A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 21 : New Adventurers



Merapikan tasnya, Akmal Atharrayhan, 16 tahun. Murid baru dari SMA Kamboja baru saja bersiap untuk pulang karena waktu sekolah sudah berakhir.


Selesai berpamitan dengan teman sekelasnya yang lain, Akmal pun mendekati meja tempat kawan akrabnya duduk. Terlihat kawannya itu masih belum selesai merapikan mejanya dan hanya memasukkan semua yang ada di atas meja ke dalam laci sebelum akhirnya mengambil tas kecilnya yang terlihat kosong.


“Hei, Ruru” sapa Akmal dengan akrabnya “Kita hari ini ada PR kau tahu? Kalau bukumu tidak di bawa bagaimana kau bisa mengerjakannya?”.


Menjawab dengan senyuman lebar adalah teman masa kecil Akmal yang seumuran dengannya, Ruby Rufina. Dia adalah seorang gadis tomboy dengan kulit kecokelatan serta rambut pendek yang di cat merah. Tubuhnya atletis karena olahraga adalah kegemarannya.


“Tidak apa-apa kan. Lagipula PR nya baru dikumpulkan minggu depan” jawabnya dengan santai seolah PR itu adalah urusan sepele baginya. Tahu benar kalau kawannya ini tidak akan pernah mengerjakan PR dan baru memohon minta contekan di saat-saat terakhir, Akmal hanya bisa pasrah menerima kebiasaan kawannya ini.


“Hehe...” merangkulkan lengannya dengan lengan Akmal, Ruby pun tertawa riang seraya mereka berdua berjalan berdampingan ke luar kelas. “Ayo pulang dan langsung main game!” ucapnya lantang yang mana itu menarik perhatian murid-murid lainnya yang masih berada di dalam kelas. Namun itu hanya sesaat karena dalam kurun waktu seminggu ini mereka semua sudah terbiasa akan tingkah Ruby yang suka ribut.


Jika ada murid yang masih menaruh perhatian kepada Ruby itu pastinya adalah kelompok pemuda jomblo yang berharap kalau masuk SMA akan merubah kisah asmara mereka yang masih kosong melompong.


“Enak yah jadi Akmal. Baru masuk sudah dapet gandengan aja dia”


“Kudet loe bro! Mereka itu sudah berdua sejak jaman TK”


“Hah? Tahu dari mana loe?”


“Karena gw satu TK sama mereka jadi gw tahu”


Begitulah keseharian para murid kurang kerjaan kelas 1 dari SMA Kamboja. Menatap iri kepada setiap murid lainnya yang pulang bergandengan, mereka hanya bisa mengeluh pasrah sembari membayangkan bagaimana


rasanya menggandeng tangan seorang gadis.


Baru saja mereka puas memandang iri kepada Akmal, rasa iri mereka harus bertambah ketika ada siswi dari kelas sebelah yang datang-datang langsung merangkul lengan Akmal yang masih kosong.


“Hei, hei, kau bercanda!”


“Dia itu Bule kan?”


“Sialan kau Akmal... Satu cewek masih belum puaskah kau?!”


Memiliki tubuh tinggi jenjang dengan rambut pirang panjang serta mata biru secantik lautan. Wajahnya yang seperti orang asing membuat banyak pemuda lokal yang langsung terpincut oleh kecantikannya.


Melihat cewek bule itu merangkul lengan Akmal dengan senyuman cerah di wajahnya tentu saja membuat setiap siswa dan bahkan siswi yang ada termakan api cemburu.


“Oh, Lili. Mau pulang bersama?” tanya Akmal tanpa menyadari tatapan tajam dari gadis yang ada di sampingnya. “Sure” jawab Liliana singkat dalam bahasa asing dengan ekspresi wajahnya menunjukkan dengan jelas perasaannya sekarang.


Liliana Mahila, 16 tahun. Seorang gadis blasteran keturunan Indo-Belanda yang lahir, tumbuh, dan tinggal di Indonesia. Dia adalah seorang gadis yang ramah dan murah senyum. Kebiasannya untuk membalas sapaan teman sekelasnya setiap pagi membuatnya menjadi primadona di kelasnya.


Pemandangan Liliana merangkul lengan siswa kelas sebelah dengan senyuman di wajahnya tentu menyulut api cemburu setiap siswa yang diam-diam menaruh hati kepada Liliana.


Berjalan bergandengan, Akmal, Ruby, dan juga Liliana sibuk mengobrol dengan riang tanpa memedulikan setiap pandangan iri yang membanjiri mereka bertiga.


