A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 8 : Partner



Di dalam game, pada saat matahari baru terbit dan orang-orang baru terbangun dari tidur nyenyak mereka, Winter terlihat sudah Log In dan sekarang sedang berjalan di distrik merah kota Shoddy.


Tidak seperti biasanya, Winter tidak mengenakan mantel ataupun menyembunyikan wajahnya. Dia bahkan tidak membawa tongkat kayunya dan hanya berjalan begitu saja di jalanan yang kotor dan dipenuhi oleh para pemabuk dan berandalan.


Apa yang dia kenakan adalah pakaian pemberian dari Madame yang menghadiahkannya dengan satu set pakaian yang cantik karena dirinya yang telah berhasil menyelesaikan Quest dengan sangat baik.


Pakaian yang Winter kenakan adalah daster panjang berwarna hijau yang wajar dikenakan saat sedang berjalan-jalan di kota. Karena rambut putihnya yang panjang kini tidak lagi ditutupi oleh tudungnya, membuat Winter tepaksa mengubah gaya rambutnya menjadi gaya kepang tali.


Dengan ini lengkap sudah penampilan Winter yang seperti gadis kota pada umumnya.


Jika ada gadis biasa yang berjalan di jalanan ini, maka jangan heran jika gadis itu akan segera dikerumuni oleh para serigala yang hendak menariknya ke kamar penginapan atau ke dalam gang gelap untuk di mangsa habis-habisan.


Alasan kenapa sedari tadi tidak ada yang berani mendekati Winter bukanlah karena pelat besi yang dikalungkan di lehernya, itu karena mata merah menyala yang Winter miliki membuat para pria harus berpikir dua kali untuk mendekatinya.


Tidak lama Winter akhirnya tiba di depan sebuah ‘toko’ yang bernama The First Night.


Dengan papan nama yang di cat merah jambu yang mencolok serta terdapat ilustrasi seorang gadis yang sedang membuka kakinya hingga berbentuk huruf M, sudah bisa dibayangkan toko macam apa ini sebenarnya.


Tanpa ragu Winter pun masuk ke dalam.


Baru membuka pintu, Winter sudah di sambut oleh seorang resepsionis pria kurus dengan kantung hitam di matanya.


“Hah, kalau kau ingin melamar pekerjaan silahkan temui boss di lantai dua”


Tampak si resepsionis salah paham, Winter pun segera mengoreksinya.


“Aku ini seorang Petualang... Alasanku datang ke sini adalah karena aku dengar ada temanku dari kampung bekerja di sini”


“Begitu toh. Jadi, siapa nama temanmu itu?”


“Chic”


“Ahh... Si anak baru! Tunggu sebentar”


Melihat ada bangku untuk pelanggan, Winter pun duduk di atasnya untuk menunggu si resepsionis yang tadi lari ke belakang toko.


Setelah beberapa saat, resepsionis itu kembali sambil membawa seorang gadis bersamanya.


Dia adalah seorang gadis dengan rambut hitam pendek seperti lelaki dan mata yang berwarna hitam seperti arang. Kulitnya sangatlah putih dan mulus serta bentuk tubuhnya yang seksi adalah idaman semua wanita. Seolah agar sesuai dengan tubuhnya, dia memiliki paras yang sangatlah cantik hingga Winter yang juga sesama perempuan menjadi tertarik padanya.


Saat gadis bernama Chic itu melihat sosok Winter, dia hanya bisa berdiri diam tanpa tahu harus berkata apa.


Mengambil inisiatif agar si resepsionis tidak curiga kalau mereka sebenarnya bukanlah teman sekampung, Winter pun segera menyapanya.


“Ya ampun, ternyata kau memang berada di sini yah”


Sadar kalau dirinya sedang di sapa, Chic hanya bisa menjawab dengan terbata-bata “Eh, ah, iya...”.


Merasa kalau suasana menjadi canggung, Winter pun mengajak Chic untuk pergi dari sini.


