A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 41 : Live Stream



Lonceng telah berbunyi menandakan waktu sekolah telah berakhir.


Mengemas tas mereka dengan tergesa-gesa, setiap murid yang ada sudah tidak sabar lagi untuk pulang ke rumah


atau nongkrong bersama kawan di tempat tongkrongan mereka masing-masing. Sebegitu semangatnya mereka bahkan perkataan sang Guru yang memperingatkan untuk tidak lupa mengerjakan PR seolah tidak lagi terdengar di telinga mereka.


Waktu sekolah sudah berakhir dan sekarang adalah waktunya untuk bersenang-senang.


“Akmal! Ayo pergi ke Mall!!!” teriak Ruby alias Ruru yang sedang membawa tas kosong karena semua bukunya dia


letakkan di laci meja.


Akmal alias Fantasia yang sedang memasukkan bukunya ke dalam tas hanya bisa tersenyum canggung karena Ruby yang menempel pada pergelangan tangannya membuatnya kesusahan untuk beraktifitas.


“Bisakah kau sabar sedikit?” dengan muka kesal Lilian alias Angel dengan paksa memisahkan Ruby dari Akmal dan segera membawanya menjauh.


Tentu saja Ruby yang tidak sudi segera memberontak “Kau itu kenapa sih? Sudah dua minggu loh rencana kita di


tunda!”.


“Aku tahu itu, hanya saja bisakah kau tidak bersikap sok manja seperti itu? Tingkah mu itu lebay kau tahu? Lagipula, kalau kau terus mengganggu Akmal, kapan dia bisa selesai membereskan tasnya???”


“Lebay! Hah, lupakan. Sebagai gantinya aku meminta dibelikan barang paling mahal darinya!”


“Seenaknya saja! Jika kau ingin membeli barang maka itu WAJIB di bawah barang yang aku beli! Apakah kau tahu


kalau ada tas keluaran terbatas yang baru saja mereka jajakan? Kalau aku melewatkannya maka mustahil aku bisa mendapatkan tas itu!”


“Tas?! Memangnya sudah berapa banyak yang menumpuk di kamarmu?! Pokoknya hari ini aku harus mendapatkan sepatu olahraga incaranku! Karena harganya pas-pasan dengan uang sakuku, aku jadi bingung apakah harus mengorbankan makan siangku untuk membelinya. Tapi, karena Akmal yang akan bayar maka tiada lagi kata ragu!”


Di tengah perdebatan yang kian memanas, Akmal yang akhirnya selesai mengemas tasnya segera melerai mereka


berdua.


“Sudah... Sudah... Lihat, Hara dan Agatha sudah menunggu di depan” tunjuknya kepada sosok dua kawannya yang lain yang berdiri cantik di depan pintu kelas “Juga, bisakah kalian memilih barang yang normal-normal saja?”.


““Ini adalah hukuman karena kau selingkuh!!!””


Seru Lilian dan Ruby dengan keras hingga terdengar sampai ke kelas sebelah.


Sontak saja semua murid dan juga Guru yang mendengar ini mulai membicarakan mereka.


“Lihat itu bajingan. Sudah punya cewek banyak masih selingkuh aja”


“Emang enggak tahu di syukur itu anak”


“Mana ceweknya ada lima lagi... Cuih!”


“Hah... Kak Susan yang terkenal galak aja bisa dia embat. Jadi penasaran itu bajingan pergi ke dukun mana”


Berusaha untuk menutup telinganya dari gosip sekitar, Akmal segera menarik Lilian dan Ruby keluar dari kelas dan


bergabung bersama dengan Hara alias Rosaria dan Agatha alias Harkness yang sudah menunggu mereka. Tidak lama kemudian anggota terakhir yang adalah Susan alias Mars yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah.


Bersama mereka jalan berdampingan menuju halte bus yang akan mengantarkan mereka ke Mall Nusantara yang ada pusat perbelanjaan terbesar di kota mereka tinggal.


