A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 7 : Rank Up



Tiga hari sudah berlalu semenjak Winter menerima Quest dari Madam Madame.


Selama itu juga dia selalu Log In sebanyak dua kali sekali yaitu saat pagi dan malam. Jika bukan karena kesehatannya, Winter sudah pasti akan Log In seharian penuh.


Dan selama tiga hari itu juga Winter akan selalu menerima setidaknya satu atau dua Quest setiap kali dia Log In.


Berkat itu Winter sekarang telah menyelesaikan total 9 Quest. Hanya tinggal satu Quest lagi sebelum dia akhirnya di promosikan menjadi Petualang peringkat Iron.


Karena itulah, hari ini dia akan mengambil Quest kesepuluhnya.



Difficulty : Iron


Client : Adventure Guild


Description :


War Ogre adalah spesies unggul dari Ogre. Karena kekuatan mereka yang berbahaya dan agar jumlah mereka tidak terlalu banyak, maka sebaiknya menghabisi mereka secara berkala.


Prize : 5.000 G / 1 War Ogre


Time Limit : 5 hari.


Walau peringkatnya sekarang masihlah Copper, bukan berarti Winter tidak bisa mengambil Quest yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dari peringkatnya.


Malahan semua Petualang yang ada diperbolehkan untuk mengambil Quest yang satu tingkat lebih tinggi dari peringkat mereka. Tentu saja karena bahaya yang meningkat, maka resiko ditanggung sendiri.


Dengan Quest di tangan, Winter pun menyerahkannya ke meja resepsionis.


Tiba di tengah hutan yang lebat, Winter sudah tiba di tempat di mana Ogre biasa terlihat. Malahan dia sekarang telah menemukan tiga ekor Ogre yang sedang bercengkrama di kejauhan. Dan salah satunya adalah War Ogre yang menjadi incarannya.


Ogre adalah raksasa sebesar 2 Meter lebih dengan kulit cokelat dan sepasang lengan yang besar. Walau mereka terkenal akan kebodohan mereka, tapi kekuatan fisik mereka yang melampaui Manusia tetap tidak bisa diremehkan.


Yang membuat mereka menyusahkan adalah kemampuan mereka untuk menyembuhkan diri. Jika mereka tidak cepat di bunuh, maka luka mereka akan kembali pulih yang akan membuat mereka akan selalu bertarung dalam keadaan prima sedangkan yang menyerang mereka semakin lama akan semakin lemah.


Sedangkan untuk War Ogre, mereka adalah raksasa sebesar 3 Meter lebih dengan kulit merah menyala. Jelas sekali kalau kekuatan fisik serta kemampuan regenerasi mereka yang jauh lebih unggul dari Ogre yang biasa.


Untungnya baik itu Ogre maupun War Ogre sama-sama memiliki kelemahan yang sama.


Yaitu api dan asam.


Jika terkena kedua element tersebut, maka kekuatan regenerasi mereka akan melemah atau bahkan tidak berguna sehingga membuat mereka menjadi lebih mudah untuk di kalahkan.


Sayangnya Winter tidak memiliki satupun dari kedua element tersebut.


Namun, Winter yang sekarang tahu bahwa Negative Energy miliknya mampu melemahkan kekuatan fisik lawannya, dia berharap kalau sihirnya mampu melemahkan seekor Ogre yang nantinya dia gunakan untuk membantunya dalam melawan War Ogre yang adalah target utamanya.


Terlebih...


[Raise Undead +1]


MP : 12 CD : 50 detik


Grade : Tier-1 Spells


Element : Dark


Effect : Menghidupkan (2) mayat terdekat dan membuatnya bertarung melawan musuh selama (12) menit.


Weakness : Light, Fire


Setelah Quest di toko Madam Madame, Skill Raise Undead miliknya tidak di sangka bisa menjadi lebih kuat.


Walau MP yang dibutuhkan bertambah, tapi CD nya juga berkurang selama 10 detik. Selain itu Winter sekarang telah mampu membangkitkan 2 mayat sekaligus serta waktu mereka bisa aktif telah bertambah menjadi 12 menit.


