A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 9 : Party



Membasuh wajahnya di sebuah aliran sungai di tengah hutan, Winter yang tampak linglung berusaha untuk mengingat kembali bagaimana bisa dia bisa berada di tempat ini.


Ingatan terakhirnya terhenti ketika dirinya dan Chic sedang minum bersama di sebuah kedai.


Winter masih bisa mengingat jelas percakapan terakhir mereka yang membahas tentang bagaimana caranya agar mereka bisa bermain bersama. Tapi setelah itu ingatannya menjadi kabur hingga tanpa sadar dirinya sudah berada di pinggir sungai.


Menengok ke tepian sungai, terdapat sosok Chic yang kini terlihat jauh berbeda dari yang sebelumnya.


Saat pertama kali bertemu, Chic hanya mengenakan daster polos khas gadis desa biasa. Sekarang, dia mengenakan pakaian terbuka yang modelnya sama seperti pakaian yang biasa dikenakan oleh Thief atau Scout di kebanyakan media.


Menyadari kalau Winter sedang memandang ke arahnya, Chic pun segera berjalan mendekatinya.


“Apakah kau sudah segar?”


Karena kepalanya masih pening, butuh waktu bagi Winter untuk akhirnya paham maksud pertanyaan dari Chic yang akhirnya dia jawab juga.


“...Kalau boleh tahu, apa yang kita lakukan di sini?”


Sontak Chic menunjukkan wajah terkejut bercampur pasrah “Jadi kau itu tipe orang yang hilang ingatan setelah mabuk yah” setelah itu Chic pun menunjukkan layar Menunya kepada Winter yang berisi...



Difficulty : -


Client : The Man From the Back Alley


Terdapat seorang pria yang hidup sendiri di hutan Utara bernama Bahar.


Dia tidak pernah menginjakkan kakinya ke dalam kota tapi tetap saja mampu mengganggu bisnis kami. Tolong singkirkan dia bagaimanapun caranya.


Prize : 50.000 G


Time Limit : 7 hari.


“Oh, Quest ini kan...”


Melihat nama kliennya, hanya ada satu orang yang terlintas di ingatan Winter. Penjelasan dari Chic pun membenarkan dugaannya.


“Saat kau mabuk dan bertingkah liar, kau berusaha untuk mengajakku ke Guild Petualang hanya untuk singgah ke dalam gang sempit. Di sana kau berbicara dengan si pria bertudung sebelum akhirnya menerima Quest ini dan segera membawaku bersamamu”


Ternyata memang benar itu adalah orang yang sama yang meminta Winter untuk membunuh si pedagang Robert.


Saat Winter mengira dia tidak akan melihat pria itu lagi, tidak di sangka mereka malah ketemu ketika dirinya sedang dalam keadaan mabuk dan bertingkah liar.


“Tunggu, apa maksudmu dengan aku yang bertingkah liar?”


Chic lalu menjelaskan segala hal yang terjadi dari awal Winter mabuk hingga ketika dirinya menarik-narik Chic kesana-kemari dengan penuh semangat meski mereka sedang berada di dalam hutan yang dipenuhi oleh binatang buas.


Bahkan berkat tingkahnya itu, mereka berdua sempat disergap oleh sekumpulan Goblin yang langsung saja di basmi oleh Winter dengan hanya menerima sedikit bantuan dari Chic.


“Sungguh, Hantu yang kau panggil itu cukup mengerikan. Bahkan serangan fisik seolah tidak ada artinya baginya”


“Hantu?”


Winter tidak pernah merasa kalau dirinya telah atau bahkan mampu memanggil sesosok hantu dan membuatnya untuk bertarung bersamanya.


Saat itulah Winter dengan segera membuka layar statusnya.


