A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 11 : Acting



Keluar dari dalam kapsul putih susu adalah seorang gadis muda dengan rambut hitam panjang sebahu serta kulit sawo matang yang mulus tanpa noda. Tubuhnya terhitung tinggi untuk gadis seusianya, berkat perawatan serta diet ketat yang dia lakukan setiap hari, gadis itu juga memiliki berat badan dan proporsi tubuh yang ideal yang membuat banyak gadis lainnya iri kepadanya.


Sayang, semua keindahan itu bisa saja sempurna jika saja tidak terdapat sebuah luka melepuh yang meliputi setengah bagian kiri wajahnya.


Tidak hanya kulit yang melepuh, tampak mata kirinya juga rusak yang mana itu membuatnya hanya mampu untuk melihat dengan sebelah mata saja.


Merenggangkan tubuhnya yang mulai kaku karena terlalu lama berbaring, gadis itu menengok pada sebuah cermin satu badan di kamarnya yang telah retak sebelum akhirnya berpaling dan melangkah keluar dari kamarnya sendiri.


Dia adalah Ayu Arabelle, 18 tahun.


Putri dari aktor dan aktris ternama yang telah membintangi banyak judul-judul besar yang selalu termasuk ke dalam jajaran film yang dinominasikan ke dalam ajang penghargaan film dunia.


Ayu bahkan pernah membintangi sebuah film sebagai aktris cilik.


Berkat nama besar kedua orangtuanya, ditambah dengan paras imutnya dan kemampuan aktingnya yang telah di latih sejak dini, membuatnya langsung terkenal dan di gadang-gadang sebagai gabungan terbaik dari kedua orangtuanya.


Namanya mulai semakin sering dibicarakan bersamaan dengan fansnya yang kian hari kian bertambah.


Untuk sementara waktu Ayu menikmati ketenaran yang dia dapatkan. Dia bahkan bermimpi untuk suatu nanti bisa berada dalam satu layar bersama dengan kedua orangtuanya yang dia kagumi dan juga hormati.


Sayang, dunia tidaklah sebaik itu.


Bersamaan dengan semakin banyak orang yang menjadi penggemarnya, terdapat juga orang-orang yang membencinya.


Termakan oleh rasa iri dan dengki, mereka mulai membanjiri Ayu dengan caci maki dan ujaran kebencian yang tentunya terlalu berlebihan untuk ditujukan kepada seorang anak kecil.


Untungnya kedua orangtua Ayu sudah terbiasa akan hal ini karena mereka sendiri juga memiliki orang yang membenci mereka. Mereka berdua memberikan dukungan kuat kepada putri tersayang mereka dan tidak lupa


mereka juga mengajarkan kepada Ayu cara untuk menangani segala ujaran kebencian yang dilayangkan kepadanya.


Berkat itu Ayu bisa tetap terus mengejar mimpinya di dunia akting dengan senyuman di wajahnya.


Sayang, senyuman itu tidak bisa bertahan lama.


Termakan oleh rasa iri dan dengki, salah seorang ‘pembenci’ itu akhirnya melakukan tindakan nekat dengan cara menyiramkan air keras tepat ke wajah Ayu tepat di saat dia sedang menyapa para penggemarnya.


Tidak perlu dikatakan lagi bagaimana hasilnya.


Walau pelakunya sudah di tangkap dan di adili seberat-beratnya, luka yang telah ditorehkan tidak bisa disembuhkan lagi.


Berjalan menuruni tangga dari kamarnya yang berada di lantai ketiga, Ayu turun ke lantai satu tepat di mana Ibunya sudah menunggu di ruang keluarga.


Rushia Arabelle. Seorang aktris ternama yang sudah membintangi banyak sekali film drama baik itu film layar lebar maupun drama TV mingguan. Berbeda dari Ayu yang memiliki wajah khas orang Asia dengan rambut dan mata berwarna hitam, Rushia memiliki wajah khas orang Eropa rambut pirang dengan mata berwarna hijau tosca.


