
Pada pagi hari yang cerah seperti biasanya, Sister Maria sedang sibuk menyapu halaman kuil seperti yang biasa dia lakukan.
Tidak seperti Pemain lainnya yang setiap hari pergi melawan Mobs demi menaikkan level. Maria tetap santai menjalani hari-harinya sebagai Biarawati dari Dewi Cahaya.
Jika ada sebuah sebutan yang pantas bagi Maria, itu adalah Roleplayer.
Role Play (RP) adalah salah satu gaya bermain yang mengharuskan pemainnya untuk berpura-pura menjadi tokoh yang ingin dia tiru. Baik itu gaya berpakaian, gaya bicara, hingga cara berperilaku haruslah mirip atau mendekati orang atau karakter yang ingin di tiru.
Dalam kasus Maria, dia sedang Roleplay sebagai seorang Biarawati yang taat dalam menjalankan tugasnya dan selalu berdo’a kepada Dewi Cahaya setiap harinya.
Memang tidak ada yang salah akan hal ini.
Hanya saja dulu masih banyak orang yang kurang menghargai cara bermain seperti ini sehingga para Pemain RP sering kali di olok-olok dan direndahkan oleh para Pemain lainnya.
Untungnya jaman telah berubah.
Tidak seperti dulu, para Pemain RP kini sudah merajalela hingga mereka telah menjadi kaum Mayoritas yang mendominasi banyak game terutama game RPG.
Berkat itu Maria bisa bermain dengan tenang tanpa perlu merasa takut untuk di ejek oleh pemain lainnya.
Setidaknya itu yang terjadi sampai dua Pemain tak tahu diri itu tiba di hadapan Maria.
“Oh, ayolah! Satu Quest ini saja, yah!” “Kami benar-benar butuh seorang Healer!”
Dengan gaya memelas, seorang Warrior berambut merah serta Defender berambut biru sedang menghadang Maria yang hendak masuk kembali ke dalam kuil.
Mereka sudah seperti ini selama sejam lamanya hingga Maria yang punya kesabaran yang besar kini sudah hampir kehabisan.
“Memangnya kau tidak mau leveling apa? Kami berdua ingin menghajar seekor Mobs langka! Ini adalah sebuah kesempatan emas yang sayang untuk dilewatkan!”
“Benar itu! Daripada diam di kuil main Sister-sisteran mending leveling sama kita berdua saja!”
Mendengar gaya bermainnya di hina, bahkan Maria tidak bisa tidak merasa kesal. Dengan tegas dia pun berkata kepada mereka berdua “Kalian sendiri juga, jika kalian memang seorang ahli. Kenapa kalian hanya datang berdua padahal sudah tahu kalau yang kalian lawan adalah Mobs langka!”.
Mendapati Maria membalas perkataan mereka, kedua pemain itu pun menjadi kesal.
“Apa-apaan ini! Sister jadi-jadian sepertimu berani melawan kami berdua!”
“Asal kau tahu saja yah! Kami berdua sudah level 15! Terlebih Job kami ini fokus untuk bertarung! Job support sepertimu memangnya bisa apa!”
Ketika situasi mulai menjadi tidak terkendali, para warga desa yang menonton sangat ini maju dan menolong Sister Maria. Hanya saja, warga desa lemah seperti mereka memangnya bisa apa?
Level mereka yang paling tinggi bahkan tidak mencapai angka dua digit. Terlebih Job yang mereka miliki bukanlah Job tipe bertarung. Yang menambah parah adalah mayoritas penduduk desa ini adalah kaum lansia serta anak-anak yang tidak bisa apa-apa!
Jika di suruh untuk melawan dua Petualang dengan level 15. Jelas segala jenis perlawanan yang mereka berikan tidak akan berpengaruh apa-apa.
Yang bisa mereka lakukan sekarang hanyalah berdo’a agar Kapten Gladius beserta prajurit bawahannya bisa segera datang dan menolong Sister Maria yang sudah mereka anggap seperti cucu sendiri.
