingga John kembali mengalihkan fokus pada bentangan aspal diatas putaran roda besi yang ia kemudikan. Lantas, dengan penuh percaya diri John kembali menyambung kalimatnya.


"Tidak perlu terkejut begitu! Aku tau kau pasti melakukannya bukan? Karena kau juga masih menginginkan aku kembali!"


Hyuji hanya bisa terdiam, karena nyatanya memang seperti itu.


"Ayo kita mengikat hubungan kita kembali diatas janji suci, dihadapan putri kecil kita juga!"


"Aku harap mamamu tidak berubah fikiran saat aku berdiri dihadapannya nanti!" ketus Hyuji mengalihkan pembicaraan John yang semakin membuat tak berdaya dalam serangan bunga-bunga yang sedang bermekaran didalam hatinya.


John menahan tawa dengan hidung mengerut. "Setelah itu ayo kita berbulan madu seperti yang ada dalam cerita drama kesukaanmu dulu!"


"Ck!!!" Hyuji berdecak kesal dengan wajah memerah padam karena malu.


Hingga mobil mereka sampai didepan rumah yang beberapa kali Hyuji kunjungi. Ada sedikit rasa traumah dalam benak, mengingat saat ibu John tak mengharap kehadirannya, saat dia tak dipedulikan, dan juga, saat ibu John mengucapkan kata-kata pedas untuknya dulu.


YeNa yang sudah terbangun beberapa menit yang lalu juga merasa asing.


"Baiklah... Kita sudah sampai dirumah nenek!" ucap John dengan nafas berat dan nada suara menggoda yang dibuat-buat untuk YeNa.


"Umah nenek sepeti istana Elsa!"


John tertawa sambil melirik Hyuji, kemudian mencubit gemas hidung kecil dan runcing milik putrinya itu.


"Istana YeNa dibusan lebih Bagus dari pada rumah nenek!"


Hyuji tercekat. "Apa maksudmu—"


"Sudah, nanti saja bahasnya!"Titah john dengan wajah memicing menggemaskan didepan Hyuji.


Mereka keluar dari mobil mewah berwarna gelap itu dan berjalan mendekat pada pintu utama rumah tersebut. Dua presepsi sudah menunggu kedatangan mereka. Papa dan Mama John.


"Mam! Pa... Kami datang!"


Suara John menarik atensi mereka berdua


Bahkan Hyuji tak percaya jika kini wanita yang biasa menatap sengit padanya itu tersenyum lembut. Hyuji membungkuk hormat.


"Kalian datang? Kemarilah sayang!" pinta ibu John pada gadis kecil yang ada dalam gandengan orang tuanya.


YeNa takut dan bersembunyi dibalik kaki jenjang Hyuji, dan mau tidak mau Hyuji harus membujuk gadis kecilnya itu agar mau mendekat pada ibu John.


"Sayang, itu nenek YeNa juga... " bujuk Hyuji dengan tutur lembut.


"YeNa tidak mau! YeNa takut!" jawabnya dengan suara menggemaskan dan bibir mengerucut lucu, sama persis seperti John saat merajuk.


"YeNa boleh minta permen strawberry pada ibu nanti!"


"Bena-kah?" kedua manik YeNa berbinar saat mendengar permen strawberry disebut sang ibu.


Hyuji mengangguk menyanggupi. "Eummm,Tentu! Tapi YeNa harus menyapa nenek dan kakek wilson dulu!"


YeNa merotasikan pandangan. Melihat pada kedua orang yang berdiri tak jauh darinya, kemudian melangkah maju dengan kedua kaki kecil berbalut celana tebal berwarna gelap. Hyuji berdiri menyaksikan bagaimana putrinya itu meraih kedua lengan ibu John dan membiarkan wanita itu memeluk tubuh gembilnya.


"Maaf nenek tidak pernah mengunjungimu sayang!"


Setelah sang nenek melepas pelukan, YeNa beralih pada tubuh tinggi dan tegap yang ia lihat hampir menyerupai ayahnya, tapi perut pria tua dihadapannya sedikit buncit. YeNa berada dalam gendongan pria tersebut, sempat mendapat ciuman juga.


"Ayo kita ngobrol sambil duduk!" ajak Tn. Wilson sambil menggendong YeNa menuju kursi ruang keluarga.


Beberapa menit berlalu, suasana mulai mencair. YeNa juga sudah bisa menyesuaikan diri dengan kakek dan neneknya. Bahkan Hyuji melihat ibu John tanpa henti mengajak YeNa bercanda, terlihat ekspresi gemas terpancar dari rautnya yang biasa terlihat arogan. Hyuji lega, jika akhirnya dia bisa diterima.


"Pa, Mam... John akan menikahi Hyuji kembali!"


Tentu keduanya terkejut, akan tetapi bukan sebuah penolakan yang mereka berikan, melainkan restu. Mereka tau jika putra mereka sangat mencintai wanita yang telah melahirkan cucu cantik dan menggemaskan untuk mereka. Bahkan ayah dan ibu John tak bisa mengalihkan perhatian mereka dari gadis kecil yang begitu cantik, cerdas, imut, dan menggemaskan seperti YeNa.


"Tentu saja!" jawab sang ayah. "Adakan pesta sekalian!"


John menatap antusias pada Hyuji kemudian meraih Hyuji kedalam pelukan dan mencium keningnya beberapa kali, dan tak mereka sangka jika itu menarik perhatian YeNa.


"Ayah! Jangan yebut ibu da-i ku!"


