A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 19 : Assassination Contract



Menurunkan suaranya supaya tidak ada yang bisa menguping, Chic mencondongkan tubuhnya melewati meja hingga wajahnya tepat berada di hadapan wajah Winter “Hei, terlalu dekat!” menolak Winter yang berusaha untuk


menjaga jarak, kedua pundaknya di tahan dengan kencang oleh Chic yang menampilkan wajah yang serius.


“Yang kau maksud dengan pemegang Insignia itu sama dengan Bahar dan pria aneh itu kan?”


Winter pun mengangguk.


Dengan kedua pundaknya yang masih di tahan, Winter tidak punya pilihan lain selain memberikan penjelasan mengenai apa itu pemegang Insignia.


Ada tiga fraksi yang ada di game NFO.


Fraksi Cahaya, Fraksi Bayangan, serta Fraksi Netral.


Ketiga fraksi di atas memiliki tujuan dan agenda masing-masing. Demi bisa menggapai tujuan mereka, setiap fraksi memiliki agen yang masing-masing memiliki kekuatan ataupun kecerdasan melebihi orang lain.


“Dan para agen tersebut di tandai dengan Insignia?” mengangguk, Winter pun kembali melanjutkan penjelasannya.


Setiap fraksi memiliki Insignia masing-masing yang berbeda dari fraksi lainnya.


Fraksi Cahaya, memiliki insignia yang terbuat dari perak murni yang berbentuk segi delapan serta menggunakan ukiran pedang sebagai simbolnya.


Fraksi Bayangan, memiliki insignia yang terbuat dari logam berwarna merah darah yang berbentuk segi delapan serta menggunakan ukiran tengkorak sebagai simbolnya.


Fraksi Netral,memiliki insignia yang terbuat dari emas murni yang berbentuk segi delapan serta menggunakan angka romawi untuk menunjukkan nomor peringkatnya.


Walaupun berbeda-beda, setiap fraksi memberikan penomoran yang sama untuk para pemegang Insignia. Dengan angka terkecil diberikan kepada mereka yang ‘lemah’ sementara semakin besar nomor mereka maka itu berarti


semakin kuat juga mereka.


Angka terkecil adalah 1 sementara yang tertinggi adalah 8.


“Sebenarnya masih ada dua angka lagi. Tapi itu di khususkan kepada Wakil Ketua serta Ketua dari fraksi”


Menyelesaikan penjelasannya, Winter hendak mengangkat gelasnya namun dihentikan oleh Chic “Jadi, alasan kenapa kita mendapatkan Quest ini...”.


“Benar” jawab Winter singkat “Ini adalah tes untuk menilai apakah kita pantas untuk menjadi pemegang Insignia”.


“Kau pasti bercanda...” menyandarkan tubuhnya ke atas meja dengan lelah, Chic sampai peduli setan dan merenggut gelas milik Winter untuk dia minum sendiri.


Masih teringat jelas di kepalanya tentang bagaimana pertemuannya dengan dua orang pemegang Insignia.


Yang pertama hampir saja merenggut nyawanya sementara yang terakhir mampu membuat bulu kuduknya merinding hanya dengan berdiri saja.


Semua hal itu membuat Chic yang masih trauma untuk berusaha melupakan semua pengalaman buruknya dengan segelas bir murah.


Tanpa memedulikan rasa terbakar di tenggorokannya Chic menenggak habis isi gelas Winter yang sebenarnya baru saja di isi ulang. Menghabiskan sampai tetes terakhir, gelas itu di banting keras ke atas meja “jAdi... SiApa taRget Khita Kaly inhi?”.


Melihat satu gelas saja sudah cukup untuk membuat Chic menjadi seperti ini, tanpa berpikir dua kali Winter langsung menilai kalau tidak baik untuk melanjutkan pembicaraan.


“Chic, bagaimana kalau kau pulang dulu? Besok baru kita lanjutkan, yah?”


Ngambek, Chic langsung berulah “Umhn... Cekalang! Nyomnv sekangang!!!”.


“Kau ngomong apa sialan!”


Melemparkan koin ke atas meja, dengan 45 STR miliknya Winter menyeret tubuh Chic keluar kedai sembari menutup mulutnya agar berhenti membuat keributan.


Setelah menyerahkan Chic kepada penjaga di toko The First Night, Winter yang kelelahan memutuskan untuk Log Out saja.


...


Berbaring di atas sofa di ruang rekreasi dengan Tablet di tangan, Eira mencoba melihat-lihat forum namun tidak menemukan hal yang menarik... Atau bahkan yang berguna.


