A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 26 : Target



Pergi sedikit jauh ke arah barat daya dari Kota Virtue, kau akan menemukan sebuah desa kecil yang hampir tidak ada bedanya dengan desa-desa lainnya.


Mengandalkan pertanian dan peternakan untuk menyambung hidup, para penduduk di sana tidaklah hidup dalam kemewahan namun masih cukup untuk selalu bisa tidur dengan perut yang kenyang.


Sekali lagi, sekilas kau tidak akan bisa membedakan desa ini dengan desa yang lain. Hanya saja, di mata orang yang awas maka mereka dapat dengan mudah menyebutkan satu hal yang membuat desa ini menjadi spesial dan berbeda dari yang lain.


Berada tepat di belakang rumah kepala desa adalah sebuah kuil Dewi Cahaya yang walau sudah tua, tapi tetap terawat dan berdiri dengan kokoh. Hanya digunakan setiap akhir pekan untuk berdo’a, pada hari biasa kuil itu selalu sepi akan pengunjung.


Satu-satunya orang yang selalu berada di kuil tersebut adalah seorang Biarawati muda yang umurnya baru mencapai 16 tahun.


Memiliki rambut pirang panjang dan sepasang mata berwarna biru. Berbadan pendek, wajahnya yang tampak masih polos membuatnya digemari oleh para nenek-nenek yang tidak pernah lupa untuk memberikannya manisan setiap harinya.


Namanya adalah Maria.


Seorang Cleric muda yang juga adalah Pemain sejak perilisan pertama NFO. Bahkan bisa dibilang dia termasuk ke dalam 10 Pemain pertama yang menginjakkan kakinya di dunia ini.


Meski dia termasuk ke dalam Pemain awal, tapi levelnya tidaklah begitu tinggi dengan hanya memiliki 3 Job yang Total Levelnya adalah 13. Jauh sekali jika dibandingkan dengan Pemain seangkatannya yang banyak dari mereka sudah lewat level 20.


Alasan kenapa levelnya masih tetap rendah itu sangat mudah untuk dijelaskan.


Kalau Pemain lainnya selalu berusaha untuk menjadi kuat setiap harinya, Maria menjalani hari-harinya dalam damai. Menerima Quest dari Kuil Dewi Cahaya yang berada di Kota Virtue, tanpa berpikir dua kali Maria langsung setuju untuk menjadi pengurus Kuil yang ada di desa ini yang sudah lama terbengkalai karena Biarawati yang sebelumnya sudah tutup usia.


Sebuah Quest yang sekilas tidaklah menggiurkan bagi Pemain lain, dia terima dengan senang hati.


Bagi Maria yang sejatinya adalah putri dari keluarga ateis, dari lubuk hatinya yang terdapal dia sangat ingin beribadah kepada Tuhan sebagaimana teman-temannya selalu beribadah setiap hari atau setiap minggu kepada Tuhan mereka masing-masing.


Akan tetapi, itu mustahil bagi Maria.


Sekali dia pernah membawa sebuah benda keagamaan, benda itu langsung dibakar oleh Ayahnya yang murka sebelum akhirnya melampiaskan amarahnya itu kepada tubuh kecil Maria sehingga dia sempat demam selama


beberapa hari.


Sejak saat itu Maria tidak lagi berani untuk membahas hal-hal yang berbau keagamaan ketika berada di rumahnya. Meski begitu, gairahnya untuk bisa menyembah Tuhan sebagai mana teman-temannya tetap tidak berubah.


Tahu kalau mustahil baginya menjadi orang beragama di dunia nyata, setidaknya dia bisa menjadi satu di dalam game.


Masuk ke dalam NFO, Maria kini melampiaskan hasrat terdalamnya.


Membersihkan kuil, bergaul dengan warga desa, menyembuhkan warga desa yang sedang sakit, membaca Kitab Suci di saat senggang, hingga memberikan khotbah setiap minggunya kepada seluruh warga desa.