Semua tertawa karena protes YeNa yang terdengar menggemaskan. Kini, bahagia sedang menyelimuti keluarga Wilson.


***


Keesokan harinya, mereka menuju daegu untuk bertemu orang tua Hyuji. YeNa sudah tak asing pada sosok kedua orang tua Hyuji sehingga dia lari berhambur begitu saja kedalam pelukan keduanya.


Setelah sesi pertemuan berbalut rindu itu berakhir, suasana menjadi lebih canggung. John dan Hyuji duduk berhadapan dengan kedua orang yang telah merawat dan membesarkan Hyuji.


"Maafkan saya tidak datang menemui ayah dan juga ibu untuk mengatakan perpisahan kami! Saya—" suara John terhenti kala pak Song tiba-tiba menyela.


"Tidak perlu meminta maaf! Kau sudah membuat kami berdua kecewa! Kau bahkan melupakan janjimu untuk menjaga putriku!"


"Ayah, kami—" timpal Hyuji menengahi.


"Kau diamlah dulu Hyu! Ayah hanya ingin mengatakan apa yang ayah rasakan!"


John mengangguk paham akan rasa kecewa kedua orangtua Hyuji padanya. Sebab, yang mungkin juga akan selalu membekas, bahwa dia tak peduli pada Song Hyuji.


"Saya datang kemari untuk melamar Hyuji kembali!" tutur John lembut, sembari meremat jemari tangannya.


Pak Song tertawa getir diujung bibir, dia masih belum bisa menerima atas perlakuan John yang tiba-tiba menceraikan Hyuji empat tahun silam. Dia takut Hyuji dipermainkan kembali.


"Kau pikir aku akan merelakan putriku untuk kau jadikan permainanmu? Aku tidak akan membiarkannya!"


Ruangan berubah senyap, rasa takut menyerah setiap keping keinginan John untuk membawa Hyuji kembali kesisinya. Namun setiap tutur yang terucap dari birai ayah Hyuji seolah menariknya kembali dalam kenyataan. Sebuah kekecewaan, yang bahkan tidak pernah terlintas akan datang dengan cara seperti ini. John tidak pernah tau jika ia akan menerima penolakan.


"Kami memang miskin, tapi kami masih punya harga diri!"


"Saya tidak bermaksud—"


"Kembalilah ke tempatmu! Dimana harta dan tahta adalah pilar hidup kalian!"


John mendadak bungkam. Semua keberanian yang ia bangun sepanjang perjalanan menuju daegu, runtuh begitu saja. Semua sepertinya tidak akan berhasil. John tertunduk pilu, hatinya teremat habis. Namun terdengar jelas di pendengarannya, Hyuji mencoba memohon pada sang ayah.


"Ayah, tolong dengarkan John terlebih dahulu... " pinta Hyuji dalam isak tangis yang mulai luruh. "Ini bukan kesalahan John sepenuhnya, perpisahan itu juga atas dasar kemauan Hyuji!"


Sang ayah menatap sendu. "Dan sekarang, kau mau kembali ke masa lalu?" tanya sang ayah dengan suara renta yang terdengar bergetar. "Kau masih punya masa depan Hyu! Putrimu!" lanjut sang ayah.


"Tapi—"


Suara Hyuji kembali terhenti karena John meraih telapak tangannya perlahan, kemudian meremat perlahan, memberi isyarat agar Hyuji tidak berkata lebih jauh.


"Kembalilah nak! Aku tidak akan membiarkan Hyuji kembali lagi padamu! Kepercayaan yang aku berikan padamu sudah kau sia-siakan!"


John mengangguk sekali lagi, mencoba menata hati dan segera membawa dirinya bangkit untuk berpamitan.


"John... " panggil Hyuji lirih.


John memberikan senyuman untuk Hyuji sambil mengusap pipi wanitanya yang sudah basah oleh airmata. John menepuk kecil surai dipucuk kepala Hyuji. "Jaga dan rawat Putri kita dengan baik! Aku akan sering mengunjungi kalian nanti!" Ucap John diiringi airmata yang menetes tanpa aba-aba, dia benar-benar tak tau jika akan berakhir seperti ini.


"Hyu! Berjanjilah untuk tetap bahagia dalam hal apapun!" tutur John saat Hyuji kembali menghentikan langkahnya yang sudah hampir sampai diambang pintu. "Mungkin bukan sekarang!" tutur John mencoba memberi ketenangan. "—kita bisa bertemu dan memperbaiki semua kesalahan kita di kehidupan selanjutnya nanti!"


Hyuji menggeleng, tak ingin melepas John.


"Jaga dan rawat YeNa dengan baik! Agar bisa menjadi wanita hebat sepertimu!"


"Tidak! Jangan tinggalkan aku lagi John! Aku lelah menunggu... " tutur Hyuji pilu.


John mengusap dan mengangkat dagu Hyuji yang bersembunyi diantara tundukan tangis, kemudian menyematkan senyuman pilu diantara kedua manik yang saling tatap. "Aku tidak akan memintamu untuk menungguku lagi! Aku benar-benar melepasmu sekarang! Berbahagialah!"


Hyuji menggeleng untuk kesekian kalinya.


"Selamat tinggal!"[]




Tersisa satu bab Ending, dan satu bab Epilog.


Terima kasih sudah mengikuti another Winter.


Jika tidak keberatan, silahkan mampir dikarya Vi's yang lain.


See you...


Salam Hati Warna Ungu,


💜💜💜


Vizca.