Dengan ini Winter menduga kalau Skill, semakin sering mereka digunakan, maka akan menjadi semakin kuat juga mereka.


Untuk memastikan teori ini, selama tiga hari ini Winter mencoba untuk menjadi semakin sering dalam menggunakan Negative Energy yang adalah satu-satunya Skill miliknya yang bisa menyerang secara langsung.


Hasilnya...


[Negative Energy +1]


MP : 8 CD : 5 detik


Grade : Tier-1 Spells


Element : Dark


Damage : INT + 12%


Effective : Light


Sukses besar!


Walau peningkatan yang di dapat termasuk kecil, peningkatan tetaplah peningkatan. Dengan ini Winter menjadi lebih percaya diri dalam menghadapi lawan yang lebih kuat.


“Summon : Robert”


Setelah memanggil Robert yang telah siaga dengan Crossbow miliknya, Winter lalu memanggil si kerangka sembari menunggu selama 30 detik untuk bisa memanggil makhluk panggilannya yang kedua.


“Summon : Clara”


Apa yang muncul dari lingkaran sihir adalah seorang gadis kecil dengan rambut merah dan kulit yang pucat dan bahkan beberapa bagian tubuhnya telah terlihat membusuk.


Gadis kecil itu membawa sebilah pedang di tangan kanannya serta sebuah perisai terpasang di tangan kirinya. Mengenakan sebuah Leather Armor yang terlihat kotor yang melapisi gaun tidurnya yang kusam dan kumal, gadis


itu tidak memiliki alas kaki yang membuat kaki kecil busuknya menapak langsung ke atas tanah.


Dia adalah Clara, putri dari Robert.


Setelah lewat beberapa hari, Winter sudah tidak lagi merasa bersalah ketika melihat wujud Clara yang menjadi seperti ini berkat dirinya.


Bahkan Winter merasa bersyukur atas pilihannya untuk menjadikan Clara sebagai makhluk panggilannya.


Karena Clara pada awalnya tidak memiliki Job satupun, Winter pun mencoba menggunakan buku Job yang dia ambil dari Robert untuk memberikan Clara Job.


Tidak di sangka itu berhasil dan sekarang Clara telah mendapatkan dua Job yaitu Warrior dan Swordsman.


Selain bisa memberikan Job kepada makhluk panggilannya, Winter juga akhirnya mengetahui kalau ternyata dia bisa mempersenjatai makhluk panggilannya.


Karena itu Clara sekarang mampu membawa senjata.


Jelas Winter juga memanfaatkan ini untuk mempersenjatai kerangka yang dia panggil.


Kerangka yang awalnya polos kini mengenakan kain usang untuk menutupi tubuh tulangnya serta dia kini membawa pemukul kayu serta perisai kayu di kedua tangannya.


Kain usang itu Winter dapatkan saat menjalankan Quest dari Madame. Sedangkan pemukul kayu dan perisai kayu Winter ambil dari Goblin Warrior yang dia kalahkan di Quest-Quest sebelumnya.


Walau Winter sebenarnya punya lebih dari cukup uang untuk membeli Equipment baru yang lengkap untuk semua makhluk panggilannya, tapi Winter merasa itu tidak perlu terkecuali dia menghadapi lawan yang terlalu kuat hingga membuatnya terpaksa mengalokasikan semua sumber dayanya yang terbatas untuk memperkuat makhluk panggilannya.


Untuk lembih simpelnya, Winter itu pelit.


Alasan ini jugalah kenapa dia hanya memberikan Clara dua buku Job namun tidak memberikan si kerangka satu pun buku Job.


Jika ada uang yang dia keluarkan untuk makhluk panggilannya, itu hanyalah beberapa lusin anak panah biasa untuk Robert dan dua lusin anak panah yang memiliki kemampuan untuk menembus pertahanan lawannya.


Dengan Clara dan kerangka di barisan depan, Robert dengan Crossbownya berada di tengah, dan Winter sendiri berada di paling belakang, membuat semua pesiapan telah selesai.


Sekarang, saatnya untuk bertarung.