Name : Winter


Gender/Age : Female/20


Job :


1.       Necromancer (Lv. 3)


2.       Appraiser (Lv. 3)


3.       Scout (Lv. 2)


4.       Summoner (Lv. 2)


Stats :


(HP : 150) (MP : 230) (STR : 20) (VIT : 10) (AGI : 30) (DEX : 45) (INT : 75) (MND : 60)


Entah sejak kapan tapi dirinya sudah naik level dan bertambah kuat. Tidak hanya itu, Winter bahkan mendapatkan Skill baru yang tidak bisa di remehkan.


Salah satunya adalah sebuah Skill yang memungkinkannya untuk memanggil makhluk panggilan dari ras Ghost.


Tidak punya waktu untuk melihat semua Skill barunya secara mendetail, Winter hanya berusaha untuk mengingat nama serta efeknya saja sebelum akhirnya menutup kembali layar Menunya.


“Jadi, dimana tepatnya si Bahar ini tinggal?”


“Di sini hanya disebutkan kalau rumahnya ada di hutan Utara. Tidak ada informasi lainnya”


“Dan di mana kita sekarang?”


“Hutan Utara”


Jika saja Winter tidak sedang berada dalam keadaan mabuk, dia pasti akan menanyakan segala informasi yang mungkin dibutuhkan untuk Quest ini termasuk di mana tepatnya Bahar tinggal dan Job apa yang dia miliki.


Winter masih tidak bisa melupakan anak panah Robert yang menancap di pundaknya. Dirinya sudah berjanji untuk tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.


...


Menyusuri hutan yang lebat, dengan teliti Winter mengikuti jejak yang tertinggal di atas tanah.


Berkat Job Scout miliknya yang sudah naik level, Winter mendapatkan sebuah Skill yang bernama “Tracking”. Seperti namanya, Skill ini berfungsi untuk membantunya menemukan jejak yang akan menuntunnya kepada targetnya.


Karena ini adalah Quest pertamanya yang mengharuskannya untuk menghadapi bahaya, dengan takut Chic mengikuti Winter dari belakang. Tangannya sedari tadi memegang belati baru yang Winter belikan.


Setelah mengikuti jejak yang mulai terlihat samar, mereka berdua akhirnya sampai di tujuan mereka.


Sebuah gubuk kayu terlihat berdiri di bawah payung pepohonan.


Berbeda dari gubuk kumuh tempat Winter bertemu dengan nenek-nenek misterius yang memiliki kesan gubuk terbengkalai, gubuk yang ada di hadapannya sekarang terlihat penuh akan bekas sayatan di dindingnya dengan beberapa sisinya bahkan memiliki bagian yang berlubang.


Melihat ke halaman rumah, rumput dan tanahnya tampak tidak rata tanda sebuah pertarungan dahsyat telah terjadi di sini.


Tidak terlihat adanya asap yang mengepul dari cerobong asap. Tidak terlihat juga adanya pergerakan dari dalam gubuk tersebut.


“Apakah dia sedang keluar?”


Tanya Chic sembari dirinya bersembunyi dari balik batang pohon. Winter yang sedang bersembunyi di balik lebatnya semak-semak hanya bisa menjawab “Lebih kita mengamati saja, jika target kita sampai membuat satu kartel kesusahan maka dia pasti sangatlah kuat”.


Sejak kejadian dengan Robert, Winter sudah tidak ingin lagi bertindak secara gegabah. Menyerang secara langsung tanpa strategi sudah bukan menjadi pilihan baginya.


Terlebih setelah melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Menyerang secara frontal sudah di buang jauh-jauh dari kepalanya.


“Kartel?”


Chic yang baru sadar kalau dia baru saja terlibat dalam permasalahan yang besar hanya bisa pasrah karena dirinya sudah sejauh ini sehingga tidak lagi mungkin untuk kembali.


“Haruskah aku mengeceknya? Aku punya Job Thief kau ingat”


Pada level pertama, Job Thief memberikan dua buah Skill.


Yang pertama adalah [Cat Step] yang adalah Skill passive yang memiliki efek untuk meredam suara langkah Chic. Sedangkan Skill kedua adalah [Lockpicking] yang juga adalah Skill passive yang membantu Chic untuk membuka kunci asalkan dia memiliki peralatan yang tepat.


