
Menyelesaikan semua pekerjaan rumah yang diserahkan kepadanya, barulah Akmal bisa memiliki waktu bebas yang langsung dia pergunakan untuk bermain game karena dia sudah berjanji dengan teman-temannya yang lain.
Berawal dari iklan di TV, Akmal langsung terpincut akan sebuah game keluaran terbaru yang bernama New Frontier Online (NFO).
Sudah lama dia bermimpi untuk bisa berpetualang di dunia fantasi bersama rekan-rekan yang setia menemaninya.
Melawan Mobs ganas, menyelamatkan warga lokal yang kesusahan, hingga menolong sang Tuan Putri yang tercinta. Banyak sekali daftar hal yang Akmal ingin lakukan tapi tidak akan pernah kesampaian jika dia masih
berada di dunia nyata.
Akan tetapi, semua itu bisa dia lakukan di dalam game.
“Kali ini pasti...”
Setelah dibuat kecewa oleh game-game terdahulu yang memiliki alur cerita yang telah ditentukan sejak awal, NFO menawarkan rasa petualangan yang asli tanpa ada hambatan apapun. Selama kau memiliki kekuatan serta keinginan yang kuat untuk melakukannya, maka tidak akan ada yang tidak bisa kau gapai.
Berganti mengenakan pakaian santai, Akmal berbaring di atas ranjang yang rapi dengan Helm VR yang dibelikan oleh Hara kepadanya.
...
Memulihkan matanya dari cahaya terang yang menyilaukan, ketika tersadar Akmal sudah berada di tengah hutan yang lebat.
Baru saja menyelesaikan proses pembuatan karakter, Akmal kini dikirim ke dalam hutan untuk memulai proses tutorial.
Tubuh yang tidak terlalu tinggi namun sedikit berotot, rambut hitam pendek yang di sisir rapi, mata bulat berwarna hitam, serta wajah muda bagaikan seorang bayi yang sangat populer di kalang wanita adalah penampilan Akmal yang biasa.
Terkecuali wajahnya yang masih sama, rambutnya kini menjadi pirang serta matanya kini menjadi biru. Tingginya tetap sama terkecuali tubuhnya kini terlihat lebih atletis.
Sontak saja itu membuat penampilannya yang disenangi banyak gadis menjadi lebih mematikan. Terlebih dia yang selalu tersenyum ramah kepada siapapun yang dia temui, tidak terbayang berapa banyak gadis yang akan mampu menahan godaan darinya.
Mengenakan pakaian khas pemuda yang baru keluar dari desa, Akmal yang kini mengambil nama sebagai Fantasia mendapati sebuah pedang kayu menggantung di pinggangnya.
Melihat pedang kayu itu dari dekat, sebuah tawa keluar dari mulutnya “Jadi nostalgia. Dulu juga pas baru memulai aku hanya diberikan ranting kayu” mengingat game RPG jadul yang pernah dia mainkan, Fantasia pun meletakan pedang kayu itu kembali ke pinggangnya dan memandang lurus ke arah jalan setapak yang ada di hadapannya.
Tidak ada peta ataupun arah panah yang menunjukkan kemana dia harus menuju, Fantasia pun memutuskan untuk maju mengikuti kemana arah jalan setapak ini menuntunnya.
Kurang dari lima menit berjalan, Fantasia yang tidak menemukan kendala apapun akhirnya tiba di sebuah rumah kecil dari kayu yang di depannya terdapat sebuah taman kecil yang dihiasi oleh bunga warna-warni nan indah.
Menganggap kalau ini adalah tempat dia harus menuju, tanpa ragu Fantasia pun memasuki pekarangan rumah sambil menikmati pemandangan bunga yang dirawat dengan sepenuh hati hingga dia akhirnya sampai di depan
pintu rumah yang dihiasi oleh karangan bungan yang cantik dan harum.
Tok... Tok... mengetuk pintu dengan lembut, Fantasia sabar menunggu hingga akhirnya pintu dibukakan.
