A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 44 : Preparation



“Ke kiri sedikit... Sedikit lagi... Ya, sudah pas!” memberikan arahannya, Winter memastikan kembali kalau posisi pemasangan meja sudah pas sebelum akhirnya memerintahkan para pekerja untuk lanjut memasang meja berikutnya.


Menyaksikan ini dari samping, Victor masih tidak bisa percaya kalau Winter telah sukses mengambil alih sebuah kedai lokal dan tidak ada orang yang datang mengetuk pintu untuk mencari masalah.


“Dia memang adalah seorang Pemimpin alami yah” sapa seorang pria berkulit gelap dengan rambut pirang pendek yang di sisir rapi. Wajah tampannya menampilkan sebuah senyuman yang mampu melelehkan hati setiap gadis yang melihatnya.


Melirik sekilas, Victor pun berkata “Daripada pemimpin, lebih tepat menyebut Winter ahli dalam menyuruh orang lain”.


“Heh, kurasa kau memang benar” tidak berkata apa-apa lagi, pria itu hanya berdiri diam di samping Victor untuk ikut menonton Winter yang sedang sibuk menata ruangan.


Merasakan ada yang sedang mengawasinya, Winter berbalik hanya untuk menemukan dua orang pria yang hanya berdiri saja sementara dirinya sedang sibuk sendiri. Tidak terima, Winter langsung menunjuk ke arah kedua pria itu “Victor! Matchmaker! Daripada kalian diam saja lebih baik lakukan sesuatu!”. Tidak mau melawan perintah Winter, Victor dan si pria yang bernama Matchmaker pun hanya menjawab “Baik!”.


“Hah... Kurasa ini saatnya aku berangkat. Tugasku adalah mencari bir dan minuman sejenisnya, apakah kau punya rekomendasi?”


“Kenapa kau bertanya seolah aku kenal dengan pemasok minuman?” meski dia mengatakan itu, Matchmaker tetap mengambil secarik kertas dan sebuah pensil dari penyimpanannya, menulis sesuatu di atasnya lalu menyerahkannya kepada Victor “Ini, kau bisa menemukannya di sebuah Winery 2 Km ke arah barat daya”.


“Seperti yang aku duga dari seorang Procurer, koneksimu memang seluas lautan” setelah mengatakan itu, Victor pun segera pamit untuk menunaikan tugasnya.


Di tinggal sendiri, Matchmaker hanya bisa geleng-geleng kepala sebelum berjalan mendekati Winter dengan senyum lebar di wajahnya.


“Boss, apakah ada tugas untukku?”


“Masih sama seperti kemarin, tolong carikan anggota lainnya!”


“Aku tahu itu, sekarang kita sudah memiliki total 6 calon anggota. Jumlah maksimum Familia yang baru dibentuk adalah 10 yang berarti kita hanya kurang 4 anggota saja lagi. Yang menjadi pertanyaanku sekarang adalah tipe Pemain apa saja yang Boss inginkan?”


“Ah, kalau soal itu aku masih belum memberitahukannya kepadamu yah... Aku ingin Pemain dengan tipe Job Produksi. Blacksmith, Tailor, Alchemist... Pokoknya mereka yang bisa membantu produktifitas Familia”


Dengan buku kecil di tangannya, Matchmaker mencatat kriteria Pemain yang Winter sebutkan. “Lalu, bagaimana dengan kepribadian mereka?”.


“Hmm... Jika bisa mereka bukanlah Pemain kasual yang jarang Log In dan juga bukan maniak yang Log In sehari 24 jam! Mereka juga harus setia dan taat akan peraturan. Lalu...”


Selesai mencatat semua yang Winter katakan, Matchmaker lalu membaca kembali catatatannya sebelum akhirnya mengangguk puas.


“Baiklah, apakah ada yang lain?”


