A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 48 : Familia Quest



Sehari setelah Polar Night Familia terbentuk.


Terlihat Chic dan Silvia sedang berjalan menyusuri gang-gang sempit yang ada di kota Shoddy. Tentu saja apa yang sedang mereka lalukan sekarang terbilang berbahaya kerena gang-gang sempit adalah tempat bagi para orang-orang aneh dan berbahaya berkumpul.


Terlebih karena sekarang terdapat banyak sekali Pemain yang melakukan hal yang sama dengan apa yang sedang  mereka lakukan.


Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mencari keberadaan seorang Locals yang mampu memberikan mereka sebuah Main Quest.


Hal ini jugalah yang mengharuskan mereka berdua untuk menyusuri gang-gang yang sempit, gelap, dan juga jorok.


Walau beberapa hari lagi Event pertama akan dimulai, Winter yang melihat kalau hanya Silvia lah satu-satunya Members yang belum menjadi Pemegang Insignia segera meminta Chic untuk membantunya menjadi Pemegang Insignia.


Chic yang awalnya percaya diri bisa menemukan Locals yang dimaksud dengan mudah perlahan mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Chic bahkan mulai mencurigai kalau Winter sebenarnya memiliki metode khusus karena sebelumnya Winter hanya mengajaknya berkeliling sebentar dan langsung bisa ketemu sementara dirinya sudah


berkeliling selama sejam penuh tapi belum ketemu juga.


“Orang itu sedang libur atau apa sih?” dengan tampang kusam Chic menuntun Silvia menjelajahi jalanan Kota Shoddy yang paling jarang dilalui oleh orang-orang.


Mengikuti dari belakang, Silvia sebenarnya tidak peduli apakah dia menjadi seorang Pemegang Insignia atau tidak. Namun karena saran alias perintah dari Winter, dia pun dengan taat mengikuti Chic yang belum lama ini dia kenal.


Kesan pertamanya terhadap Chic adalah seorang gadis cantik yang mudah di ajak bicara. Chic sangat mudah bergaul dengan orang baru dan dapat dengan mudah mencari topik pembicaraan yang membuat alur pembicaraan dapat terus mengalir tanpa ada yang merasa canggung.


Meski Silvia sempat terkejut akan Job apa yang Chic miliki, tapi mengingat di fraksi mana dia sekarang berada membuatnya jadi dapat menerima Chic apa adanya.


Satu-satunya yang dia sayangkan adalah Chic yang sama sekali tidak memiliki aura kepemimpinan. Sebaliknya, Chic adalah tipe orang yang mudah terbawa arus dan akan selalu menuruti segala perintah yang diberikan kepadanya.


Silvia tidak tahu apakah dia harus merasa lega atau kasihan karena Chic sekarang berada di bawah naungan Winter yang merupakan seorang yang cerdik namun juga licik.


Baru juga sehari bersamanya, Silvia sudah bisa tahu kalau Winter adalah seorang individu yang tidak akan ragu untuk menggunakan orang lain untuk bisa memenuhi segala keinginannya. Tapi untungnya Winter juga adalah seseorang yang lebih mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas.


Jadi, asalkan kau bisa memenuhi keinginannya dengan baik, maka bukan hanya Winter akan selalu menjagamu, tapi dia bahkan akan merawatmu dan membimbingmu untuk menjadi lebih baik agar kau bisa melayaninya lebih baik lagi.


“!” Chic yang tiba-tiba saja menghentikan langkahnya membuat Silvia keluar dari lamunannya.


Penasaran kenapa Chic tiba-tiba saja berhenti seperti ini, Silvia pun menengok ke depan dan segera menemukan alasannya.


Tidak jauh di depan mereka adalah seorang Pemain dengan pisau berdarah di tangannya. Berada di bawah kakinya adalah seorang Pemain lainnya yang tengah terbaring kaku di atas tanah dengan sebagian tubuhnya sudah mulai berubah menjadi butiran cahaya.


Tampaknya Pemain itu sedang menunggu agar korbannya berubah sepenuhnya menjadi butiran cahaya agar dirinya bisa mengambil item drop dari korbannya.


Melihat kalau terus maju ke depan itu berbahaya, Silvia hendak segera berbalik untuk mencari jalan memutar sebelum akhirnya langkahnya dihentikan oleh Chic.


“Diam di sini...” meraih ke dalam penyimpanannya, Chic segera mengenakan \ dan seketika wujudnya pun menghilang dari pandangan mata.


Silvia yang melihat ini seketika mengurungkan niatnya untuk mencari jalan memutar. Sebagai gantinya dia tetap diam bersembunyi untuk menyaksikan apa yang akan segera terjadi.