Mengenakan kebaya putih sambil membawa sebuah buku tebal di tangannya adalah seorang wanita cantik dengan rambut hitam yang di sanggul serta merias wajahnya dengan senyuman yang meluluhkan hati setiap pemuda yang melihatnya.
Tidak terhitung sudah berapa banyak Pemain baru yang terpincut setelah melihat parasnya yang ayu. Tidak sedikit juga ada Pemain yang langsung melamarnya di tempat karena tidak mampu menahan godaan yang ada di hadapannya.
Tentu saja mereka semua ditolak di tempat.
Namun, berbeda dari semua pendahulunya. Fantasia masih bersikap biasa saja dan tetap menjaga senyuman di wajahnya sembari dia memulai pembicaraan.
“Selamat siang, maaf kalau mengganggu. Tapi bisakah Anda memberitahukan di mana Kota terdekat?” mengikuti semua nasehat yang dia baca di Forum dan laman resmi NFO, Fantasia sukses memulai prosedur tutorial dengan baik dan benar.
Setelah dipersilahkan untuk masuk, Fantasia pun menikmati secangkir teh herbal sembari berbincang-bincang santai hingga akhirnya dia dipersilahkan untuk memilih Job keduanya. Karena pilihannya sudah bulat, tidak butuh waktu yang lama sebelum akhirnya Fantasia pamit undur diri untuk menuju Kota Virtue.
...
“Tahan, mana identitasmu?”
“Maaf, aku ini pendatang baru”
“Ah, Outsider yah. Masuk saja...”
Melewati penjaga gerbang, Fantasia akhirnya menginjakkan kakinya ke dalam kota dari Fraksi Cahaya, Kota Virtue.
Kagum akan arsitektur kota abad pertengahan yang indah khas dunia fantasi. Fantasia berakhir pelanga-pelongo bagaikan anak kampung yang baru tiba di kota besar.
Tidak ada yang bisa mengejeknya.
Dikarenakan hal ini umum di kalangan para Pemain yang juga baru tiba di kota sehingga ini adalah pemandangan umum yang bisa kau lihat di mana saja. Terlebih ini adalah hari pembukaan untuk masyarakat umum. Tidak terhitung berapa banyak Pemain yang saat ini menunjukkan ekspresi yang sama dengan Fantasia.
Terhanyut menikmati pemandangan yang baru pertama kali dia lihat, tanpa tersadar Fantasia sudah tiba di alun-alun kota.
Di tengah alun-alun kota adalah sebuah air mancur dengan patung seorang wanita bercadar sedang menuangkan air dari dalam kendi yang dia bawa. Di sekeliling air mancur adalah para Pemain yang sedang sibuk menjajakan produk mereka di lapak mereka masing-masing serta orang-orang yang sedang berkumpul bersama baik itu mereka yang membuat Party untuk berpetualang bersama atau mereka yang sedang menunggu rekan mereka untuk datang atau mereka yang hanya sekedar bersantai membuang-buang waktu sambil menikmati pemandangan
kota yang indah.
Duduk di pinggiran air mancur adalah seorang gadis muda dengan rambut merah sedang termenung seolah sedang memikirkan masalah dunia. Tentu saja Fantasia langsung menyapa gadis tersebut “Ruru!” memanggil namanya, gadis itu segera menoleh dan langsung menampilkan ekspresi bahagia setelah melihat sosok Fantasia yang sedang mengangkat tangannya tinggi di udara.
Bangkit dan berdiri, Ruru berlari bagaikan terbang menuju langsung ke arah Fantasia sambil membentangkan kedua tangannya lebar-lebar bagaikan meminta sebuah pelukan hangat.
Tampak sudah terbiasa akan sikap Ruru yang seperti ini, Fantasia pun langsung ikut membentangkan kedua tangannya demi menyambut Ruru dan mereka pun saling berpelukan.
Melihat mereka berdua yang saling berpelukan mesra di tengah keramaian, sudah bisa ditebak bagaimana reaksi para Pemain yang ada di sekitar.
“Tch, pamer”
“Punya pacar satu aja udah sombong”
“Kalo mau mesra-mesra ke hotel saja sana jangan di sini!”