Dengan kedua Skill tersebut Chic dapat dengan mudah menyusup ke dalam kediaman orang lain.


Mendengar saran dari Chic, Winter pun langsung mengiyakan “Baik, berhati-hatilah”. Mendapatkan lampu hijau, Chic pun segera beraksi.


Melihat sosok Chic yang dengan perlahan mendekati gubuk itu dari arah sisi belakang, terlintas sebuah pertanyaan di benak Winter.


“Sudah berapa banyak rumah yang pernah dia sambangi?”


...


Sampai di belakang gubuk, Chic merasa lega karena gubuk ini memiliki sebuah pintu belakang.


Menempelkan telinganya di dinding, tidak terdengar suara apa-apa tanda kalau besar kemungkinan kalau penghubi gubuk ini memang sedang tidak berada di rumah.


Berdiri tepat di pintu belakang, baru diketahui kalau ternyata pintu belakang sebenarnya tidak sedang terkunci.


Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian Chic pun membuka pintu tersebut.


Masuk ke dalam, terlihat sebuah dapur sederhana yang menggunakan tungku dari tanah liat yang berbahan bakar kayu sebagai sarana memasaknya.


Menuju ruangan lainya, Chic tiba di sebuah ruang tamu kecil dengan sebuah meja kayu serta empat buah bangku dari batang pohon yang telah di potong berada di tengah-tengah ruangan.


Terkecuali sebuah kepala beruang di atas perapian ruangan ini tidak lagi memiliki dekorasi lainnya.


Terlihat terdapat dua buah pintu. Satu mengarah ke luar, satu lagi mengarah ke ruangan lainnya. Chic pun menuju pintu kedua.


“Di kunci?”


Mendapati kalau pintu itu di kunci, Chic pun mengeluarkan sebuah jepit rambut dari penyimpanannya. Dengan jepit rambut tersebut, Chic pun mulai mengutak-atik kunci pintu itu.


Setelah lima menit, pintu itu akhirnya terbuka.


Karena membutuhkan waktu yang lama, membuat jantung Chic sedari tadi berdetak kencang takut kalau pemilik rumah bisa pulang kapan saja dan memergokinya.


Untungnya rasa takutnya itu tidaklah beralasan.


Itu karena sang pemilik rumah sedang tidur tepat di hadapannya.


Terdiam, Chic berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuat suara sama sekali. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Jantungnya kembali berdetak dengan sangat kencang hingga Chic bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri.


Sembari berusaha untuk tetap tenang, Chic membawa pandangannya untuk melihat keadaan sekitar.


Pemilik gubuk ini, Bahar.


Dia dalah seorang pria kekar dengan rambut dan jenggot putih beruban yang dibiarkan tumbuh begitu saja hingga membuat wajahnya terkesan liar.


Berbaring di atas ranjang jerami, dia hanya mengenakan celana panjang yang sudah robek di sana-sini. Terlihat juga tubuh bagian atasnya sudah di balut oleh perban yang masih segar dan berdarah.


Di tangan kanannya yang terjuntai keluar ranjang terdapat sebotol minuman keras yang sudah setengah kosong. Botol tersebut dia pegang dengan erat seolah tidak mau melepaskannya.


Melihat di sekitar ranjang, terdapat lebih banyak botol kosong lainnya yang berserakkan begitu saja di lantai bersama dengan perban berkas serta peralatan medis yang sudah terpakai.


Ini adalah kedua kalinya pada hari ini Chic melihat dampak buruk alkohol pada seseorang. Dengan ini dia bersumpah untuk tidak terhanyut dalam alkohol sebagaimana Winter dan orang yang bernama Bahar ini.


Pandangan Chic lalu tertuju pada sebuah benda yang berada di tengah-tengah botol kosong.


