A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 36 : Rewards



Menatap layar komputernya, Eira yang masih masuk menggunakan akun adiknya tersenyum riang ketika membaca reaksi para Pemain dari fraksi cahaya.


Betapa senangnya dirinya ketika aksi kecilnya telah sukses mengguncang seluruh fraksi cahaya.


Kejadian ini akhirnya menyadarkan mereka kalau ini New Frontier Online bukanlah game yang sama dengan game-game lainnya.


Tidak ada yang namanya ‘Main Quest’ yang terpampang jelas di hadapan mata. Semua Quest penting haruslah di cari dan di picu oleh Pemain itu sendiri. Jika kau terus memainkan game ini berpikir kalau semuanya akan disuguhkan di hadapanmu, maka kesempatanmu untuk menerima ‘Main Quest’ sama saja dengan tidak ada.


Dengan ini para Pemain dari fraksi cahaya yang selama ini terlalu santai akan mulai meningkatkan kewaspadaan mereka.


Puas menjelajahi forum tetangga, Eira bangkit dari tempat duduknya menuju kapsul VR nya.


...


Kembali sebagai Winter.


Muncul di dalam gang sempit, Winter lalu melangkahkan kakinya menuju kedai tempat biasa dia minum.


Tepat setelah Partynya menyelesaikan Quest mereka, Winter dan yang lain tidak lagi singgah ke kota Virtue dan langsung beranjak kembali menuju kota Shoddy yang sudah lama mereka tinggalkan.


Masuk ke dalam kedai, terlihat kalau kedai sudah ramai oleh pengunjung walau matahari masih tinggi di angkasa. Menemukan tempat duduk yang kosong, tanpa sungkan Winter langsung duduk di sana dan memesan bir murah


yang biasa.


Baru habis dua gelas pintu kedai pun terbuka dan menampakkan sosok Victor yang langsung bergabung bersamanya. Lima gelas kemudian barulah Chic datang dan Winter pun harus menyudahi kegiatan minum-minumnya.


“Kau tahu, bahkan jika ini adalah game. Bukankah tidak baik jika kau terlalu banyak minum-minum?”


“Mau bagaimana lagi, hanya di sini aku bisa puas minum tanpa perlu pusing memikirkan masalah kesehatanku”


Melihat Winter yang masih sangat sadar, Chic bernafas lega.


Kemudian dia terpikirkan apa yang baru saja Winter katakan.


Memang benar minum minuman beralkohol itu buruk untuk kesehatan. Tapi, dari penampilannya Winter itu masih muda. Palingan umurnya masih di antara 20 tahunan.


Dan dengan umur semuda itu dia sudah harus memikirkan tentang kesehatannya?


Chic tidak tahu apakah Winter hanya bercanda atau dia memang berkata yang sebenarnya.


Walau dirinya memang penasaran, Chic tidak akan bertanya lebih jauh lagi karena itu menyangku privasi seseorang.


Menyusuri jalanan kota Shoddy yang kumuh, mereka bertiga berjalan dengan santai sampai Victor menghentikan mereka “Di sana” melihat arah yang dia tunjuk, terdapat sesosok pria bertudung yang di lihat dari mana pun, dia sangatlah mencurigakan.


Berdiri di bawah bayang-bayang di dalam gang sempit, terlihat sebuah seringai lebar dari balik tudungnya.


Di saat orang lain akan berpikir dua sampai tiga kali untuk mendekati sosok itu, Winter dan yang lain tanpa ragu melangkahkan kaki mereka menuju sosok tersebut.


“Hehehe... Sungguh Party yang tidak biasa” sapa orang itu begitu Party Winter mendekatinya.


Walau sebagian wajahnya tertutup oleh tudung, tapi Winter bisa dengan jelas merasakan kalau mata orang tersebut memandanginya dengan sangat tajam sebelum akhirnya beralih menuju Chic dan akhirnya sampai pada


Victor.


Tentu saja kedua rekannya juga merasakan tatapan tajam dari pria bertudung itu yang mana itu tidak mereka sukai.