Ketika kedua Pemain itu mulai memojokkan Maria, Maria mulai berpikir untuk melawan walau itu berarti dia akan menerima kekalahan yang memalukan.
Namun, belum sempat Maria melakukan apa-apa. Kedua Pemain yang awalnya tampak angkuh kini bergidik ketakutan bagaikan anak kijang yang baru lahir.
Memaksa kaki mereka untuk terus mundur ke belakang, pandangan mereka fokus akan sesuatu yang sekarang sedang berdiri di belakang Maria.
Grrrrrr.... mendengar geraman makhluk buas tepat di atas kepalanya. Bahkan Maria tidak berani untuk menoleh ke belakang dan hanya berdiri terpaku di sana.
Apa yang kedua Pemain itu lihat adalah sesosok serigala putih yang mengenakan Armor berwarna putih yang sama seperti warna bulunya. Dengan tubuh besarnya serta deretan giginya yang tajam, serigala putih itu menatap lurus ke arah kedua pemain dengan pandangannya yang tajam.
Di bawah tatapan si serigala putih yang mengintimidasi, kedua pemain tadi langsung ciut seolah sikap kurang ajar mereka yang sebelumnya tidak pernah ada.
Lupa kalau mereka sebenarnya berada di dalam game di mana kematian hanyalah sementara. Mereka yang takut menjadi makanan serigala segera berniat untuk mengambil langkah seribu.
Sayang, niat hanya sekedar niatan.
Memegang pundak mereka dari belakang adalah seorang pria tinggi yang mengenakan tudung yang tiba-tiba muncul begitu saja yang mana itu mengagetkan mereka berdua. Merasakan aura intimidasi yang luar biasa dari pria itu, mereka yang awalnya bergidik ketakutan kini diam membeku sepenuhnya.
Menengok ke samping, diketahui kalau pria itu mengenakan tudung serta masker kain sehingga mustahil untuk sepenuhnya melihat wajahnya. Akan tetapi, dari wajah bagian atasnya yang masih bisa di lihat, terlihat sebuah wajah yang penuh bekas luka serta sepasang mata merah darah.
“?!” !!”
Tidak mampu lagi berkata apa-apa, kedua Pemain itu hanya diam di sana tanpa bisa melakukan apa-apa.
Menyaksikan semua ini, mudah bagi Maria untuk menghubungkan pria misterius itu dengan apa-pun-itu yang berdiri tepat di belakangnya.
Tepat di saat Maria sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan, tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya.
“Kyah!” Plak! Sebuah tamparan keras dia layangkan seraya dirinya tersentak sembari mengeluarkan teriakan yang sangat feminim.
Baru setelah dirinya mulai tenang dan melihat ke samping. Barulah Maria sadar kalau dia baru saja menampar seseorang yang dia kenal.
“Chic?!” teriaknya ketika Chic sedang mengelus pipinya yang memerah.
Melihat Maria yang terkejut, Chic hanya tertawa walau pipinya terasa nyeri “Memangnya berapa banyak STR yang kau miliki?” keluhnya sambil bercanda.
Setelah Maria akhirnya benar-benar yakin kalau orang yang baru saja dia tampar itu benar-benar Chic. Sontak dia pun meminta maaf yang sebesar-besarnya hingga melupakan kalau terdapat seekor serigala besar di antara mereka.
“Sudah, sudah. Aku maafkan...” Mencoba menenangkan Maria yang sedang panik, Chic pun menanyakan keadaan yang sebenarnya “Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?”.
“Ah, soal itu...” setelah menjelaskan kepada Chic kejadian yang sebenarnya, pandangan Chic pun menjadi serius. Berniat untuk mengatakan sesuatu, dia malah keduluan oleh orang lain.
“Serius? Dan di sini aku mengira fraksi cahaya bebas dari Pemain seperti mereka”
Sekali lagi, tanpa di sadari sudah terdapat sosok baru berupa gadis muda yang kini berdiri di dekatnya sambil mengelus si serigala putih seolah sedang mengelus seekor anjing yang jinak.