“Dasar mesum” tidak peduli seberapa jauh dia mencari, pembicaraan hanya berfokus pada hal-hal tidak berguna seperti ‘Toko’ mana yang menawarkan gadis terbaik, siapa gadis yang paling cantik, semok, dan semacamnya, sampai mereka pada sibuk menyombongkan tentang pengalaman pertama mereka yang sekilas saja Eira tahu kalau mereka hanya melebih-lebihkan saja.


Ingin sekali Eira melihat forum sebelah. Hanya saja itu mustahil mengingat kalau setiap akun hanya mampu untuk melihat forum dari fraksi masing-masing.


“Apakah aku harus membuat akun baru?” mencoba peruntungannya, Eira baru saja beranjak dari sofa ketika telepon rumah berdering.


Mumpung dia dekat, Eira pun mengangkatnya “Halo, kediaman Adiratna” menjawab dari sisi lain telepon adalah suara seorang pemuda “Oh, kakak? Ibu mana?”.


Orang dari balik telepon tidak lain dan tidak bukan adalah adik dari Eira yang saat ini seharusnya masih berada di Asrama khusus laki-laki.


“Eh, Adek. Apa kabar? Sudah dapat pacar baru?”


“Kami masih belum putus!”


Berkat dirinya yang sering berbaring sendiri di dalam kamar, membuat Eira sering kali merasa bosan dan kesepian. Hanya ada sedikit kegiatan yang bisa dia lakukan untuk mengusir rasa bosannya.


Dan salah satu kegiatan itu adalah menggoda adik lelakinya yang empat tahun lebih mudah darinya.


Puas menggoda adiknya yang baru masuk SMA, Eira pun akhirnya menanyakan alasan kenapa adiknya menelepon. “Jadi begini, apakah kakak tahu tentang game baru bernama New Frontier Online?”.


Singkat cerita, adik Eira telah bermain NFO sejak update terbaru. Yang berarti dia baru bermain selama dua hari ini.


Karena masih berada di asrama, dia bermain menggunakan perangkat VR pinjaman dari teman sekamarnya yang saat mau bermain dia malah sakit demam. Dan karena temannya itu sekarang sudah sehat...


“Jadi ceritanya kau mau minta uang jajan dari Mama yah?”


“Aku tidak meminta yang mahal. Helm VR keluaran terbaru harganya hanya 5 juta saja. Segitu seharusnya tidak apa-apa kan?”


Menyadari kalau adiknya ternyata tidak tahu kalau orang tua mereka telah memberikannya Kapsul VR yang harganya 1 Miliyar, membuat Eira merasa ingin menjahili adiknya yang masih lugu lebih jauh lagi.


“Tentu saja... Ngomong-ngomong kau Log In menggunakan akunmu yang biasa kan? Juga, Job apa yang kau punya serta ikut fraksi mana kau?”


“Akun masih sama, Job Squire. Kalau fraksi... Hei, kak. Bertanya ini maksudnya apa?”


“Squire? Oke! Nanti kakak bilangin Mama kalau adek minta uang jajan” tidak lagi menghiraukan panggilan dari adiknya, Eira segera menutup telepon.


Mengambil kembali Tabletnya, tanpa ragu Eira masuk menggunakan akun dari adiknya yang passwordnya sudah lama dia ketahui. “Bingo!” melihat kalau adiknya memang adalah anggota dari fraksi cahaya, sebuah senyuman


cerah tercipta di wajah Eira.


•·         (NFO) Warrior in Training


Kian hari semakin banyak yang bermain


•·         (NFO) Lone Samurai


Yang patut untuk disyukuri adalah hanya sedikit dari mereka yang membuat masalah


•·         (NFO) Knight on Duty


Memang benar. Mengingat fraksi di bagi berdasarkan kepribadian, kurasa para Pemain buruk langsung di kirim ke Fraksi Bayangan.


Senang karena akhirnya bisa melihat nama yang akrab, Eira terus mencari hingga akhirnya menemukan topik pembicaraan yang dia anggap berguna.


•·         (NFO) Master Appraiser


Aku tidak pernah menyangka kalau ternyata ada NPC sekuat itu


•·         (NFO) Ranger of The Forest


Itu benar. Tampaknya NPC di game ini bukanlah pajangan biasa. Salah sedikit kau bisa di bantai oleh mereka


•·         (NFO) Maiden Cleric


Bicara soal NPC, apakah kalian tahu tentang Kapten Gladius?


Oh, Kapten Gladius... Sungguh betapa tampan dan gagah dirimu


·•         (NFO) Newbie Caster


Aku tahu namamu itu ‘Maiden’ tapi...


•·         (NFO) True Paladin


•·         (NFO) Maiden Cleric


Benar sekali!!!!


Oh, Kapten Gladius... Sosokmu yang gagah berani menyelamatkan hati yang lemah ini...