Mengenakan seragam Pramuka, mereka berenam tidak mau repot berganti baju di rumah karena para gadis sudah sepakat akan membeli baju baru yang akan langsung mereka pakai di tempat. Selanjutnya mereka akan membeli barang-barang pilihan mereka masing-masing. Setelah itu mereka akan makan siang dan akan diakhiri dengan menonton film di bioskop.


Di saat para gadis sedang bercanda gurau, Akmal hanya bisa berkeringat dingin sambil berdo’a di dalam hati


berharap agar apa pun yang akan mereka beli masih berada dalam jangkauannya.


Tidak mau lagi dia mengingat bagaimana ekspresi sang Ibunda ketika dirinya memohon tambahan uang jajan.


Menjelaskan alasan kenapa dia butuh uang, betapa hebatnya amukan Ibunya yang baru tahu kalau putra tercintanya adalah seorang Playboy sementara sang Ayah langsung tertawa puas sambil memuji-muji kejantanan anaknya.


“Pakai ini, tapi nanti kenalin ke Papa yah?” goda sang Ayah sambil menyelipkan sebuah kartu hitam berkilau di


dalam sakunya.


Meski ingin sekali dirinya berteriak kalau mereka hanyalah teman. Tapi Akmal yang peka terhadap perasaan mereka tidak mampu mengatakannya.


Kelak akan ada saat dimana dia harus memilih satu dan mengakhiri hubungan persahabatan yang sudah mereka semua jalin. Sampai saat itu tiba, dia hanya akan menikmati saat-saat ini.


...


Singkat waktu, acara belanja mereka sudah selesai dan para gadis kini mengenakan baju baru yang masih segar dari toko. Tidak perlu disebutkan lagi kalau itu adalah baju dengan kualitas terbaik dan juga mengikuti trend berpakaian masa kini.


Tentu saja Akmal juga mengenakan pakaian baru meskipun itu bukanlah pilihannya sendiri dan dia harus rela


menjadi boneka mainan selama setengah jam lamanya.


Tidak hanya itu, Ruby kini sudah mengenakan sebuah sepatu baru berwarna putih bersih yang memiliki sebuah logo produsen sepatu olahraga yang sudah terkenal di seluruh dunia. Di sisi lain, Lilian masih tersenyum bahagia karena telah sukses merenggut stok terakhir dari tas incarannya.


Para gadis yang lain pun juga memasang ekspresi yang sama.


Di samping Hara adalah sebuah kantong yang berisikan perlengkapan Makeup yang telah direkomendasikan langsung oleh seorang Aktris ternama sementara di samping Agatha adalah sebuah kantong yang berisikan barang-barang perawatan kulit yang juga telah direkomendasikan oleh Aktris yang sama.


Sementara itu, Susan puas dengan sebuah Tablet baru yang adalah gadget keluaran paling baru yang baru saja di


rilis beberapa hari yang lalu.


Ketika para gadis senang dengan hadiah mereka, Akmal sendiri malah dibuat pusing karena dirinya tidak tahu


bagamana harus menjelaskan semua pengeluarannya hari ini kepada Ayahnya.


Beristirahat dari kegiatan belanja yang melelahkan, mereka pun memutuskan untuk singgah ke restoran yang ada di dalam Mall untuk makan siang. Tentu saja makanan yang mereka pesan kembali membuat Akmal berkeringat dingin.


Di dalam hatinya dia bersumpah untuk tidak lagi membuat mereka kesal bagaimanapun caranya.


“Hei, acara Livestreamnya sudah dimulai!” memainkan Tablet barunya, Susan menunjukkan sebuah saluran streaming yang sedang menampilkan layar hitung mundur sementara di samping kanannya adalah Live Chat yang bergerak dengan cepat karena banyak orang yang sedang berkomentar.


“Buset yang nonton ada jutaan!”


“Mau bagaimana lagi kan? Ini adalah acara Livestream pertama game NFO”


“Hmm? Kalau tidak salah bukannya jadwal streamingnya itu malam yah?”


Atas perkataan Hara, semua orang menoleh ke jendela dan menemukan kalau matahari sudah lama tenggelam. Kegiatan mereka saat ini tidak lagi bisa disebut sebagai makan siang tapi lebih pantas disebut sebagai makan malam.