Semua itu dia lakukan dengan riang gembira sembari memberikan senyum lebar di wajahnya.


Walau benar kalau Agama yang dia anut sekarang tidak lebih dari agama palsu yang pihak pengembang game buat demi jalan cerita. Tapi itu tidak ada artinya bagi putri dari keluarga ateis seperti Maria yang tidak tahu mana Agama yang benar dan mana yang salah.


Selama itu adalah Agama, maka itu sudah cukup bagi Maria.


Menjalani hidupnya sebagai seorang Biarawati, hari-hari Maria semakin indah berkat kehadiran seseorang.


“Selamat siang, Sister Maria. Hari yang indah seperti biasanya”


Menyapanya adalah seorang kesatria dengan rambut pirang pendek serta mata berwarna biru terang. Tubuhnya yang atletis memberikan kesan kalau dia bisa di andalkan. Senyuman ramah terpancar di wajahnya yang tampan.


Di sapa oleh pria setampan itu setiap harinya, gadis mana yang hatinya tidak berbunga-bunga?


“Selamat siang, Kapten Gladius. Apakah Kapten baru kembali dari patroli?” ucap Maria membalas salam dari Gladius dengan senyuman cerah di wajahnya. Sementara satu tangannya sedang memegang sapu, tangannya


yang lain dengan cepat berusaha untuk membersihkan debu serta merapikan pakaiannya.


Dengan suara yang merdu, Gladius pun berkata “Sebaliknya, aku baru mau pergi. Baru saja ada laporan penampakan Mobs Langka yang berada tidak jauh dari desa”. Mendengar ini, ekspresi Maria berganti cemas “Apakah Kapten akan baik-baik saja, bukankah Mobs Langka itu kuat-kuat?” tersenyum, Gladius pun menenangkan Maria “Sister tidak perlu khawatir, fokus utama kami adalah untuk menjaga desa. Jika kami bisa menggiringnya menjauh maka tidak akan ada pertarungan”.


Meski masih khawatir, Maria masih mendo’akan yang terbaik bagi Gladius. Mengantarkannya pergi, mata Maria masih terpaku pada Gladius sampai sosoknya menghilang di kejauhan.


Bagi para penduduk desa, perasaan Maria terlihat jelas di mata mereka.


Pemandangan Maria yang tidak berusaha untuk menyembunyikan perasaannya tapi terlalu takut untuk mengungkapkannya adalah sedikit dari hiburan yang ada di desa terpencil ini.


Para warga desa yang sebagian besar terdiri dari kaum lansia selalu menonton tingkah Maria bagaikan sedang menonton cucu mereka sendiri.


Setelah sosok Gladius menghilang di cakrawala, Maria yang menghela nafas berat segera kembali menyelesaikan tugasnya untuk membersihkan halaman Kuil.


Pada saat waktu sudah menunjukkan kalau sudah waktunya untuk makan siang, Maria yang baru saja selesai menyapu hendak kembali ke dalam kuil.


Tap! Tap! Tap! Mendengar suara tapak kaki kuda dari kejauhan, Maria menghentikan langkahnya untuk menoleh ke arah suara itu berasal.


Melaju kencang adalah seekor kuda cokelat yang ditunggangi oleh seorang gadis dengan rambut pendek. Mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit beruang, gadis itu tampak gagah di atas kudanya. Mengurangi


lajunya ketika mendekat ke arah desa, gadis itu akhirnya berhenti tepat di depan kuil.


Masih duduk di atas kudanya, gadis itu bertanya “Apakah kau adalah Sister Maria?”. Tidak punya alasan untuk berbohong, Maria pun menjawab “Ya”.


Turun dari kudanya, gadis itu pun bernafas lega sebelum akhirnya mendatangi Maria. Membuka penyimpanannya, gadis itu pun mengambil sebuah bingkisan “Quest dari Guild Petualang. Mereka memintaku untuk mengantarkan ini kepadamu”.


