A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 34 : Main Quest (3)



Dengan dunia yang seakan berhenti, Maria berlari sambil mengulurkan tangannya seolah ingin menggapai sosok yang ada di hadapannya.


Mencoba untuk berteriak, suaranya tidak lagi terdengar di telinga.


Berdiri di tengah orang-orang banyak. Seorang anak kecil dengan simbol hati di matanya menengadah ke langit sambil menunjukkan ekspresi gembira di wajah mudanya.


Kedua tangan kecilnya sedang membuka sebuah gulungan dan mengarahkannya ke langit-langit kuil.


Selain Sister Maria, tidak ada seorangpun yang menyadari apa yang anak itu sedang lakukan. Berkat itu, tidak ada seorangpun yang siap akan apa yang selanjutnya terjadi.


Pada akhirnya gulungan itu pun akhirnya terbuka dengan sempurna.


Apa yang ada di dalamnya adalah sebuah lingkaran sihir nan rumit yang memberikan nyala merah membara.


Setelah cahaya merah itu memenuhi seisi ruangan kuil, Spells tingkat ke-6 “Vermilion Nova” pun diaktifkan.


!!!...Booom...!!!


Ledakan besar terjadi di dalam ruang kuil yang tertutup.


Dampak dari ledakan itu sangatlah dahsyat hingga menghempaskan segala yang ada di sekitarnya.


Kapten Gladius, Iaido, serta semua orang yang masih bertarung sontak terkejut ketika kuil yang menjadi objek yang seharusnya mereka lindungi malah hancur begitu saja.


Kuil tempat kediaman Dewi Cahaya yang awalnya berdiri kokoh kini porak-poranda rata dengan tanah.


Sontak mereka semua terdiam karena kejadian yang tiba-tiba ini. Otak mereka tidak mampu memproses pemandangan yang ada di hadapan mereka.


Kuil yang berisikan para warga desa, kuil yang seharusnya mereka lindungi, kini telah meledak dan hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.


Bukan karena serangan dari luar, tapi kuil itu meledak dari dalam.


Semua semakin tambah buruk ketika para Pemain menerima notifikasi kalau Quest mereka telah gagal. Tanda kalau warga desa yang harus mereka lindungi dengan segenap tenaga telah tiada.


Dengan semua kejadian yang tiba-tiba ini, kemampuan berpikir mereka menjadi melambat hingga mereka lupa kalau saat ini pertarungan sedang terjadi.


“Arrrghhh...!” ketika seorang Pemain terluka oleh Mobs yang menyerang, semua orang pun akhirnya tersadar dari lamunan mereka.


“Bangsaaat...!!!” “Kenapa kuilnya bisa meledak!?” “Grrr... Ini Mobs ganggu!” “Hadiahku...!!!”


Rasa bingung kini berubah menjadi amarah.


Terbakar oleh rasa amarah dan dendam mereka pun bertarung dengan jauh lebih ganas dan jauh lebih brutal dari yang sebelumnya.


Di saat yang lain tengah kehilangan ketenangan mereka. Hanya Kapten Gladius serta Iaido saja yang masih bisa berpikir dengan kepala dingin.


Sukses mengalahkan lawan masing-masing, mereka berdua pun segera berkumpul bersama untuk membicarakan apa yang baru saja terjadi.


“Kapten Gladius...!” dengan suara yang terengah-engah, Iaido mengatakan tentang kegagalan Questnya “...kita telah gagal. Ledakan tadi telah memusnahkan semua orang!”.


Dengan wajah yang pucat, Kapten Gladius berusaha untuk tetap tenang.


Sebagai seorang Kesatria yang sering bertarung di garis depan, ini bukan pertama kalinya dia kehilangan orang yang dia sayangi. Sering kali kawan yang sebelumnya bercanda bersama sedekit kemudian sudah terbaring lemah di atas genangan darahnya sendiri.


Akan tetapi, jika itu objek yang harusnya dia lindungi sirna begitu saja tanpa alasan yang dia ketahui. Bahkan Kapten Gladius sekalipun tidak bisa menerimanya begitu saja.


Menyadari kondisi Kapten Gladius, Iaido yang walau merasa tidak enak tetap mengucapkan apa yang harus dia ucapkan.


“Kapten!” bentaknya keras yang sontak menyadarkan Kapten Gladius dari lamunanya “Quest sudah gagal! Kita tidak punya alasan lagi untuk tetap berada di sini!”.


Tahu benar apa yang ingin Iaido katakan, Kapten Gladius pun melihat ke sekeliling.


