
“Sungguh sebuah pilihan yang bijak” puji Genie kepada Equipment yang Winter pilih.
Genie mengatakan itu bukan hanya karena sebagai pemanis, tapi \ memang terlihat sangat cocok dikenakan oleh Winter.
Meski mendapatkan pujian, Winter tidak merasa tersanjung.
Itu karena dia tahu kalau Genie mengatakan itu hanya untuk mengalihkan topik pembicaraan “Kau setidaknya bisa memberikannya celana kau tahu?” ucapnya sambil melirik ke arah Chic yang dengan susah payah mencari sesuatu untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Memang benar kalau tubuh bagian atasnya tertutup oleh rompi kulit dan juga sebuah hoodie. Namun tubuh bagian bawahnya sangatlah terbuka karena semua orang mampu melihat ****** ******** yang berwarna hitam.
Walau memang Equipment Chic yang sebelumnya memiliki celana, tapi itu adalah bagian dari \ yang tidak bisa dikenakan secara terpisah.
“Maafkan kami...” ucap Genie dengan nada yang seolah-olah tidak bisa melakukan apa-apa lagi “Kebanyakan ‘Celana’ biasanya termasuk ke dalam set Equipment. Jarang ada yang di jual secara terpisah. Belum lagi ‘Celana’ biasanya termasuk ke dalam Outfit, yang berarti bahkan jika ada sekalipun tetap tidak bisa dikenakan di atas Outfit lainnya” yang mana tidak terdengar serius oleh Winter dan Chic.
“Oh, ayolah! Apakah kau benar-benar tidak punya atau hanya ingin melecehkanku!”
Chic yang hampir saja menerjang Genie mendapati dirinya dihalangi oleh Winter “Jangan, membuat musuh dengan pedagang di sini bukanlah hal yang bagus” yang mana itu membuat Chic seketika teringat di toko macam apa mereka berada sekarang.
Menilai tidak baik jika mereka berlama-lama di sini, Winter segera menarik Chic untuk keluar.
“Terima kasih atas pembeliannya. Silakan datang kembali”
Tidak mengindahkan Genie, mereka berdua telah sampai di depan pintu toko. Tepat di saat mereka mau keluar, mereka terhenti karena terdapat Pelanggan lainnya yang baru masuk ke toko.
Dia adalah seorang pria berbadan atletis yang mengenakan Equipment seperti Petualang pada umumnya sambil mengenakan sebuah Topeng kayu polos yang menutupi wajahnya. Terlihat juga dua buah pedang pendek di masing-masing pinggangnya yang memberitahukan dia adalah pengguna gaya pedang ganda.
Berkat ‘Keen Eyes’ Winter tahu benar kalau Equipmentnya hanya setingkat Common sementara kedua pedang pendek itu memiliki tingkat Uncommon.
Tanpa mengatakan apa-apa, mereka hanya saling berpapasan begitu saja.
Meski mengenakan topeng, Winter bisa merasakan dengan jelas kalau pria itu menatapnya dengan tajam dari balik topengnya.
...
“Ugh, aku benci perasaan ini” ucap Chic yang baru saja melewati pintu toko. Heran, Winter bertanya “Apakah kau tidak suka digelitik?” yang seketika di jawab “Gelitik dari mana! Badanku berasa dijilati kau tahu?”.
Menyadari kalau sensasi yang mereka rasakan berbeda, Winter menjadi tertarik sebelum akhirnya menampilkan ekspresi kecewa di wajahnya.
“Tampaknya aku tidak bisa Log In lebih lama lagi. Bagaimana kalau kita bertemu besok lagi?”
Sudah terbiasa dengan Winter yang sering sekali Log Out secara tiba-tiba, Chic hanya mengatakan “Ya, sampai jumpa besok” seolah paham kalau waktu Log In Winter itu terbatas.
Setelah menyaksikan tubuh Winter yang perlahan berubah menjadi butiran cahaya, Chic yang di tinggal sendiri segera menuju toko baju terdekat.
...
Dengan selembar kain hitam yang terikat di pinggangnya sebagai pengganti rok, Chic akhirnya mampu berjalan dengan santai di jalanan kota Shoddy yang masih ramai oleh banyak orang.
Sungguh beruntung sekali bagi Chic karena kain itu termasuk ke dalam kategori Accessories sehingga dia bisa mengenakannya. Jika tidak maka Chic di paksa untuk menanggung malu atas pakaian tidak senonoh yang baru saja dia beli.
“Masih ramai juga?”
