
Playlist Song▶Song from a secret garden by Secret Garden.
Happy Reading...
—
Hening,
Suasana berubah mencekam dalam diam. Kedua tatapan itu berpendar tajam, penuh tanya, dan juga tersirat rasa iba yang membaur menjadi satu. Membuat hati Hyuji teriris. Hyuji tak pernah ingin membuat kedua orang tuanya terlihat terpukul seperti saat ini.
Hyuji mengesat airmatanya kasar, kemudian berusaha tegar dengan menahan mati-matian agar airmata itu tidak kembali lolos.
"Apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat kalian memilih untuk berpisah?" tanya sang ibu dengan lembut. Tak ingin mengintimidasi putrinya yang sudah menjalani kehidupan sulit seorang diri.
Bibir Hyuji bergetar, dia menahan tangis kuat-kuat. "Ada—satu hal yang tidak bisa saya ceritakan kepada kalian, ibu, ayah!" suara Hyuji turut bergetar, membuat kedua orang tuanya sadar jika Hyuji sedang tidak baik-baik saja.
"Katakan saja kepada kami," sahut sang ayah tak kalah lembut. "Kau bahkan sedang mengandung anak kalian, mengapa memutuskan untuk berpisah?"
"Saya tidak memberitau John tentang kehamilan ini ayah! Dia tidak tau jika Hyu hamil!"
Terkejut? Tentu saja, pak Song bahkan tak menyangka putrinya memikul beban seberat itu.
"Kenapa?"
Inilah yang ditakutkan Hyuji. Apakah dia harus mengatakan jika kedua orang tua John tak mengharapkan dirinya, atau bagaimana?
"Saya—saya... "
"Katakan saja nak! Kami tidak akan memukul atau memarahimu!"
Mendengar itu dari sang ibu, membuat Hyuji mengangkat wajah guna melihat presensi sang ibu. Benar-benar sesak. Hyuji tak sanggup lagi menahan tangis yang sedari tadi ia bungkam sekuat tenaga dikerongkongan. Nyeri, bahkan sakit sekali.
Perlahan, Hyuji meletakkan kepalanya diatas pangkuan sang ibu. Meluapkan semua sakit dan perasaan yang masih tersisa untuk John yang bahkan semakin hari semakin menyiksa. Tergugu tanpa suara disana, apalagi saat sang ibu mengusap surainya dengan penuh kasih dan lembut. Hyuji semakin terisak.
"Kami tidak bisa berbuat apapun karena memang ayah dan ibu sudah tidak mampu lagi melakukan apa yang seharusnya kami lakukan untuk Putri kami ini... " tutur sang ibu pilu, bahkan turut meneteskan air mata saat melihat Hyuji menangis. "Maafkan kami berdua nak... "
Hyuji menggeleng, menggigit keras bibir bawahnya hingga terasa ngilu. "Tidak! Ini keputusan Hyuji sendiri ibu, tolong jangan menyalahkan diri kalian atas kegagalan Hyuji!"
Pak Song hanya tertunduk, tak mampu lagi mengatakan apapun. Hatinya turut hancur bersama suara tangis Hyuji. Sebab selama ini ia kira Hyuji dan John baik-baik saja. Dia sudah mempercayakan putri satu-satunya dari keluarga mereka pada John. Pak Song ingat saat John mengangguk menyanggupi semua pesan yang ia sampaikan saat setelah pengucapan janji suci kala itu, meskipun pada akhirnya terjadi hal yang tidak ia duga. Sebuah perpisahan.
"Jadi katakan saja apa yang membuat kalian harus menempuh jalan perpisahan seperti ini... " lanjut sang ibu, masih berharap sebuah penjelasan dari putrinya.
Sisa isakan Hyuji masih membuat nafasnya tersengal. "Sejak awal, kami memang tidak mendapat persetujuan dari kedua orang tua John bu! Kami—" Hyuji kembali tergugu dipangkuan sang ibu. "...ibu John selalu memintaku untuk meninggalkan John, apapun caranya!"
"Itu salah Hyuji bu... " sahut Hyuji cepat. "Jika saja Hyuji menolak ajakan John menikah saat itu, ibu dan ayah pasti tidak akan terpukul dan kecewa seperti ini! Maafkan Hyu... " tangisnya kembali pecah. Diraih dan dipeluknya erat pangkuan sang ibu. "Maafkan putrimu ibu, ayah..."
Suasana menjadi sendu, tangisan kedua wanita yang ia sayangi begitu menyayat hati pak Song. Namun ia berusaha tetap tegar sebagai seorang ayah.
"Kemarilah nak!" pinta pak Song untuk Hyuji. Sontak Hyuji membangunkan tubuh lemah dalam gugu tangis, menghadap sang ayah tanpa berani menatap kedua manik berkerutnya.
Pak Song meraih kedua pipi putrinya dengan telapak tangan, memaksa Hyuji agar melihat padanya. "Dengarkan ayah! Kau adalah Putri kami yang kuat, jadi jangan pernah menyerah pada hidup dan keadaan begitu saja!"
Hyuji memejam, mengatup erat bilah bibirnya.
"Hidup terus berjalan, meskipun menyakitkan! Lihatlah kedepan, lihatlah anakmu kelak! Besarkan dia dengan baik, meskipun kami belum tentu bisa membantumu sampai akhir nanti!"
Hyuji kembali tergugu dalam tangisnya yang semakin keras. "Dengarkan ayah nak!" titah sang ayah sekali lagi sembari mengangkat wajah Hyuji yang semakin terbenam dalam tangis sesal. "Tetaplah berjalan kedepan tanpa menoleh kebelakang! Masa depan anakmu lebih berharga dari pada sebuah masa lalu! Ingat kata-kata ayah ini baik-baik nak!"
Hyuji memeluk sang ayah erat. Merasakan tubuh renta dan kurus dalam pelukannya, membuat hatinya semakin nyeri bukan main. Sang ayah turut menangis dalam peukan putrinya. "Berjanjilah pada ayah untuk selalu kuat! Meskipun beban yang kau lalui sangat berat dan menyakitkan!"
Hyuji mengangguk penuh percaya diri setelah mendengar motivasi dari sang ayah. Dia harus bangkit demi anaknya kelak.
"Hyuji janji akan hidup seperti yang ayah inginkan! Hidup dengan baik demi anak Hyu kelak!"
Sang ayah mengangguk, menepuk pelan punggung putrinya itu sebagai bentuk kasih sayang dan menyalurkan ketenangan.
"Hyuji janji... "[]
•
•
Vi's Here...
Kasih sayang orang tua memang tidak ada batasnya ya... Semoga kita semua diberi kesempatan untuk membalas semua kebaikan orang tua kita masing-masing. Amiin...
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tetap mengapresiasi karya Vi's dengan meninggalkan jejak.
Salam Hati Warna Ungu,
💜💜💜
Vizca.