...


Dua ekor Ogre dengan batang kayu tebal di tangan mereka yang adalah senjata mereka sedang duduk santai sambil mengobrol dengan bahasa Ogre yang tidak bisa dimengerti oleh ras Manusia. Duduk di antara kedua Ogre tersebut adalah seekor War Ogre berkulit merah mencolok dengan wajah yang sangar dan menakutkan.


Berbeda dari kedua Ogre yang hanya bersenjatakan batang pohon yang entah mereka ambil dari mana, si War Ogre menggunakan sebuah Battle Axe yang panjangnya setara dengan dirinya.


Walau bagian kepala Battle Axe tersebut sudah berkarat dan bahkan mungkin sudah tumpul, tapi jika Battle Axe itu diayunkan oleh seekor Ogre dengan kekuatan yang melebihi Manusia biasa, maka itu sudah lebih dari cukup untuk membelah seorang pria dewasa menjadi dua dengan mudahnya.


Berbeda dari kedua Ogre yang masih duduk santai, si War Ogre tiba-tiba saja bangkit berdiri sembari menatap ke balik lebatnya semak-semak.


Di saat kedua Ogre yang bodoh itu heran akan kelakuan pemimpin mereka, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mendapatkan jawabannya.


Whoooosss...


Sebuah anak panag melesat dari balik semak-semak dan mendarat tepat di kepala salah satu Ogre.


Sebuah serangan kritikal yang mengasilkan total 72 kerusakan yang ditunjukkan oleh angka merah menyala besar yang timbul di atas kepala Ogre tersebut.


Jika saja ini adalah dunia nyata, maka serangan itu mungkin saja telah menghabisi Ogre tersebut. Namun, karena ini adalah di dalam game, dan terkecuali kepala Ogre itu dipenggal atau dihancurkan sepenuhnya, maka selama HP miliknya masih ada, Ogre itu tidak akan tumbang.


“GRAAAAA...!!!”


Bersamaan dengan itu, seorang anak kecil Manusia yang di dampingi oleh seekor Skeleton pun muncul dari balik semak-semak dan berlari menerjang ke arah para Ogre.


“Graaaaa...!!!”


Dengan teriakkan perang yang menggema, War Ogre menyambut lawan yang datang kepadanya.


“Negative Energy”


Seketika dari arah samping mereka meluncur sebuah bola kegelapan yang mengenai bagian ada dari Ogre yang tadi sudah terkena anak panah.


Total 62 kerusakan tercipta yang disambung dengan anak panah lainnya yang kini mengenai pundak si Ogre yang membuatnya hanya menghasilkan sebanyak 50 kerusakkan.


Setelah menerima serangan beruntun, Ogre tadi sudah tidak kuat untuk berlari yang membuatnya tersungkur ke atas tanah dengan keras. Walau dia masih belum mati, tetapi tenaganya seolah terkuras yang membuatnya kesusahanuntuk kembali berdiri.


Melihat anak buahnya tersungkur tidak berdaya, Ogre lainnya pun murka dan segera meluncur ke arah serangan tadi berasal.


Sayang, hal ini membuatnya lengah dan harus dibayar oleh tebasan pedang di pergelangan kakinya.


Total 44 kerusakan yang Ogre itu alami yang sekaligus membuka luka lebar di pergelangan kakinya yang membuatnya seketika tersungkur di atas tanah sama seperti rekannya.


Melihat kedua bawahannya tumbang begitu saja, War Ogre pun marah besar. Demi melampiaskannya dia pun langsung mengayunkan kapak besarnya ke arah Skeleton yang sontak menaikkan perisainya berusaha menyambut serangan dari War Ogre.


Boom...! satu pukulan kuat jatuh menimpa si Skeleton yang berhasil menyambutnya dengan perisai miliknya. Meski begitu, total 46 kerusakan masih tercipta yang mana itu membuat si Skeleton kini hanya memiliki 4 HP yang tersisa.


Semua HP yang hilang itu ditunjukkan dengan pergelangan tangannya yang dia gunakan untuk menerima serangan dari War Ogre serta kedua pergelangan kakinya yang semuanya terbuat dari tulang telah hancur berkeping-keping.


