Another Winter

Another Winter
another Winter 30



RyuJin; kakak hyuji, berpesan pada Hyuji agar tetap tegar dan hidup dengan baik setelah proses perceraian ini berakhir. Dan juga, saat menyandang status single parents untuk anaknya kelak.


Tak masalah, Hyuji sudah lebih baik sekarang. Dia bahkan bernafas sedikit lega saat tadi sore John mengirim pesan agar datang ke Seoul dua minggu kedepan guna menghadiri sidang terakhir yang akan memberi keputusan untuk hubungan keduanya.


Hyuji memijat betis dan pundak yang terasa lelah, kaku, dan sakit. Hari ini kedai tutup lebih cepat karena sangat ramai. Wajahnya memicing guna menahan rasa nyeri yang timbul. Benar-benar lelah.


Jam masih menunjuk pada angka sembilan malam saat keriuk di perutnya berbunyi cukup nyaring, lapar.


"Kau lapar sayang?" tuturnya sambil mengusap perut. "Baiklah, ibu akan membuat nasi goreng kim—" suara hyuji terhenti seketika, tercekat bersamaan memori yang mengingatkan tentang menu yang baru saja ia sebutkan. Makanan favorit John.


"Kita ubah menunya! Bagaimana kalau ramen saja? Okey! "


Hyuji beranjak dari sofa menuju dapur. Kemudian menyiapkan semua keperluan untuk memasak ramen. Bahkan, disela menunggu air didalam panci itu mendidih, Hyuji kembali mengucap syukur dalam hati karena John benar-benar tidak menendangnya keluar dari rumah kecil itu. Nafas Hyuji terhembus perlahan, "Maafkan ibu jika nanti saat kau lahir, kau tidak dapat melihat sosok ayahmu sayang! Tapi ibu janji akan selalu menceritakan padamu bagaimana sosok ayahmu itu! " ucap Hyuji sembari kembali mengusap perut, berharap calon bayinya itu mendengarkan saat dia berbicara.


"Ayahmu itu orang baik!" Senyum Hyuji mengembang saat ini. "Dia juga tampan! Ibu juga berjanji, nanti akan memperlihatkan bagaimana wajah ayahmu, dan ibu harap nanti kau bisa bertemu dengannya walaupun hanya dalam mimpi di tidurmu! "


Beberapa menit kemudian, ramen sudah jadi. Hyuji duduk di meja makan kecil yang biasa ia gunakan bersama John dulu. Menatap kursi kosong dihadapannya, kemudian tersenyum saat mengingat bayangan pria John yang dulu selalu bersemangat saat menghabiskan makan malam yang ia buat.


Disaat pikirannya sedang digulat oleh kemelut masa lalu, bel rumah tiba-tiba berbunyi. Hyuji tak berniat mengindahkan, akan tetapi, orang yang berada diluar sana menekan bel tersebut semakin beruntun.


Dengan suasana hati sedikit kesal, Hyuji menuju intercom dan menekan tombol dengan kasar.


"Neee... "


"Apa kau tidak merindukanku? "


Sial, halusinasinya semakin tidak terarah. Mengapa di jam malam seperti ini, dia malah berhalusinasi tentang John yang datang kerumahnya?


Tak banyak bicara, untuk menepis dan membuktikan jika itu hanya ilusi, Hyuji berjalan membuka pintu utama. Akan tetapi, apa yang sedang disaksikannya saat ini berada jauh diluar ekspektasi.


Bagaimana pria yang sempat ia pikirkan beberapa detik yang lalu kini muncul dan berdiri didepan rumah.


Atensi Hyuji terkunci pada pria dalam balutan kemeja hitam bergaris, celana Jeans dan juga sepatu converse berwarna merah. Memandangnya dari ujung rambut hingga kaki dengan bibir sedikit terbuka dan mata yang mengerjap beberapa kali, disusul gelengan tak percaya.


Pemandangan itu justru membuat John gemas. Bagaimana tidak? Dia sudah sangat merindukan wanita yang berdiri dihadapannya itu, dan ketika nyata dihadapan mata, wanita itu justru menyuguhkan wajah terkejut dan menggemaskan. Seketika, lengannya terulur untuk mengusuk pucuk kepala Hyuji yang masih tertegun.


"Ini aku, bukan hantu! Mengapa kau melihatku seperti itu?! "


Nyaris pingsan ditempat, Hyuji mencoba membuka mulut untuk bertanya. "Ba-bagaimana kau bisa sampai disini? "


"Tentu saja menaiki mobilku! " menoleh dan menunjuk mobil nya yang berada diluar pagar rumah.