Baru juga mereka mencapai halaman sekolah, dua orang gadis lain pun bergabung bersama mereka yang tentu saja membuat api cemburu setiap jomblo yang melihat ini menjadi semakin berkobar hebat.


Gadis pertama adalah Hara Kinara, 16 tahun.


Dia terkenal karena Ayahnya yang adalah seorang pengusaha kaya raya yang punya bisnis di mana-mana. Selalu menerima perawatan kecantikan secara rutin, membuat penampilan Hara selalu tampak berkilau dengan rambut hitam lurus sebahu serta kulit yang putih mulus seolah tanpa noda. Berkat latar belakangnya ini dia di jauhi oleh para siswi lainnya yang merasa minder jika berteman dengan anak orang kaya seperti dirinya.


Hal tersebut membuat Hara selalu sendirian sampai akhirnya dia bertemu dengan teman sejatinya.


Agatha Lembayung, 16 tahun.


Teman sekelas Hara sekaligus sahabatnya satu-satunya. Tidak seperti Hara yang serba sempurna, penampilan Agatha tidaklah secantik Hara dan bahkan terkesan biasa-biasa saja.


Memiliki tubuh pendek serta wajah yang bulat. Rambutnya berwarna kecokelatan yang panjang hingga mencapai pinggangnya. Badannya tidaklah langsing dan bahkan bukan mengada-ngada jika menyebut kalau badannya itu gempal. Kepribadiannya yang pemalu serta jarang bicara juga membuatnya selalu sendirian tanpa ada kawan untuk di ajak bicara.


Masih menjadi misteri bagaimana bisa Hara dan Agatha menjadi sahabat dan selalu tampil bersama.


Yang menjadi lebih misteri lagi adalah bagaimana bisa mereka berdua sekarang berjalan berdampingan bersama rombongan Akmal dengan ekspresi ceria di wajah mereka.


Melihat ini, bukan hanya para murid saja tapi bahkan para guru pun sampai dibuat geleng-geleng kepala bagaimana bisa murid baru yang satu ini sudah memiliki Harem padalah sekolah baru dimulai selama seminggu.


“Hei!” berteriak menegur rombongan Akmal adalah seorang gadis dengan tubuh tinggi serta rambut hitam panjang yang dikepang kuda. Melihat ekspresi serius di wajahnya,setiap murid pun bersorak-sorai.


“Dia itu anggota Komite Disiplin kan?”


“Hayo loh ada Kak Susan. Bakal kena sembur tuh pasti”


“Mampus! Makanya ke sekolah jangan main Harem!”


Susan Kana, 17 tahun. Murid kelas 2 dari SMA Kamboja dan terkenal akan perilakunya yang selalu serius dan menjunjung tinggi peraturan Sekolah sehingga dia selalu di angkat sebagai ketua kelas dan sekarang juga menjabat sebagai Wakil Ketua dari Komite Disiplin.


Kedatangannya membawa angin segar kepada semua orang karena Susan sudah terkenal membuat murid paling nakal sekalipun menjadi murid teladan hanya dalam kurun waktu sehari.


Sayang, apa yang Susan ucapkan selanjutnya mematahkan harapan semua orang.


“Tunggu aku, jangan terburu-buru seperti itu” ucapnya sembari berlari menghampiri rombongan Akmal dan segera bergabung dengan mereka.


Sambil di iringi oleh lima orang gadis Akmal pun berjalan pulang dengan senyuman lebar di wajahnya tanpa menyadari banyak orang sedang menyumpahinya dari belakang.


...


Berjalan bersama sepulang sekolah, Akmal beserta rombongan menuju tujuan yang sama karena memang mereka berenam tinggal di kompleks perumahan yang sama.


Sembari berjalan mereka membicarkan tentang kegiatan yang akan mereka lakukan sepulang sekolah.


“Apakah paket kalian sudah sampai?” tanya Hara kepada semua orang.


Yang pertama kali menjawab adalah Ruby dengan nada yang riang “Tentu saja!” yang selanjutnya di sambung oleh yang lain dengan jawaban yang serupa. Terakhir menjawab adalah Akmal yang menjawab dengan nada seolah dirinya merasa tidak enakan “Apakah kau yakin membayar untuk kami semua? Satunya 5 juta kan?”.