“Whoa...” terdengar suara teriakan penuh suka cita dari Pemain yang ada di depannya. Terlihat tubuh korbannya kini sudah tidak ada lagi. Apa yang menggantikannya adalah sekantung penuh uang serta sebilah belati yang dari jauh sekalipun terlihat kalau itu adalah sebuah belati mahal.


Dengan seringai lebar di wajahnya Pemain itu segera mengulurkan tangannya untuk mengambil belati tersebut tanpa menyadari kalau sudah ada seseorang yang berada tepat di belakangnya.


Belum sempat tangannya menyentuh belati tersebut, kepalanya seketika melayang tinggi ke angkasa sebelum akhirnya jatuh tepat ke dalam tempat sampah yang baru setengah terisi. Dengan luka fatal yang dia terima, sontak Pemain itu kehilangan seluruh HP nya dan perlahan mulai berubah menjadi butiran cahaya.


Karena dirinya baru saja selesai melancarkan sebuah serangan, wujud Chic kini bisa kembali terlihat sedang berdiri di tengah gang sempit yang bau sambil memegangi sebuah belati di tangannya.


Mengambil uang serta belati di bawah kakinya, Chic lalu kembali menghilangkan keberadaannya untuk menunggu tubuh Pemain yang baru saja dia habisi untuk menghilang.


Setelah menunggu beberapa detik, muncul sebuah kaos serta celana panjang serta beberapa keping uang.


Walau sedikit, Chic tetap memungut uang tersebut lalu mengambil kaos serta celana yang bahkan tanpa menjadi seorang Appraiser sekalipun Chic sudah bisa tahu kalau kaos dan celana itu hanyalah sekedar pakaian biasa.


Melihat kalau situasi sudah aman, Silvia pun keluar dari persembunyiannya untuk menghampiri Chic. Memperbaiki posisi kacamatanya, Silvia pun mengamati sepasang pakaian itu lalu berkata “Linen Clothes, Common, Poor”.


Mendengarkan penjelasan singkat dari Silvia, Chic pun segera melempar pakaian itu ke dalam tempat sampah. Menghampiri Silvia, Chic pun menunjukkan belati yang baru saja dia dapatkan.


Paham akan maksud dari Chic, Silvia pun segera mengamati belati itu menggunakan kacamatanya.


Ketika hasil sudah di dapat, dia pun membagikannya kepada Chic.



Grade : Rare     Quality : Excellent     Type : Weapon


ATK : 50 DEX + 20 Durability : 80


Sebuah belati yang telah menjadi harta pusaka keluarga seorang Bangsawan yang telah diwariskan selama tiga generasi.


Terbuat dari logam terbaik, belati ini ringan dan terasa nyaman ketika di genggam


Requirement : Total Level 20


“Apakah kau serius?”


Tidak percaya akan apa yang baru saja dia dapatkan, Chic pun tidak membuang waktu dan segera meletakkan belati itu ke dalam penyimpanannya.


Meskipun dia lah yang menilai belati tersebut, Silvia masih tidak percaya kalau mereka bisa menemukan sebuah senjata dengan tingkat Rare di gang terpencil seperti ini.


“Senjata setingkat ini pasti sangat mahal. Aku sudah bisa membayangkan wajah pemiliknya ketika menemukan senjata mahalnya sirna begitu saja”


“Itu bukanlah urusan kita. Tapi jika menilai dari deskripsi belati tadi, kurasa Pemain itu merampasnya dari seorang Bangsawan yang dia temui di jalan”


“Oh, benar juga... Apakah ini yang namanya karma?”


Setelah selesai melakukan perbincangan kecil mereka, Chic dan Silvia segera pergi dari tempat itu dan lanjut mencari Locals pemberi Main Quest.


Sayang, bahkan setelah mencari selama seharian penuh mereka masih tidak mampu untuk menemukan keberadaannya.


Melihat hari yang sudah semakin gelap, dengan terpaksa mereka membatalkan pencarian dan harus kembali ke markas dengan tangan kosong.


...


Sekembalinya mereka ke markas, terlihat kalau markas sedang sepi dengan hanya terdapat Winter seorang di sana.


“Kalian lama juga, bagaimana hasilnya?”


Tidak punya alasan untuk berbohong, Chic secara jujur mengatakan kalau hasil mereka adalah nihil.


“Kami sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu juga”


“Kalian sudah mencari selama seharian penuh tapi belum ketemu juga?” heran, Winter pun menatap lurus ke arah Silvia “Kau sudah pernah membunuh orang, kan?”.