“Walau ini masih pagi, bagaimana kalau kita pergi minum dulu? Sebagai pelumas agar kau bisa cerita apa yang sebenarnya terjadi?”


“Ah, baik...”


Meminta izin untuk pergi, Chic pun dengan mudahnya mendapatkan izin dari si resepsionis.


“Tenang saja, mana ada pelanggan yang datang pagi-pagi begini. Lagipula dia itu teman sekampungmu kan,


pergilah”


“Terima kasih...”


Sambil di gandeng oleh Winter, Chic pun di seret menuju sebuah kedai yang berada tidak jauh dari Guild Petualang.


...


Duduk saling berhadapan, Winter dan Chic saling menatap satu sama lain dalam keheningan.


Sementara gelas Winter isinya tinggal setengah, gelas milik Chic masih terisi penuh.


“Kau tidak minum?”


“Umurku masih belum 20 tahun...”


Di Negara tempat Winter dan Chic sama-sama berasal, batasan umur bagi seseorang untuk bisa secara legal meminum minuman beralkohol adalah 20 tahun. Chic yang sejatinya baru berumur 18 tahun masih harus menunggu dua tahun lagi sebelum dia diperbolehkan oleh Negara untuk bisa menikmati alkohol pertamanya.


Namun, jelas saja Winter tidak mau menerima alasan ini.


“Kau sok-sokan taat aturan tapi itu ************ sudah dimasukin banyak orang... Minum”


Di bawah tatapan mengancam dari Winter, dengan cepat Chic mengambil gelasnya dan dengan canggung mulai meminum isinya.


“Cough... Cough... Apa ini?!”


“Bir murah”


Melihat Chic yang tidak sanggup menenggak bahkan satu tetes dari bir yang disajikan, tanpa sadar senyuman usil terlihat di wajah Winter.


Masih tersiksa karena tenggorokannya yang terasa terbakar, Chic pun menggeser jauh-jauh gelas bir miliknya.


“Biasakan saja. Jika kau masih bekerja di toko itu maka kelak kau pasti membutuhkannya”


“Kau, seperti apa sebenarnya Prostitute di matamu?”


“Sekumpulan perempuan yang tidak punya apa-apa kecuali tubuh mereka dan biasa mengkonsumsi alkohol dan menggunakan obat-obatan terlarang hanya agar bisa mengurangi stress yang mereka rasakan dari keadaan mereka yang menyedihkan”


“Bagaimana kau bisa memiliki opini seperti itu?”


Setelah basa-basi mereka berakhir, Winter sudah menghabiskan dua gelas sementara Chic bahkan tidak lagi menyentuh gelas miliknya.


Puas basa-basinya, mereka akhirnya masuk ke dalam topik utama.


“Sekali lagi, perkenalkan. Namaku adalah Winter. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, aku di sini atas perintah Ibuku untuk menemanimu bermain game ini”


“Perkenalkan juga, nama avatarku adalah Chic. Mohon maaf atas tingkah Ibuku yang berlebihan hingga membuatmu harus meluangkan waktumu untuk diriku”


Setelah saling memperkenalkan diri secara resmi, Winter akhirnya bisa menanyakan sebuah pertanyaan yang sedari tadi ingin dia tanyakan.


“Aku tidak bisa menyalahkan kekhawatian yang Ibumu rasakan. Hanya saja aku penasaran... Kenapa Prostitute?”


“Ya, itu...”


Chic lalu menjelaskan kalau saat dia memilih Job, dia diharuskan menjawab rentetan pertanyaan yang nantinya akan menentukan Job apa yang paling cocok untuknya.


Dalam kasus Winter, menjawab semua pertanyaan itu membuatnya mendapatkan Job sebagai seorang Necromancer.


Sedangkan dalam kasus Chic...


“Kau itu mesum yah?”