Sadar kalau mereka berbelanja terlalu lama, keheningan pun menerpa mereka.


“Yah, besok kan minggu! Jadi tidak apa-apa kan?” atas perkataan Ruby, mereka pun tidak lagi memikirkannya dan


kembali menonton layar Tablet yang telah menunjukkan hitungan mundur yang sudah masuk ke angka 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1...


Dan Live Stream pun dimulai.


...


“Halo! Selamat siang semuanya!!!” seru sepasang pria dan wanita yang mengenakan pakaian seperti pesulap secara bersamaan dan penuh dengan semangat.


Dengan ekspresi gembira mereka mulai memperkenalkan diri masing-masing.


“Perkenalkan, namaku adalah Mojo. Dan bersamaku “Magia♪” bersama kami akan menemani kalian dalam acara Live Stream perdana dari game “New Frontier Online” Yay!”


Pok! Pok! Pok! Saling bertepuk tangan, mereka pun mengawali Live Stream dengan sangat meriah.


Melihat kembali di mana mereka sekarang sedang berdiri, terlihat jelas kalau mereka sekarang sedang berada di


atas sebuah panggung yang penuh dengan riasan pesta. Dengan balon warna-warni serta untaian pita yang lucu, mereka tampak seperti anggota sirkus yang sedang melakukan sebuah pertunjukkan.


Tentu saja semua itu tidaklah asli.


Itu dikarenakan acara Live Stream ini tidaklah diadakan di dunia nyata melainkan di dalam sebuah dunia virtual yang telah di desain khusus demi acara ini.


Bahkan Mojo dan Magia pun bukanlah wujud asli mereka melainkan adalah sebuah Avatar yang menjadi perwakilan dari pihak pengembang game NFO.


“Wow, lihat itu Mojo♪ Banyak sekali yang datang pada hari ini♪”


“Hahaha... Tentu saja Magia! Siapa juga yang mau melewatkan acara spesial ini!”


Saling bercanda satu sama lain, mereka mengawali acara dengan suka cita sebelum akhirnya masuk ke dalam topik utama.


“Baiklah, tanpa berlama-lama lagi marilah kita membahas tentang game kesayangan kita semua ‘New Frontier Online’ atau biasa di singkat sebagai NFO yang kali ini akan masuk ke dalam versi 1.3!”


“Mojo♪ Mojo♪ Sebelum kita membahasnya, apakah kau lupa kalau malam ini kita memiliki bintang tamu♪”


“Oh, iya! Kenapa aku bisa sampai lupa!”


“Iih kamu ini... Ngomong-ngomong tamu kita pada malam hari ini siapa yah?”


“Alah kamu juga lupa. Tamu kita pada malam hari ini adalah tiga orang Pemain beruntung atau mungkin lebih tepat


“Dan siapa sajakah mereka???”


Pok! Menepuk tangannya sekali, seketika lampu pun padam. Setelah itu terdengar suara gendang yang menggebu-gebu yang pada pukulan terakhir lampu pun akhirnya kembali menyala.


Ketika lampu menyala, terlihat di atas panggung yang kosong kini terdapat tiga buah podium yang di balik podium


tersebut terdapat tiga buah bayangan yang berdiri diam di sana.


“Wow! Pemain yang menjadi perwakilan dari fraksi masing-masing yah♪”


“Haha... Bagi kalian yang masih belum tahu, terdapat tiga buah fraksi yang bisa di pilih di game NFO”


“Apa saja itu???”


“Yang pertama adalah fraksi cahaya yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran! Bagi kalian yang ingin bermain sebagai pahlawan atau sekedar menjadi orang baik sebaiknya memilih fraksi ini!”


“Dan yang mewakili fraksi ini tidak lain dan tidak bukan adalah...”


Jeng♪ Jeng♪ Jeng♪ Suara alunan musik yang menggetarkan jiwa terdengar jelas mengiringi cahaya lampu yang


menari-nari sebelum akhirnya tiba tepat di atas podium paling kiri.


Berkat cahaya itu kini para penonton bisa melihat wujud bayangan yang sebenarnya.