Hancurnya objek yang harus mereka lindungi telah membuat garis pertahanan runtuh. Para Petualang sudah tidak lagi bertarung dalam formasi dan para prajurit bawahannya yang tersisa kini sudah kehilangan semangat bertarung dan menyerahkan nasib mereka ke cakar Mobs yang ganas.


Melihat pemandangan yang menyedihkan ini. Kapten Gladius terpaksa menahan amarah serta jijik akan ketidakbecusannya sendiri dan segera memberikan perintah.


“Mundur! Kita kembali ke kota Virtue!!!” teriakan kerasnya terdengar di telinga semua orang.


Walau masih kesal, mereka tetap menurut dan segera membuka jalan menuju kota Virtue.


Melihat reruntuhan kuil yang masih menyala merah, Kapten Gladius menutup matanya sebelum akhirnya menuntun bawahannya yang masih tersisa untuk mundur ke Kota Virtue sebelum akhirnya melaporkan kejadian ini kepada atasannya agar mereka bisa mengirimkan bala bantuan.


Mengayunkan pedangnya, Kapten Gladius mulai membukakan jalan untuk kabur. Di bantu oleh Iaido serta para petualang lainnya, tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya mereka akan mencapai batas desa akhirnya menyentuh jalan raya.


Awalnya semua berjalan lancar sebelum akhirnya terdapat sesuatu yang melayang dari balik kegelapan dan mengenai kaki depan kuda yang kapten Gladius kendarai hingga membuatnya terjatuh dengan keras ke atas tanah.


“Kapten!” menenangkan bawahnnya, Kapten Gladius segera berdiri dan menghadap ke arah penyerangnya.


Mengenakan jubah yang terbuat dari kulit manusia, Winter yang menggunakan “Negative Aura” pada dirinya sendiri memberikan efek asap hitam yang seolah keluar dari tubuhnya. Di tambah dengan suasana malam yang gelap serta mata merah darah yang menyala dari balik tudungnya, membuatnya sukses mengintimidasi banyak orang hanya dengan penampilannya saja.


Sambil membawa sebuah tongkat kayu dengan kristal biru di ujung tongkatnya, Winter berjalan dengan tenang menuju para Pemain yang kini telah berhenti di tempatnya.


Menemani Winter adalah Living Armor yang berjalan tidak jauh di belakangnya serta War Oger yang juga ikut mengikuti dari belakang dengan kapak besar di tangannya.


Kemunculan Winter yang tiba-tiba tentu membuat semua orang keheranan. Tapi, apa yang dia ucapkan selanjutnya memperjelas semuanya.


“Salam! Wahai para hadirin sekalian!” suaranya yang lantang bergema di segala penjuru. Mengira hanya itu saja, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari kalau Mobs yang sedari tadi berusaha untuk menerkam mereka kini terdiam sambil gemetar ketakutan.


Tanpa memedulikan reaksi semua orang, Winter tetap melanjutkan ucapannya “Sungguh malam yang indah yang kita miliki saat ini!” dengan sebuah gerakan teatrikal, Winter akhirnya memperkenalkan dirinya “Pertama-tama kenalkan, aku adalah Agen dari Fraksi Bayangan! Orang-orang memanggilku sebagai Heartless Necromancer! Salam kenal, semuanya! Dan terima kasih karena telah mau berpartisipasi dalam acara pembuka ini!”.


Atas deklarasi dari Winter yang menggunakan nama sebutannya di forum. Apa yang awalnya kabur kini menjadi jelas di kepala Kapten Gladius.


Semua kepingan puzzle, dari kemunculan Mobs yang tiba-tiba hingga hancurnya kuil kini menjadi jelas di kepalanya.


Segala yang terjadi pada hari ini tidak lebih dari rencana picik dari para penjahat dari fraksi bayangan.


Entah metode apa yang mereka gunakan, tapi mereka sukses menggiring banyak Mobs liar untuk menyerbu desa ini. Walau terlihat seperti sebuah penyerbuan untuk membantai semua warga desa, itu semua sebenarnya tidak lebih dari pengalih perhatian.


Ketika semua orang sedang sibuk bertarung, pasti terdapat seorang penyusup yang menyusup ke dalam kuil dan meledakkannya dari dalam.


Tujuan mereka melakukan semua itu tidak lebih hanya untuk menghancurkan \ yang terpasang di kuil yang berfungsi untuk menghalau segala jenis Undead mendekati wilayah desa.


Dengan hancurnya \ yang adalah racun bagi Undead. Orang yang ada di hadapannya, yang adalah seorang Necromancer, sang pengendali Undead. Kini dapat dengan leluasa muncul di hadapannya dengan pelayan Undeadnya.