Melihat toko ‘The First Night’ tempatnya dia bekerja dari kejauhan, Chic hanya bisa dibuat takjub oleh antrean para Pemain hidung belang yang sudah tidak sabar untuk menjadi pria sesungguhnya. “Padahal ini masih pagi...” walau sejatinya dia adalah seorang Prostitute, tetap saja Chic jadi malas kalau melihat antrean panjang ini.
Berniat untuk Log Out saja sembari menunggu antrean itu mereda... “Mau kemana kau?” ...Chic seketika terdiam kaku ketika sebuah telapak tangan memegang pundaknya dari belakang. Bahkan tanpa perlu menoleh ke belakang pun Chic sudah bisa menebak siapa identitas dari pemilik tangan itu.
Singkat cerita Chic kini sudah berada di dalam kamar pribadinya.
Berdiri sambil berkacak pinggang adalah seorang wanita berpakaian menyilaukan dengan wajahnya yang dilapisi oleh riasan yang mencolok namun masih terlihat menggoda.
Nama wanita tersebut adalah Diva.
Diva adalah pemilik dari toko ‘The First Night’ tempat Chic bekerja yang artinya dia adalah Bos dari Chic.
Dengan ekspresi kesal di wajahnya Diva memberikan sebuah ceramah penuh arti kepada pegawainya ini.
“Kau ini dari kemarin kemana saja?! Apakah kau tahu berapa banyak Pelanggan yang datang!? Tidakkah kau merasa kasihan kepada senior beserta rekanmu yang bekerja keras sampai lubang mereka sudah seperti selokan?”
Tidak mampu membalas perkataan Bosnya sendiri, Chic hanya mampu duduk bersujud di dalam kamarnya sembari mendengarkan ceramah yang masih terus saja berlanjut.
“Sungguh, aku sampai harus keluar uang untuk membeli budak karena kita kekurangan pegawai...”
Melirik ke luar kamar, dapat terlihat dua orang gadis dengan kerah besi di leher mereka serta hanya mengenakan kain goni sebagai penutup aurat. Satu orang gadis berambut cokelat dengan tampang biasa saja serta penuh dengan jerawat. Sementara gadis lainnya memiliki rambut merah panjang dengan wajah yang cantik jelita serta memberikan kesan seperti wanita yang dewasa.
Itu benar, mereka adalah Lulu dan Mona.
Tampak terlihat jelas kalau mereka berdua bergidik ketakutan ketika melihat wajah Chic. “Apa ini? Apakah kalian saling kenal sebelumnya?” heran, Diva pun meminta kejelasan yang mana ini bagaikan sebuah peluang emas bagi Chic untuk berhenti diceramahi.
Menerima penjelasan dari Chic, Diva hanya bisa mengangguk sambil berkata “Ah... Jadi begitu” dengan penuh pengertian.
“Jadi ini juga alasan kenapa kau berpakaian seperti bandit” melihat Equipment baru Chic, membuat Diva mempercayai sepenuhnya penjelasan dari Chic.
Menilai kalau tidak perlu lagi untuk menceramahi Chic, Diva hanya meminta Chic untuk segera bekerja menerima pelanggan sementara dirinya akan memberikan latihan singkat untuk Lulu dan juga Mona agar mereka juga bisa segera mulai bekerja.
Di tinggal sendirian di dalam kamar, Chic hanya bisa bernafas lega karena akhirnya terbebas dari ceramah yang tidak berujung. Tetap dalam posisi sujud untuk beberapa saat, Chic akhirnya bangkit dan mulai mengganti semua Equipment miliknya menjadi selembar gaun cokelat pendek yang hanya mencapai bagian atas lututnya.
Tok... Tok... Tok... mendengar ketukan di pintu kamarnya, Chic segera berakting menjadi seorang pelacur berpengalaman.
...
Ketika Bulan telah menggantikan Matahari, barulah antrean para Pemain hidung belang berakhir yang itu berarti pekerjaan Chic pada hari ini juga telah selesai.
Para Pemain pergi bukan karena hari sudah malam, tapi karena toko di paksa untuk tutup karena jumlah pelanggan yang melewati batas wajar sudah membuat para pegawai kewalahan dan tidak lagi bisa memberikan pelayanan secara maksimal.
Demi menjaga kesehatan para pegawainya, dengan terpaksa Diva menutup tokonya walau malam hari seharusnya adalah saat di mana tokonya bersinar paling terang.
“Datang lagi kapan-kapan♪” melambaikan tangan kepada pelanggan terakhirnya pada hari ini, Chic akhirnya bisa bernafas lega sembari berbaring di atas kasur yang sudah menjadi medan tempurnya seharian ini.