Masih berpelukan seolah tidak mau lepas, kemesraan mereka berdua semakin menambah tatapan tajam dari orang-orang di sekitar. Sedikit mereka tahu kalau ini hanya permulaan saja.
“Ei!” muncul entah dari mana adalah seorang gadis tinggi dengan wajah bule lengkap dengan rambut pirang panjang serta sepasang mata sebiru lautan. Terkecuali jubah putih yang dia kenakan, sosoknya sama persis seperti dirinya di dunia nyata.
Benar sekali, dia adalah Lilian yang kini menggunakan nama Angel.
Selagi Ruru memeluk Fantasia dari depan, Angel yang tidak mau kalah langsung memeluk Fantasia dari belakang. Berbeda dari Ruru, Fantasia dapat dengan jelas merasakan dua buah gunung yang menekan punggungnya dengan lembut.
Sebagai seorang pemuda yang sehat, tentu saja Fantasia mulai salah tingkah. Berusaha untuk mengalihkan sekaligus membersihkan pikirannya, Fantasia berusaha untuk melerai Ruru dan Angel yang mulai kembali saling bertengkar.
Reaksi orang sekitar?
“Pamer aja terus!”
“Si bangsat punya dua?”
“Gw iri bangsat!”
Untungnya Ruru dan Angel sedang sibuk bertengkar sementara Fantasia sedang sibuk untuk melerai mereka berdua sehingga tidak ada dari mereka yang mendengar seruan para Pemain yang sedari tadi mengamati mereka.
Jika satu saja bisa membuat mereka iri, maka dua akan membuat mereka murka.
Sayang beribu sayang, ini masih belum selesai.
Dari arah gerbang kota datang tiga orang gadis lainnya yang berjalan bersama.
Yang paling depan adalah seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang diikat gaya ekor kuda dengan ekspresi serius terpampang di wajahnya. Equipment yang dia kenakan mirip seperti apa yang Fantasia kenakan namun dengan tambahan sebuah perisai bundar kecil yang terbuat dari kayu di punggungnya.
Selanjutnya adalah seorang gadis cantik dengan rambut pirang panjang serta sepasang mata indah berwarna hijau jamrud. Equipment yang dia kenakan berupa versi lebih minim dari Equipment yang Fantasia dan gadis yang sebelumnya kenakan. Terlihat juga sebuah busur pendek dari kayu serta sebuah quiver kecil di punggungnya.
Yang terakhir adalah seorang gadis yang seksi dan cantik yang penampilan luarnya tidak kalah dari gadis yang ada di sampingnya. Rambutnya hitam panjang dengan mata yang tajam. Mengenakan jubah lebar, dia membawa sebuah tongkat kayu di tangannya.
Dari yang pertama adalah Susan sebagai Mars, Hara sebagai Rosalia, dan yang terakhir tentu saja Agatha yang kini menggunakan nama Harkness.
Pada awalnya tidak banyak yang memperhatikan mereka karena kebanyakan Pemain yang ada sibuk mengutuk Fantasia yang secara terang-terangan bermesraan dengan dua orang gadis cantik di depan umum.
Baru setelah mereka bertiga bergabung bersama Fantasia, barulah keberadaan mereka diperhatikan banyak orang.
Jika satu saja bisa membuat mereka iri, maka dua akan membuat mereka murka.
Lalu, bagaimana jika ada lima?
“LEPASKAN AKU! AKAN AKU BERI BAJINGAN ITU PELAJARAN!!!”
“Sabar bro sabar! Nanti kau di tahan Penjaga!”
“...hei, kalau tidak salah ada Job yang ahli dalam mengutuk orang kan?”
“Maksudmu Shaman? Tentu saja ada. Aku bahkan tahu di mana kita bisa mendapatkannya”
“Bagus sekali, mari kita pergi bersama”
Tidak seperti yang sebelumnya, Mars dan Rosalia dapat dengan jelas mendengar perbincangan orang-orang mengenai mereka. Akan tetapi, karena sudah terbiasa mereka pun sama-sama tidak memedulikannya.