Tidak ingin berbasa-basi, Winter segera mengeluarkan sebuah Insignia dari penyimpanannya dan menunjukkannya kepada pria bertudung itu.


“Ho...!” mengulurkan tangannya, pria itu pun mengambil Insignia itu dari tangan Winter dan mulai menyelidikinya sebagaimana seseorang menilai sebuah barang berharga. “Bagus, bagus... Kalian sudah menyelesaikan Quest kalian dengan sangat baik” selesai mengatakan itu, pria bertudung itu segera memberikan isyarat kepada Party Winter untuk mengikutinya.


Berjalan beriringan, Party Winter yang mengikuti pria bertudung itu akhirnya tiba di daerah paling kumuh di kota Shoddy yang sudah terkenal kumuh.


Melihat ke kanan dan ke kiri, Chic berusaha untuk tidak terlihat gelisah karena sedari tadi dia menerima tatapan penuh nafsu dari seluruh penjuru. Mengingat apa yang dia kenakan, Chic tidak bisa menyalahkan mereka untuk melotot. Tetap saja, Chic tidak menyukainya.


Sementara Chic sedang berjalan dengan gelisah, Winter dan Victor tetap berjalan santai karena ini bukan kali pertama mereka menyusuri jalanan ini.


Melangkahkan kaki mereka di atas jalanan yang kotor dan penuh akan lumpur, akhirnya mereka sampai di depan sebuah bangunan yang terlihat lusuh karena termakan usia.


Tok... Tok... Tok... mengetuk secara berirama, pintu pun terbuka dan pria bertudung itu menuntun mereka untuk masuk.


Dengan Winter yang berjalan paling depan, Chic yang sempat ragu akhirnya ikut masuk ke dalam.


Tepat setelah Victor masuk ke dalam, pintu pun kembali tertutup rapat.


Masuk ke dalam, awalnya hanya ruangan berdebu yang terlihat.


Krek... bunyi lantai yang berderit ketika Winter dan yang lain melangkahkan kaki mereka di atas lantai yang telah lapuk di makan usia.


Melihat penampilan ruangan yang tidak layak huni ini tentu membuat Chic semakin keheranan kenapa mereka di pandu menuju tempat ini. Akan tetapi, melihat kedua rekannya tetap diam membuat Chic juga ikut diam.


Sampai di sebuah tempat yang mirip seperti ruang tamu, Tak... Tak... Tak... pria bertudung itu menghentakkan kakinya ke atas lantai beberapa kali secara berirama. Tidak lama kemudian terdengar suara Klik... dan seketika lantai di belakang mereka terbuka yang menampakkan sebuah tangga yang menuntun mereka menuju bawah tanah.


Tersenyum kepada Chic yang keheranan, Winter berjalan melewatinya dan tanpa ragu melangkahkan kakinya menuruni tangga yang curam. Mengikutinya adalah Victor yang mengikuti dalam diam meninggalkan Chic berdua


saja dengan pria bertudung itu.


“Masuklah, hadiahmu menunggu di bawah sana”


Menerima seringai vulgar dari si pria bertudung membuat Chic membuang semua keraguannya dan dengan cepat menyusul Winter dan Victor yang sudah turun terlebih dahulu.


Tepat setelah sosok Chic tidak lagi terlihat, Tak... sekali lagi kakinya dihentakkan dan pintu menuju bawah tanah pun kembali tertutup.


Memberikan seringai nakalnya yang biasa, pria bertudung yang sudah menyelesaikan tugasnya segera beranjak keluar untuk kembali bersiaga di dalam gang-gang sepi menunggu untuk seseorang menerima Quest darinya.


...


Tap... Tap... Tap... suara langkah kaki bergema di tangga yang gelap.


Untungnya Party Winter memiliki “Eagle Eyes” yang memungkinkan mereka untuk melihat di bawah cahaya yang minim. Berkat itu mereka bisa melangkah dengan percaya diri tanpa perlu takut untuk tersandung dan akhirnya terjungkal menuruni tangga yang curam.


Berjalan cukup lama mereka akhirnya tiba di depan sebuah ruangan kosong melompong yang hanya dihiasi oleh sebuah obor yang tergantung di dinding di sisi lain ruangan.