Selesai menghitung uang tip yang dia dapatkan, Chic segera bangkit untuk merenggangkan badannya sebelum keluar kamar untuk melaporkan hasil pekerjaannya kepada Diva.
Tiba di depan ruangan yang adalah kamar pribadi sekaligus kantor dari Diva, terlihat kalau para ‘Pegawai’ lainnya yang juga sudah selesai dan sekarang berdiri di depan pintu kamar Diva menunggu giliran mereka untuk membuat laporan.
Laporan ini penting sebagai survey tentang pelanggan seperti apa yang mereka dapatkan pada hari itu sekaligus sebagai sarana para Perempuan di sini untuk melaporkan apa yang mereka suka dan apa yang mereka tidak suka mengenai pelanggan yang mereka layani.
Sembari menyapa rekan kerjanya yang lain, Chic menemukan dua sosok yang baru pertama kali dia lihat.
Yang pertama adalah gadis pendek dengan pinggul yang agak lebar. Rambutnya hitam panjang yang di potong rapi serta wajahnya yang polos memberikannya kesan seperti seorang murid teladan jika saja dia mengenakan seragam sekolah.
Sedangkan gadis satunya bertubuh tinggi langsing bagaikan model namun rambutnya yang berwarna merah bata yang di potong pendek serta tatapan matanya yang tajam memberikannya kesan seperti seorang gadis tomboy.
Apa yang mereka berdua kenakan adalah gaun putih bersih yang kini sudah tampak kekuningan.
Gaun putih adalah penanda kalau mereka berdua adalah pegawai baru sedangkan fakta kalau gaun itu sudah kotor menandakan kalau seharian ini mereka berdua telah bekerja keras.
Walau ini adalah pertama kalinya Chic melihat mereka, melihat dari ekspresi mereka sudah lebih dari cukup bagi Chic untuk mengetahui kalau kedua gadis itu sama seperti dirinya.
Melihat kalau antrean masihlah panjang, Chic pun menyempatkan diri untuk menyapa kedua junior barunya itu “Halo, kalian baru di sini yah?” mengeluarkan nada yang ramah, membuat kedua orang itu yang awalnya terkejut menjadi tenang dengan seketika dan membalas salam dari Chic.
“Ah, iya. Halo...”
“Ooh... Jadi NPC di sini memang ramah-ramah yah...”
Si gadis teladan membalas dengan canggung sementara si tomboy malah salah mengira kalau Chic sebenarnya adalah seorang NPC.
Yang pertama kali menjawab adalah si tomboy “Juicy, 22 tahun” yang tidak lama kemudian giliran si gadis teladan “Prim... 16 tahun” wajahnya tampak memerah malu karena baru tahu kalau Juicy itu ternyata jauh lebih tua darinya.
Chic juga sempat terkejut karena wajah dan umur Juicy itu jauh berbeda. Tapi dia lebih terkejut setelah kedua Juniornya ini memberitahukan umur mereka walau tidak di minta.
“Aku memberitahukan umurku agar bisa tahu umur Prim yang sebenarnya. Seperti yang aku duga, dia terlalu muda untuk ini” ucap Juicy sembari menatap Prim dengan kedua matanya yang tajam.
Bagaikan seorang anak yang ketahuan menyimpan majalah porno oleh Ibunya, Prim merasa malu bukan kepalang hingga dia hampir menangis.
“Sudah-sudah...” ucap Chic setelah melihat air mata yang mulai menetes di sudut mata Prim “Game ini memang memiliki rating dewasa serta tidak memiliki batasan usia jadi tidak ada yang bisa menghalanginya... Juga, Prim ini masih muda, gadis sepertinya masih di masa di mana dia ingin tahu segalanya” usaha Chic membuahkan hasil setelah melihat Prim yang tidak lagi ingin menangis.
Sedangkan Juicy yang sadar kalau dia sudah kelewatan hanya bisa mengucapkan “Maaf” sebagai rasa penyesalannya.
Setelah situasi agak tenang, Chic lalu mengajak mereka berdua untuk berbicara bertiga.
“Sekali lagi perkenalkan. Namaku adalah Chic, 18 tahun. Aku sudah bekerja di sini sejak... 2 minggu yang lalu?”
“2 minggu? Apakah itu berarti kau adalah Pemain Beta?” setuju dengan pertanyaan Juicy, Prim pun mengangguk sambil memberikan pandangan takjub kepada Chic.