“Itu sudah semua... Ah!” seolah baru teringat akan sesuatu, Winter pun menepukkan kedua tangannya “Mumpung kau masih ada di sini, aku ingin bertanya. Aku bisa paham bagaimana bisa Chic bisa mengenalmu... Hanya saja darimana kalian kenal dengan Barbarossa?”. Menunjuk ke arah meja bar, dapat terlihat junior Chic sekaligus


calon anggota Familia, Prim yang sedang memoles meja bar sambil bercanda ria dengan seorang pria tinggi kekar berwajah sangar. Belum lagi rambut serta janggut merahnya yang dibiarkan tumbuh liar malah menambah kesan beringas yang pria itu miliki. Sangat sulit untuk menghubungkan pria itu dengan Chic, Prim, serta Matchmaker yang adalah Pemain dengan Job yang berhubungan erat dengan dunia hiburan yang penuh dengan pria tampan dan gadis cantik.


Tampak paham kenapa Winter bertanya, Matchmaker pun mulai bercerita.


“Boss sudah tahu kan kalau aku dan Prim mendapatkan Main Quest? Quest tersebut mengharuskan kami untuk menculik seorang anak saudagar dari kota sebelah. Karena kami berdua saja tidak cukup, kami pun meminta bantuan dan itulah dia” ucapnya sambil menunjuk ke arah Barbarossa yang setia kepada penampilannya, adalah


seorang Barbarian berlevel tinggi yang juga adalah Pemain yang satu angkatan dengan Winter.


“Aku sudah sempat berbincang dengannya. Walau hanya sebentar tapi aku sudah merasa kalau dia lebih cocok dengan fraksi cahaya”


“Boss bisa tahu?! Memang benar dari segi kepribadian saja Barbarossa itu memang lebih mirip seperti Pemain dari Fraksi cahaya... Atau mungkin netral? Yang jelas dia memang tidak seperti Pemain dari fraksi ini. Hanya saja Boss tidak usah khawatir! Barbarossa itu orangnya bisa dipercaya dan setia kawan!”


Winter masih kurang yakin “Kau yakin? Dia itu mirip tokoh boss bandit baik hati yang kelak akan bergabung dengan grup protagonist untuk menantang sang Raja durjana!”.


“Boss terlalu berlebihan! Memang benar Barbarossa itu sejatinya orang yang baik, tapi dia bukanlah tipe orang yang cukup baik hingga dengan suka rela membantu nenek-nenek menyeberang jalan serta mengambilkan balon anak kecil yang tersangkut di pohon!”


“Benarkah begitu?” ketika Winter masih tidak percaya, Barbarossa yang sedari tadi mendengar namanya disebutkan akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan mendekati mereka berdua.


Dihadapkan dengan tubuh besarnya, Matchmaker yang menggunakan Avatar seorang pria biasa-biasa saja merasa seperti semut padahal sudah menghabiskan waktu yang cukup lama bersama. Sedangkan Winter sendiri terlihat biasa saja malahan mata merahnya melotot langsung ke arah Barbarossa.


“Bagus kau datang. Aku akan singkat saja, kenapa kau memilih fraksi bayangan?”


“Kupikir kenapa dari tadi namaku disebutkan, ternyata cuman masalah ini toh” sangat setia dengan penampilannya, suara Barbarossa terdengar berat dan juga mengintimidasi “Sebenarnya aku sudah pernah pergi ke fraksi lainnya, hanya saja karena aku kurang suka dengan suasana di sana, maka aku pindah ke sini”.


“Oh, memangnya suasana seperti apa yang kau sukai sampai betah tinggal di fraksi ini?”


“Jujur, aku lebih suka suasana yang bebas tanpa perlu repot-repot menjaga pandangan orang lain kepadamu. Saat aku berada di fraksi cahaya, aku tidak bisa berjalan lebih dari 1 meter sebelum membuat anak kecil menangis atau di panggil oleh penjaga. Sementara di fraksi netral, suasananya hampir sama dengan fraksi cahaya namun tidak terlalu parah. Hanya saja tidak ada hal yang menarik di sana makanya aku pindah kesini”


Melihat penampilan Barbarossa yang tampak seperti Boss bandit, mudah bagi Winter dan Matchmaker untuk membayangkan apa yang Barbarossa baru saja katakan.