Menuntun Chic yang masih keheranan untuk berdiri tepat di tengah-tengah ruangan, Winter berdiri di sana seolah sedang menunggu sesuatu.


Setelah menunggu cukup lama, Winter yang mulai mereka bosan akhirnya tersenyum riang setelah menyaksikan dinding tempat obor berada bergeser dan menampakkan sebuah jalan yang menuntun mereka menuju ruangan


selanjutnya.


Kembali melangkahkan kaki mereka ke depan, apa yang menunggu mereka di balik pintu yang terbuka adalah tiga sosok yang bertudung serta mengenakan jubah besar sehingga susah untuk mengetahui apakah mereka itu pria atau perempuan.


Berdiri saling berjejer, Party Winter pun mengambil posisi yang sama sehingga kedua Party kini berdiri saling berhadapan di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh lentera yang menggantung di langit-langit.


“Necromancer, Winter” “Prostitute, Chic” “Killer, Victor”


Berbicara saling bersahutan, kini jelas kalau dua dari mereka adalah pria tua sedangkan yang terakhir adalah seorang wanita.


Kembali tercengang, Chic yang mendengar suara yang familiar kini terus memelototi sosok bertudung yang berada tepat di hadapannya.


“Prestasi kalian sudah terdengar” “Jasa kalian telah diakui” “Kerja keras kalian telah membuahkan hasil”


Masih berbicara saling bersahutan, ketiga sosok bertudung itu pun mengulurkan tangan mereka masing-masing.


“Terima ini” “Terima ini” “Terima ini”


Apa yang ada di tangan mereka adalah koin segi delapan yang sudah tidak asing lagi.


Berbeda dari Insignia yang mereka dapatkan dari Kapten Gladius, Insignia yang disuguhkan kepada mereka tidaklah terbuat dari logam perak melainkan menggunakan sebuah logam misterius yang berwarna merah bata.


Jika yang sebelumnya memiliki simbol pedang terukir di permukaannya, kini tergantikan oleh simbol sebuah tengkorak .


Sambil di pimpin oleh Winter, mereka bertiga menerima Insignia itu di saat yang hampir bersamaan. Sesaat kemudian mereka akhirnya menerima notifikasi kalau Quest sudah berhasil diselesaikan.


“Terima juga lah ini” “Terima juga lah ini” “Terima juga lah ini”


Kembali menjulurkan tangan mereka, kali ini adalah sekantong penuh uang yang Party Winter terima. Menengok ke dalamnya, total 2.000.000 G mereka temukan di dalamnya.


Winter ingat benar kalau hadiah Quest mereka hanya berjumlah 1.000.000 G yang akan diberikan kepada setiap anggota Party.


Berpikir kenapa jumlahnya bisa bertambah sebanyak dua kali lipat, barulah Winter ingat kalau bukan satu Quest saja yang mereka terima. Jika di gabung dengan Quest yang Victor terima sebelum mereka membentuk Party,


maka mudah menebak dari mana uang tambahan itu berasal.


Biar bagaimanapun juga, uang tetaplah uang.


Winter yang jelas bukanlah orang yang rendah hati dengan penuh senyuman segera menyimpan uangnya ke dalam tempat penyimpanan.


Selesai menerima bayaran mereka, kini sudah saatnya mereka untuk menerima penjelasan.


“Wahai para Pemegang Insignia!” “Dengarkanlah penjelasan dari kami” Sehingga kalian dapat menggunakan kekuatan yang baru saja kalian terima”


“Insignia yang kalian terima bukanlah sembarang Insignia” “Insignia itu berisikan kekuatan yang telah kami berikan kepada kalian” “Lekatkan Insignia itu pada hatimu dan pejamkan matamu, niscaya kau akan mengetahui kekuatan apa yang engkau terima”


Terlihat sebuah layar menu baru yang khusus menunjukkan apa isi dari Insignia mereka.


Mulai dari yang pertama, adalah Victor, Chic, dan Winter adalah yang terakhir.


