Another Winter

Another Winter
another Winter 45



Musim dingin memang cuaca yang membuat siapa saja serasa dihujam rasa sakit hingga menusuk kedalam tulang. Membuat menggigil, dan juga beku.


Untuk pertama kali John mendarat di bandara incheon setelah tiga musim dingin berlalu, meninggalkan negara kelahirannya. Langkah besar oleh kaki jenjang yang ia miliki membuat setiap mata melirik pada proporsi sempurna yang dianugerahkan Tuhan padanya.


Terlihat jauh disana, seseorang melambaikan tangan. Memberi isyarat, kemudian berlari dan meraih koper berukuran sedang yang dibawa John.


"Biar aku yang membawanya sendiri!"


"Tidak tuan, biar saya bawakan saja!"


John mengulum senyum, kemudian berjalan mengikuti dibelakang pria yang memiliki tinggi yang sama dengannya itu.


Pria itu membuka pintu mobil untuk John.


"Terima kasih Son!"


Son hanya tersenyum mendengar suara madu boss nya, lalu berlari memutar menuju kursi kemudi. Dia merangkum wajah sumringah John dari balik spion tengah yang ada diatas dashboard mobil.


"Tuan ingin mampir ke rumah nyonya wilson terlebih dahulu atau—"


"Kita ke busan saja! Aku tidak ingin mama tau aku ada di korea!"


"Baik tuan!"


Mobil melaju perlahan diatas dingin dan licinnya aspal jalan. Tidak ada percakapan apapun, karena John sibuk dengan persegi lebar yang berpendar pada telapak tangannya.


Hingga tanpa terasa sudah empat jam mereka menggesa jalanan beraspal, dan sampai disebuah bangunan rumah megah.


"Kita sudah sampai tuan!"


John mengalihkan pandangan, memeta sekitar. Kemudian mengangguk sebagai tanggapan. John melepas seatbelt dan turun dari mobil mewah yang dinaikinya.


Bayangan Indah perlahan mengalir dalam benak John, tentang dirinya dan Hyuji yang kembali hidup bersama, bahagia berdua didalam sana bersama buah hati mereka kelak setelah kembali mengikat janji suci untuk kedua kalinya. Senyuman mengembang dibibir John, melangkah hendak menilik bagian dalam rumah baru itu, kaki John terhenti saat ponsel disaku celana yang ia kenakan bergetar satu kali.


Sebuah balon pesan muncul saat John berhasil mengusap layar persegi pintarnya tersebut.


Nomor tidak dikenal.


Kau sedang berada dibusan bukan?


John bertanya-tanya, dari mana pengirim pesan misterius tersebut tau akan keberadaannya saat ini. Kemudian satu pesan menyusul, isinya sedikit panjang.


Kau perlu tau, jika putrimu sekarang sudah besar! Usianya tiga tahun, dan dia sangat cantik!


Apa-apaan ini? John mengeratkan rahang. Tidak ada hujan, tidak ada angin, bahkan dirinya tidak pernah meniduri wanita manapun. Mengapa mendadak mendapat pesan demikian.


Peneror—pikirnya.


Namun pesan ketiga kembali memenuhi kotak pesan pada ponselnya.


Hyuji mengandung saat kalian bercerai!


Sial!


Mood John tiba-tiba saja hancur hanya karena sebuah pesan. Sudah terlanjur dikungkung emosi, John menekan nomor ponsel lokal tersebut. Hingga bunyi beep sirna dan digantikan suara seorang pria di seberang telepon.


"Katakan siapa dirimu!" tanya John dengan nada geram.


"Kau lupa dengan suaraku John?"


Mendadak, hati John menciut. RyuJin, kakak Hyuji.


"K-kak Jin?"


"Ya... ini aku!"


"D-darimana kakak tau aku dibusan?!" tanya John gugup. Jantungnya sudah berdetak tak karuan.


"Kau tidak perlu tau! Kau sudah baca pesanku?"


Percakapan itu berhenti sejenak. Kemudian suara Jin kembali terdengar. "Seperti yang sudah aku tulis pada pesanku! Baca dan pahami sekali lagi! Aku yakin kau bukan pria bodoh!"


"Lalu—"


"Ibumu tau semua ini! Aku hanya ingin memberitau jika sebenarnya kau dan Hyuji memiliki seorang anak! Dia mengandung saat kalian bercerai dulu! Apa ibumu tidak mengatakan apapun padamu?"


John menggeleng, airmatanya sudah jatuh begitu saja melewati ekor mata. "Tidak..." tuturnya pilu.


"Aku hanya ingin memberitau saja! Dan aku tidak berharap banyak karena kudengar dari Hyuji jika kau akan menikah dengan gadis pilihan ibumu!"


"Tidak! Aku sudah membatalkan semuanya!"


"Mengapa?"


John tercekat. Birainya mendadak terkunci rapat, dirinya tak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk ia jadikan jawaban atas pertanyaan RyuJin.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu memberikan jawaban!" tutur Ryujin menyahut, kemudian melanjutkan. "Jika kau masih menginginkan mereka berdua, cari dan temukan mereka! Kau tidak perlu bertanya padaku dimana mereka tinggal, karena kekuasaanmu dapat menjawabnya! Hyuji menunggumu!"


John mengesat airmatanya yang kembali luruh, bahkan bibirnya kini turut bergetar sesaat setelah mendengar penuturan Ryujin.


"Buktikan pada Hyuji, dan juga kepadaku, atau bahkan kepada keluargamu, jika kau masih mencintai Hyuji!"


Panggilan itu berakhir. John berjalan cepat—nyaris seperti berlari, menghampiri Son, dan dengan tergesa meminta kunci mobil pada pria tersebut.


"Tuan mau kemana? Biar saya antar!"


"Tidak! Aku akan pergi sendiri!"


"Tapi tuan—"


"Cepat lacak keberadaan wanita bernama Hyuji! Jika perlu, sewa seseorang yang kau kenal untuk mencari keberadaan Hyuji!" titahnya tegas, yang jelas tidak akan diabaikan oleh Son.


"Baik tuan!"


John bergerak cepat, menaiki mobil dan mengemudi dengan kecepatan lumayan tinggi untuk kembali menuju Seoul.


Telapak besarnya tak henti-henti meremat kuat kemudi mobil, menyalurkan emosi yang sedang membuncah didalam dadanya yang sudah seperti terbakar.


"Mama... " rutuknya pelan. "Mengapa mama menyembunyikan hal besar seperti ini dariku?" Ucap John sambil memijat samar pelipisnya yang terasa semakin berat—frustasi.


"Mama akan tau dan melihat sendiri, seberapa aku mencintai wanita bernama Hyuji itu! Aku bersumpah akan membuat mama menyesal sudah membencinya selama ini!" tuturnya bermonolog.


John tersenyum sarkas, sesaat kemudian memukul kemudi dengan cukup keras sambil mengumpat dengan suara menggelegar, memenuhi kabin mobil.


"Mama akan menerima Hyuji! Aku pastikan itu!"[]




Hai...


Sudah dekat Ending nih?!


Akan tetapi, masih ada satu konflik lanjutan diepisode selanjutnya. Ikuti sampai akhir ya...


Terima kasih atas perhatian dan apresiasinya.


Vi's minta maaf jika ada salah kata, atau beberapa kalimat dan juga alur yang kurang sempurna dalam cerita ini.


Salam Hati Warna Ungu,


💜💜💜


Vizca.