Dengan senang hati Maria pun menerima bingkisan tersebut “Perjalananmu pasti melelahkan, jika berkenan maukah kau bergabung denganku untuk makan siang? Kudamu bisa kau ikatkan di belakang Kuil”.


“Benarkah? Terima kasih” menerima undangan dari Maria, gadis itu pun menerimanya. “Kau sudah tahu namaku itu Maria. Kalau boleh tahu bisakah aku mengetahui namamu?”.


Tersenyum, gadis itu pun menjawab “Namaku adalah Chic. Senang berkenalan denganmu”.


...


Selesai mengikatkan kuda di belakang Kuil agar tidak lari, Chic masuk ke dalam Kuil dari pintu belakang yang telah dibukakan oleh Maria.


Menuju ke arah dapur, terlihat Maria yang baru saja memanaskan tungku untuk memasak “Apakah kau sering memasak?” tanya Chic setelah menyaksikan aksi Maria yang menyalakan tungku kayu dengan lihai seolah dia


telah melakukannya sejak lama.


“Awalnya memang susah, tapi setelah terbiasa mudah melakukannya” membiarkan Maria menyiapkan makan siang, Chic duduk di meja kayu usang yang berfungsi sebagai meja makan.


Sebenarnya Pemain tidak butuh makan atau minum di game ini. Hanya saja sebagian dari mereka tetap melakukannya hanya demi merasakannya atau untuk menjaga imersi mereka sehingga mereka benar-benar merasa seperti seorang Petualang yang tinggal di dunia fantasi.


Dan dalam kasus Maria, dia secara rutin memasak sarapan, makan siang, makan malam dan kadang-kadang Maria juga memasak untuk anak-anak serta orang sakit seolah-olah dia memang hidup sebagai seorang Biarawati di desa terpencil ini.


Masakan yang dia masak pun bukanlah masakan mewah. Melainkan sajian rumahan sederhana yang bahan-bahannya bisa dengan mudah kau dapatkan di ladang ataupun di dalam hutan.


Selagi memperhatikan Maria memasak, Chic yang tidak bisa memasak atau bahkan pernah menginjakkan


kakinya di dapur hanya bisa duduk memperhatikan Maria yang sedang memasak. Bosan, Chic yang tidak punya kegiatan akhirnya bertanya “Hei, kau itu Pemain kan? Kenapa kau memilih untuk berdiam di tempat terpencil seperti ini?”.


Masih fokus memasak, ada jeda sebentar sebelum akhirnya Maria menjawab “Semua Pemain yang datang kesini pasti mengatakan itu...” mengambil beberapa sayuran lalu memotongnya, Maria pun melanjutkan “Alasan kenapa aku bermain game ini bukan untuk bersenang-senang dengan menjadi kuat. Apa yang aku cari adalah ketenangan serta kedamaian...” diam sejenak, Maria pun mengatakan alasan sebenarnya dia bermain game NFO.


Mendengarkan ceritanya, Chic jadi tersadar kalau ada lebih dari satu cara untuk menikmati sebuah game.


Tentu saja Chic tidak akan mengomentari tentang keadaan Keluarga Maria karena itu tidaklah sopan. Dan reaksinya ini sangat dihargai oleh Maria karena setiap kali dia memberitahukan masalah keluarganya kepada orang lain, mereka hanya akan mengatakan kata-kata kosong yang sama sekali tidak berpengaruh atau mengubah apa-apa selain mengingatkan Maria akan keadaan keluarganya yang tidaklah normal.


Sikap Chic yang tidak berkata apa-apa tapi masih mau mendengarkan ceritanya tentu akan sangat dia hargai.


“Baiklah, makanan sudah siap!”


Menyajikan hidangan kentang lengkap dengan sayur mayur, mereka berdua pun menikmati makan siang dalam damai.


...


