
Di penghujung musim semi tahun ini, John mampu membuat beberapa target yang ingin ia capai perlahan tergapai. Meskipun jalan yang ia tempuh tidaklah bisa dikatakan mudah, dia, John Wilson, mampu melewatinya. Dia benar-benar sosok pemuda pekerja keras yang gigih dan tak kenal lelah.
Hari ini, dalam balutan kaos putih polos berlogo centang, jaket cream sebagai Outer, celana Jeans sedikit ketat, dan juga sepatu yang selalu menjadi favoritnya, boots, tidak lupa pula aroma harum dan maskulin yang menguar dari tubuhnya, menjadikan dia perbincangan dimata orang asing yang bekerja dibawah pimpinannya.
Bagaimana tidak? Wajah tampan dan juga proporsi tubuh yang sempurna, serta dominasi kulit putih bersih dan mata bulat dengan lipatan khas warga lokal asia ber ras sipit, John menarik dimata para gadis asing.
Entah mengapa hari ini dia hanya ingin berpakaian casual saat bekerja.
Duduk didepan layar komputer seperti biasa, John mengalihkan tautan mata rusanya pada bilah pintu yang diketuk. Kemudian menampakkan sosok cantik berwajah asing yang memasuki ruangan sambil memapah stopmap di lengannya. Jangan salah, gadis itu sangat mahir berbahasa yang sama dengan John.
"Mr. John, saya butuh tanda tangan anda untuk beberapa file yang saya bawa!"
"Eoh, tentu!"
John mengangkat pandangannya pada gadis yang berpakaian formal dihadapannya, menerima berkas itu sembari memberikan senyuman ramah.
"Bagaimana dengan jadwal Meeting hari ini?"
"Tidak ada Mr.!"
John mengangguk paham, dan kembali memeriksa lembar demi lembar berkas didalam stopmap tersebut.
***
Hyuji menapakkan kaki di atas peron stasiun, melihat sekitar dan tak mendapati wanita bernama Yoon yang akan menjadi pemandunya di busan saat ini.
Memakai pakaian longgar yang nyaman, perut buncitnya sedikit menampakkan diri namun tak begitu kentara. Hyuji mencari ponsel didalam tas yang ia bawa kemudian menghubungi seseorang bernama Yoon.
"Kau dimana?"
"Maaf aku sedikit terlambat Hyu, tunggu aku disana, lima belas menit lagi aku sampai!"
"Eoh!"
Hyuji berjalan hendak mencari tempat duduk diruang tunggu, namun atensinya teralih pada lemari pendingin yang menjual minuman berbagai rasa disana. Hyuji berjalan dan bermaksud untuk membeli air putih, sebab kerongkongannya sudah terasa kering kerontang.
Akan tetapi, hal yang tidak ia duga terjadi. Hazelnya bersirobok dengan presensi seorang wanita, masih sama dengan tatapan arogannya saat berjalan, menapak mendekati Hyuji.
Ya Tuhan, mengapa harus bertemu disini?
Batin Hyuji sambil berusaha menyembunyikan perut buncitnya dengan raut sedikit panik.
Ketika sampai tepat dihadapan Hyuji, wanita itu tersenyum mencibik—kelewat meremehkan.
"Astaga, apa ini kutukan untukku? Mengapa hari ini tidak ada yang berjalan dengan baik?" sarkasnya sembari memutar bola mata malas.
Hyuji membungkuk memberi hormat. "Selamat pagi Nyonya Joana Wilson!" sapa Hyuji membuat wanita itu terbeliak, kemudian tersenyum miring.
"Aku suka panggilan barumu untukku!" jawabnya sambil memeta tubuh Hyuji, dan berhenti tepat diperut Hyuji yang sedikit menyembul. Mendapati pula fitur Hyuji yang tidak nyaman dan berusaha menyembunyikan perutnya. "Jadi kau membiarkan anak itu akan lahir tanpa seorang ayah?" lanjutnya.
Hyuji tercekat, dia meneguk salivanya susah payah saat mendengar ucapan itu. Hatinya berdenyut sakit.
Kedua manik Joana membola, tangannya terangkat dan mendaratkan satu tamparan cukup keras tanpa kendala di pipi Hyuji hingga sedikit terpelanting.
"Lancang sekali kau menyebut bayi itu keturunanku! Aku tidak sudi menerima dia sebagai cucu meskipun putraku adalah ayahnya!"
Hyuji tertawa miris, menahan sakit dan juga nyeri dipipinya.
"Apa anda sadar jika baru saja anda mengakui nya sebagai cucu anda?" Hyuji tersenyum tak kalah sarkas.
Seketika, rahang ibu John mengeras. Sudah tidak terhitung orang yang memperhatikan mereka berdua. Dan karena alasan harga diri, ibu John pergi meninggalkan Hyuji yang masih terpaku ditempat awalnya berdiri.
Kali ini, nyeri bukan datang dari bekas tamparan dipipinya. Melainkan dari hatinya yang terlampau sakit saat mendengar ucapan mantan mertuanya tentang status bayi dalam kandungan Hyuji.
Airmata Hyuji menetes begitu saja, ia usap dengan lembut perut buncit dimana makhluk kecil didalam sana merespon usapan Hyuji dengan sebuah tendangan kecil.
"Kau punya ayah sayang! Jangan dengarkan kata orang lain selain ibu! Dan ibu akan memperlihatkan bagaimana wajah ayahmu kelak jika kau sudah lahir!" Hyuji bermonolog dengan nada pilu. Beberapa orang masih memperhatikan Hyuji dengan pipinya yang memerah pada satu sisi, hingga suara seseorang mengalihkan atensinya.
"Hyu... "
Hyuji berbalik, melihat Yoona yang berlari mendekat.
"Hai, maaf membuatmu menunggu! Kekasihku memang kurang ajar, dia memaksa bertemu padahal aku sudah memberitau padanya jika aku ada janji!" cerocos Yoona memberi alasan mengapa dirinya terlambat datang.
"Tidak apa-apa!"
"Waah, kau sudah hamil besar Hyu? Aku jadi ingin seperti itu juga!"
"Hei, resmikan dulu hubungan kalian!"
"Aku tau!" jawab Yoona singkat. "Ayo kita pergi sekarang!"
Hari ini, agenda menilik rumah atap milik paman Yoona berjalan lancar. Harga sewa yang diberikan juga sesuai. Dan yang membuat Hyuji merasa nyaman adalah bibi Yoona sangat ramah dan baik hati. Terlebih saat Hyuji menjelaskan situasi kehidupan yang ia jalani. Wanita itu bersedia menjaga anak Hyuji jika sudah lahir kelak, agar Hyuji bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan mereka berdua.
Tidak ada alasan lagi bagi Hyuji untuk menunda kepindahannya, Hyuji memutuskan untuk segera menempati rumah tersebut, secepatnya.[]
•
•
Siap-siap untuk beberapa bab menuju Ending.
Sejauh ini, Vi's berharap semoga bisa membawa pembaca turut larut kedalam alur cerita.
Terima kasih sudah membaca.
Salam Hati Warna Ungu,
💜💜💜
Vizca.