Itu adalah sebuah Battle Axe yang pada permukaannya terukir sebuah ukiran yang rumit nan cantik. Kapak itu sangatlah menonjol hingga Chic dapat dengan mudah menduga kalau kapak itu adalah sebuah senjata yang sangat berbahaya.


Melihat Bahar yang masih tertidur lelap, terlintas dalam pikiran Chic untuk langsung membunuhnya saja. Tapi, secara bersamaan dia juga ragu karena ini adalah kali pertamanya dia bertarung di game ini. Sangatlah ingin dirinya untuk keluar saja dan membiarkan Winter untuk mengurus semuanya.


Setelah mengalami pergolakan batin, pada akhirnya Chic memilih untuk maju dengan perlahan sembari memegang erat belati barunya.


Berhati-hati agar tidak menyenggol botol yang berserakan, Chic akhirnya naik ke atas ranjang dan berhasil berada di atas Bahar tanpa ketahuan.


Mengangkat belatinya tinggi ke udara, tangannya menolak untuk turun walau dalam hati dirinya tahu kalau ini adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan Quest mereka.


Di saat Chic masih ragu, tiba-tiba saja tubuh Gahar bergerak yang sontak membuat Chic yang berada di atasnya secara refleks menusukkan belatinya tepat ke dada Bahar.


“Ghak!”


Angka merah melayang di atas tubuh Bahar seraya belati Chic membenamkan dirinya di dalam daging Bahar.


Tidak hanya sekali, tapi Chic menghujamkan belatinya berkali-kali tanpa melihat berapa banyak kerusakan yang telah dia hasilkan dan bahkan dia tidak melihat apa-apa karena dia telah menutup matanya karena tidak tega untuk melihat apa yang sedang dia perbuat.


Itu adalah sebuah keputusan yang buruk.


“Pelacur!”


Bahar yang telah terbangun dengan amarahnya menghantamkan botol alkohol di tangan kanannya tepat mengenai kepala Chic.


Total 38 kerusakan tercipta yang sekaligus membuat Chic terlempar dari atas ranjang dan terjatuh di atas botol-botol kosong.


“AAAaaa...!!!” Chic berteriak keras ketika botol-botol kaca itu pecah dan menusuk tubuhnya. Walau HP yang berkurang terhitung kecil, tapi rasa sakitnya adalah nyata.


Sisa alkohol yang masih berada di dalam botol sontak membasahi seluruh tubuh Chic setelah pecah karena menghantamnya.


Terdengar suara derit kayu yang kuat ketika Bahar mulai bangkit dari ranjangnya.


Dilanda kesakitan dan ketakutan yang teramat sangat, tidak ada hal lain selain kabur yang sekarang ada di pikiran Chic.


Di saat dia hendak mengambil langkah kabur, tangannya secara tidak sengaja menyentuh Battle Axe mewah yang sedari tadi tergeletak begitu saja di atas lantai.


Secara refleks Chic berusaha untuk mengambilnya namun gagal dan malah membuatnya terjungkal dengan keras.


“Pelacur lemah sepertimu tidak akan mungkin mampu mengangkat harta Kerajaan!”


Bahar yang telah bangkit lalu mengambil kapak tersebut. Battle Axe yang tidak sanggup di angkat oleh Chic dengan mudahnya di angkat olehnya hanya dengan sebelah tangan.


Dengan kapak di tangan, sosok Bahar seketika tampak seperti orang yang berbeda.


Bahar tampak seperti orang prajurit veteran yang telah melewati seratus medan pertempuran. Wajahnya yang liar dan sangar serta tubuhnya yang berbalut perban yang merah oleh darah menambah rasa intimidasi yang Chic rasakan.


Melupakan segalanya Chic yang panik dengan sekuat tenaga berbalik dan kabur menuju dapur.


“Jangan harap kau bisa lari!”


Dengan murka terpampang jelas di wajahnya, Bahar berusaha mengejar Chic yang sudah masuk ke dalam dapur. Karena di dapur terdapat pintu belakang yang menuju langsung ke luar, tidak akan butuh banyak usaha bagi Chic untuk keluar rumah sebelum akhirnya menghilang kedalam hutan.