Selain karena kemunculannya yang tiba-tiba, apa yang benar-benar mengejutkan Maria adalah penampilan orang baru itu.
Mengenakan jubah keagamaan serba putih yang berhiaskan ornamen emas dan permata, membawa sebuah Staff indah yang lebih tinggi darinya, di tambah dengan rambut putihnya yang lurus serta wajahnya yang cantik jelita
membuatnya terlihat seperti sosok Gadis Suci yang muncul dalam cerita.
Penampilan gadis itu benar-benar mirip seperti Gadis Suci yang menjadi impiannya jika saja mata gadis itu berwarna biru atau emas dan bukan merah darah.
Selagi Maria sedang terkejut karena kemunculannya, Winter yang telah mengetahui kronologi yang sebenarnya segera memberikan perintah kepada Victor.
“Victor, bisakah kau berbaik hati dan memberikan hukuman kepada kedua orang kurang ajar itu?” melihat seringai nakal di wajah Winter, darah pun menghilang dari wajah kedua Pemain itu.
Tahu benar apa yang sebenarnya Winter maksud, Victor pun mengangguk sambil berkata “Dengan senang hati” sebelum akhirnya menyeret kedua pemain itu keluar dari desa jauh ke dalam hutan.
Melambaikan tangannya kepada ketiga sosok yang mulai mengecil, Winter pun mengalihkan perhatiannya kembali kepada Maria.
Dengan senyuman ramah di wajahnya, Winter pun menyapa Maria yang masih tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
...
Duduk di meja makan yang kecil, Maria, Chic, dan Winter sedang berbincang santai sembari menikmati kudapan yang disajikan oleh Maria.
Karena ukuran Blizzard terlalu besar serta Winter yang malasuntuk menggunakan “Return” padanya. Membuat Blizzard harus rela berbaring di halaman belakang kuil di dekat kandang kuda.
“Karena itulah, berkat kemunculan Mobs Langka ini membuat banyak Petualang datang kemari untuk menantangnya” bersikap selayaknya seorang Biarawati yang melayani para pengelana yang berkunjung ke kuilnya,
Maria dengan sabar menjelaskan semua yang terjadi kepada Winter dan Chic yang mendengarkan dengan ekspresi serius di wajah mereka.
“Mobs langka? Apakah itu adalah Mobs langka yang sama yang aku kalahkan sebelumnya?” pertanyaan Chic pun segera di sangkal oleh Maria.
“Mereka itu berbeda...” setelah jeda sebentar, Maria pun mulai memberikan deskripsi dari Mobs langka yang mampu menarik perhatian banyak petualang. “Memiliki tubuh sebesar 5 meter. Wujudnya tampak seperti kalajengking raksasa dengan 12 kaki, 4 buah capit raksasa, serta sepasang sengat yang mematikan. Tubuhnya hitam kelam sedangkan matanya berwarna merah menyala...”.
Mendengarkan deskripsi dari Maria, Chic tidak tahu harus berkata apa sedangkan ekspresi Winter berubah menjadi bersemangat.
“Kalajengking, yah... Kerangkanya pasti keras. Keempat capitnya tentu berbahaya karena itu berarti dia bisa menyerang sebanyak 4 kali berturut-turut, sementara kedua sengatnya pasti mengandung racun yang mematikan”
Dengan tenang Winter menganalisa kemampuan yang dimiliki Mobs langka itu hanya berdasarkan deskripsinya saja.
Hal ini tentu membuat Maria terkagum karena semua tebakan Winter itu benar adanya.
“Semua yang kau sebutkan itu sangat tepat sasaran. Sebagai tambahan, Mobs Langka itu, memiliki nama Mother Scorpion”
“Mother?!... Apakah itu berarti dia juga mampu memanggil anak-anaknya untuk bertarung?!”
Maria pun mengangguk.
Selain karena kemampuan individualnya yang tinggi, Mother Scorpion juga mampu memanggil keturunannya sebagai bala bantuan yang tentu saja membuat pertarungan yang sejak awal sudah susah menjadi semakin
menyusahkan.