Ingin sekali Winter bertanya kenapa dia memilih penampilan seperti itu, tapi tidak jadi karena dia baru saja teringat tentang batasan pada pembuatan karakter. Sayangnya hal yang sama tidak bisa dikatakan kepada Matchmaker.


“Aku tahu kalau Job yang kau pilih itu adalah Barbarian. Tapi bukan berarti kau harus berpenampilan seperti mereka kan?”


Atas perkataan Matchmaker, Winter segera mengambil langkah mundur menjauh darinya. Bingung akan tingkah Winter yang aneh, Matchmaker tidak sempat bertanya karena Barbarossa mendekatkan wajahnya dan berkata dengan nada yang monoton, “Terkecuali rambut dan jenggot, ini adalah penampilan asliku” yang sontak membuat Matchmaker terdiam seribu bahasa.


Sambil tertawa di dalam hatinya, Winter kembali mendekati mereka berdua.


“Oh, iya. Aku sekarang sedang berusaha mencari calon anggota baru. Apakah kau punya kenalan Pemain dengan tipe Job Produksi?”


“Job tipe produksi...” tampak berpikir sejenak, Barbarossa seketika menampilkan ekspresi aneh seakan dia baru saja teringat sesuatu hal yang tidak mengenakkan. Tentu saja ini langsung membuat Winter penasaran “Apakah kenalanmu itu memiliki kepribadian yang menyusahkan?”.


“Bukan begitu. Aku bahkan hanya pernah bertemu dengannya sekali namun dia memberikan kesan yang begitu kuat hingga mustahil untuk melupakannya”


Melihat kalau Barbarossa yang berpenampilan seram saja bisa sampai menjadi seperti ini, rasa penasaran Winter pun semakin menjadi “Oh, sekarang aku menjadi tertarik. Bisakah kau memberitahukanmu orang macam apa dia?”.


“Apakah kau yakin?” karena Winter mengangguk dengan penuh antusias, Barbarossa pun tidak lagi menyimpan rahasia “Apakah kau pernah mendengar seorang Pemain dengan julukan Venomous Maiden?”. Menggelengkan kepalanya, Winter merasa tidak pernah melihat atau mendengar Pemain dengan julukan seperti itu.


“Ah? Orang itu?! Apakah kau yakin ingin merekomendasikannya?” melihat Matchmaker yang mengenali Pemain dengan sebutan itu, Winter pun jadi tambah penasaran “Kau juga tahu? Kalau begitu bisa kau beritahu?”.


Tidak punya pilihan, Matchmaker pun mulai bercerita.


“Hah, aku juga hanya pernah bertemu dengannya sekali. Saat itu aku sedang dalam Quest untuk mencari pekerja baru untuk sebuah toko tertentu. Saat aku sedang dalam perjalanan menuju sebuah desa terpencil, aku melihat seorang gadis sedang sibuk memetik bunga di pinggir jalan.


Melihat wajahnya yang cantik, aku pun menyapanya. Awalnya kami berbicara santai tanpa ada kendala. Dari situ aku mengetahu kalau dia adalah seorang Alchemist dan juga kalau dia ternyata adalah seorang Pemain yang entah kenapa di usir dari fraksi cahaya dan kini menetap di sini.


Aku awalnya juga bingung bagaimana bisa gadis semanis dirinya bisa sampai di usir dari fraksi cahaya. Tapi setelah aku memberitahukannya Job apa yang aku miliki... Dia langsung melempar sebotol racun tepat ke wajahku yang langsung merenggut semua HP milikku dalam kurun waktu kurang dari 10 detik”


Mengangguk mendengar cerita Matchmaker, Barbarossa juga menambahkan “Aku juga hanya datang kepadanya untuk bertanya arah jalan, tapi belum juga berkata apa-apa dia langsung melemparkan sebotol racun kewajahku. Jika bukan karena refleks cepatku, aku mungkin juga akan bernasib sama dengan Matchmaker. Setelah kembali


ke kota, barulah aku tahu kalau dia melakukan itu kepada setiap orang baik itu Pemain ataupun NPC!”.