Berniat untuk keliling desa, langkah Chic terhenti ketika melihat Maria yang sudah membuka paket yang dia antarkan.


Apa yang Maria ambil dari dalam paket itu adalah semacam tablet batu sebesar genggaman tangan dengan sebuah bola kristal berwarna putih yang tertanam tepat di tengahnya.


“Apa itu?” tanya Chic penasaran.


Melihat Chic yang mendekatinya, sebuah senyuman merekah di wajah Maria “Pas sekali, aku baru saja mau meminta bantuanmu” membawa total lima tablet batu tersebut di pelukannya, Maria lalu mengajak Chic untuk


berkeliling Kuil.


Mengikuti dari belakang, Chic memperhatikan Maria yang mulai memasang tablet batu itu menggantikan yang lama di empat titik yang berada di setiap sudut kuil. Karena tablet batu yang Maria ambil ada lima, itu berarti masih ada satu titik lagi yang harus diganti tabletnya.


“Sebenarnya tablet apa itu?”


“Ini disebut sebagai \ yang berguna untuk mengusir Undead menjauh dari Kuil”


“Oh, apakah setiap kuil memilikinya?”


“Tentu saja, dan dalam kasus Kuil di kota besar, \ mereka memiliki efek tambahan untuk memurnikan atau setidaknya mengurangi stats Undead yang berada di dalam jarak jangkauannya”


Maria lalu mengajak Chic untuk keluar dari kuil. Bingung kenapa mereka harus keluar, Maria lalu menunjuk ke arah atap kuil. Di situ Chic menemukan simbol dari Dewi Cahaya yang berbentuk seperti matahari.


Tepat di tengah simbol Dewi Cahaya, adalah tablet batu yang mirip dengan yang Maria pegang.


“Kau pasti bercanda?” melihat wajah memelas Maria, Chic menjadi tidak tega dan dengan terpaksa mengambil tablet batu itu dari tangan Maria.


Memanfaatkan latihan panjat tebing yang Ayahnya pernah paksakan kepadanya, Chic langsung memanjat dinding kuil menggunakan permukaan dindingnya yang tidak rata. Dengan nilai DEX miliknya yang hampir mencapai angka 200, tidak butuh waktu lama bagi Chic untuk sampai di atas atap kuil.


Melepas \ yang menempel pada simbol Dewi Cahaya, Chic lalu menggantinya dengan yang baru. Karena ini adalah pekerjaan mudah, tidak butuh waktu lama bagi Chic untuk menyelesaikannya.


Sudah selesai, baru juga mau turun langkah Chic terhenti ketika melihat sesosok prajurit sedang memacu kudanya dengan cepat menuju ke arah mereka. Melihat lebih jelas lagi menggunakan ‘Eagle Eyes’ Chic berhasil mendapati kalau prajurit tersebut sedang membonceng prajurit lainnya yang terikat di belakangnya.


Terlihat darah membasahi tubuh prajurit tersebut.


Setelah memberitahukan ini kepada Maria, Chic pun bergegas turun untuk ikut menyambut prajurit tersebut bersama dengan Maria.


Pada akhirnya prajurit itu tiba dengan ekspresi cemas di wajahnya. “Sister Maria! Tolong, rekanku terluka!” menunjukkan rekannya yang terikat dengan kain di belakangnya agar tidak jatuh saat dibawa berkuda, dengan


sekilas Maria dan Chic mampu melihat betapa parahnya luka yang prajurit itu derita.


Terlihat kalau ada perban yang basah oleh darah yang melilit perutnya. Menilai dari darah yang masih mengalir dari perban tersebut, jelas sekali kalau luka yang dia derita sangatlah dalam.


“Cepat bawa dia ke dalam!” perintah Maria pun segera dilakasanakan. Sementara Chic akan mengurus kuda yang mereka tunggangi, Maria bersama prajurit itu pun segera membawa prajurit yang terluka ke dalam ruang perawatan yang berada di kuil.