Perlu diketahui kalau semua Pemain yang telah bermain semenjak game ini di rilis dan sebelum update 1.2 dilangsungkan akan di cap sebagai Pemain Beta. Selain karena mereka bermain lama sebelum yang lain, secara tidak langsung mereka juga di cap sebagai orang kaya karena sebelumnya hanya orang kaya raya saja yang mampu membeli kapsul VR yang pada awalnya adalah syarat utama agar bisa memainkan game NFO.
Melihat kalau Chic yang adalah orang kaya memilih Job sebagai Prostitute pastilah sangat mengejutkan bagi mereka berdua.
“Ha-ha... Kau bisa menyebutnya seperti itu...” diam sebentar, Chic memandangi kedua juniornya dengan lembut “Walau agak terdengar aneh jika aku mengatakannya. Tapi, tidak aku sangka kalau ternyata akan ada Pemain lainnya yang akan mengambil Job ini”.
Mendengar ini, Juicy dan Prim saling pandang sebelum akhirnya sepakat untuk sama-sama memberitahukan alasan mereka mengambil Job ini.
Yang pertama kali bicara adalah Juicy “Jujur, sebenarnya aku mendapatkan Job Warrior. Hanya saja setelah aku melihat semua daftar Job yang tersedia, tanpa ragu aku langsung memilih Prostitute” sempat tertawa kecil, Juicy pun melanjutkan “Jika kalian penasaran kenapa aku memilih Job ini, itu karena pacarku yang sebelumnya mengaku kalau pelayanan yang aku berikan tidaklah memuaskan sampai-sampai dia selingkuh tepat di hadapanku”.
“Jahat sekali...”
“Heh, jadi kau rela menjadi Prostitute di game ini hanya untuk belajar bagaimana caranya memuaskan lelaki?”
Juicy pun mengangguk “Itu benar. Sekalian aku juga ingin memberitahukan kepada mantan pacarku itu kalau aku juga bisa menjadi seorang gadis yang diinginkan banyak pria!” dengan tekad yang berkobar, Juicy mengepalkan
tangannya ke langit seolah dirinya adalah tokoh utama dalam cerita yang baru menemukan tujuan hidupnya.
Kagum dengan tekad Juicy, Chic hanya bisa merendah “Aku kalah, aku mengambil Job ini hanya karena ini adalah pilihan yang muncul setelah menjawab semua pertanyaan itu” setelah Chic selesai mengatakan itu, barulah dirinya
tersadar kalau dia sudah tidak malu lagi untuk mengungkapkannya tidak seperti saat dia mengatakan ini kepada Winter.
“A-aku juga sama” sambil malu-malu Prim mengangkat tangannya “Job ini juga muncul setelah aku menjawab semua pertanyaan di pembuatan karakter”.
Untuk kali ini giliran Chic dan Juicy yang serentak memandangi Prim dengan pandangan tidak percaya.
“Kenapa selalu mereka yang terlihat paling teladan yang ternyata yang paling mesum?”
“Aku memang bilang kalau Prim itu masih di masa-masa ingin tahu segalanya...”
Mendapati dirinya menjadi pusat perhatian, rasa malu Prim semakin menjadi. Dia tidak lagi bisa duduk dengan tenang dan mulai berusaha untuk menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Menilai kalau tidak baik jika terus menyinggung masalah ini, Chic pun mengalihkan topik pembicaraannya.
“Oh, iya. Ngomong-ngomong apa Job kedua yang kalian pilih? Itu loh, yang dikasih sama Nenek-nenek pas pertama Log In”
Sadar kalau Chic berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan, Juicy dengan segera mengikutinya “Aku memilih Job Dancer. Alasannya karena sejak masih SMP aku selalu masuk ekskul tari!” berdiri, Juicy pun mulai memperagakan gerakan tari di hadapan Chic dan Prim.
Di saat Juicy selesai menari, suara tepuk tangan dan sorak-sorai menggema di lorong memuji tarian Juicy. Menengok ke belakang, barulah Juicy sadar kalau tariannya yang barusan telah di saksikan oleh pegawai lainnya yang masih sibuk mengantre.
Sambil mengucapkan “Terima kasih” kepada mereka, Juicy pun kembali berkumpul bersama Chic yang juga ikut memberikannya tepuk tangan dan juga Prim yang kini sudah kembali normal.
“I-itu tadi ba-bagus sekali...” puji Prim dengan takjub. “Itu benar. Jika saja toko ini memiliki panggung untuk menari kau pasti akan langsung populer” kali ini Chic yang memuji.
Dibanjiri oleh pujian, bahkan Juicy yang memiliki tampang cewek tomboy juga bisa tersipu malu.
