
Singkat kata, Hyuji hanya ingin hidup tenang tanpa beban apapun yang membuat hatinya merasa tidak tenang. Meskipun pada kenyataannya, dia harus melewati banyak sekali hal yang membuat dirinya hampir saja menyerah.
Langkah gontai, berbanding terbalik dengan yang diinginkan, kembali menuju rumah kecil dimana dirinya tinggal seorang diri. Senja masih menjadi penerang jalannya yang terasa seperti diberi beban puluhan ton. Berat dan menyakitkan.
Hyuji menarik pengait kunci pagar, kemudian berjalan menuju pintu rumah. Meraih kunci dari dalam tas yang masih bertengger nyaman dibahu, membuka pintu, dan menguncinya kembali.
Hal yang dilihat Hyuji pertama kali setelah masuki rumah adalah foto pernikahan dengan John yang beberapa hari lalu baru ia perbaiki, ia beri bingkai hasil buatan sendiri. Bibirnya bergetar hebat, hatinya berdenyut sakit. Tak bisa menahan sakit yang berhasil meluluh lantakkan setiap inci perasaan itu, Hyuji meremas pakaian tepat didada, tertunduk dan tergugu saat ucapan JiEun kembali terngiang.
Segera ia menghampiri bingkai itu, mengangkat sebatas mata dapat merangkum senyuman keduanya dengan jelas.
"Secepat itu kau mengambil keputusan John?!" rintihnya menahan perih dengan sebuah gumaman. "Bahkan disaat—" Hyuji tercekat, bahkan tersedak saliva yang tiba-tiba lolos melewati kerongkongan. Tubuh lemah yang turut bergetar saat dia kembali histeris dalam tangis, merosot kelantai tanpa melepas sedikitpun foto pernikahan mereka dulu. Memaku pandangan lekat, Lalu memeluk foto pernikahan itu, erat.
"Keterlaluan kamu John! Bagaimana aku harus menceritakan dirimu pada anak kita nanti?"
Hancur, perasaan Hyuji sudah tak berbentuk. Bahkan untuk sekedar membecipun, dia seolah sudah tak sanggup lagi.
Sedetik kemudian, Hyuji mengusap kasar airmatanya. Bangkit dan mencoba tersenyum. Ia teringat kembali bagaimana ucapan RyuJin kembali menjadi satu hal yang ia jadikan semangat untuk tetap bertahan.
Hidupmu harus tetap berjalan, kau juga akan menjadi seorang ibu, jadi pikirkan saja masa depan anakmu. Bukan yang lain! Bangkit dan berjuanglah demi dia, darah dagingmu! Besarkan dia dengan penuh kasih sayang agar dia menjadi anak yang berguna untukmu dimasa depan. Buktikan pada mereka semua yang membuangmu, bahwa kau juga bisa hidup bahagia! Karena kau adalah Song Hyuji!
Pintu terketuk, Hyuji menghentikan tangis. Mengesatnya dengan berantakan, merapikan diri. Kemudian berjalan masih dengan ujung hidung yang memerah untuk membuka pintu.
Bagai disiram air dimusim dingin. Tubuh Hyuji mendadak kaku dan beku, darah yang terasa dingin mengalir dan menjalar ke seluruh tubuh. Manik kuyu itu berubah sendu.
Tangannya bergerak hendak mendorong pintu agar kembali tertutup, namun dengan gesit presensi diluar sana menahan daun pintu dengan telapak kaki berbalut pantofel hitam mengkilat yang di kenakannya agar tak bisa mengatup.
"Aku mohon, ini akan menjadi pertemuan terakhir kita Hyu! Setelah ini aku tidak akan menganggumu lagi!"
Dorongan tangan Hyuji melemah, tidak memberontak pun membiarkan John tetap berada dihadapan kedua maniknya yang kembali berair. Hyuji perlahan menjauhi pintu, merasa bodoh karena tak sanggup menolak permohonan John.
"Untuk apa lagi? Katakan saja ditempatmu! Jangan melewati batas!"