“Benar, dan itulah yang membuat orang-orang menjulukinya sebagai Venomous Maiden”


“Jika Boss ingin menemuinya, ingatlah untuk jangan mendekatinya! Panggil saja dia dari jauh dan jangan mengejutkannya!”


“Ehh...” kagum akan cerita mereka berdua, tidak lupa Winter meralat “Locals bukan NPC” sebelum akhirnya bertanya “Di mana biasanya dia terlihat?”


Sempat ragu untuk memberitahukannya, melihat kalau Winter tidak mau menerima jawaban tidak, Matchmaker pun mulai memberitahukan tempat mana saja biasanya Venomous Maiden terlihat. Tidak lupa dia juga memberitahukan tentang ciri-ciri dari Pemain yang dimaksud.


“Gadis muda, usia di antara 18-20 tahun. Rambut panjang berwarna ungu gelap. Mengenakan kacamata. Serta selalu membawa sebuah keranjang rotan di punggungnya. Huh, rasanya mustahil untuk bisa melewatkannya”


Mencatat semua itu di dalam kepalanya, Winter pun berniat untuk mencarinya ketika dia punya waktu luang.


“Apakah masih ada Pemain lainnya yang harus aku ketahui?” melihat Matchmaker dan Barbarossa menggelengkan kepala, Winter pun tidak akan bertanya lagi.


Winter langsung menolak usulan dari Barbarossa “Jika itu Medium Familia, maka tanpa ragu aku akan melakukannya. Tapi bagi Small Familia yang punya batasan 10 anggota. Aku tidak bisa sembarangan menerima! Walau bukan elit setidaknya aku ingin anggota yang kompeten dan bisa dipercaya”.


Mendengar alasan dari Winter, Barbarossa pun tidak bertanya lebih banyak lagi.


Melihat kalau mereka berdua benar-benar tidak punya Pemain yang bisa direkomendasikan, Winter pun meminta agar Matchmaker segera menjalankan perintahnya sekaligus memberikan perintah baru.


“Sekalian carikan 4 orang Locals. Satu yang bisa masak, satu untuk menjadi bartender, dan dua gadis muda yang punya paras cantik serta tubuh bahenol untuk menjadi Pelayan wanita. Setelah ketemu langsung serahkan kedua gadis itu kepada Chic untuk dilatih”


“Apakah Boss ingin membuka toko semacam itu?”


“Sembarangan! Aku hanya punya izin untuk membuka kedai makan dan minum! Aku meminta Chic untuk melatih mereka adalah agar mereka bisa melayani pelanggan dengan benar sebagai seorang Pelayan wanita. Tidak lebih!”


Setelah mengutarakan permintaan maafnya, Matchmaker pun segera pamit undur diri.


Sekarang hanya tertinggal Winter, Barbarossa, serta Prim saja yang ada di dalam kedai.


“?... Apakah kau tidak punya sesuatu untuk dikerjakan?”


“Apakah kau juga ingin agar aku pergi merekrut calon anggota?”


Melihat kembali penampilan Barbarossa secara keseluruhan, Winter langsung menggelengkan kepalanya. Sebagai gantinya dia menunjuk kepada para pekerja Locals yang sedang sibuk bekerja menata interior kedai dan berkata “Bisakah kau bantu mereka?”.


“Tentu saja!” jawab Barbarossa singkat sebelum akhirnya berjalan menghampiri para pekerja.


Dengan Barbarossa sudah ditangai, kini hanya tinggal mengurus Prim yang sedang sibuk mengelap gelas sambil bersenandung ria. Jika saja Prim dipakaikan baju Bartender, dengan parasnya yang cantik Winter merasa kalau keberadaannya saja sudah cukup untuk menarik banyak sekali pelanggan.


Merasa tidak ada salahnya, Winter pun mendekatinya.


“Prim, berapa banyak Job yang kau miliki?”


Mendapati pertanyaan tiba-tiba, Prim terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab “Aku punya tiga Job... Prostitute, Bard, dan Green Mage”.


“Green Mage? Ah, yang khusus element angin yah?” melihat Prim mengangguk, senyuman pun tercipta di wajah Winter. “Bagus, ambil ini!” mengambil sebuah buku dari penyimpanannya, apa yang Winter keluarkan adalah sebuah Buku Job yang bertuliskan ‘Bartender’ yang lalu dia serahkan kepada Prim.