Duduk di atas sofa putih yang empuk, Rushia meletakkan majalah yang dia baca ketika menyadari kalau putrinya sudah duduk di sebelahnya.


“Jadi, apakah kau masih memainkan Job itu?” ucapnya dengan nada dingin serta ekspresi selayaknya seorang polisi wanita yang sedang menginterogasi tahanannya.


Alasan kenapa Rushia bisa bersikap seperti itu kepada putrinya sendiri adalah karena dia tahu Job apa yang putrinya ambil di game yang dia belikan sendiri sebagai hadiah agar putrinya bisa tersenyum kembali.


Sedikit dia tahu kalau dia akan segera menyesali keputusannya itu.


Berada di bawah tekanan Ibunya, Ayu hanya bisa mengangguk pelan. Tidak lupa Ayu juga menceritakan tentang apa saja yang dia lakukan selagi berada di dalam game.


Selesai mendengar cerita dari putrinya, Rushia tampak menutup matanya seolah sedang berpikir sebelum akhirnya membuka matanya sembari menghela sebuah nafas yang panjang.


“Ayu, sayang, apakah kau menikmati game itu?”


Walau putrinya itu tidak mengatakan apa-apa atau bahkan mengangguk sekalipun, tapi dari ekspresi yang Ayu tunjukkan sudah lebih dari cukup bagi Rushia untuk mengetahui kalau putrinya itu sangat menikmati permainan yang sedang dia mainkan.


Sebelumnya Rushia tidak akan pernah menyangka kalau putri tercintanya yang tumbuh penuh dengan kasih sayang akan memilih sebuah Job yang jika di dunia nyata, adalah sebuah pekerjaan yang dipandang rendah oleh


semua masyarakat.


Tentu saja dirinya sudah meminta putrinya untuk mengganti Job yang dia miliki atau bahkan membuat sebuah karakter baru. Akan tetapi, setelah mengetahui kalau itu mustahil, Rushia berganti taktik dengan cara meminta putri kenalannya yang juga memainkan game yang sama untuk membimbing putrinya menuju ke ‘jalan yang benar’.


Namun, setelah hampir seminggu lamanya mereka bermain bersama, Ayu masih saja bermain sebagai Job pertama yang dia dapatkan bahkan setelah putri kenalannya itu memaksa putrinya untuk memiliki Job yang lain.


Bahkan kemarin Ayu telah naik peringkat dan mulai menerima pelanggan dengan bayaran yang lebih mahal.


Merasa tidak lagi bisa meyakinkan putrinya untuk mengganti Job yang dia miliki, serta setelah berdiskusi panjang dengan suaminya, Rushia pun menyerah dan memutuskan untuk menghormati segala pilihan yang putrinya ambil.


“Kemarin Papih sama Mamih sudah ngobrol panjang... Kami berdua akhirnya sepakat untuk menerima segala pilihan yang Ayu ambil” untuk pertama kalinya Ayu akhirnya menatap langsung ke mata Ibunya selagi sedang berbicara “Tapi, ada syaratnya... Ayu harus kembali menerima pelajaran akting”.


Mendengar perkataan Ibunya, sontak tubuh Ayu kaku membeku.


Masih terbayang jelas di kepalanya kejadian yang membuatnya harus mundur dari dunia akting dan bahkan dari masyarakat secara umum.


Segala kenangan menyakitkan itu mulai kembali mengalir masuk ke dalam kepalanya hingga air mata mulai menetes di sudut matanya.


Menyapu air mata yang mulai mengalir, dengan lembut Rushia berkata “Tenang saja, Ayu tidak akan dipaksa untuk kembali ke dunia akting” setelah mendengar ini, Ayu pun mulai kembali tenang.


“Lalu, untuk apa aku harus kembali belajar akting?” ucap Ayu dengan suara yang rendah dan hampir tidak terdengar. Gaya bicaranya yang terkesan malu-malu jauh berbeda dengan bagaimana Chic biasa berbicara.