Sekembalinya Chic setelah mengikatkan kuda prajurit tadi ke belakang kuil dan memberikannya seember air, dia menemukan prajurit itu sedang berdiri dengan gelisah di depan ruang perawatan. Menilai kalau Maria sedang sibuk mengobati prajurit yang terluka, Chic memutuskan untuk bertanya kepada prajurit itu perihal apa yang sebenarnya


terjadi.


“Permisi, kalau boleh tahu apa yang membuat rekanmu sampai terluka seperti itu?”


Menengok ke arah Chic yang menyapanya, prajurit itu menyipitkan matanya dan memandangi Chic dari atas sampai bawah sebelum akhirnya bertanya “Apakah kau Petualang dari Guild?” untuk menjawab pertanyaan itu Chic hanya menunjukkan pelat besi yang ada di lehernya. Terima kasih berkat Winter yang menerima banyak Quest sekaligus, Chic dapat dengan cepat menaikkan peringkat Petualangannya.


Meski begitu, tampaknya peringkat Chic yang sekarang masih belum cukup untuk memuaskan prajurit itu.


“Ini semua karena seekor Mobs Langka. Tapi ini bukanlah sesuatu yang Petualang tingkat Iron sepertimu perlu khawatirkan”


“Mobs Langka? Apakah dia sekuat Sword Bear, menyusahkan seperti Golden Hawk, atau punya banyak bawahan seperti White Wolf Leader?” menyebutkan ketiga Mobs langka yang pernah dia lawan, ini membuat Prajurit itu mengubah evaluasinya awalnya pada Chic.


“Jadi kau sudah tahu tentang ketiga Mobs Langka itu...” berpikir sejenak, Prajurit itu akhirnya memutuskan untuk setidaknya memberikan deskripsi dari Mobs Langka itu “Dari segi kekuatan, Mobs Langka yang satu ini jauh lebih lemah ketimbang tiga yang kau sebutkan. Hanya saja kemampuan spesialnya jauh lebih menyusahkan daripada yang kau duga”.


“Menyusahkan seperti apa?”


“Dia bisa menghilang dan bergerak sangat senyap. Walau kau dapat dengan mudah menahan serangannya dari depan, tapi kau akan berakhir seperti kawanku ketika dia menyerang dari belakang”


“Oh, jadi dia itu tipe Assassin!” mendapat anggukan dari Prajurit itu, Chic pun paham benar akan potensi bahaya dari Mobs langka itu.


Chic sendiri juga adalah seorang Assassin. Walau levelnya masih rendah dan dia sangat jarang berhadapan dengan musuh Manusia, tapi dia sudah cukup berpengalaman untuk tahu kalau lawan yang bisa bergerak ke belakangmu tanpa ketahuan sangatlah menakutkan. Terlebih ketika ada bonus kerusakan tambahan ketika sukses melancarkan serangan kejutan. Bahkan Pemain dengan Total Level rendah sekalipun dapat menghabisi lawan yang Total levelnya lebih tinggi darinya.


Walau apa yang Prajurit itu katakan perihal masalah ini bukanlah sesuatu yang dirinya harus pikirkan, tapi Chic tidak kuasa untuk tidak memikirkannya.


Winter sekarang sudah bertambah kuat dengan ketiga Summon barunya. Walau mereka belum lama ini berkenalan, tapi penampilan Victor saat bertarung dengan Mobs Langka sudah lebih dari cukup untuk memberitahukan kalau dia memang lihai dalam ilmu berpedang. Seolah dia sudah belajar di dunia nyata.


Sedangkan Chic, dirinya yang awalnya tidak punya niatan besar untuk bertarung kini dipaksa untuk menjadi lebih kuat jika tidak mau ketinggalan dari kedua anggota Party nya yang lain. Dia harus menjadi kuat bagaimanapun caranya.