•·         (NFO) Newbie Warrior


Pantes...


“Kapten Gladius yah...”


Tertarik, Eira mulai menyelidiki lebih jauh lagi dan mendapatkan banyak hal.


Dari yang penting seperti ciri-cirinya, Job apa yang dia miliki berserta berapa Total Levelnya. Hingga ke hal-hal yang tidak penting seperti apa warna kesukaannya, makanan apa yang dia suka dan tidak suka, apa yang dia lakukan sehari-hari (Ini mungkin penting) hingga ke informasi yang paling krusial.


“Pemegang Insignia!” teriak Eira yang bahagia setelah menemukan informasi terpenting yang sangat ingin dia dapatkan.


Dia berteriak sangat keras hingga Ibunya yang berada di ruang sebelah mendengarnya.


“Eira...! Itu teriak ada apa?”


“Enggak ada apa-apa!”


Mengalihkan kembali pandangannya kepada layar Tablet yang dia pegang, tidak pernah Eira merasa bersyukur seperti ini karena tingkah dari gadis yang sedang kasmaran. “Terima kasih, Maiden Cleric. Dan maaf, cerita cintamu akan berakhir di sini” mencatat semua yang perlu dia ketahui pada catatan, Eira kembali ke kamarnya untuk kembali Log In.


“Ah, hampir lupa” singgah sebentar ke Kamar orangtuanya, Eira menemukan sosok Ibunya yang sedang sibuk mencatat pengeluaran keluarga mereka pada bulan ini.


Tanpa basa-basi Eira segera menjelaskan alasan kedatangannya “Mama, tadi adek minta uang jajan 5 juta buat beli Helm VR”. Jelas saja itu membuat Ibu Eira yang sedari tadi fokus dengan catatan di hadapannya langsung berhenti dan mengalihkan pandangannya kepada Eira sembari menunjukkan ekspresi seolah meminta penjelasan lebih lanjut.


Jika itu adalah orang biasa, maka orang tersebut pasti akan berkeringat dingin setelah melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Ibu Eira. Tapi, karena pada akhirnya adiknyalah yang akan terkena masalah dan bukan dirinya, membuat Eira tidak perlu untuk merasa takut hingga dirinya dapat dengan mudahnya menjelaskan panjang lebar alasan kenapa adiknya membutuhkan mesin VR.


Tentu saja sebagai seorang kakak yang baik, Eira menjelaskannya dengan cara yang melebih-lebihkan.


Hasilnya... “Itu anak! Katanya mau fokus belajar tapi akhirnya malah...” ...mengambil Smartphone yang diletakkan di samping ranjang, tidak perlu disebutkan lagi siapa yang akan dia panggil.


Melihat kalau dia telah menunaikan tugasnya, Eira pun segera kembali ke kamar dengan perasaan gembira sementara sebuah teriakan keras terdengar di belakangnya.


...


“Kan sudah aku bilang, target kali ini jauh lebih lemah dari dua pemegang Insignia yang pernah kita temui!”


“Tapi fakta kalau dia adalah pemegang Insignia tetap tidak akan berubah!”


Sudah sejam lebih semenjak perdebatan ini berlangsung.


Menggunakan kereta kuda yang mereka ambil dari Quest mereka yang sebelumnya, Winter dan Chic sedang dalam perjalanan menuju kota Virtue, sebuah kota yang dikuasai oleh fraksi cahaya demi bisa menjalankan


sebuah Quest spesial.



Difficulty : -


Client : Shadow Fraction


Buktikan kelayakanmu.


Habisi seorang pemegang Insignia dari fraksi lawan dan pulang dengan membawa buktinya.


Prize :


-          1.000.000 G per orang


-          Menjadi seorang Pemegang Insignia


Time Limit : Tidak ada


Menunjukkan kembali Quest yang dia terima, Winter masih berusaha untuk meyakinkan Chic yang bersikap pesimis “Di sini hanya tertulis ‘Habisi seorang pemegang Insignia dari fraksi lawan’ tidak pernah disebutkan peringkat apa yang harus kita bunuh!” demi meyakinkan Chic, Winter sampai menunjukkan data profil seseorang.


Nama : Gladius Guard


Penampilan :


Seorang pria muda dengan rambut pirang dan mata berwarna biru. Tinggi 176 cm. memiliki tubuh atletis serta memiliki bekas luka sayatan di lengan kanannya. Mengenakan Armor dan Senjata yang umum digunakan oleh Kesatria lainnya meski dia adalah seorang Kapten.


Informasi tambahan :


Seorang pemegang Insignia tingkat 1 dari fraksi cahaya.


Biasa terlihat berjaga di salah satu desa kecil di barat daya kota Virtue karena itu adalah tanah kelahirannya. Populer di kalangan perempuan dan sering kali ditemukan sedang melatih anak-anak desa pada pagi hari di pinggiran desa.