Mendapatkan anggukan singkat, Winter mulai merasa kalau teorinya yang sebelumnya yang menyatakan kalau syarat utama untuk bisa memicu Main Quest adalah untuk menghabisi orang lain baik itu Pemain ataupun NPC adalah benar kini menjadi ragu.


Mengingat reputasi yang Silvia miliki, tidak usah diragukan lagi kalau dia telah memenuhi syaratnya... Terkecuali! “Silvia, apakah kau selalu melempari muka orang dengan racun”.


“Itu hanya refleks alamiku! Jika saja mereka tidak mengejutkanku dari belakang maka aku tidak akan melempar mereka dengan racun”


Mendengar hal ini, sebuah kecurigaanpun muncul di benak Winter.


“Ketika kau berada di dalam kota, apakah kau pernah mendapati seorang pria aneh dengan tudung memanggilmu dari dalam gang sempit?


“Hmm... Sepertinya pernah sekali. Dia muncul begitu saja sehingga aku langsung melemparnya dengan racun” seolah mengingat sesuatu, Silvia pun melanjutkan “Anehnya setelah aku lempar racun, tidak seperti yang lain, orang tersebut tampak baik-baik saja sehingga aku menjadi takut dan langsung kabur setelah melemparinya dengan lebih banyak racun...” baru saja Silvia menyelesaikan perkataannya, tampak Winter membuat ekspresi seolah dia tidak percaya akan apa yang baru saja dia dengar.


Bingung, Silvia pun menoleh ke samping hanya untuk menemukan kalau Chic juga sedang membuat ekspresi yang sama.


“Ada apa?” tanyanya heran melihat tingkah mereka berdua.


Melihat kalau Silvia masih tidak sadar akan apa yang telah dia lakukan, Winter hanya bisa mendoakan kalau kelak kelakuannya itu akan dimaafkan atau dia tidak akan pernah menjadi seorang Pemegang Insignia.


Pak! Menepukkan tangannya, Winter dengan paksa mengubah topik pembicaraan.


“Baiklah, gadis-gadis. Aku punya berita baik dan berita buruk untuk kalian. Yang mana yang ingin kalian dengar terlebih dahulu?”


“Berita buruk” jawab Chic singkat sedetik setelah Winter selesai memberikan pertanyaannya.


Hafal benar dengan kelakuan Winter, Chic yang kelelahan setelah berjalan-jalan seharian sedang tidak memiliki kekuatan lagi untuk menyenangkan hati Winter.


“Berita buruknya adalah, baru saja kita menerima Familia Quest!” dengan ekspresi cerah Winter mulai memberitahukan sebuah berita yang biar bagaimanapun juga, itu terdengar lebih seperti sebuah berita baik ketimbang berita buruk “Total ada lima dari mereka! Aku tidak tahu apakah kita sedang beruntung atau karena memang Familia ini baru saja dibangun. Familia Quest yang kita terima sangatlah simpel sementara bayarannya sangatlah menggiurkan! Oleh sebab itu, aku langsung mengirim Members yang lain untuk mengerjakan semua Familia Quest itu sehingga tidak ada lagi Familia Quest yang tersisa”.


“...?!” mendengarkan dengan sabar, barulah Chic sadar kalau semua yang baru saja Winter katakan adalah kabar buruknya. Heran, Chic yang ingin bertanya bagaimana itu bisa menjadi sebuah berita buruk seketika menelan semua perkataan yang ingin dia ucapkan.


“Berita baiknya adalah... Aku sudah menyisakan satu Familia Quest khusus untuk kalian!” menunjuk ke arah layar televisi yang ada di dinding, Winter mendesak mereka untuk segera melihatnya.


Atas dorongan dari Winter, Chic dan Silvia pun membaca Familia Quest yang ditampilkan di dalam layar.



Difficulty :Silver


Client : Mayor Robert **.


Tolong racik beberapa jenis racun.


Satu racun harus memiliki efek ringan yang tidak akan mengancam nyawa serta tidak memiliki efek samping apapun. Satu racun haruslah memiliki efek sedang namun tetap tidak mengancam nyawa dan hanya memberikan satu atau dua efek samping.


Sedangkan untuk racun terakhir haruslah memiliki efek yang mematikan yang membuat bahkan seekor Ogre pun akan tumbang dibuatnya.


Total aku ingin 1 racun tidak berbahaya, 8 racun sedang, dan 1 racun berbahaya.


Semua racun haruslah tidak beraroma, tidak berwarna, serta tidak berasa.


Setelah selesai, tolong antarkan secara diam-diam kepadaku tanpa boleh ada yang curiga.