“Ayu di dalam game bekerja sebagai P... Pekerja malam kan? Mamih mau Ayu kembali belajar akting supaya Ayu tetap bisa membedakan mana Ayu dan mana karakter game”


“Jadi, Mama mau supaya aku berakting di dalam game?”


Melihat Ibunya yang tersenyum ramah, Ayu pun seketika tahu kalau apa yang dikatakan Ibunya itu adalah benar dan itu demi kebaikannya sendiri.


“Jika saja Ayu memilih Job yang normal, maka Mamih tidak akan menyarankan hal ini. Akan tetapi, dengan Job yang Ayu miliki sekarang, dan jika Ayu benar-benar ingin mendalami Job tersebut. Maka Ayu harus ingat...”


Apa yang Rushia katakan selanjutnya akan selalu menggema di dalam hati Ayu yang terdalam.


“...Itu semua hanya akting. Kau berakting sebagai seorang Pelacur yang memuaskan para pria hidung belang. Kau berakting untuk memberikan mereka kepuasan. Tidak kurang, tidak lebih. Dari awal sampai akhir itu semua adalah akting dan hanya akting”


Apa yang Rushia sarankan tidak lebih dari menyuruh Ayu untuk RP (Roleplay) sebagai karakter gamenya sendiri. Meski begitu, itu adalah sebuah saran yang Ayu anggap dengan sangat serius.


Melihat Ayu menganggukkan kepalanya, Rushia pun tersenyum senang.


...


Memandang ke arah kalender yang terpajang di dinding, hanya tinggal satu hari lagi sebelum akhirnya Update pertama dari game New Frontier Online (NFO) di implementasikan.


Selama Update itu berlangsung seluruh Pemain tidak akan mampu untuk Log in selama seharian penuh.


Demi bisa memanfaatkan satu hari yang tersisa sebelum Update berlangsung, Eira telah menyusun sebuah rencana akan apa yang harus dia lakukan.


Kembali masuk ke dalam kapsul VR, Eira pun kembali ke dalam dunia virtual.


Kembali tersadar sebagai Winter. Winter pun keluar dari gang sempit tempat sebelumnya dia Log Out dan melangkahkan kakinya menuju Guild Petualang.


Semenjak Quest pertamanya bersama dengan Chic, mereka berdua sudah berkali-kali menjalankan Quest dari Guild bersama. Walau Chic sebenarnya bukanlah seolah Petualang, tapi bantuan darinya tetap diterima dan


Chic pun di anggap sebagai anggota Party dari Winter yang membuatnya diperbolehkan menjalankan Quest apa pun yang mampu Winter ambil.


Membuka Menu pertemanan, Winter yang melihat kalau Chic sudah Log In segera mengiriminya pesan untuk bertemu di dalam Guild Petualang.


Melangkahkan kakinya di jalanan Kota Shoddy yang kotor dan becek, tanpa hentinya Winter melirik ke arah setiap gang sempit.


Setelah Winter di ajak mengunjungi markas rahasia dari 'Kartel' yang biasa memberikan Quest kepadanya, Winter sudah tidak mendapatkan Quest baru dari orang itu lagi. Malahan dia di suruh untuk menjadi lebih kuat terlebih dahulu sebelum bisa menerima Quest berikutnya.


“Persyaratan untuk Quest selanjutnya adalah untuk menjadi lebih kuat... Apakah itu berarti Quest yang akan aku terima selanjutnya melebihi dari si Bahar itu?”


Sembari merenungkan hal itu, ‘Danger Sense’ milik Winter tiada hentinya menyala.


Sontak hal ini membuat Winter masuk ke dalam mode waspada tinggi. Matanya tidak lagi hanya terfokus pada gang-gang sempit tapi juga ke segala penjuru yang dia anggap mencurigakan.


Terima kasih berkat tudung yang dia kenakan, membuat orang susah untuk mengenali wajahnya.