“Tidak apa-apa, lagian aku punya banyak uang” jawab Hara santai padahal uang yang dia gunakan adalah milik orangtuanya. Terbiasa dengan tingkah Hara yang meremehkan uang, Agatha menepuk pundak Akmal sambil


menggelengkan kepalanya mengisyaratkan kalau percuma saja membahas hal ini lebih jauh lagi karena sekali Hara mengeluarkan kartu kreditnya maka dia tidak akan menariknya kembali sebelum di gesek.


Meski begitu, Akmal masih merasa tidak enak karena membuat temannya menggunakan uangnya sendiri hanya untuk membelikannya Helm VR keluaran terbaru yang harganya cukup mahal.


“Kalau kau ada permintaan, katakan saja. Nanti akan aku kabulkan sebagai balas budi” mendengar ini, sebuah senyuman cerah pun muncul di wajah Hara “Kalau begitu, bagaimana kalau nanti kita menjalankan Quest berdua saja?” yang tentu saja langsung disetujui oleh Akmal “Tidak apa-apa, tapi apakah itu benar-benar cukup?”.


Dengan senyuman yang semakin lebar, Hara pun berkata “Kalau sekali saja tidak cukup, bagaimana kalau setiap kali aku butuh mencari Item khusus kau akan membantuku?”.


Melihat tingkah Hara, semua gadis yang lainpun menjadi tidak senang.


“Yang lebih penting!” ucap Ruby dengan keras seolah ingin menarik perhatian “Job apa yang akan kalian pilih? Aku lihat di wiki Jobnya ada banyak loh”.


Semua orang tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya Lilian yang masih menempel kepada Akmal membuka mulutnya “Kenapa menanyakan Job kalau nantinya mereka akan mengasih kita pertanyaan yang akan menunjukan Job apa yang terbaik bagi kita?” karena tinggi tubuh mereka yang berbeda membuat Ruby harus mendongak untuk bisa bertatapan mata dengan Lilian.


“Itu kalo Job pertama! Nanti katanya di tutorial kita bisa dapat Job kedua kan? Itu yang ingin aku tanyakan!” ucapnya sambil mendekatkan tubuhnya kepada Akmal lebih erat lagi seolah tidak mau kalah dari Liliana.


Di tengah-tengah Ruby dan Lilian yang saling beradu pandang, Akmal menjawab dengan santai seolah tidak menyadari perselisihan yang sedang terjadi di antara mereka berdua “Kalau bisa aku ingin menggunakan pedang. Jadi kurasa Warrior atau Swordsman?”.


Menyambut perkataan Akmal adalah Hara, Susan, dan Agatha secara bergiliran.


“Aku sempat latihan memanah jadi aku akan memilih Archer”


“Menggunakan pedang dan perisai adalah identitas seorang kesatria. Jadi aku akan memilih Warrior dan Defender. Bahkan jika pertanyaan itu memberikan Job yang lain, aku akan tetap memilih kedua Job itu”


“Aku ingin menggunakan sihir... Jadi Mage?”


Karena kedua lengan Akmal sudah di ambil, membuat Hara harus rela berjalan di samping Lilian sementara Agatha berjalan di samping Ruby. Sedangkan Susan berjalan tepat tiga langkah di belakang Akmal.


Memberikan senyuman tercantiknya, Lilian berkata “Aku ingin menjadi Cleric...” sebelum akhirnya memberikan tatapan nakal kepada Ruby “Kalau Ruby pasti akan menjadi Barbarian” yang tentu saja itu langsung di sambut oleh Ruby “Enak saja, aku ini akan menjadi seorang Fighter!” sambil menggunakan tangan kananya untuk menunjukkan gerakan tinju sementara tangan kirinya masih merangkul Akmal.


Tepat sebelum situasi menjadi buruk, Akmal pun akhirnya turun tangan untuk menenangkan mereka berdua “Ruby, tenanglah, itu hanyalah game. Lilian juga, bercandanya jangan terlalu berlebihan” walau terkesan biasa saja, tapi bujukan Akmal sukses menenangkan Ruby dan Lilian sebelum perseteruan mereka bisa berubah menjadi sebuah pertengkaran.


Setelah ditegur oleh Akmal, Ruby dan Lilian pun berhenti adu mulut dan berganti menjadi adegan saling adu tatap.


Melihat ini, tiga gadis lainnya hanya bisa tersenyum canggung karena ini sudah sering terjadi sejak mereka saling bertemu lima hari yang lalu.


Karena tidak ada lagi yang berbicara, perjalanan pulang pun menjadi hening namun tidak terasa canggung. Itu karena setiap gadis merasa senang karena mereka bisa dekat dengan Akmal sementara Akmal sendiri merasa senang karena bisa pulang bersama dengan teman-temannya.