Setelah saling berkumpul dan bertukar pertemanan, mereka berenam pun bersama-sama menuju Guild Petualang untuk mendaftar sebagai Petualang.
...
Berjalan bersama menuju Guild Petualang, mereka menghabiskan waktu dengan cara berbincang santai. “Namamu sekarang Mars yah, kenapa tidak Ares atau Athena seperti yang dulu-dulu?” menjawab pertanyaan ini, Mars hanya bisa mendesah pasrah “Sudah ada yang ambil. Makanya dengan terpaksa aku harus puas dengan Mars”.
Gaya penamaan Susan adalah berdasarkan nama Dewa Perang. Tidak peduli dari mana Dewa itu berasal, asalkan Dewa itu memiliki gelar atau kuasa akan perang, maka Susan akan senang menggunakannya.
“Ohh...” seolah tidak tertarik, mata Angel hanya tertuju pada Harkness.
Berbeda dari penampilannya yang biasa, tubuh pendek dan gemuknya kini berganti menjadi tubuh yang tinggi dan ramping. Pipi tembemnya kini menjadi tirus. Mata bulatnya kini menjadi tajam. Singkat cerita, dia kini menjadi sesosok gadis yang cantik setara dengan seorang model majalah mingguan.
Tidak perlu dikatakan lagi kalau sosoknya yang sekarang adalah model tubuh idamannya. Tahu benar kalau Agatha memiliki kompleks mengenai penampilannya, Angel memilih diam dan membiarkannya bermain sebagai Harkness dengan sepenuh hati.
“Oh iya, Job ku adalah Warrior dan Swordsman seperti yang sudah aku rencanakan. Bagaimana dengan kalian?”
Menjawab pertanyaan Fantasia. Angel, Mars, Rosalia, dan Harkness menjawab secara bergiliran.
“Hehe, aku adalah seorang Cleric dan juga Light Mage. Kalian bisa menyerahkan penyembuhan kepadaku”
“Defender dan Warrior. Sama seperti yang aku inginkan. Tentu saja, aku akan menjadi Tank”
“Walau sudah jelas, Archer dan Scout”
“Mage dan Red Mage”
Setelah semua orang selesai memberitahukan kedua Job mereka, kini hanya tinggal Ruru seorang “Aku? Aku ini Fighter!” menunjukkan gerakan tinju, Ruru berjalan lebih cepat seolah memaksa mereka untuk cepat-cepat sampai ke Guild petualang.
Tentu saja Angel tidak akan melewatkan hal ini.
“Barbarian” ucapnya pelan namun masih cukup keras untuk sampai ke telinga Ruru.
“Diam!” teriaknya keras “Aku dijebak oleh tante sialan itu!”.
Mengingat kembali pertemuannya dengan wanita cantik yang sama dengan yang Fantasia temui saat Tutorial. Ruru, yang tidak bersikap sopan seperti Fantasia, bukannya mengetuk terlebih dahulu tapi dia malah main masuk saja seperti sedang berada di rumah sendiri.
Tidak hanya itu, dia bahkan mulai mengobrak-abrik isi rumah berharap bisa menemukan item penyembuh atau hanya sekedar uang receh untuk jajan. Belum lagi di kepalanya sekarang terdapat sebuah kelopak bunga putih yang segar. Jelas kalau kelopak bunga itu baru saja dipetik.
NPC atau bukan, apa yang Ruru lakukan jelas bukanlah sebuah tindakan yang sopan menurut standar apapun. Jelas saja NPC cantik itu mulai kesal dan hendak mengusir Ruru dari rumahnya.
Apa yang Ruru katakan selanjutnya melengkapi semuanya “Hei, hei, apakah kau punya Quest atau sesuatu yang harus aku lakukan? Ah, juga, apakah kau tahu dimana aku bisa mendapatkan Job kedua secara gratis?”.
Tidak perlu dikatakan lagi Job macam apa yang dilemparkan ke wajah Ruru sebelum dirinya ditendang keluar dari dalam rumah.