Dia adalah seorang Kesatria yang mengenakan bau zirah tebal di sekujur tubuhnya. Memiliki rambut pirang pendek yang di sisir rapi, wajahnya menampilkan senyuman lebar seraya dirinya melambaikan tangannya untuk menyapa para penonton yang menonton dari balik layar.


“Perkenalkan! Perwakilan dari fraksi cahaya, seseorang dengan Job Squire, Rayleigh!!!”


“Wow! Seorang Kesatria♪ Coba saja wajahnya tampan sedikit aku mungkin sudah dibuat klepek-klepek sama dia♪”


“Hei!” mendengar celotehan Magia, senyuman menghilang dari wajah Rayleigh yang kini digantikan oleh ekspresi seolah tidak percaya akan apa yang baru saja Magia ucapkan.


Tanpa memedulikan Rayleigh, Mojo langsung melanjutkan memperkenalkan tamu berikutnya.


“Kalau kalian tidak mau menjadi pahlawan dan hanya ingin bermain seperti di game yang biasa, tenang! Jika kau bergabung dengan fraksi netral maka kau tidak perlu ambil pusing dengan yang nama fraksi-fraksian!”


“Jadi begitu♪ lalu, siapakah yang mewakili fraksi ini???”


Jeng♪ Jeng♪ Jeng♪ Musik kembali beralun dan cahaya lampu kun kembali menari.


Berhenti di podium tengah, cahaya lampu kini menunjukkan sesosok pria kurus dan langsing namun mengenakan pakaian mewah selayaknya seorang saudagar kaya. Rambutnya yang berwarna kecokelatan terlihat berkilauan seolah selalu di rawat dengan baik. Karena rambutnya terlalu panjang, dia pun mengikatnya dengan gaya kuncir ke


belakang. Mata cokelatnya yang bercahaya terlihat sedang mengamati sekitar.


Dengan senyum ramah di wajahnya, dia melambai-lambaikan tangannya yang mana memiliki tiga buah cincin emas yang terpasang di sana.


“Perkenalkan! Perwakilan dari fraksi netral, seseorang dengan Job Peddler, Qarun!!!”


“Tch, pamer...”


“Hahaha... Qarun tertawa puas setelah mendengar komentar dari Magia. Jelas sekali kalau apa yang Magia katakan adalah sebuah pujian bagi dirinya.


Tersenyum canggung sambil melirik rekannya yang memberikan tatapan sinis, Mojo tetap melanjutkan pekerjaannya dengan profesional.


“Terakhir! Bagi kalian yang tidak puas dengan dunia nyata yang terasa mengekang! Bagi kalian yang ingin bebas melakukan apa saja yang kalian inginkan! Bagi kalian yang ingin melawan peraturan dan norma sosial! Sebuah fraksi tempat para penjahat berkumpul, fraksi bayangan!!!”


“Penjahat? Ihh... Serem♪”


Jeng♪ Jeng♪ Jeng♪


Dengan prosedur yang sama, cahaya lampu kini jatuh ke podium paling kanan dan menunjukkan sosok Pemain yang berdiri di sana.


“Astaga beneran seram!”


Menampilkan reaksi terkejut yang sebenarnya, Magia berjalan mundur menjauhi sosok yang baru saja muncul di bawah cahaya.


Mengenakan jubah perca dengan warna kusam, wajahnya terhalang oleh masker dan tudung yang dia kenakan. Yang bisa terlihat hanyalah sepasang mata merah menyala yang menatap dingin dari balik tudungnya.


Selagi Magia sedang berlindung di belakang Mojo, Rayleigh menatap tajam pada sosok tersebut sementara Qarun tampak tertarik dan terus saja melotot seolah tidak takut dengan penampilannya yang seram.


“Ehem, perkenalkan! Perwakilan dari fraksi bayangan, seseorang dengan Job Necromancer yang meminta secara khusus untuk tidak menggunakan nama Karakternya dan memilih nama panggung sendiri, Corpse!!!”


Setelah dirinya diperkenalkan, barulah Corpse mengangkat tangannya untuk memberikan salam seperti dua Pemain sebelumnya.


