Another Winter

Another Winter
another Winter 10



Suara derit pintu kamar mandi terbuka, menampakkan sosok Hyuji dengan wajah pucat dan wajah sembab. John berusaha meraih pundak wanita yang dicintainya itu meski selalu ditolak.


"Kau sakit Hyu? "


John menatap sulit, harus bagaimana lagi dia meyakinkan Hyuji agar percaya bahwa foto tersebut hanya membuat mereka salah faham. Hyuji melewati John yang menatap khawatir begitu saja, menuju kamar mereka.


"Aku akan mandi dulu, setelah itu aku akan membuka kedai! "


"Tidak perlu! "


"Kau bisa merugi jika mereka dibiarkan begitu saja Hyu! Kau juga sudah bekerja keras membuat mereka!" ujar John sambil menunjuk-nunjuk makanan yang sudah dibuat Hyuji susah payah.


Kali ini Hyuji terdiam, memikirkan ucapan John yang ada benarnya. Hyuji berjalan kembali mendekati tas besar berisi odeng, tteokbokki dan juga sundae buatannya. Melirik sekilas jam yang tergantung di dinding, pukul enam tepat. Sudah sangat terlambat untuk membuka kedai, tapi seperti yang dikatakan John tadi, dia akan merugi.


"Ah, kau berubah pikiran? Tunggu aku lima menit! Aku akan membantumu membawanya kesana! " tutur John sembari berlari menuju kamar mandi dengan wajah antusias.


Seperti yang dititahkan John, Hyuji menunggu. Sudah hampir sepuluh menit pria itu masuk kedalam bilik itu dan belum juga menampakkan Batang hidungnya. Hyuji meraih pegangan tas besar itu dan menjinjing sambil berjalan hampir mendekati pintu. Hingga suara madu yang sangat ia sukai itu terdengar menyapa pada Indra perungu.


"Hyu, biarkan aku membawanya! Aku sudah bilang tunggu aku! " meraih gagang tas dari telapak Hyuji dan membawanya sambil menunggu Hyuji membuka pintu.


Dipenghujung senja, mereka berjalan berdua melewati gang kompleks untuk menuju ke kedai.


Entah mengapa, Hyuji justru kurang nyaman karena sepanjang jalan John terus memandangi dirinya dan sesekali tersipu dalam tawanya seorang diri.


"Hyu... "


Tak ada tanggapan, Hyuji terus melangkahkan kaki lebih unggul dari John.


"Apa kau tidak merasakan ada yang aneh dalam dirimu? "


Apa maksudnya? Hyuji memang merasa aneh sejak melihat foto itu. Akan tetapi Hyuji lebih memilih diam dari pada menanggapi celoteh tidak berguna yang diucapkan John.


"Apa kau—"


"Berhenti bicara John! Aku muak mendengar suaramu! "


Seketika John terdiam. Dia tak pernah mendapati Hyuji semarah itu.


Hingga tanpa terasa langkah kaki sudah membawa keduanya sampai dikedai mereka, bahkan beberapa pelanggan sudah menunggu disana. Hyuji bergegas menata makanan yang sudah dinantikan para pelanggan, dan berkat bantuan John semua proses penataan berjalan lebih cepat dari biasanya.


"Terima kasih... " ucap John pada pelanggan cantik yang baru pertama ini dilihat Hyuji.


"Nee??! " jawab John spontan dengan mata rusanya yang bulat dan menggemaskan.


"Aku akan datang lagi besok! "


Menatap takut pada Hyuji yang sibuk menambah persediaan odeng, John tertawa kaku. "Ahahah.. tentu saja! Silahkan menjadi pelanggan tetap kami... "


Gadis itu tersipu dan pergi setelahnya. John salah tingkah, dia berjalan keluar kedai dan menatap langit sembari menikmati minuman berkarbonasi yang ia ambil beberapa detik yang lalu.


Mendadak ponsel John meraung, terkejut dan buru-buru meraihnya dari dalam saku. Namun semua hasrat itu sirna kala mendapati satu nama pada display persegi pintarnya. Mama. John kembali memasukkan kedalam saku celana longgar yang ia kenakan dan menyesap kembali minuman berkarbonasi yang ia genggam.


"Haaah... " kesahnya.


Hingga sebuah getaran ponsel kembali mengejutkan. John berdecak kesal, namun tetap merogoh ponsel tersebut, sekali lagi.


Dari dalam kedai, Hyuji dapat melihat emosi yang terpancar dari raut wajah suaminya saat menatap pendar persegi pintar yang ada di telapak tangannya.


"Siapa yang mengirimi pesan sampai mukanya terlihat menakutkan seperti itu?" gumam Hyuji.


John berdecak kesal, memijat pelipisnya yang terasa berat dan membuatnya merasa pusing saat mendapati pesan dari sang ibu.


Mama ingin bertemu! Temui mama besok di restoran YH jam lima sore. Ada yang ingin mama bicarakan denganmu!


John menghela nafas frustasi, belum selesai masalahnya dengan Hyuji, kini sang ibu meminta untuk kembali datang ke Seoul. Tidak ada cara lain selain membicarakan itu dengan Hyuji.


John melangkah masuk kedalam kedai, aroma sedap itu kembali tercium oleh Indra penghirupnya. Menggaruk pelipis yang tidak gatal saat berdiri didepan Hyuji, John membuka pembicaraan.


"Hyu, mama memintaku datang ke Seoul besok! Apa kau mau ikut?"


Hyuji diam tak menanggapi, dia masih meneguhkan keras kepalanya dan belum berminat untuk berbicara dengan John saat ini.


"Kalau kau tidak mau ikut—" menatap seraut wajah cantik istrinya yang masih terlihat sedikit sembab, John melanjutkan. "aku akan pergi kesana sendiri!"


Mendengus kesal, Hyuji hampir saja mengumpat karena mendapati wajah John yang terlihat lesu dan putus asa. Dia jadi teringat kenangan buruk akan Reyna yang ia tinggalkan saat memasang raut wajah seperti itu.


"Baiklah! Aku akan ikut! Tapi catat baik-baik! Bukan berarti aku memaafkan dirimu atau membiarkan masalah kita selesai begitu saja!"


John mengangguk setuju, menyematkan sebuah bunny smile yang membuat kerutan di hidung dan sudut matanya tercetak jelas.


"Aku tau! Terima kasih! "[]