Prize :


-          10.000.000G


-          500 FP


Time Limit : 1 bulan.


Setelah membaca deskripsi Questnya, Silvia seketika paham kenapa Quest ini diserahkan kepadanya sementara Chic keheranan kenapa dia diikutkan dalam sebuah Quest yang seharusnya berada di luar jangkauannya.


“Aku ingin Silvia yang meramu racun dan ketika selesai Chic lah yang akan menghantarkannya”


Akhirnya paham kenapa dia diperlukan, tapi masih ada satu lagi pertanyaan yang dia miliki.


“Bagaimana aku akan menyerahkannya? Klien kita tampaknya adalah seorang Bangsawan. Datang kerumahnya tanpa mengundang kecurigaan itu bukanlah tugas yang mudah?”


“Apakah kau lupa dengan Job mu sendiri? Kau hanya tinggal datang ke sana untuk ‘Bekerja’ dan langsung pulang tanpa ada yang akan curiga karena Robert **. itu terkenal suka jajan”


Akhirnya memahami rencana yang telah Winter susun, Chic pun segera menutup mulutnya.


Selesai giliran Chic, kini giliran Silvia untuk bertanya “Memesan racun secara spesifik seperti ini, memangnya apa yang dia rencanakan?”.


“Menilai dari jenis serta jumlah racun yang dia pesan, aku menduga kalau dia akan menggunakan racun itu pada sebuah jamuan. Racun tidak berbahaya untuk dirinya sendiri, racun dengan efek sedang untuk tamu yang lain, sementara racun yang berbahaya itu untuk orang yang ingin dia bunuh”


Mendengarkan penjelasan dari Winter, Chic dan Silvia sampai geleng-geleng kepala.


“Sampai menyediakan racun untuk dirinya sendiri. Orang ini benar-benar totalitas”


“Mau bagaimana lagi kan? Kalau kedapatan hanya dia seorang yang tidak keracunan maka mudah bagi pihak keamanan untuk menentukan siapa pelakunya”


“Kalau begitu apakah dia tidak bisa hanya meracuni targetnya seorang?”


“Itu tidak baik, kalau hanya satu orang saja yang mati keracunan, maka pihak penyelidik dapat dengan mudah menyimpulkan kalau ini adalah kasus pembunuhan. Dan hal pertama yang akan mereka lakukan adalah menyelidiki siapa saja yang baru-baru ini sedang berkonflik dengan si korban. Menduga kalau Klien kita memang menaruh dendam dengan si korban, maka Klien kita berencana untuk membuat ini sebagai kasus keracunan masal!


Bahkan jika ketahuan kalau kasus ini ternyata adalah sebuah kasus pembunuhan berencana, Klien kita akan memiliki alibi kalau dia juga adalah korban dan kesalahan bisa dia lemparkan kepada orang lain yang telah disiapkan untuk menjadi kambing hitamnya”


Mendengarkan penjelasan dari Winter yang terlihat sangat yakin kalau apa yang dia ucapkan adalah yang sebenarnya, Chic dan Silvia sampai curiga kalau Klien mereka sebenarnya tidak memikirkan rencana ini sendiri dan telah meminta saran dari Winter.


Menyadari kalau Chic dan Silvia mulai memiliki pemikiran aneh tentang dirinya, dengan segera Winter mengganti topik pembicaraan.


“Walau batas waktunya adalah satu bulan, alangkah baiknya kalau kita bisa menyelesaikan Quest ini dengan cepat sehingga akan memberikan kesan yang baik kepada Klien kita!”


Setelah menyerahkan Familia Quest ini kepada Silvia, tidak lupa Winter juga memberikan pesan terakhirnya.


“Untuk menaikkan tingkan Familia kita menjadi Medium Familia membutuhkan total 10 ribu Familia Point (FP). Agar Familia ini bisa berkembang dengan cepat, alangkah baiknya bagi kita untuk rajin menyelesaikan Familia Quest dengan hasil yang memuaskan untuk memberikan kesan baik kepada para Klien kita sehingga kedepannya kita akan menerima Familia Quest dengan bayaran yang lebih tinggi”


Selesai berpidato, Winter menyuruh Silvia untuk segera bekerja di Alchemist Workshop dengan Chic sebagai asistennya.


Meninggalkan mereka berdua untuk bekerja, Winter lalu berjalan menuju kedai yang menjadi penyamaran mereka.


Di sana sudah terlihat kalau kedai telah penuh oleh para Petualang yang datang untuk melepas penat dan bersenang-senang sembari ditemani oleh minuman yang enak serta para gadis yang sedap di pandang.