Masing-masing dari mereka sudah merasa puas dengan situasi yang sekarang dan berharap ini akan berlangsung selama-lamanya.


Yah, sayangnya mereka telah sampai di tujuan mereka yang mana itu berarti sudah saatnya bagi mereka untuk berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.


“Baiklah, setelah makan siang dan lain-lain, bagaimana kalau kita Log In sama-sama pada saat jam 3?” atas proposal dari Akmal, semua orang setuju kecuali Ruby “Eh... Aku ingin cepat-cepat Log In!” bertingkah manja, Ruby berharap untuk bisa merayu Akmal agar dia merubah rencananya.


Tentu saja yang lainnya menolak ini.


“Oh, ya ampun. Tidak bisakah kau bersabar sedikit? Apakah kau masih anak-anak?”


“Itu tidak baik, kita harus menyempatkan diri untuk beristirahat agar kita bisa bermain dalam keadaan prima”


“Itu tidak bisa. Setelah makan siang aku dan Agatha ada jadwal perawatan kecantikan jadi kami berdua mungkin akan terlambat”


“...ya”


Lilian, Susan, Hara dan Agatha sama-sama tidak menyetujui ajakan Ruby untuk Log In lebih cepat sehingga ini membuat Ruby cemberut.


Menanggapi ini, Akmal hanya bisa tertawa “Haha... Jika kau tidak sabar lagi, kau boleh saja Log In paling awal. Nanti kita berkumpul di Air Mancur di kota pertama fraksi cahaya, bagaimana?”.


Sontak ini membuat ekspresi Ruby menjadi cerah dan dia pun menjawab dengan ceria “Ya!”.


Dengan rencana yang sudah disepakati, mereka pun kembali ke rumah masing-masing dan akan kembali bertemu di dalam game.


...


“Ru...! Cuci piring!!!”


“Sibuk!”


Tidak mengindahkan panggilan Ibunya dari dapur, Ruby bergegas masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Menendang sebuah kotak kosong yang baru di bongkar ke sudut ruangan, Ruby mengangkat Helm VR yang dibelikan oleh Hara untuknya. Memandangi modelnya yang mirip seperti Helm balap dengan logo V.R.C di bagian depan, Ruby tidak membuang waktu untuk mengenakannya lalu berbaring ke atas ranjang yang berantakan.


Terlihat jelas betapa tidak sabarnya dirinya untuk bisa memainkan game yang masih terbilang segar karena hari ini akan menjadi hari pertama game itu bisa dimainkan oleh orang awam.


Masih mengenakan seragam sekolah dengan hanya kancingnya saja yang di buka yang menampakan dada kecilnya yang dilapisi bra olahraga berwarna hitam serta kulitnya yang kecokelatan karena sering terpapar sinar matahari. Tidak memedulikan penampilannya yang tidak pantas karena dia berada di kamarnya sendiri, Ruby pun memulai proses Log In.


Ketika tersadar Ruby sudah berada di dalam sebuah ruangan putih sambil mengenakan pakaian dalam olahraga ketat berwarna putih yang berbeda dari yang selama ini dia kenakan.


Melongo takut kalau mesinya rusak atau apa, Ruby tersentak ketika mendengar suara misterius yang berkata “Silahkan buat Avatar anda” yang dilanjutkan dengan sebuah cermin satu badan yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.


Melihat lebih dekat lagi, terdapat semacam papan konsol semi-transparan tepat di samping cermin tersebut.


Dengan ini barulah Ruby paham kalau dia sekarang berada di tahap pembuatan karakter.


Dengan penuh percaya diri Ruby pun berjalan mendekati konsol itu dan mulai mengutak-atiknya. Rambut hitam pendeknya berganti menjadi rambut panjang sebahu berwarna merah karang. Begitu juga dengan matanya yang


kini memiliki warna yang sama dengan rambutnya.


Untuk kulit, Ruby membiarkannya begitu saja. Begitu juga dengan bentuk tubuhnya yang atletis. Dia tidak menyentuhnya sama sekali karena itu adalah kebanggaannya.


Jika ada yang dia ubah itu adalah... “Sial!!!” berusaha untuk memperbesar ukuran *********** yang memprihatinkan, B adalah ukuran maksimal yang bisa dia pilih.


“Kenapa!” berteriak ke langit, Ruby terkejut kalau ternyata dia menerima sebuah jawaban.


“Ukuran tubuh Pemain tidak bisa di ubah lebih dari 20% dari ukuran aslinya”


Tercengang, Ruby hanya bisa melongo sambil mengorek telinganya takut kalau dia salah dengar.