John tertunduk menyesal dengan senyuman getir. "Maafkan aku sekali lagi Hyu! Aku tidak bisa memenuhi semua ucapan dan janjiku dulu padamu!"
Kepala Hyuji mengangguk samar. Hanya itu yang bisa ia lakukan kendati hati kecilnya menolak dengan tegas. Tersenyum tak kalah getir, Hyuji kembali mengangkat pandangan, merangkum fitur John untuk ia sambangi melalui manik buram dipenuhi nebula.
"Tidak apa-apa, kita tidak ada hubungan apapun sekarang! Kau bebas melakukan semua yang kau mau!"
John menarik telapak kaki yang ia gunakan untuk mengganjal daun pintu, menghela nafas menyesal karena Hyuji mendengar berita pertunangan itu bukan dari dirinya, melainkan JiEun.
"Kau mendengarnya dari JiEun noona, bukan?" tanya John sayu. "...dan kau memang berhak benci kepadaku setelah semua yang sudah kau lewati Hyu! Sekali lagi maafkan aku..."
John terperangah, kedua manik rusanya terangkat cepat demi memperhatikan sosok Hyuji. Bibir wanita yang ia sayangi itu terlihat bergetar diantara remang pencahayaan rumah.
Tidak,
Ini tidak boleh terjadi!
Dia tidak boleh menangis!
Tiba-tiba saja angin berhembus cukup keras dan kencang, mengacaukan surai John yang sedang terkunci dalam gejolak rasa sesal dan takut. Hyuji dapat melihat bagaimana manik rusa yang biasanya berbinar itu berubah meredup.
Tak kalah menyedihkan, sosok Hyuji terlihat sangat hancur di penglihatan John. Dia merasa sudah mengambil keputusan salah dan juga bodoh, melepas dan membuat Hyuji menjadi berantakan seperti saat ini membuat hati dan perasaan John seolah di sapu beliung yang berhasil menghancurkan dirinya juga.
"Aku... " tutur John perlahan sambil membawa langkahnya mundur satu persatu demi menjauh dari Hyuji. "—aku yang akan pergi! Kau tetaplah disini sampai kapanpun!" Jemarinya mengepal, menahan kuat lengan yang hendak terulur untuk sekedar ingin menyentuh presensi Hyuji dihadapannya.
"Bagus! Seharusnya kau melakukan itu sejak awal! Bukan malah memberiku harapan bodoh yang akan membuat diriku semakin terpuruk dalam kehancuran!" sarkas Hyuji dengan liquid bening yang menetes semakin deras pada ujung dan pangkal matanya.
Hati John berdenyut sakit, bagian rasa cintanya seolah jatuh begitu saja saat mendengar apa yang baru saja didengar dari bibir Hyuji. Telapak itu mengepal semakin kuat, hingga membuat buku jarinya terlihat memutih.
"Kau boleh membenciku! Tapi jangan pernah lupakan satu janji yang pernah aku katakan padamu! Di musim dingin, saat semuanya sudah terselesaikan—" John menjeda sejenak, kemudian melanjutkan. "...aku akan menemukanmu kembali! Menjadikanmu berada disisiku sekali lagi!"
Hyuji terbelalak, angin malam kembali berhembus, cukup dingin kali ini. Ia pastikan semua itu tidak akan terjadi. Namun kalimat selanjutnya yang diucapkan John sebelum benar-benar pergi, membuat Hyuji lemah. Tak mampu menopang beban tubuh dan penderitaan batinnya.
"...Sebagai istriku—lagi!". []
•
•
Notes:
Maaf, Update another Winter akan sedikit terlambat karena Vi's melakukan revisi pada beberapa bab yang sudah publish. Sebab, saat Vi's baca kembali ada beberapa penggunaan kata yang klise dan membuat tidak nyaman. Setelah selesai, Vi's usahakan akan rajin Update seperti biasanya.
Terima kasih untuk yang masih Setia membaca another Winter sampai sejauh ini. Semoga kalian selalu diberikan kesehatan dan kelancaran dalam hal apapun.
Sama Hati Warna Ungu,
💜💜💜
Vizca.