Winter sangat puas ketika Matchmaker mampu memberikannya pegawai yang dia minta dan terima kasih berkat pelatihan yang Chic berikan membuat mereka tahu bagaimana caranya melayani para pelanggan hingga membuat mereka puas dan rela menghamburkan uang mereka di kedai ini.


Berjaga di balik meja bar adalah Prim yang telah berpakaian selayaknya seorang Bartender. Rambut hitamnya yang panjang telah di ikat hingga memberikan kesan yang rapi serta profesional. Satu-satunya hal yang disayangkan adalah tubuh Prim yang pendek membuat hanya kepala hingga dadanya saja yang terlihat dari balik meja bar.


Awalnya Winter sempat berpikir untuk menyediakan pijakan untuknya. Akan tetapi, dia mengurungkan niatnya setelah melihat reaksi para pelanggan.


“Aku pikir semua Bartender itu tinggi langsing... Tapi ternyata ada juga yang pendek”


“Biar pendek tapi mukanya cantik banget njirr”


“Daripada cantik dia itu lebih cocok dibilang imut”


“Lupakan wajahnya, dadanya itu loh...”


Termakan oleh rasa penasaran, Winter segera duduk di salah satu meja yang kosong sehingga dia bisa memiliki sudut pandang yang sama dengan para pelanggan.


“?!” sebuah perasaan campur aduk seketika dia rasakan.


Karena tubuhnya yang pendek, membuat hanya kepala serta dadanya saja yang mampu dilihat oleh para pelanggan. Dan ketika pelanggan sedang dalam posisi duduk, yang mampu mereka lihat hanyalah setengah dari aset yang Prim miliki.


Yang menjadi masalah sekarang adalah aset milik Prim yang terbilang subur dan berisi.


Sibuk menyediakan minuman, membuat Prim terkadang harus berlarian kesana-kemari untuk mengambil botol minuman dan semacamnya. Karena tubuhnya yang sering bergerak, membuat kedua asetnya sering naik ke atas dan ke bawah seolah sedang bermain petak umpet dengan para pelanggan.


Tentu saja ini menjadi sebuah tontonan yang menarik bagi para pelanggan yang datang kesini untuk sekedar cuci mata.


Terlebih bagi mereka yang duduk di meja bar. Menyaksikan pemandangan indah dari dekat tentu saja memberikan sensasi tersendiri bagi mereka dan yang lebih baik lagi mereka mampu berbincang secara langsung dengan Prim yang dari waktu ke waktu ikut berbincang dengan mereka yang tentu saja membuat hati mereka menjadi berbunga-bunga.


Menyentuh aset miliknya sendiri, sebuah perasaan yang tidak tergambarkan membuat Winter hendak meneteskan air matanya.


Terlebih asetnya di sini sudah dia edit untuk menjadi lebih besar dari miliknya yang asli.


Mengingat aset aslinya yang kurang gizi, suasana hatinya seketika memburuk yang membuatnya ingin segera minum untuk melupakannya.


Baru saja Winter hendak bangkit untuk mengambil minumannya sendiri, tiba-tiba saja terdapat seseorang yang berdiri tepat di hadapannya.


“Apakah kau Corpse si Heartless Necromancer?”


Memasuki mode waspada, Winter mengamati orang tersebut dari atas hingga ke bawah.


Dia adalah seorang pria berumur sekitar 20 tahunan dengan rambut pirang pendek yang tersisir rapi serta sepasang mata biru cerah yang ditutupi oleh sebuah kacamata.


Mengenakan sebuah jubah berwarna merah, pria itu memiliki sebuah buku yang tergantung di pinggangnya serta tiga buah cincin yang tersemat di jari-jemarinya yang memberitahukan Job macam apa yang dia miliki.


Berkat Keen Eyes yang dia miliki, Winter dapat dengan mudah melihat cahaya biru dari kacamatanya, dua cahaya abu-abu serta satu cahaya biru dari cincinnya, serta cahaya ungu dari jubah serta buku yang dia bawa.


Sadar kalau orang yang ada di hadapannya adalah seorang Pemain yang satu tingkat dengannya, Winter pun mencoba menebak identitas orang ini sebelum akhirnya memberikan sambutan yang ‘Bersahabat’.


“Kalau bukan Black Mage of Disaster... Ada perlu apa sampai dirimu repot-repot untuk menemui diriku?”


Walau itu hanya sekedar tebakan, Winter senang setelah melihat ekspresi yang orang itu buat.


Tidak mampu menahan seringai di wajahnya, Winter sudah tidak sabar untuk berbincang dengan kawan seangkatannya.