Jika Winter mau, dia hanya tinggal bersembunyi ke tempat sepi sebelum akhirnya kembali keluar tanpa  mengenakan tudungnya. Dengan ini mungkin saja Winter bisa lolos dari siapapun yang sekarang sedang mengincarnya.


Akan tetapi, langkah itu hanya akan menjadi langkah terakhirnya.


Itu dikarenakan dia sekarang sudah sampai tepat di depan Guild Petualang.


...


Setelah mendapatkan kursus singkat dari Ibunya, Chic akhirnya bisa kembali Log In ke dalam game.


Hal pertama yang dia lihat adalah pemandangan sebuah ruangan kecil sederhana dengan hanya terdapat sebuah matras tua yang tergeletak begitu saja di atas lantai yang dilapisi oleh tikar rotan. Membuka jendela kamar, udara yang pengap dan bau apek segera tergantikan oleh udara segar khas pagi hari.


Membaca isi pesan itu dari layar Menunya, awalnya Chic biasa saja karena itu hanya Winter yang menyuruhnya untuk berkumpul di Guild Petualang seperti biasa. Karena tidak perlu terburu-buru, Chic berniat untuk membersihkan ruang pribadinya ini.


Belum juga Chic selesai beres-beres, sebuah pesan kedua datang dari Winter.


“Sudah kuduga pada akhirnya dia akan di incar juga”


Sembari mengeluh, Chic mengganti Equipment yang dia pakai dari pakaian malamnya menjadi Equipment yang Winter belikan kepadanya.


Tanpa melewati pintu depan, Chic langsung melompat dari jendela lantai kedua dan sukses mendarat dengan aman di dalam gang sempit yang bau amis dan busuk karena sampah yang terkumpul di sini.


Menggunakan Skill ‘Cat Step’ dari Job Thief dan Skill ‘Stealth Mastery’ dari Job Assassin, Chic sukses berbaur ke dalam kegelapan.


Kembali ke Winter.


Agar tidak memancing kecurigaan dari orang yang menguntitnya, Winter menerima Quest dari Guild Petualang dan segera pergi keluar.


Tujuannya kali ini adalah selokan. Tempat yang sama dengan yang dia kunjungi di Quest pertamanya.


Itu wajar saja, mengingat Quest yang Winter ambil adalah Quest yang sama dengan yang pertama kali dia ambil saat baru mendaftar sebagai Petualang.



Difficulty : Copper


Client : Adventurer Guild


Description :


Tolong bereskan para tikus yang menghuni selokan kota.


Prize : 5.000 G


Time Limit : 3 hari.


Menyalakan lentera yang dia ambil dari gelandangan yang sekarang sudah menjadi abu, Winter berjalan menyusuri gelapnya selokan kota yang masih saja jorok dan bau.


Dengan Skill ‘Tracking’ dari Job Scout kini mudah bagi Winter untuk mencari keberadaan Sewer Mice dengan cara mengikuti jejak yang mereka tinggalkan.


Hingga tanpa sadar Winter sudah berhasil menyelesaikan Quest yang dia ambil tanpa perlu memanggil satupun anak buahnya.


Melihat layar Menu nya sekali lagi, Winter pun mengangguk puas.


“Aku rasa ini sudah cukup... Jadi, apa yang sebenarnya kau inginkan?”


Berbicara kepada sosok yang bersembunyi di dalam kegelapan, sosok orang yang sedari tadi menguntit Winter akhirnya menunjukkan wujudnya.


Apa yang muncul adalah seorang pria kurus kerempeng seakan dirinya hanyalah tulang yang berbalut kulit. Itu semakin jelas karena dirinya hanya mengenakan celana pendek saja tanpa mengenakan baju atau apa pun yang menutupi tubuh bagian atasnya.


Itu membuat perut kecilnya tampak jelas bersama dengan dadanya yang seolah hanya terdiri dari tulang rusuk belaka.