Terbaring tidak berdaya di atas tanah, dengan hanya satu tangan yang tersisa, Skeleton itu tetap berusaha untuk mengayunkan pedangnya ke arah War Ogre.


Menyaksikan kondisi menyedihkan dari lawannya, War Ogre itu pun tersenyum kegirangan.


Dengan lengan kirinya dia mengambil lalu mengangkat tubuh Skeleton itu agar setara dengan pandangannya.


Saat War Ogre itu hendak mengejek si Skeleton, barulah dia menyadari kalau tubuh Skeleton itu diselimuti oleh asap hitam tipis. War Ogre itu lalu dibuat terkejut karena dia baru saja menerima 62 kerusakan.


Dengan cepat dia menyadari kalau sumber kerusakan itu berasal dari si Skeleton.


Secara refleks dia pun melempar Skeleton itu dengan kuat hingga tubuhnya menghantam batang pohon yang sekaligus melenyapkan semua HP yang tersisa darinya.


Dengan lawannya yang sudah tiada, dia pun mengecek kondisi kedua bawahannya... Hanya


untuk menyadari sebuah batang pohon yang diayunkan tepat ke arah wajahnya.


Setelah menerima 45 serangan kritikal, si War Ogre merasa pening di kepalanya yang sekaligus membuat matanya menjadi kabur.


Belum sempat penglihatannya kembali normal, War Ogre itu mendapati tubuhnya telah di dorong dengan kuat hingga membuatnya terjatuh ke atas tanah.


Di saat penglihatannya kembali normal, barulah dia menyadari kalau identitas penyerangnya tidak lain dan tidak bukan adalah bawahannya sendiri.


Atau lebih tepat mengatakan kalau itu adalah mantan bawahannya.


Dengan anak panah masih tertancap di kepalanya, Zombie Ogre itu dengan ganasnya mulai mengunyah tubuh War Ogre hidup-hidup.


“Negative Aura”


Saat War Ogre itu berusaha untuk menyingkirkan mantan bawahannya dari atas tubuhnya, seketika tubuh Zombie Ogre itu tiba-tiba saja diselimuti oleh asap hitam yang sama yang menyelimuti tubuh Skeleton yang baru saja dia habisi.


Perlahan dia merasakan bahwa HP nya kian berkurang.


Bukan hanya dari mantan bawahannya yang tengah memakannya hidup-hidup, tapi asap hitam itu juga perlahan menimbulkan kerusakan pada tubuhnya.


“Ghuaaa...”


Teriakan sekarat dari bawahannya yang lain sontak membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Apa yang dia lihat adalah pemandangan bawahannya dengan tubuh yang penuh dengan luka sayatan sudah tidak lagi bergerak.


Menyadari kalau dia sekarang hanya tinggal sendiri, War Ogre itu pun semakin memberontak karena dia masih belum ingin mati.


Sayang, apa yang dia dengar selanjutnya menandakan akhir bagi dirinya.


“Raise Undead”


Tubuh bawahannya yang dia yakin sudah mati kini tiba-tiba saja kembali bangkit berdiri.


Dengan darah yang masih mengucur dari lukanya yang terbuka, bawahannya itu perlahan mengambil kembali senjatanya yang terjatuh di atas tanah.


Perlahan, bawahannya itu berjalan ke arahnya dengan kaku. Matanya tampak kosong dan mulutnya terbuka lebar.


Saat bawahan, atau lebih tepatnya mantan bawahannya itu tiba di atas kepalanya, War Ogre seketika sadar kalau perjalanannya hanya sampai di sini saja.


...


Meminum habis isi \ demi memulihkan persediaan MP nya, Winter berjalan mendekati tubuh War Ogre yang kini sudah tidak bernyawa.


Dengan pisau berkarat di tangannya, Winter memotong jempol kaki kanan War Ogre tersebut sebagai bukti penaklukan.


Membatalkan sihirnya pada kedua Ogre tersebut, Winter pun mengarahkan tongkatnya ke arah


tubuh War Ogre.