“Itu... Bagaimana mengatakannya yah... Itu masih bisa diperdebatkan”


Walau ini tidak diberitahukan secara resmi oleh pihak pengembang game NFO, Winter dan Chic sama-sama bisa


menebak kalau semua pertanyaan yang diajukan saat proses pembuatan karakter adalah semacam tes kepribadian.


Dan dengan berdasarkan kepribadian Pemain, maka sistem game akan memilih Job apa yang paling optimal yang bisa Pemain itu pilih.


Meski dirinya sudah bisa menebak kalau pemilihan Job pertama itu berdasarkan kepribadian Pemain, sampai sekarang Winter masih tidak tahu kenapa dirinya bisa mendapatkan Job Necromancer.


Awalnya Winter mengira itu ada sangkut pautnya dengan hobinya yang menonton film termasuk film horor. Tanpa dia sadari kalau kepribadiannya yang sebenarnya jauh lebih gelap dari yang dia ketahui.


Hanya saja dalam kasus Chic, semua orang dapat mudah untuk menebak kepribadian macam apa yang dia miliki hingga sistem game memilihkan Job Prostitute padanya.


Dan ini pertama kalinya Winter tahu kalau ada Job semacam itu di game NFO.


“Kau tahu sendiri kan, jika kau menjawab semua pertanyaan itu, dan sistem akhirnya memilihkan sebuah Job padamu, itu berarti Job tersebut adalah Job yang paling COCOK untukmu!”


“Tapi pada akhirnya game ini kan yang memilihkan Job ini untukku. Jadi artinya aku tidak memilih Job ini atas kemauanku sendiri”


Tidak peduli seberapa keras Chic berusaha untuk mengelak, tidak ada satupun alasan yang bisa dia berikan yang mampu mengubah pandangan Winter padanya.


Malahan sikapnya ini malah membuat Winter menatapnya dengan tatapan kasihan.


“Kau sadarkan kalau kau tidak suka atas Job yang disarankan kau masih bisa memilih Jobmu sendiri?”


Sontak Chic mengalihkan pandangannya.


Tidak tahu harus mengatakan apa lagi, Winter hanya bisa menghembuskan nafas lelah.


“Mari kita ganti topik, selain Prostitute, Job apa lagi yang kau miliki?”


“Itu, Thief”


Seketika otak Winter berputar dengan keras mencari tahu apa hubungannya antara Prostitute dengan Thief.


“Ah, jadi setelah ***-*** kau mengambil barang pelangganmu yah?”


“Bukan!” teriakan Chic cukup keras hingga menarik perhatian pengunjung kedai lainnya. Berada di bawah tatapan orang banyak, Chic hanya bisa menunduk berharap kalau mereka berhenti menatapnya.


Setelah suasana menjadi tenang kembali, barulah dirinya menjelaskan alasan kenapa dia memilih Thief sebagai Job keduanya.


“Kau mungkin tidak tahu ini, stats DEX sangat dibutuhkan oleh Job ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang bisa diberikan”


“Bisakah kita berhenti membahas itu!”


Puas menggoda Chic, Winter pun kembali serius.


“Apakah ada lagi?”


Chic hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Bayaran sebagai Prostitute pemula sebenarnya tidak pernah lebih dari 1.000 G per orangnya. Karena baru bermain selama lima hari, tidak banyak uang yang bisa Chic kumpulkan untuk membeli buku Job yang harganya selangit.


“Jika bukan karena Nenek-nenek aneh di tutorial aku mungkin hanya akan memiliki satu Job saja”


“Ah... Jadi itu memang NPC untuk tutorial yah”


Meminta isi ulang untuk gelasnya, dengan tenang White mendengarkan penjelasan dari Chic.


“Jujur aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan saat bermain bersama mengingat Job ku tidak cocok untuk bertarung. Bahkan kalau boleh jujur lagi, belati yang Nenek itu berikan kepadaku tidak pernah aku gunakan sampai sekarang”


“Kau serius?”


Pupus sudah rencana yang sudah Winter susun semalaman.