Ya tuhan, Hyuji ingin sekali memeluk presensi itu untuk menyalurkan rindunya yang meluap dari dalam kepala. Namun sebuah presepsi buruk tiba-tiba menyergah sel otak Hyuji.


"Apa kau ingin menendangku dari rumah ini? "


John terkekeh. "Hyu! Apa aku terlihat seperti itu?"


"Kau terlihat lebih menakutkan dari seorang depkolektor!"


John tertawa dengan lantang karena mendengar jawaban Hyuji.


"Hyu, aku hanya ingin melihat keadaanmu karena kau tidak membalas pesanku! "


"Jadi—boleh aku masuk!? Aku ini tamu loh? "


"Tidak ada ceritanya seseorang bertamu dijam malam seperti ini! "


"Oke, anggap aku depkolektor yang sedang menagih hutang karena kau lupa membayar hutang yang sudah lewat dari tanggal jatuh tempo! "


Hyuji berdecak kesal. Tidak mungkin dia mengusir John yang sudah jauh datang dari Seoul. Hyuji menepi, mempersilahkan John untuk masuk kedalam rumah yang juga masih menjadi hak milik bersama.


"Thank you! " bisik John saat berhasil melewati bilah pintu sambil mengerling.


Hyuji menutup dan mengunci pintu kembali, kemudian berjalan mendekat pada John yang sudah terlebih dahulu duduk diatas sofa diruang tengah. Perasaan kesal dan gugup sedang menguasai Hyuji.


"Kau tau ini tidak benar bukan? Kita akan berpisah, tapi kau datang berkunjung dimalam hari seperti ini? Bagaimana anggapan tetangga terhadapku nanti?! "


"Tentu saja mereka mengira kau memasukkan pria asing kerumah!"


"Kau tau itu, tapi kau masih melakukannya! Dasar brengs*k!"


"Aku melakukannya karena aku merindukan dirimu Hyu! Jika aku datang kesini di saat matahari masih berada diatas kepala, mama akan melihat aku pergi dan mencercaku dengan ribuan pertanyaan menyebalkan! Aku benci hal itu!"


"Sebaiknya kau kembali John! Aku tidak mau terjadi kesalah fahaman antara aku dan ibumu lagi!"


John menatapnya lurus, kemudian berdiri dan berjalan memangkas jarak antara mereka yang membuat debaran jantung Hyuji bagai gemuruh genderang perang.


Diraihnya tubuh kurus Hyuji kedalam pelukan hangat, dan memberikan beberapa kecupan lembut pada pucuk kepala Hyuji. Sedangkan Hyuji, hanya membiarkan kedua lengannya tergantung diudara dengan satu sisi wajah yang bersandar pada dada bidang John. Menghirup aroma yang menguar dari tubuh John, aroma yang masih sama, segar dan maskulin dalam satu waktu. Dada bidang itu juga masih sekokoh saat pertama Hyuji merasakannya.


"Tidak akan aku biarkan itu terjadi! Hyu, aku mohon hiduplah dengan baik setelah ini!"


"Hidupku baik-baik saja John! "


"Kau terlihat tidak baik-baik saja! "


Hyuji nampak diam tak menimpali pernyataan John. Lalu satu lengannya terulur ragu untuk menepuk punggung lebar John. Mencoba memberikan ketenangan, karena ia tau John sedang kacau hingga menemuinya tanpa berfikir panjang dimalam hari seperti ini.


"Aku baik-baik saja! Jangan khawatirkan aku! Sebaiknya kau memikirkan dirimu sendiri saja! Kau dulu pernah bilang, jika kau benci kembali kesana bukan? Cobalah menerima, dan jalani hidupmu dengan baik disana! "


Hyuji saat ini bisa merasakan jika John mempererat pelukan untuk dirinya, membuat bibir Hyuji nyaris memekik sebab seperti akan kehabisan nafas.


"Dan—jika ibumu menginginkan kau kembali pada, dia, lakukan saja! Karena itu adalah jalan terbaik untuk melupakan tentang apa yang pernah terjadi antara aku—" tiba-tiba saja nafas Hyuji tercekat, dia membohongi perasaannya sendiri yang juga tak ingin kehilangan sosok John. "—dan juga dirimu! "[]


••


••


Terima kasih sudah membaca another Winter. Semoga menghibur dan terhibur. Tinggalkan Like, komentar, dan juga Vote nya jika berkenan.


Salam Hati Warna Ungu,


💜💜💜


Vizca.