“?” bingung kenapa dia diberikan Buku Job, barulah setelah Winter menjelaskan dia menjadi paham “Setelah kedai di buka, aku ingin kau tetap berada di sini untuk berjaga sekaligus mengawasi setiap tamu yang datang. Kalau bisa seringlah bicara dengan pelanggan untuk mendapatkan informasi terbaru serta pastikan kalau tidak ada tamu yang


tidak diinginkan mengacau di dalam kedai”.


Mendapatkan perintah secara beruntun, Prim sampai tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa diam mematung sambil terus memegangi Buku Job yang Winter berikan kepadanya.


“Kenapa? Apakah kau sudah punya Job yang kau incar? Kalau begitu...” baru saja Winter hendak merogoh kembali ke dalam penyimpanannya, langkahnya langsung dihentikan oleh Prim.


“Tidak apa-apa!... Hanya saja, bukankah ini mahal?”


“Kalau hanya itu maka tidak masalah, lagipula Buku Job itu adalah bonus dari Quest yang dulu pernah aku selesaikan”


“Begitu...” walau masih merasa tidak enak, tapi Prim masih dengan senang hati menerima Buku Job dari Winter. “Bartender yah... Aku baru tahu kalau ternyata ada Job seperti ini”.


“Percayalah, itu bukanlah yang paling tidak biasa yang mereka punya” kembali mengeluarkan Buku Job dari penyimpanannya, apa yang Winter keluarkan kali ini memiliki judul ‘Voyeur’ yang sontak langsung membuat mata Prim dingin melihatnya.


“Pokoknya ambil Job ini terlebih dahulu, barulah setelah itu kau bisa fokus untuk belajar meramu minuman. Nanti setelah Bartender Locals yang Matchmaker cari datang, kau bisa meminta petujuk kepadanya”


Selesai memberikan arahannya, Winter yang melihat kalau Barbarossa bisa mengurus sendiri pada pekerja membiarkannya untuk memberikan arahan kepada para pekerja.


Karena tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, Winter segera pergi ke lantai atas tempat Chic sekarang berada.


...


Di dalam sebuah ruangan kosong, terdapat seorang gadis dengan mata berkaca-kaca sedang berjalan berlenggak-lenggok mengitari seluruh ruangan. Berdiri menonton gadis itu sambil berkecak pinggang adalah Chic yang kecewa karena cara berjalan gadis itu masih saja terasa kurang memuaskan baginya.


“Chic... Apakah ada perkembangan?” masuk ke dalam ruangan begitu saja, aksi Winter sukses membuat gadis tadi yang matanya sudah berkaca-kaca kini meneteskan air mata.


Melihat gadis itu menangis, serta ekspresi kecewa di wajah Chic. Sudah cukup membuat Winter mengetahui semuanya.


“Masih tidak ada perkembangan yah... Apakah cara mengajarmu yang salah atau memang dia yang tidak punya bakat?”


“Aku tahu kalau ini adalah pertama kalinya aku mengajari seseorang. Hanya saja penyebab masalah kali ini bukanlah karena ketidakmampuanku melainkan karea Ellie terlalu takut untuk belajar”


Menunjuk ke arah gadis yang sedang menangis, gadis itu yang bernama Ellie hanya bisa berkata “Maaf” sambil menundukkan kepalanya serendah mungkin.


“Hah...” mengeluarkan ******* berat, tampak benar kalau Chic benar-benar tidak tahu untuk berbuat apa.


Berpikir sejenak, Winter yang sebentar lagi akan memiliki dua pelayan wanita baru merasa tidak ada salahnya untuk menyimpan yang lama. Akan tetapi, kalau sifatnya begini, lebih baik dia membuangnya dan menggantinya dengan yang baru.


Namun, secara bersamaan sayang rasanya untuk membuang satu pegawai begitu saja.


“Benar juga!” seolah baru teringat akan sesuatu, Winter pun berjalan mendekati Ellie.