Pada awalnya dia membayangkan kalau dia dan Chic akan membentuk Party dan bekerja sama sebagai Petualang. Walau dia sudah tahu sebelumnya kalau Job pertama Chic itu adalah Prostitute, tapi Winter masih menaruh harapan kalau Job kedua dan Ketiganya adalah Job yang bisa dipakai untuk bertarung.


Tapi, setelah mendengar kalau Chic bahkan tidak pernah menggunakan senjatanya, membuat Winter tidak tahu harus bagaimana.


“Oh, benar. Sebelum lupa bagaimana kalau kita bertukar pertemanan lalu membentuk party?”


Membuka layar Menu masing-masing, Winter dan Chic pun saling mengirimkan permintaan pertemanan yang langsung disetujui. Berikutnya mereka pun membuka layar Party dan membentuk sebuah Party dengan Winter yang menjadi ketuanya.


Karena tidak tahu harus bagaimana lagi, mereka berdua pun hanya saling berbincang santai sambil minum-minum. Yah, walau hanya Winter sendiri saja yang minum.


Menenggak habis minumannya, Winter kembali meminta isi ulang.


“Hei, mau berapa banyak lagi kau mau minum?”


Tanpa Winter sadari, dia sudah sampai ke gelas kedelapan.


Karena tidak sedang mengenakan tudung, membuat Chic dapat dengan jelas melihat wajah Winter yang mulai memerah bagaikan tomat yang matang. Pandangannya tidak lagi berfokus pada satu tempat dan Winter mulai tidak bisa menjaga postur tubuhnya.


Semua alkohol yang dia minum juga membuat kepalanya menjadi kacau dan tidak lagi bisa berpikir dengan lurus.


“Hei Chic, mau membuat perjanjian tidak?”


“Kau tidak sedang mabuk kan? Juga, perjanjian macam apa yang ingin kau ajukan?”


Sebuah senyuman nakal tercipta di wajah Winter “Turuti segala perintahku dan akan aku sediakan padamu bukan hanya Equipment tapi juga buku Job”


Melihat ekspresi Winter yang sekarang, Chic sampai mengira kalau dirinya sekarang sedang membuat perjanjian dengan seorang iblis.


Dan dia tidaklah salah.


...


Masih dalam keadaan mabuk, Winter menyeret Chic ke toko Equipment untuk membelikannya Equipment sekaligus senjata.


Tidak tahu harus bagaimana, Chic hanya membiarkan dirinya di seret kesana-kemari oleh Winter yang tidak disangka akan menjadi energik ketika berada dalam pengaruh alkohol.


Sesampainya mereka di dalam toko, tanpa basa-basi Winter langsung mencari Equipment yang cocok untuk Chic.


Berdiri diam di sana, Chic hanya bisa menonton tingkah Winter yang seperti anak kecil yang sedang berada di toko manisan. Selagi Winter masih sibuk sendiri, Chic kembali melihat statusnya.


Name : Chic


Gender/Age : Female/18


Job :


1.       Prostitute (Lv. 2)


2.       Thief (Lv. 1)


3.       Scout (Lv. 1)


4.       Assassin (Lv. 1)


Stats :


(HP : 150) (MP : 110) (STR : 30) (VIT : 20) (AGI : 40) (DEX : 60) (INT : 10) (MND : 20)


Melihat statusnya yang sekarang, Chic masih terheran dari mana Winter bisa mendapatkan buku Job yang berisi Job Scout dan Assassin.


Chic sampai mengira kalau Winter sebenarnya sudah tahu Job apa saja yang dia miliki dan sudah berencana untuk mengatur Job apa saja yang harus dirinya ambil sehingga Winter sudah membeli dua buku Job ini sebelum bertemu dengannya.


Walau dirinya tidak tahu berapa harga Job Assassin, tapi Chic tahu kalau Job Scout harganya berkisar antara 15.000 G hingga 20.000 G tergantung di toko mana kau membelinya. Sekarang Chic jadi heran apakah Petualang memang sekaya itu?