Hanya saja penampilan Corpse yang melambaikan tangannya dengan lambat tidaklah terlihat ramah melainkan lebih mirip seperti adegan yang keluar langsung dari dalam film horror.


Sontak saja ini membuat Magia semakin gemetar ketakutan hingga membuat Mojo terpaksa untuk turun tangan menenangkannya.


“Permisi, Corpse. Bisakah kau berhenti berakting seram? Kalau seperti ini terus rekanku tidak akan bisa lanjut bekerja”


“Oke♪” berbeda 180° dari penampilannya yang sebelumnya, Corpse kini bertindak ramah dan penuh dengan energi seperti Magia.


Melihat ini, sontak Magia terkejut. Tapi, berkat itu dia mendapatkan kembali ketenangannya seolah teringat kalau apa yang ada di hadapannya hanyalah seorang Pemain yang berpakaian seram.


Dan demi mencairkan suasana, Mojo pun mulai mengajak bicara para bintang tamu dimulai dari Rayleigh. “Jadi, Rayleigh. Bagaimana rasanya bermain New Frontier Online sejauh ini?” tampak berpikir sejenak, Rayleigh pun mulai menceritakan pengalamannya.


“Jujur, NFO tidaklah seperti permainan yang selama ini aku mainkan. Sejak pertama kali memainkannya aku sudah merasa sangat berbeda. Ngomong-ngomong aku bermain sejak pertama kali game ini rilis yang mana pada saat itu hanya segelintir orang saja yang memainkannya sehingga susah sekali untuk mencari teman untuk membuat Party


bersama... Tapi, berkat itu juga aku bisa merasakan dengan jelas bagaimana rasanya bermain di antara para karakter NPC yang jujur, aku tidak pernah menyangka kalau teknologi kecerdasan buatan sudah semaju ini”


“Hahaha... Divisi Locals pasti sangat senang setelah mendengar pujianmu. Mereka sudah berusaha keras supaya para Locals terlihat semirip mungkin dengan orang yang sebenarnya!”


“Ngomong-ngomong, jika kalian tidak mengerti♪ Locals adalah cara kami menyebut para NPC atau penduduk di game New Frontier Online♪ Jadi, harap mulai saat ini berhenti memanggil mereka sebagai NPC terlebih tepat di hadapan mata mereka, oke♪”


“Dan! Jika setelah Update ini masih ada yang ngeyel...”


Menerima peringatan keras dari duo Mojo dan Magia, sontak ketiga bintang tamu mengangguk paham.


Puas atas jawaban para bintang tamu, Mojo pun melanjutkan sesi tanya jawabnya “Bagus! Senang rasanya kalau sesuatu yang susah payah kau bangun dihargai oleh orang lain. Supaya kami bisa lebih berkembang lagi, apakah ada sesuatu yang kau rasa kurang sehingga pantas untuk ditambahkan pada New Frontier Online kedepannya?”.


Untuk pertanyaan yang satu ini, Rayleigh dengan cepat menjawabnya “Jika ada yang ingin aku tambahkan itu adalah susah sekali dalam mencari Main Quest! Tapi, karena itu sudah seperti pesona dari game ini. Aku tidak akan berkomentar banyak soal itu”.


“Memang benar, pihak atas sudah menetapkan kalau Main Quest tidak boleh diberikan namun harus di cari sendiri jadi tidak ada yang bisa kami lakukan soal itu” jawab Mojo yang mana di balas oleh Rayleigh dengan sebuah anggukan. “Ya, terlebih rasa bangga setelah tahu kalau hanya kau seorang yang menerima Quest itu memang


sangatlah memuaskan... Kalau begitu aku ingin agar game ini memiliki sistem Peta! Sungguh, dunia yang kalian buat itu terlalu luas untuk bisa dijelajahi tanpa Peta!”.


Menjawab Rayleigh adalah Magia yang menampilkan senyuman cerah di wajahnya.


“Ah♪ kalau soal itu New Frontier Online sudah memiliki peta kau tahu♪” Melakukan gerakan teatrikal, Magia lalu meraih ke belakang telinga Rayleigh dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang sudah terlihat usang. “Tada♪”


membukanya Magia menunjukkan kalau gulungan kertas itu sebenarnya adalah sebuah peta yang tergambar dengan sangat rapi dan juga terperinci.