Sementara apa tujuan utama mereka yang sebenarnya, Kapten Gladius hanya bisa menebak namun tidak berani untuk mengakuinya.


Selagi Kapten Gladius masih ragu, para Pemain sudah maju terlebih dahulu.


“Dia bilang dia dari fraksi bayangan kan?”


“Lihat! Para Mobs takut padanya! Pasti dia yang mengirimkan para Mobs ini untuk menyerang kita!”


“Dia itu musuh! Pasti dia jugalah yang meledakkan kuil!”


“Bangsat! Jadi kau yang membuat Quest kami gagal!”


Di banjiri oleh caci maki dari sana-sini, Winter tetap tidak bergeming. Malahan dia malah senang karena akhirnya merasakan apa itu yang namanya kebencian.


Bertahun-tahun dia hidup dalam buaian orang tuanya, dia yang selalu dibanjiri oleh kasih sayang mengharapkan sebuah sensasi baru dalam hidupnya.


Merasakan kebencian untuk yang pertama kalinya, Winter menyambutnya dengan tangan yang terbuka.


Di antara para Pemain yang sibuk melontarkan sumpah serapah pada Winter, ada dua di antara mereka yang sudah naik pitam dan langsung maju menyerbu Winter.


Satu Pemain adalah seorang Warrior sementara yang satunya adalah seorang Defender.


Melewati para Mobs yang masih bergetar ketakutan, tujuan mereka hanya satu.


Melihat ini, Winter pun segera memberikan perintah kepada ‘Ghost’ dengan Level 10 yang sedari tadi sedang bersembunyi di dalam kegelapan.


Mengaktifkan Skillnya yang bernama “Soul Eater” Ghost yang tampak kartunis itu dengan cepat menembus kedua Pemain yang sudah terbutakan amarah sehingga membuat mereka gagal menghindari Ghost yang datang  menyergap mereka.


Yang pertama kali terkena sedangan adalah si Warrior.


Ketika Ghost menembus tubuhnya, Warrior itu merasakan seolah angin dingin menerpa dirinya sebelum akhirnya dia terjatuh begitu saja ke atas tanah dengan kulit yang pucat seperti mayat.


Si Defender yang berlari tidak jauh di belakang Warrior melihat semua ini namun tetap tidak bisa menghindar dari serangan Ghost yang sepenuhnya kebal terhadap serangan fisik. Setelah Ghost menembus tubuhnya, sensasi dingin membeku dia rasakan namun dia tetap berdiri.


Mencoba mengambil HP Potion dari sakunya, sebuah bola yang berisikan energi negatif ditembakkan oleh Winter yang tepat mengenai kepalanya.


Total 107 kerusakan diterima yang tentu saja itu merenggut semua HP si Defender yang tersisa.


Menyaksikan kedua rekan mereka yang gugur dengan begitu mudahnya membuat para Pemain lain menjadi ragu untuk maju mengikuti jejak mereka.


Hal ini sangat di sambut baik oleh Winter.


Mengangkat tongkatnya tinggi di udara, sebuah Skill bernama “Raise Undead” pun diaktifkan.


Dengan naiknya level Skill “Raise Undead” membuat Winter kini mampu membangkitkan 3 mayat dengan perbedaan level tidak lebih dari 5 level dengannya secara bersamaan.


Sedangkan yang menjadi target dari Skill terkutuk itu adalah kedua Pemain yang tadi datang menyerbu serta satu Mobs yang berbentuk seperti kura-kura dengan roda sebagai kakinya yang tubuhnya berada tidak terlalu jauh dari kedua Pemain tadi.


Melihat pemandangan rekan mereka yang baru saja mati namun bangkit kembali sebagai Undead memberikan dampak yang sangat besar bagi mereka yang belum pernah melihat Undead sebelumnya.


Pemandangan di hadapan mereka sangatlah nyata hingga membuat mereka lupa kalau mereka sedang memainkan game dan apa yang ada di hadapan mereka bukanlah hal yang nyata.


“AAaaaa...!!!” termakan oleh rasa takut, seorang Pemain yang memiliki mental lemah segera menjatuhkan senjata yang dia bawa dan kabur menjauh dari Undead di hadapannya sambil mengeluarkan teriakan yang menyedihkan.


Berkat teriakannya yang nyaring itu, para Mobs yang awalnya gemetar ketakutan karena Miasma yang Winter keluarkan kini akhirnya tersadar dari lamunan mereka.


Sontak saja pertarungan pun kembali dilanjutkan.