“Ukuran tubuh Pemain tidak bisa di ubah lebih dari 20% dari ukuran aslinya”


“DIAM!”


Tidak mau mendengarkan lagi, Ruby segera menyelesaikan pembuatan karakternya dan langsung lanjut ke tahap berikutnya.


1.       Apa itu kehidupan?


Sempat bingung karena tiba-tiba ditanyai, barulah Ruby sadar kalau ini adalah sesi pertanyaan yang nantinya akan menentukan Job apa yang paling cocok untuk dia dapatkan.


Dengan penuh antisipasi Ruby penasaran Job seperti apa yang paling cocok untuknya.


Apakah itu Fighter seperti yang dia inginkan? Ataukah itu ternyata Swordsman? Atau, atau mungkin dia paling cocok untuk menjadi seorang Mage?


Membayangkan semua Job yang ada, baru Ruby sadar kalau dia masih belum menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya.


“Apa itu kehidupan? Sesuatu yang hidup?” berniat bergumam sendiri, tidak Ruby sangka kalau gumamannya itu termasuk sebagai sebuah jawaban dan pertanyaan kedua pun muncul.


2.       Apa itu kematian?


“Eh, tunggu! Aku belum selesai!” panik, Ruby pun malah berakhir dengan menjawab secara asal-asalan “Umm... Kematian... Kematian... Sesuatu yang mati?”.


Pertanyaan ketiga, keempat, kelima hingga seterusnya muncul secara bertubi-tubi yang membuat Ruby kewalahan menjawabnya. Berkat itu dia hanya menjawab semua pertanyaan secara spontan dan asal-asalan tanpa mempertimbangkan atau bahkan membaca dengan jelas pertanyaan apa yang sebenarnya ditujukan kepadanya.


Hingga tanpa terasa Ruby tiba pada pertanyaan terakhir.


50.   Apa yang paling kau inginkan di dunia ini?


“Ah!” tepat pada pertanyaan terakhir ini barulah Ruby benar-benar memperhatikan pertanyaan yang muncul di hadapannya. Berpikir dengan keras untuk pertama kalinya, jawaban yang Ruby berikan adalah “Aku ingin hidup bersama dengan Akmal dan membangun sebuah keluarga yang bahagia bersamanya!” mengucapkan itu dengan keras dan lantang, sistem pun menerima jawaban Ruby dan memberikannya Job yang paling cocok untuknya berdasarkan semua pertanyaan yang telah dia jawab.


Barbarian


Sebuah Job yang dimana otot adalah segalanya. Tidak perlu berpikir apa-apa, tidak perlu strategi apapun. Cukup ayunkan senjatamu dan hancurkan segala yang ada di hadapanmu.


Stats yang dikembangkan oleh Job ini adalah (HP+30) (STR+15) (VIT+10) (AGI+15) (DEX+10)


Hening sejenak, Ruby menghirup nafas dalam-dalam sebelum akhirnya... “KAU BERCANDA...!!!” berteriak senyaring-nyaringnya Ruby sampai menginjak-injak lantai sambil mengeluh “Fighter! Berikan aku Fighter!”.


Amukan Ruby baru berhenti setelah sistem mengumumkan kalau Job yang Ruby terima berganti menjadi Fighter.


Puas, Ruby pun berhenti mengamuk dan akhirnya menjalani langkah terakhir untuk menyelesaikan proses pembuatan karakternya.


Memilih nama.


“Ruru!”


Mengambil dua huruf awal dari kedua namanya, Ruby Rufina. Ruby selalu menggunakan nama ini sebagai nama karakternya di semua game yang dia mainkan sekaligus nama panggilannya di kehidupan sehari-hari.


Karena nama ‘Ruru’ masih belum ada yang mengambil, Ruby pun bisa langsung menggunakannya dan proses pembuatan karakter pun selesai.


“Whoa!” sebuah cahaya menyinari tubuhnya dan kini Ruru pun mengenakan sebuah kaos lengan pendek berwarna cokelat, celana pendek, sepasang sendal jepit, serta kedua tangannya dililit oleh kain perban berwarna putih. Melihat kalau ini adalah Equipment pemula bagi Fighter, Ruru pun merasa puas.


“Avatar baru telah terkonfirmasi! Pemain baru, Ruru. Selamat menikmati dunia New Frontier Online dengan sepuas hati!”


Dengan cahaya terang yang membutakan matanya, game pun akhirnya benar-benar di mulai.