Menunjukkan peta tersebut kepada semua orang, sontak Qarun dan Corpse menatap peta itu dengan tajam seolah mata mereka hendak menembus lembaran peta tersebut. Sementara itu, Rayleigh malah keheranan kenapa dia yang meminta peta digital malah diberikan peta manual.


“Permisi, yang aku maksud itu sesuatu seperti peta yang di update secara otomatis oleh Mini-Map kita. Memang benar Mini-Map itu cukup membantu, tapi hanya sedikit area yang bisa terlihat. Yang aku butuhkan ada versi peta yang lebih besar, seperti peta dunia. Bukan peta kuno seperti hendak mencari harta karun!”


“Bah! Jangan manja!” berbicara dengan keras, Rayleigh terkejut karena Mojo kini sudah berdiri tepat di sampingnya. “Kau tahu sendirikan kalau pihak kami ingin sekali membuat game yang sangat realistis?” melihat Rayleigh mengangguk dengan cepat, Mojo pun melanjutkan “Karena itulah, setelah perdebatan sengit nan panjang kami


pun memutuskan untuk memberikan para Pemain peta manual ketimbang peta digital!”.


“Benar itu♪ Malahan aku merasa sangat kasihan kepada para Mapper yang jauh lebih terbengkalai ketimbang para Beggar♪”


““Ada Mapper?!”” teriak Qarun dan Corpse secara bersamaan.


Jelas sekali kalau informasi ini adalah baru bagi mereka. Selagi Rayleigh masih heran apa sih yang membuat Job Mapper itu spesial hingga membuat kedua orang disampingnya sampai bereaksi seperti itu, kedua orang yang dia maksud sudah sibuk menyusun strategi di dalam kepala mereka masing-masing.


Puas setelah tahu setidaknya ada dua orang Pemain yang tahu betapa krusialnya Job Mapper sebenarnya, Mojo yang menampilkan senyum cerah pun segera melanjutkan acaranya.


Melemparkan pertanyaan yang sama kepada Qarun, jawaban yang diterima sangatlah memuaskan.


“Jika bicara mengenai game apa yang aku sukai, maka jelas itu adalah Management game dimana aku bisa mengatur wilayah dan asetku secara bebas. Oleh karena itu, awalnya aku tidak terlalu tertarik pada NFO yang sejatinya adalah game RPG yang biasanya lebih berfokus pada pertarungan dan penjelajahan.


Sungguh tidak pernah menyangka kalau diriku akan begitu salah.


Walau ini adalah game RPG, tapi berkat Job yang beragam serta jalan cerita yang sepenuhnya ditentukan oleh Pemain itu sendiri membuatku yang hanya suka bermain game Management menjadi terpincut akan permainan ini.


Jika ada yang ingin aku tambahkan, itu adalah tidak adanya metode penyimpanan uang yang paling aman! Game ini tidak memiliki sistem Bank ataupun rumah tempat aku bisa menyimpan segala propertiku dengan aman.


Sebagai seseorang dengan Job Peddler, ini adalah hal yang paling mencemaskan”


Selesai mendengarkan pendapat dari Qarun, sebuah senyuman puas terpancar di wajah Mojo dan Magia. Dan untuk menjawab keinginan Qarun adalah Magia.


“Terima kasih karena telah mau bermain game ini♪ Jika bicara soal sistem Bank, Anda semua tenang saja♪ Walau di update ini kami masih belum siap melakukannya, tapi tenang saja karena di Update selanjutnya kami pasti akan melakukan sesuatu tentang itu. Jadi, di tunggu saja yah♪”


Memilih untuk mempercayai janji dari Magia, Qarun pun menganggukkan kepalanya.


Dengan pendapat dari fraksi cahaya dan fraksi netral telah didengarkan. Kini hanya tinggal mendengarkan pendapat dari faksi bayangan.


Mengingat pidato yang telah dia siapkan sebelumnya, Winter (Corpse) pun tersenyum di balik maskernya.