Kepalanya botak dengan wajah yang bersih tanpa adanya kumis atau janggut. Sial, pria ini bahkan tidak punya alis ataupun bulu mata. Gigi-gigi hitam terlihat berjejer di dalam mulutnya yang membentuk sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Winter berdiri.


Jika saja Winter bertemu dengan pria aneh ini di dunia nyata, maka tanpa ragu dirinya akan segera memanggil polisi atau bahkan langsung berteriak meminta pertolongan dari warga setempat.


Namun, ini adalah di dalam game, terlebih mereka sekarang berada di dalam selokan yang kotor dan gelap jauh di bawah hiruk-pikuk kota yang sibuk. Belum lagi ini adalah kota Shoddy, kota para kriminal. Bahkan jika Winter berteriak sekalipun, tidak diragukan lagi teriakannya hanya akan masuk telinga satu dan keluar di telinga lainnya. Karena dia memiliki Skill, itu berarti Winter memiliki sarana untuk mempertahankan dirinya sendiri. Akan tetapi, sedari tadi ‘Danger Sense’ miliknya berteriak dengan keras memberitahukan untuk segera lari dari orang ini sejauh mungkin.


Walau wajahnya kini disembunyikan di balik tudung dan masker yang dia kenakan, Winter masih belum yakin dirinya bisa menyembunyikan rasa takutnya yang setiap detiknya kian meningkat.


Winter masih tidak habis pikir bagaimana bisa orang semengerikan ini sedari tadi bisa bersembunyi dan bahkan menyembunyikan hawa menakutkan miliknya.


Sembari mencoba untuk menekan rasa takutnya, Winter pun kembali bertanya sambil berusaha keras untuk menyembunyikan rasa takut yang sedang dia rasakan.


“Apa yang kau inginkan dariku?”


Tidak ada jawaban.


Pria itu hanya berdiri di sana dengan senyuman mengerikan di wajahnya. Itu membuat keringat dingin Winter semakin menjadi dan dia mulai menggenggam tongkatnya dengan semakin erat.


“Sekali lagi aku bertanya, apa yang kau inginkan dariku?”


Bahkan setelah pertanyaan kedua sekalipun masih tidak ada jawaban. Jika ada yang berubah, itu adalah pandangan si pria aneh yang kini menatap tajam langsung ke mata Winter.


“?!” sontak Winter pun langsung melompat mundur ketika pria aneh itu tiba-tiba saja mengangkat tangan kanannya.


Bahkan gerakan sederhana dari pria aneh itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Winter ketakutan setengah mati.


Berbeda jauh dari yang Winter takutkan, pria aneh itu tidaklah mengangkat tangannya untuk melancarkan serangan atau semacamnya. Sebaliknya, pria aneh itu mengangkat tangannya hingga tepat sejajar dengan kepalanya sebelum akhirnya melambaikannya.


“Halo...” suara yang serak terdengar dari mulut pria aneh itu.


Walau kesannya dia hanya memberikan sebuah salam sederhana, tapi salam sederhana itu hampir saja membuat Winter memanggil makhluk panggilannya sebagai tameng daging agar dia bisa kabur.


Setelah beberapa saat, pria aneh itu pun melanjutkan salamnya “Senang bertemu denganmu, Necromancer, Winter...” fakta kalau pria aneh itu mengetahui bukan hanya nama tapi juga Job miliknya membuat Winter curiga kalau pria aneh di hadapannya ini sudah mengamatinya sejak lama.


Terlebih ketika jubah yang dia kenakan memiliki efek [Concealment] yang seharusnya mampu untuk  menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya.


Namun apa yang dia katakan selanjutnya semakin membuat Winter takut kepadanya “...dan senang juga bertemu denganmu, Prostitute sekaligus Assassin, Chic”. Chic yang sedari tadi membuntuti dari belakang sontak terkejut ketika tahu kalau bukan hanya keberadaannya saja yang ketahuan tapi juga identitasnya.


Sama seperti yang terjadi pada Winter, aura yang pria aneh itu pancarkan membuat tubuh Chic seolah membatu menolak untuk bergerak.