Berdasarkan pelat yang Winter kalungkan di lehernya, jelas dia masih seorang Petualang peringkat Iron yang adalah peringkat terendah kedua setelah Copper.


Petualang dengan peringkat itu tidak mungkin bisa mengumpulkan sebanyak 15.000 G begitu saja. Belum lagi Winter tampaknya masih punya cukup banyak simpanan untuk membelikannya Equipment baru.


“Apakah dia punya pekerjaan sambilan dari Job nya yang lain? Tapi apa?”


Merasa bersalah karena telah membuat Winter menghabiskan tabungannya hanya untuk membelikannya buku Job. Sedikit dia tahu kalau jumlah buku Job yang Winter miliki sudah lebih dari cukup untuk mengisi seluruh toko buku.


Selagi Chic terheran atas apa saja Job yang Winter miliki, Winter tampaknya sudah selesai memilihkan Equipment dan bahkan sudah membayarnya sebelum menyerahkannya kepada Chic.


Baru melihat sekilas, Chic sudah di seret keluar menuju sebuah gang yang sepi sebelum akhirnya dia di paksa Winter untuk segera mengenakan Equipment barunya.


Di bawah tatapan mata merah yang berbinar, mau tidak mau Chic pun menurutinya.


Membuka layar Menu, Chic pun mengetuk layar Equipment.


Apa yang Chic kenakan sekarang adalah sebuah pakaian yang terdiri dari kaos dan celana mini dari bahan kain yang berwarna hitam serta sebuah jaket kulit yang berwarna sama.


Untuk alas kaki, Chic yang sebelumnya hanya mengenakan sandal jerami kini mengenakan sebuah sepatu boots kulit berwarna hitam yang setelah di pakai membuat suara langkahnya menjadi senyap.


Sebagai pelengkap, Winter membelikan sebuah masker kain yang jika kenakan akan melindungi wajahnya dari bagian hidung ke bawah sehingga orang-orang akan sulit mengenali wajahnya.


Terakhir, adalah senjata.


Itu adalah sebuah belati yang permukaannya berwarna merah bagaikan darah. Karena belati itu terasa berat di tangannya, Chic jadi ragu apakah dia bisa menggunakannya dengan benar.


Namun, karena semua ini sudah di bayar, serta melihat wajah merah Winter yang penuh senyum, membuat Chic jadi tidak punya pilihan lain selain menerimanya dengan senang hati.


Sedangkan untuk stats semua Equipment itu :



Def : 10 AGI +10 Durability : 50


Sebuah pakaian sederhana untuk Thief pemula.


Memberikan sedikit perlindungan fisik dan memudahkan pengguna dalam bergerak.



DEF : 5 AGI +12 DEX +12 Durability : 70


Sepasang sepatu yang jika di pakai mampu sedikit mengurangi suara yang dihasilkan saat berjalan.


Cocok digunakan ketika menyelinap dan tidak ingin ketahuan.



DEF : 10 Durability : 30


Sebuah masker kain yang mampu melindungi wajah penggunanya.


Dilengkapi dengan Skill [Concealment] yang berfungsi agar pengguna terhindar dari segala jenis Skill yang memiliki efek untuk mengintip identitas dan stats pengguna.



ATK : 15 Durability : 70


Sebuah belati tajam yang dimaksudkan untuk membunuh mangsanya.


Menambah bonus sebesar 10% jika mangsanya adalah Manusia.


Melihat penampilan Chic yang baru, Winter menjadi puas sebelum mengenakan Equipmentnya sendiri.


Apa yang dia kenakan adalah jubah Mage dan mantel hitamnya yang biasa. Di tangannya kini juga terdapat sebuah tongkat kayu yang di pangkal kepalanya terikat beberapa helai bulu burung berwarna hitam.


Setelah menyembunyikan wajahnya, Winter pun kembali menyeret Chic menuju destinasi berikutnya.