“Kalian terlalu memuji... Hei, Prim, kalau kau ambil Job apa?”
Dengan malu-malu, Prim bangkit dan memejamkan matanya.
Melihat kalau prim hendak menampilkan sebuah pertunjukkan, semua orang yang ada menunggu dengan penuh antisipasi.
Setelah mengumpulkan semua tekadnya, Prim pun mulai membuka mulutnya “♪.... ♪ ... ♪ ... ♪” apa yang keluar dari mulut Prim adalah sebuah suara nyanyian yang merdu hingga menenangkan jiwa siapapun yang mendengarkannya.
Tidak lagi terlihat sosok Prim yang pemalu. Yang ada hanyalah seorang diva yang sedang menghantarkan sebuah nyanyian layaknya seorang bidadari dari khayangan.
Suara nyanyian Prim sangatlah merdu hingga membuat Diva yang sedari tadi berada di dalam kamarnya untuk keluar karena mendengar suara nyanyian yang merdu.
Bahkan Diva yang sudah mendengar berbagai macam syair dan nyanyian sampai di buat takjub oleh penampilan Prim yang sangat memukau.
Ketika Prim selesai bernyanyi, suara sorak-sorai yang jauh lebih besar dari sebelumnya pecah yang sontak membuat Prim terperanjak mendapati sudah banyak orang yang berkerumun.
Tidak mampu menahan rasa takjubnya, dengan cepat Diva mendekati Prim yang masih syok “Luar biasa... Sungguh luar biasa...!!!” tanpa memedulikan kondisi ataupun perasaan prim, Diva menggenggam kedua bahu Prim
dengan kencang seolah mencegahnya untuk bisa kabur. “Tempat ini terlalu kecil untuk bintang sepertimu!” dengan sekejap Diva segera menarik Prim keluar toko meninggalkan para pegawainya yang lain.
“Kalian boleh istirahat!” meneriakkan itu, sontak semua orang terkejut melihat tingkah atasan mereka.
...
Pada keesokan harinya.
Bertemu di kedai tempat mereka biasa minum, Chic menceritakan semua yang kemarin terjadi di toko kepada Winter yang sudah setengah mabuk.
Menghentakan gelasnya ke atas meja dengan keras, sebuah tawa pecah dari mulut Winter “Hahaha... Kau dikalahkan oleh Juniormu sendiri... Hehe, aku tidak tahu apakah kau harus malu atau senang karena ternyata masih ada yang lebih mesum darimu” puas tertawa, Winter kembali menenggak minumannya hingga habis.
“Jujur aku sendiri tidak tahu...” jawab Chic sebelum akhirnya meminum gelasnya yang berisi jus buah.
Setelah meminta gelasnya kembali di isi, Winter kembali bertanya “Jadi, bagaimana kabar juniormu yang satunya?”.
“Kalau Juicy sedang Log Out. Katanya dia itu punya pekerjaan jadi dia hanya punya waktu Log In yang terbatas”
“Begitu...” menerima gelas barunya, pandangan Winter tiba-tiba saja berubah serius “Orang aneh dari selokan itu kembali menemuiku”.
“Apa!” saking terkejutnya Chic sampai membanting meja dengan sangat keras. Tidak peduli akan gelas kosong yang terlempar dari atas meja ataupun semua pandangan tajam yang ditujukan kepadanya, Chic hanya peduli
dengan apa yang baru saja Winter ucapkan.
“Orang mengerikan itu kembali menemuimu? Apa yang kali ini dia inginkan?”
Diam, butuh waktu cukup lama bagi Winter untuk akhirnya menjawab pertanyaan dari Chic “...dia menawariku... Atau lebih tepatnya KITA untuk bergabung ke dalam organisasinya”.
Mendengar kata ‘Organisasi’ Chic pun menjadi terdiam.
Sebuah organisasi yang mampu menampung orang sekuat itu jelas bukanlah organisasi sembarangan. Chic masih ingat dengan jelas teror yang diberikan oleh orang misterius tersebut meski orang tersebut hanya berdiri tersenyum tanpa melakukan apa-apa.
Dan kini, orang tersebut menawarkan kepada mereka berdua untuk bergabung ke dalam organisasinya?
“Apakah kau menerimanya?” Winter pun mengangguk. “Tapi, ada syaratnya” menampilkan layar Menunya, Winter pun menunjukkan Quest yang baru saja dia terima.
“Ini?!” melihat Quest yang Winter terima, membuat Chic tidak percaya akan apa yang baru saja dia baca.
“Kau tidak salah. Quest kali ini mengharuskan kita untuk membunuh seorang pemegang Insignia”