“Kapten...!” dengan pedang yang terhunus, Iaido yang menunggu perintah dari Kapten Gladius akhirnya mendapatkan keinginannya. “Ya!” hanya dengan satu kata itu saja, Kapten Gladius serta Iaido segera melaju menyerbu Winter sama seperti yang dilakukan oleh dua Pemain sebelumnya.


Jika Winter, si Heartless Necromancer mati. Maka semua ini akan berakhir.


Itulah yang ada di dalam pikiran mereka berdua selagi mereka menghentakkan kaki mereka demi melaju ke depan. Walau Kapten Gladius sebenarnya masih khawatir akan kemungkinan Winter tidaklah sendiri dan memiliki rekan yang masih bersembunyi di kegelapan, tapi itu bisa dia khawatirkan nanti.


Yang terpenting sekarang adalah untuk menebas lawan yang ada di hadapannya.


“Knight Sword!” dengan satu ayunan pedangnya, total 580 kerusakan tercipta yang membuat Kapten Gladius sukses membelah apa yang dulunya adalah si Defender dan memberikannya peristirahatan terakhir. Sementara itu, Iaido telah menggunakan “Quick Slash” yang juga sukses menebas leher apa yang dulunya adalah si Warrior dengan total 328 kerusakan sekaligus memberikannya serangan fatal.


Setelah memberikan peristirahatan terakhir kepada mantan rekan mereka, Kapten Gladius serta Iaido sama-sama tidak mengindahkan si Undead Kura-kura dan hanya maju lurus menuju Winter yang masih berdiri di tempatnya dengan begitu santainya.


Tentu saja Winter tidak akan diam menunggu.


Ghost kembali melayang dan mengincar Kapten Gladius dan Iaido.


Sama-sama tidak punya serangan sihir, hanya ada dua pilihan bagi mereka jika tidak ingin berakhir menjadi mayat dingin.


Memanfaatkan nilai Agility nya yang tinggi, Iaido sukses menghindari Ghost yang melayang ke arahnya.


Sementara itu Kapten Gladius segera mengaktifkan Skill “Magic Resist” dari Job Defender yang dia miliki dan sukses mengurangi sebagian besar kerusakan yang seharusnya dia terima.


Tetap saja dia harus menerima 480 kerusakan yang membuatnya kini hanya memiliki total 644 HP yang tersisa.


Walau tubuhnya terasa membeku, Kapten Gladius tetap melaju demi menjatuhkan lawan yang ada di hadapannya.


Menyaksikan semua ini terjadi di hadapannya, Winter tetap tenang.


Dengan satu ayunan tangannya, War Ogre dan Living Armor yang sedari tadi berjaga di sampingnya kini maju untuk menghadang dua orang yang datang kepadanya.


Memberikan “Negative Aura” kepada kedua bawahannya, Winter memerintahkan War Ogre untuk menahan Kapten Gladius sementara Living Armor pergi menahan Iaido.


Menghadapi sosok besar di hadapannya, Kapten Gladius tidak gentar.


Menggenggam erat pedang di tangannya. Skill “Raise Attack” dan “Raise Defense” diaktifkan. Dengan kekuatan serangan serta pertahanan yang telah naik, sekali lagi “Knight Sword” diaktifkan.


Sementara Kapten Gladius menyerang menggunakan “Knight Sword”, War Ogre mengangkat tinggi kapaknya dan mengaktifkan “Brute Force” lalu lanjut menyerang menggunakan “Frontal Strike”.


Pedang dan kapak akhirnya saling beradu.


Nilai kekuatan serangan Kapten Gladius adalah 1.092 sementara nilai kekuatan War Ogre hanya sebesar 631 saja.


Trang! Dengan suara besi yang saling beradu, kapak besar yang di pegang War Ogre terbang melayang di udara karena tidak tahan beradu dengan serangan Kapten Gladius.


War Ogre yang telah kehilangan senjatanya kini harus rela menerima “Strong Trust” yang di arahkan tepat ke arah kepalanya.


Serangan fatal pun tercipta yang mana itu langsung merenggut semua HP yang War Ogre miliki.


Sukses menghabisi lawannya dengan mudah, betapa terkejutnya Kapten Gladius ketika angka merah melayang di hadapan matanya.


Total 177 kerusakan telah mengurangi HP yang dia miliki turun menjadi 466.


Belum lagi dia kini juga terkena Efek buruk {Miasma Lv. 2} yang mana telah mengurangi seluruh statsnya sebanyak 30%.


Tentu saja itu semua berkat “Negatif Aura” yang sebelumnya Winter pasang ke tubuh War Ogre.