Mendengar cerita dari Ruru, bahkan Fantasia pun tercengang sementara Angel sibuk tertawa lepas sambil menahan perutnya yang mulai sakit.
Tidak terima akan hal ini, Ruru pun mengutarakan satu atau dua pendapatnya.
...
“Selamat datang di Guild Petualang, apakah ada yang bisa saya bantu?”
Menyapa Fantasia dan kawan-kawan adalah seorang resepsionis wanita yang menyapa mereka dengan senyuman manis di wajahnya.
Sebagai perwakilan, Fantasia mengutarakan maksud kedatangan mereka kemari “Kami ingin mendaftar sebagai Petualang” jawabnya singkat dan langsung ke intinya. Namun senyuman di wajahnya yang seperti bayi yang imut membuat resepsionis wanita itu tersipu malu.
Tidak memperdulikan tatapan tajam dari kelima gadis di belakang Fantasia, resepsionis itu lalu menyerahkan formulir pendaftaran kepada Fantasia dan yang lain untuk di isi.
Selesai mengisi formulir yang diberikan, mereka pun masing-masing menerima pelat tembagayang bisa digantungkan di leher mereka dan tidak termasuk ke dalam kategori Accessories sehingga slot Accessories mereka masih aman.
Sukses menjadi seorang Petualang, dalam suasana hati yang riang mereka pun segera mengambil Quest pertama mereka.
Di arahkan ke papan bulletin, mereka berenam mulai berdiskusi akan Quest apa yang harus mereka ambil.
“Bagaimana kalau kita memulai dari yang paling mudah dulu?”
“Slime? Aku tidak tertarik”
“Setuju, bagaimana kalau pembasmian Goblin saja?”
“Kayaknya terlalu susah. Bagaimana kalau serigala saja?”
“Bukannya itu bakal lebih susah?”
“Memangnya antara serigala sama Goblin mana yang lebih susah?”
Setelah diskusi panjang, mereka pun sepakat untuk mengambil Quest pembasmian Goblin.
Difficulty : Copper
Client : Adventurer Guild
Tolong basmi Goblin yang berkeliaran di hutan di sekitar Kota.
Kalau bisa semakin banyak semakin baik.
Prize : 500 G per Goblin
Time Limit : 3 hari.
Walau sekilas bayarannya murah, tapi bayaran yang akan mereka dapat tergantung pada jumlah Goblin yang mereka basmi. Seperti yang sudah disebutkan, Semakin banyak akan semakin baik.
Keluar dari Guild Petualang, Fantasia sudah mau pergi untuk menyelesaikan Quest ini secepat mungkin.
“Tunggu” ucap Mars menahan Fantasia untuk segera pergi. Menunjukkan pedang kayu miliknya, Mars berkata “Kita beli Equipment dan Potion dulu”.
Atas perkataan Mars, mereka semua pun berhenti.
Tidak seperti 100 Pemain pertama yang memulai tanpa memiliki modal apa-apa, para Pemain yang bermain setelah Update akan diberikan modal awal sebanyak 10.000 G yang bisa mereka pergunakan sesuka hati.
Mengamati pedang kayu di pinggangnya, baru Fantasia tersadar kalau bertarung menggunakan pedang kayu bukanlah hal yang pintar.
Melihat kalau Fantasia mulai mengerti, Mars pun kembali menekankan “Kita juga harus membeli Armor, terutama aku sebagai Tank haruslah memiliki Armor yang kokoh” membantu Mars adalah Rosalia yang juga ikut menambahkan “Saat ini aku hanya punya 10 anak panah. Kalau bisa aku ingin beli banyak sebagai persediaan”.
Ruru, Angel, dan Harkness hanya bisa diam karena Job mereka tidak membutuhkan Equipment tambahan. Tapi memang benar kalau mereka juga membutuhkan Potion terutama MP Potion untuk Angel dan Harkness.
Melihat kawan-kawannya memiliki pemikiran yang sama, Fantasia pun setuju untuk singgah sebentar untuk membeli Equipment beserta persediaan untuk petualangan mereka.