Melihat Boss barunya mendekatinya, Ellie yang hanya sekedar pegawai biasa tidak bisa berbuat banyak selain berdiri diam di tempatnya.


Berusaha untuk menahan agar air matanya berhenti mengalir, Ellie menemukan dia tidak kuasa untuk melakukan itu di saat wajah Winter berada tepat di hadapan matanya.


Secara perlahan wajah Winter kian mendekat sebelum akhirnya bergerak ke samping wajahnya hingga Ellie bisa merasakan nafas Winter dengan jelas di telinganya. Dengan suara yang lembut, Winter pun berkata.


“Kakakmu sedang sakit kan?”


Terkejut kenapa Winter bisa mengetahui kondisi keluarganya, Ellie semakin dibuat tertegun ketika mendengar apa yang Winter katakan selanjutnya.


“Kau bekerja di kedai untuk mencarikan uang untuk pengobatan kakakmu itu kan? Jika kau mau, aku bisa saja meminjamkanmu uang untuk membeli obat”


Mendengarkan bisikan setan, hati Ellie yang telah putus asa seketika bergetar mendengarnya. Meski begitu, Ellie tidak bisa menerima tawaran itu begitu saja. Sebab, sebagai seseorang yang lahir dan dibersarkan di fraksi bayangan. Membuat Ellie tahu tidak ada yang namanya hal gratis di dunia ini.


Dan apa yang Winter katakan selanjutnya membenarkan dugaannya.


“...asalkan kau mau bekerja keras di kedai milikku. Maka aku akan menjamin kesejahteraan keluargamu” berhenti berbisik, Winter pun mundur beberapa langkah sebelum akhirnya kembali bicara “Tugasmu di sini hanyalah untuk melayani pelanggan seperti biasa. Walau kau akan membiarkan mereka cuci mata dari waktu kewaktu, tenanglah karena aku menjamin kalau kau hanya perlu bekerja di dalam kedai tanpa perlu untuk menemani pelanggan sampai ke kamar”.


Karena Ellie masih skeptis, Winter pun menambahkan “Selain itu, setiap uang tip yang kau terima adalah milikmu seorang. Asalkan kau bisa membuat pelanggan senang, maka kau bisa pulang membawa uang. Sekali lagi, walau memang benar aku tidak bisa menjamin kalau tubuhmu tidak akan di raba-raba oleh pelanggan yang mabuk. Tapi kau bisa tenang karena jika mereka berani untuk membawamu ke kamar maka mereka yang akan mendapatkan ganjarannya”.


Setelah diberikan penjelasan panjang lebar oleh Winter, Ellie yang awalnya skeptis berhasil dibuat menurunkan penjagaannya. Karena dia yang memang sedang putus asa untuk mendapatkan uang memilih untuk percaya terlebih dahulu. Bahkan jika dia ingin berhenti dan pindah pekerjaan sekalipun, itu tidak bisa menjamin kalau pekerjaannya yang selanjutnya bisa memperlakukannya dengan adil atau lebih buruk lagi, dia malah salah masuk toko dan berakhir pulang dengan anggota tubuh yang tidak lengkap.


Melihat air mata berhenti menetes seraya Ellie menganggukkan kepalanya, Winter pun tersenyum puas.


“Begitulah, setelah ini tolong latih dengan agak sedikit lebih lembut namun masih terhitung tegas. Ah, jangan lupa sore ini untuk mampir ke toko Madame untuk mengambil seragam pegawai yang baru”


Sebagaimana dirinya masuk, Winter datang secara tiba-tiba lalu pergi begitu saja setelah urusannya selesai.


Dengan hanya mereka berdua saja, Chic langsung memberikan arahannya sementara Ellie kini berhenti merasa sedih dan akhirnya bisa fokus berlatih.


Karena semua urusannya pada hari ini telah selesai, Winter memutuskan untuk Log Out terlebih dahulu sembari beristirahat menunggu waktu game berubah menjadi pagi hari.


Merenggangkan seluruh otot di tubuhnya, Eira yang baru saja keluar dari mesin VR sudah merasa tidak sabar untuk mencari calon anggota baru.