Selain memberikan kerusakan setiap 3 detik selama target masih berada di dekat pengguna, Sihir yang satu ini juga memberikan Efek buruk {Miasma} yang akan mengurangi stats lawan yang berada dekat dengan pengguna.


Berkat efek buruk ini, bukan hanya peningkatan yang dia lakukan sebelumnya menjadi tidak berlaku lagi, Statsnya yang lain menjadi turun dan itu membuat tubuhnya terasa melemah.


Meskipun begitu, senyuman malah melekat di wajah Kapten Gladius.


Memang benar kalau tubuhnya kini melemah, tapi dia sudah sukses mengalahkan satu Undead lawan. Dengan ini tidak akan ada lagi yang bisa menghalanginya untuk mendekati lawannya yang mengaku sebagai Heartless Hecromancer.


Memiliki ruang untuk bernafas, Kapten Gladius melirik ke samping untuk memastikan bagaimana kondisi Iaido sekarang.


Sungguh sebuah pemandangan yang dia lihat hingga senyuman di wajahnya kini sirna sepenuhnya.


Menghunuskan Katana miliknya, Iaido melancarkan “Continuous Slash” kepada Living Armor yang menjadi lawannya.


Total 3 tebasan beruntun dilancarkan yang masing-masing menghasilkan total 1 kerusakan karena semua serangannya berhasil di tangkis oleh Living Armor dengan perisainya.


“Tch!” mendecakkan lidahnya, Iaido merasa kesal karena serangannya tidak menghasilkan apa-apa. Baru saja dia ingin lanjut menyerang, total 187 kerusakan melayang di hadapannya dan dia pun merasa kekuatan mulai menghilang dari tubuhnya.


Heran akan sensasi yang baru dia rasakan, baru Iaido sadar kalau dirinya telah terkena efek buruk {Miasma Lv.2} yang mana itu akan mengurangi seluruh stats yang dia miliki.


Meski terkejut akan apa yang baru saja menimpa dirinya, tapi itu masih belum cukup untuk membuatnya lengah.


Menggunakan “Sword Parry” pada pedang yang Living Armor ayunkan kepadanya, Iaido sukses menangkis


serangan itu dan memicu efek “Sword Parry” yang memungkinkannya untuk membalas serangan dengan 2 kali kerusakan.


Sembari mengaktifkan “Leaf Cutter” Iaido kini sukses memberikan tebasan bersih tepat pada tubuh Living Armor. Clang! Suara nyaring terdengar ketika Katana Iaido menyentuh tubuh baja Living Armor dan menghasilkan total 217 kerusakan.


“Heh...” menyeringai karena serangannya akhirnya sukses. 187 kerusakan harus kembali dia terima karena efek “Negative Aura” masih berlaku.


Seringai kini harus menghilang dari wajahnya karena berkat efek dari “Negative Aura” saja sudah cukup untuk menghantarkan HP nya ke angka 91 yang mana itu sama saja dengan sekarat.


Fokus kepada Living Armor yang berdiri di hadapannya, membuat Iaido lupa kalau makhluk Summon yang Winter keluarkan bukan hanya itu saja.


Menggenggam erat katananya, baru saja Iaido mau melancarkan serangan lain. Sebuah hawa dingin menerpa dirinya.


Ketika Iaido melihat sosok hantu kartunis melayang tepat di depan matanya, semua sudah terlambat.


Dengan HP yang sudah sirna sepenuhnya, tubuh dingin Iaido tersungkur begitu saja di atas tanah yang kotor oleh lumpur dan darah.


Kapten Gladius yang menyaksikan semua ini hanya bisa menggertakkan giginya menahan amarah yang akan


merenggut kemampuannya dalam berpikir dengan jernih.


Mengalihkan kembali perhatiannya kepada lawannya yang sebenarnya, Kapten Gladius pun mendeklarasikan “Heartless Necromancer! Kejahatanmu di negeri ini akan mendapatkan hukuman dari Dewi Cahaya!”.


Menggenggam erat Insignia yang dipercayakan kepadanya, tubuhnya pun seketika memancarkan cahaya terang yang menyilaukan mata.


Selang berapa saat, cahaya yang awalnya menyelimuti seluruh tubuhnya kini berpindah dan berkumpul pada pedangnya.


Dengan pedang yang berlapiskan cahaya suci, Kapten Gladius sukses menebas “Negative Slash” yang baru saja Winter lontarkan kepadanya.


Menampilkan ekspresi penuh dengan determinasi, Kapten Glaidus. Yang telah mengaktifkan “Sword of Justice” maju ke depan untuk mensucikan segala kebatilan!