Dan sekarang, terdapat informasi mengenai seekor Mobs Langka yang sangat sesuai dengan Build miliknya.


Bagaimana mungkin dia bisa melewatkannya?


“Maaf kalau lancang, tapi bisakah kau memberitahukan kepadaku di mana Mobs Langka itu berada sekarang?”


“Hah? Memangnya apa yang bisa aku perbuat?” di bawah tatapan ragu prajurit itu, Chic pun mulai menjelaskan akan apa yang membuatnya berguna ketika melawan Mobs Langka itu.


...


Berdiri di pinggiran hutan adalah Gladius beserta beberapa Prajurit yang adalah bawahannya.


Alasan kenapa mereka berada di pinggir hutan seperti ini adalah karena mereka baru saja diserang oleh Mobs Langka yang awalnya ingin mereka usir.


Walau kekuatan Mobs Langka itu tidaklah seberapa, tapi kemampuan yang dia miliki terbukti cukup menyusahkan bagi sekelompok prajurit yang tidak punya kemampuan untuk mendeteksi musuh yang tidak terlihat.


Entah untung atau sedang sial, hanya satu dari mereka yang terluka parah. Tepat setelah Mobs Langka itu sukses mendaratkan serangan kritikal kepada prajurit yang malang, Mobs Langka itu langsung menghilang tanpa jejak.


Meski begitu, Gladius yakin kalau Mobs Langka itu tidak pergi jauh dan masih berada di sekitar sini.


Takut akan serangan tiba-tiba lainnya, Gladius pun memerintahkan untuk mundur ke ruang yang lebih terbuka dan disinilah mereka sekarang.


Bingung harus berbuat apa, salah satu anak buahnya melaporkan kalau prajurit yang dia kirim untuk mengantarkan rekannya yang terluka ke kuil untuk diobati telah kembali. Bersamanya adalah seorang gadis yang tidak mereka ketahui.


Dilihat dari Equipment yang gadis itu kenakan, jelas kalau dia adalah seorang Petualang atau semacamnya.


Setelah menunggu beberapa saat, prajurit itu pun akhirnya tiba juga.


Turun dari kudanya, prajurit itu segera melapor kalau dia telah berhasil membawa rekannya untuk diobati dengan aman serta kalau dia telah membawa bala bantuan berupa gadis yang berkuda di sampingnya. Memberikan salam hormat, senyuman gadis itu hampir saja membuat Gladius terpesona.


Menenangkan hatinya, Gladius pun menanyakan identitas gadis tersebut “Sebutkan identitasmu” atas perintah dari Gladius, Chic tidak punya alasan untuk tetap diam “Perkenalkan, namaku adalah Chic. Seorang Petualang tingkat Iron dari Guild Petualang”. Mendengar peringkatnya, tentu saja Gladius ragu apakah gadis di hadapannya ini pantas untuk disebut sebagai bala bantuan? Apakah prajurit yang membawanya kemari benar-benar menganggap seperti


itu atau dia hanya sekedar terlena oleh paras cantik dari gadis ini?


Melihat reaksi prajurit lainnya yang tidak mampu untuk mengalihkan pandangan mereka dari Chic, kurasa memang itu kasusnya.


Gladius pun berkata “Memangnya apa yang bisa kau lakukan?”. Dengan percaya diri Chic pun menjawab “Aku memiliki Job Scout, aku yakin kemampuanku ini akan sangat berguna untuk Mobs Langka yang satu ini”.


Sekarang Gladius akhirnya paham.


Alasan kenapa Chic dibawa ke sini itu bukan untuk meningkatkan kekuatan tempur mereka. Melainkan untuk membantu melacak dan mencari tahu keberadaan dari Mobs Langka yang memiliki kemampuan untuk tidak terlihat oleh mata telanjang.


Tidak lagi punya alasan untuk ragu, Gladius segera membawa anak buahnya kembali ke dalam hutan dengan Chic berjalan di depan mereka.