[Blood Bath]


MP : 100 CD : 1 Jam


Grade : Tier-5 Spells


Stats : All Stats


Element : Dark


Spells Effect : Memandikan diri sendiri dengan darah lawan. Memulihkan (5%) HP setiap detiknya selama (30 menit).


Effective Range : Jarak dekat


[Love Copy]


MP : 100 CD : 1 Hari


Grade : Tier-5 Spells


Stats : All Stats


Element : Dark


Spells Effect : Menyalin (1) Skill dari lawan yang pernah tidur bersama


Effective Range : Jarak dekat


Skill : -


[Skeletal Rampage]


MP : 100 CD : 1 Hari


Grade : Tier-5 Spells


Stats : INT


Element : Dark


Spells Effect : Memanggil pasukan Skeleton Soldier dengan Total level (30).


Effective Range : 10 meter


Army : 10 INT = 1 Skeleton


Weakness : Light


Victor mendapatkan Skill yang memungkinnya untuk terus memulihkan HP nya selama dia bermandikan oleh darah lawan yang dia tebas.


Sungguh sebuah Skill yang sangat sesuai bagi Killer seperti dirinya.


Chic mendapatkan Skill yang akan membuatnya berpikir dua kali apakah dia benar-benar ingin menerimanya atau tidak. Akan tetapi, mengingat Job apa yang dia miliki, Chic hanya bisa menghela nafas pasrah.


Sekarang dia harus berpikir Kepada siapa dia akan menggunakan Skill ini dan Skill macam apa yang dia inginkan.


Terakhir, Winter menerima sebuah Skill yang sangat sesuai dengan Job Necromancer yang dia miliki. Mampu memanggil pasukan Kerangka sebanyak yang dia mau sungguh adalah sebuah Skill yang sulit untuk dia tolak.


Akan tetapi, karena jumlah Kerangka yang bisa dia panggil itu bergantung kepada total INT yang dia miliki. Sekarang Winter harus memikirkan cara untuk meningkatkan total INT yang dia miliki.


Berhasil menjadi seorang pemegang Insignia serta mendapatkan Skill yang sangat sesuai dengan Job yang mereka miliki tentu membuat Party Winter girang bukan kepalang.


Akan tetapi, hadiah yang mereka terima tidak sampai di situ saja.


“Wahai para darah muda” “Janganlah engkau senang terlebih dahulu” “Karena ini tidak lebih dari langkah pertama yang kalian ambil”


“Berjuanglah, berjuanglah, dan dakilah puncak yang lebih tinggi” “Belajarlah, belajarlah dan teruslah belajar untuk memperluas wawasanmu” “Janganlah engkau terlena dalam kenikmatan sesaat karena masih banyak yang harus kalian lihat dan harus kalian rasakan”


“Oleh karena itu, kami akan mengawasimu” “Oleh karena itu, kami akan mengajarimu” “Oleh karena itu, kami akan melatihmu”


Ketiga sosok bertudung itu pun melangkahkan kaki mereka hingga jarak mereka hanya tinggal selangkah dari Party Winter.


Sadar kalau mereka akan dilatih dan orang yang ada di hadapan mereka adalah yang akan menjadi guru/mentor mereka, Party Winter yang awalnya masih dalam suasana senang kini kembali menjadi serius.


Drrrrtt.... Tiba-tiba saja pintu kembali terbuka di dinding yang polos dan menampakkan tiga buah ruangan yang berbeda.


“Ikutlah” “Kemari” “Ikuti aku”


Mengikuti guru/mentor masing-masing, Party Winter pun berpisah.


Tapi, karena mereka sudah mendaftar sebagai teman. Mudah bagi mereka untuk saling menghubungi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Berpisah dari kedua rekan Partynya, Winter mengikuti sosok bertudung yang berjalan di depannya. Berdasarkan suaranya, mudah menebak kalau sosok di balik tudung tersebut adalah seorang pria tua. Hanya saja Winter masih


tidak tahu siapa dan seberapa kuat sosok itu sebenarnya.


Yang jelas Winter yang mengaktifkan “Keen Eyes” bisa melihat kalau tudung dan jubah yang sosok bertudung itu kenakan memancarkan cahaya keemasan yang berkilauan.