“Raise Undead”


Setelah membangkitkan kembali si War Ogre, tanpa membuang waktu Winter segera menggunakan Skill “Contract” dan membuat War Ogre itu sebagai makhluk panggilannya.


...


“Selamat karena telah berhasil naik ke peringkat Iron”


Menerima ucapan selamat yang setengah hati dari resepsionis Guild, Winter menerima pelat dari besi pertanda kalau dia sekarang telah resmi menjadi Petualang peringkat Iron.


Lelah, Winter pun segera Log Out.


Pada saat makan malam, Eira hanya bisa pasrah ketika melihat kursi yang biasa Ayahnya duduki kini tengah kosong. Malam ini hanya ada dia bersama dengan Ibunya saja yang sedang menikmati makan malam bersama.


Ini sudah biasa.


Berkat Ayahnya yang sibuk, tidak jarang dia mengambil kerja lembur yang membuatnya terpaksa melewatkan makan malam bersama dengan keluarganya.


Itu atau dia sekarang sedang minum-minum bersama dengan teman-temannya.


Melihat putri tercintanya sedang menatap kursi suaminya dengan wajah muram, Ibu Eira pun berusaha untuk menghibur putrinya.


“Eira sayang, di game sudah dapat teman enggak?”


Eira hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Melihat ini, Ibu Eira meletakkan sendok dan garpunya. Matanya menatap lurus ke arah Eira dengan pandangan hangat.


“Mama dengar di game itu ada tiga fraksi kan? Eira ikut fraksi yang mana?”


Mendapat pertanyaan ini, Eira sempat bingung harus menjawab apa.


Apakah dia harus menjawab dengan jujur, atau apakah dia harus berbohong kepada ibunya sendiri.


Mengingat semua yang telah dia lakukan sampai saat ini, ingin sekali Eira untuk berbohong takut kalau dia akan mengecewakan ibunya yang selama ini telah berusaha keras membesarkannya untuk menjadi seorang anak yang baik hati serta berbudi luhur dan berguna bagi masyarakat.


Namun, mengingat kembali semua rasa sayang yang telah diberikan kepadanya, Eira pun jadi tidak tega untuk berbohong kepada ibunya.


“Itu... Fraksi Bayangan”


Mendengar itu, terciptalah sebuah senyuman di wajah Ibu Eira. Bukan senyuman hangat melainkan sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk merinding.


“Eira sayang... Job apa yang putri Mama pilih?”


Jelas sekali kalau Ibu Eira tahu beberapa Job yang ada di dalam game NFO. Terlebih dia tampaknya juga tahu kalau terdapat beberapa Job ‘berbahaya’ yang ada di dalam sana.


Tahu jelas kalau dia harus berkata jujur di sini, Eira pun segera menjawab.


“Necromancer”


Tanpa Eira sadari Ibunya sudah memegang Smartphone miliknya di sebelah tangannya. Dan hanya dengan satu tangan, jari-jemarinya dengan cekatan mengetik sesuatu di layar Smartphonenya.


“Pengendali mayat...” Ibu Eira sempat bernafas lega. Sebelum pandangannya kembali menjadi tajam dan kembali bertanya “Mama tahu kalau kau bisa memiliki banyak Job secara bersamaan. Katakan semua Job yang kau miliki”.


“Appraiser, Scout, dan Summoner”


Ibu Eira kembali mengetik sesuatu di Smartphonenya. Setelah beberapa saat, dia pun akhirnya benar-benar bisa merasa lega.


Berdiri dari kursinya, Ibu Eira bergerak ke belakang Eira dan memeluknya dengan erat.


“Jadi gini...”


Keluar sudah kata-kata pamungkas yang biasa Ibunya ucapkan ketika hendak meminta sesuatu. Eira yang biasa melihat Ibunya mengucapkan ini kepada Ayahnya, kini harus merasakannya secara langsung.


Dengan nasibnya yang sudah terkunci, Eira hanya bisa pasrah mengetahui kalau apa pun yang Ibunya minta itu mustahil untuk bisa dia tolak.