Perkiraan total Level : (27)?


Job yang dimiliki : Warrior (10)? Knight (3)? Defender (9)?


Ras : Human (5)?


Perkiraan Stats berdasarkan Job yang dimiliki :


(HP : 1.125) (MP : 235) (STR : 285) (VIT : 375) (AGI : 50) (DEX : 35) (INT : 35) (MND : 35)


Melihat semua informasi ini, Chic hanya bisa di buat heran bagaimana bisa Winter bisa mendapatkannya terlebih informasi ini terlewat lengkap.


“Apakah pria aneh itu yang memberikan informasi ini?”


Winter pun menggelengkan kepalanya “Ini adalah hasil usahaku sendiri... Ada seorang gadis kasmaran yang memiliki sifat stalker yang memberitahukan semua ini”.


“Ah” mengira Winter menyiksa gadis malang itu demi informasi, Chic tidak akan menanyakan lebih jauh lagi. Melainkan dia akan mengganti topik “Tetap saja, jika informasi ini benar, maka levelnya jauh lebih tinggi dari kita. Apakah kau yakin kita bisa menang?”.


Total level Chic yang sekarang adalah 15. Sedangkan Total Level Winter adalah 21.


Walau perbedaan Total level antara Winter dengan Gladius adalah 6, tapi perbedaan Level Gladius dengan Chic adalah 12 yang mana itu berarti ada selisih 10 level di antara mereka berdua. Menggunakan logika RPG dasar, selisih 10 level adalah sebuah perbedaan yang sangat besar.


“Dengan VIT dasar yang setinggi itu, aku ragu aku bisa mengurangi bahkan 1 saja HP miliknya terkecuali entah bagaimana aku bisa menusuknya dari belakang dan mengenai tepat di bagian vitalnya!”


“Dan kau hanya tinggal melakukan itu”


“Tapi dia punya lebih dari seribu HP! Mustahil aku bisa menghabisinya dengan sekali serang!”


Sebuah perdebatan sengit kembali terjadi di antara mereka berdua. Terlihat tidak ada satupun dari mereka yang ingin mengalah.


Tepat di saat mereka sedang asyik berdebat, terlihat di kejauhan sesosok pria yang berpakaian seperti pengelana dengan sebuah tas besar di punggungnya sedang mengancungkan tangannya seolah meminta tumpangan.


Tentu saja Winter dan Chic sama-sama melihat ini. Dan walau sedang berdebat, mereka sama-sama setuju untuk tidak akan memberikan tumpangan.


Sampai ketika mereka cukup dekat untuk melihat sosok pria itu dengan jelas, Winter segera menarik tali pelana yang membuat kedua kuda yang menarik kereta langsung menghentikan langkah mereka.


“Hei, Winter, ada apa?” sama seperti biasa, Winter tidak mengindahkan pertanyaan dari Chic. Matanya hanya fokus pada Equipment yang pria itu kenakan.


Di balik mantel yang dia kenakan, adalah sebuah Equipment yang umum dikenakan oleh Petualang yang sering dia lihat di Guild. Di pinggangnya adalah dua buah pedang besi dengan kualitas Uncommon. Wajahnya yang tertutup kain hanya memberikan sedikit celah yang menunjukkan sepasang mata merah yang sedikit lebih gelap dari mata Winter.


Tidak salah lagi, Equipment yang pria itu kenakan adalah Equipment yang sama dengan yang dikenakan oleh pria bertopeng kayu yang berpapasan dengan mereka di toko Genie.


Walau sebelumnya Winter tidak mampu melihat matanya, tapi tatapan tajam yang pria itu berikan sama dengan yang sekarang diberikan oleh pria di hadapannya.


Tanpa ragu Winter segera menyapanya dengan seringai di wajah “Oh, ya ampun. Kita ternyata berjumpa lagi. Apakah kau tidak jadi membeli Equipment baru atau memang sedang menyamar? Yah, bukan berarti aku pantas mengatakannya” memberikan gaya yang berlebihan, Winter menunjukkan pakaian gadis desa yang sekarang sedang dia kenakan.


Melirik ke samping, Chic sekarang juga sedang mengenakan pakaian selayaknya seorang gadis desa. Tidak perlu ditanyakan lagi dari mana mereka mendapatkan pakaian itu mengingat mereka belum lama ini baru saja menjarah satu desa.


Setelah di sapa oleh Winter, reaksi dari pria itu adalah meraih kedua pedang di pinggangnya “Tunggu dulu...” belum sempat dia menghunuskannya, Winter segera menghentikannya “Kau mau menumpangkan? Ayo naik”.