Untuk seorang NPC mengenakan Equipment dengan kualitas yang jauh lebih tinggi dari dirinya yang adalah seorang Pemain. Menunjukkan kalau orang yang ada di hadapannya bukanlah orang biasa.


Mengikutinya dari belakang, mereka berdua akhirnya sampai di sebuah ruangan mirip perpustakaan dengan ratusan atau mungkin ribuan buku yang memenuhi seluruh ruangan baik itu di rak buku atau di atas lantai. Meski begitu, semua seolah tersusun rapi dan teratur sehingga kata ‘Berantakkan’ tidak bisa digunakan pada ruangan ini.


Di tengah ruangan terdapat sebuah meja yang sepenuhnya tertutup oleh buku dan kertas yang menumpuk namun tetap terlihat rapi.


Menyusuri seisi ruangan, dapat terlihat kalau selain buku, ruangan ini juga dipenuhi oleh tulang belulang dari berbagai macam spesies yang tersimpan rapi di dalam rak-rak yang di susun berdasarkan kategori mereka


masing-masing.


“Duduklah”


Perintah orang itu namun Winter tidak menemukan ada tempat bagi dirinya untuk duduk.


Bingung apakah dia harus duduk di atas lantai atau di atas tumpukkan buku, suara kratak-krutuk terdengar di telinga Winter dan seketika matanya pun terbelalak.


Keluar dari rak tempat mereka tersimpan adalah tulang belulang yang bergerak sendiri berjalan menuju lantai sebelum akhirnya saling menyatu hingga membentuk sebuah kursi yang terlihat artistik.


Mencolek-colek kursi tulang itu sambil mengamatinya dari segala sisi untuk beberapa menit, setelah puas barulah Winter duduk di atasnya.


Melihat kalau Winter sudah duduk, sosok bertudung itu akhirnya membuka tudungnya.


...


Sementara Winter berada di ruangan seperti perpustakaan, Victor berada di dalam sebuah ruang penyiksaan.


Melihat berbagai macam alat penyiksaan yang biasanya hanya dia lihat di film-film horror, Victor tidak melepaskan matanya dari sosok bertudung yang kini sedang memegang sebuah pisau bedah di tangannya.


“Sekarang, mari kita mulai sebuah kuis kecil” dengan santainya dia berjalan menuju sebuah kursi baja dengan seorang pemuda malang sedang terikat di atasnya.


Kedua tangan dan kakinya terikat erat pada kursi sementara mulutnya dibungkam dengan kain sehingga mustahil bagi dirinya untuk berteriak.


Membuka tudung yang menutupi kepalanya, terlihat sebuah seringai yang mengerikan.


“Topik kuis kita kali ini adalah mengenai anatomi Manusia”


Meski tahu benar kalau ini semua hanya game, Victor harus menahan rasa mual yang datang kepadanya karena pemandangan yang dia lihat jauh berbeda dan jauh lebih mengerikan daripada yang mereka tunjukkan di layar kaca.


...


Berjalan mengikuti sosok bertudung di depannya, Chic masih tidak bisa mengindahkan perasaan aneh yang dia rasakan semenjak dia mendengar suara dari sosok yang ada di hadapannya.


Suaranya terdengar familiar namun Chic lupa di mana dia pernah mendengarnya.


Berjalan menyusuri lorong yang panjang dan gelap. Akhirnya mereka sampai di sebuah jalan buntu.


Klik... menekan tombol rahasia yang ada di dinding, sebuah pintu kecil terbuka di hadapan mereka.


Melewati pintu tersebut, betapa terkejutnya Chic ketika menyadari kalau ruangan tempat dia berada sekarang adalah sebuah ruangan yang sudah tidak asing lagi baginya.


Ini adalah ruangan yang sama tempat dia biasa melapor setiap kali dia selesai bekerja di toko ‘The First Night’.


Tidak salah lagi, ini adalah kantor dari Bosnya, Diva.


“Jangan bilang...” melihat ekspresi terkejut Chic, sosok bertudung itu akhirnya menurunkan tudungnya.