Oleh karena itu, dia harus dihentikan sebelum bisa masuk ke dalam hutan.


Namun....


Duuuaaar...!!!


Baru saja Bahar tiba di depan pintu dapur, pintu depan sekaligus dinding-dindingnya tiba-tiba saja hancur berantakan. Serpihan kayu bertebaran ke mana-mana yang sebagian dari mereka melayang mengenai Bahar.


Apa yang menghancurkan sebagian gubuk Bahar adalah seekor War Ogre setinggi 3 Meter dengan kulit merah pucat yang berhiaskan luka-luka yang telah membusuk.


Matanya tampak kosong dengan mulut besar yang selalu terbuka dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap.


Setelah menghancurkan dinding gubuk, tanpa jeda sedikitpun War Ogre tersebut mengayunkan Battle Axe besar berkarat miliknya tepat ke arah Bahar yang karena demi melindungi matanya dari serpihan kayu, mengharuskannya untuk melindungi kepala dengan lengannya yang membuatnya tidak menyadari kalau sebuah serangan berbahaya telah dilayangkan kepadanya.


Hanya dengan satu ayunan horizontal sederhana, tubuh kekar Bahar seketika terbelah menjadi dua.


Masih belum menyadari kalau tubuh bagian atasnya telah berpisah dengan tubuh bagian bawahnya, Bahar hanya bisa menatap kosong ke arah langit-langit rumahnya sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.


...


Winter yang sudah keluar dari persembunyiannya kini memasuki gubuk yang sudah setengah hancur.


Setelah menarik kembali Zombie War Ogre yang dia panggil, Winter memeriksa kondisi tubuh Bahar yang kini sudah tergeletak tidak bernyawa di atas lantai yang kini basah oleh darahnya sendiri.


“Ahh... Kalau begini sih dibangkitkan pun percuma”


Awalnya Winter berencana untuk membuat Bahar menjadi Zombie sebelum mengangkatnya sebagai makhluk panggilannya. Tapi setelah melihat kondisi tubuh Bahar yang telah terbelah dua, Winter mengurungkan niatnya karena walau dibangkitkan sekalipun, Bahar hanya akan menjadi Zombie yang hanya memiliki tubuh bagian


atasnya saja yang mana itu sama saja dengan tidak berguna karena tidak bisa bergerak dengan benar.


Winter yang awalnya merasa kecewa seketika memiliki mata yang berbinar setelah melihat Battle Axe yang masih dipegang erat oleh Bahar.


Yang  dimaksud dengan mata berbinar di sini bukanlah sekedar kiasan semata melainkan mata Winter benar-benar berbinar karena Skill “Keen Eyes” nya yang selalu aktif membuatnya menyadari kalau kapak tersebut bukanlah kapak sembarangan.


Sayang, ketika Winter menggunakan “Appraisal” demi bisa mengetahui nilai sebenarnya dari kapak itu, dia gagal karena level Skillnya yang terlalu rendah sehingga Winter bahkan tidak mampu untuk mengetahui nama dari Battle Axe tersebut.


Meski begitu, itu tidak mengurungkan niatnya untuk mengambil Battle Axe tersebut... “Berat!” tidak mampu untuk mengangkatnya, Winter bersyukur karena dirinya masih mampu memasukkannya ke dalam penyimpanan hanya dengan menyentuh sebuah item.


Setelah selesai menyimpan kapak itu, Winter pun berjalan melangkahi tubuh Bahar menuju dapur sebelum akhirnya sampai ke halaman belakang.


Di sana dia menemukan sosok Chic yang masih tersungkur di atas tanah dengan ekspresi yang seolah masih tidak percaya.


“Chic, Quest sudah selesai. Gunakan kemampuan Thiefmu untuk mencari item berharga sebelum akhirnya kita bisa pulang ke kota”