Bahkan Chic yang awalnya hendak meraih belatinya seketika mengurungkan niatnya ketika merasakan sebuah hawa menekan menyelimuti tubuhnya.


Walau secara teknis sekarang merekalah yang sedang mengepung pria aneh itu, tapi entah mengapa malah mereka yang merasa sedang terpojokkan.


“Bagus, bagus... Walau kalian masih lemah, tapi insting kalian sudah bagus. Bahkan ketika kalian berencana akan menyerangku sebelum kabur adalah sebuah keputusan yang sangat bijak”


Fakta kalau pria aneh itu bisa tahu semua rencananya membuat Winter menjadi semakin takut sekaligus benci kepadanya.


Ingin sekali Winter untuk segera kabur dari sini dan berharap untuk tidak akan melihat sosok pria aneh itu lagi.


Namun... “Bahkan jika kami kabur, kau pasti akan bisa mengejar. Kan?”.


Senyum pria aneh itu pun semakin melebar “Tentu saja, bahkan ketika kalian berpencar sekalipun, mengejar siput seperti kalian itu sangatlah mudah”.


“Heh, kalau begitu, tolong beritahukanlah kepada kami. Apa sebenarnya tujuanmu untuk menemui kami?”


“Itu mudah...” ucap pria aneh itu dengan nada yang sangat santai “Aku hanya ingin tahu seberapa kuat sebenarnya orang yang mampu mengalahkan pemegang insignia dari fraksi cahaya” merogoh saku celananya, Pria aneh itu lalu mengeluarkan sebuah insignia.


Berbeda dari insignia milik bahar yang terbuat dari bahan perak, insignia yang pria itu miliki terbuat dari sebuah logam yang berwarna merah bata. Dan pada permukaan insignia itu tidaklah terukir simbol pedang melainkan simbol tengkorak.


Total ada 5 buah tengkorak yang terukir pada insignia tersebut.


Melihat ini, Winter dan Chic sama-sama tahu kalau orang di hadapan mereka adalah salah satu petinggi dari fraksi bayangan.


“Oh, tampaknya kalian sudah paham apa maksud dari insignia ini. Bagus, bagus, itu membantuku untuk tidak perlu menjelaskannya”


Setelah mengucapkan itu, sosoknya tiba-tiba saja mulai menjadi pudar seolah dia hanyalah sekedar ilusi belaka. Dan di saat sosoknya hilang sepenuhnya, terdengar suara yang samar menggema di dalam selokan yang gelap.


“Jadilah kuat, dan kami akan menyambut kalian”


Pada akhirnya pria aneh itu telah benar-benar menghilang meninggalkan Winter dan Chic yang hanya berdiri di sana masih dalam keadaan siaga.


Setelah yakin kalau mereka hanya sendiri, barulah mereka menurunkan kewaspadaan mereka.


“Hah... Winter... Jurang macam apa yang sudah kita masuki?” tidak mampu lagi menahan ketegangannya, Chic pun segera bersujud di atas lantai selokan tidak peduli walau itu berarti mengotori bajunya.


Di sisi lain, Winter masih tegak berdiri walau harus menggunakan tongkatnya sebagai penyangga tubuhnya.


“Yang terpenting dia tidak berniat jahat kepada kita... Terlebih, sekarang kita tahu kalau pemegang insignia bukanlah lawan yang bisa kita tantang untuk saat ini”


“Kau bercanda? Aku bahkan tidak mau berurusan dengannya lagi”


Setelah membantu Chic untuk berdiri, mereka berdua pun berjalan beriringan keluar dari selokan yang bau ini. Karena kejadian ini, Winter memutuskan untuk membatalkan rencana awal mereka dan sebagai gantinya mereka akan menghabiskan waktu dengan cara bersantai dan minum-minum di bar (Hanya Winter yang minum alkohol).


Baru pada saat ingin Log Out Winter baru ingat untuk melaporkan Quest yang telah dia selesaikan.