“Dalam segi level, kira-kira berapa level Mother Scorpion?” kali ini giliran Chic untuk bertanya.
“Untuk level, berdasarkan pengamatan Kapten Gladius. Mother Scorpion kemungkinan memiliki total level 50. Sementara anak-anaknya, Scorpion Legion memiliki total level berkisar antara level 20 sampai level 30”
“Hah...” mengeluarkan nafas berat. Winter yang awalnya bersemangat karena mengira dia bisa punya Mobs langka baru sebagai Makhluk Summonnya seketika mengurungkan niatnya.
Hal yang sama juga terjadi kepada Chic karena dia sekarang sadar kalau perbedaan level yang terlampau jauh membuat mustahil bagi Partynya untuk punya kesempatan untuk menang.
Melihat sikap mereka berdua, Maria tersenyum lega karena mereka adalah sedikit dari Pemain yang mempercayai informasi yang dia berikan.
Orang-orang sebelumnya tidak langsung percaya dan bahkan menuduh Maria berbohong.
Itu karena mereka yakin kalau tidak mungkin ada Mobs dengan level setinggi itu di awal permainan. Mereka percaya kalau Maria membohongi mereka agar dia bisa memonopoli Mobs langka itu sendirian.
Tahu kalau sahabatnya, Chic. Percaya akan apa yang dia ucapkan. Cukup untuk membawa senyuman ke wajahnya.
“?!” mendapatkan pesan dari Victor, Winter pun membacanya.
• Victor
Aku sudah melucuti segala yang mereka miliki dan mengirim mereka kembali ke dunia nyata.
• Winter
Simpan semua yang mereka miliki. Nanti aku periksa.
• Victor
Apakah ada sesuatu yang aku lewatkan di sana?
• Winter
Hanya informasi mengenai Mobs langka yang mustahil untuk kita kalahkan (Untuk saat ini).
Kembali lah, nanti aku jelaskan secara langsung.
Menutup kembali menu pesannya, Winter pun mulai memikirkan kembali strategi apa yang harus dia gunakan untuk bisa menyelesaikan Main Quest mereka.
Awalnya Winter berencana untuk memanfaatkan kemunculan Mobs langka ini dengan cara memaksa Kapten Gladius beserta para bawahannya untuk menghadapinya.
Jika Kapten Gladius kalah, maka mereka hanya harus mengambil insignia yang dia pegang dan Quest pun selesai dengan mudah. Jika kapten Gladius memang namun menderita luka yang parah atau hanya sekedar kelelahan, maka Party Winter akan langsung maju untuk menghabisi Kapten Gladius yang jauh dari kondisi prima nya.
Terakhir, jika Kapten Gladius mampu menang tanpa menerima cedera yang berarti. Maka Winter akan mundur untuk memikirkan rencana selanjutnya.
Dan sekarang, setelah dia tahu seberapa kuat Mobs langka itu.
Winter yang tidak yakin apakah Kapten Gladius cukup bodoh untuk menerima rayuannya atau cukup heroik untuk menantang monster yang mengancam ketenteraman desa ini walau tahu ada perbedaan kekuatan yang sangat
besar di antara mereka berdua.
Terakhir Winter mencari tahu, total level Kapten Gladius adalah level 27.
Informasi tersebut diperoleh dari seseorang yang menggunakan nama akun ‘Maiden Cleric’. Dari namanya, Winter yakin kalau orang tersebut kini sedang duduk tepat di hadapannya.
“Sister Maria...” ucapnya dengan lemah lembut dan penuh sopan santun “...apakah Kapten Gladius mampu untuk menghadapi Mobs langka ini? Jika bisa, maka aku hendak bekerja sama dengannya”.
Maria seketika menggelengkan kepalanya “Mustahil...” jawabnya dengan tegas. “Terdapat perbedaan 23 level di antara mereka. Bahkan jika Kapten Gladius beserta para Petualang yang singgah menyatukan kekuatan mereka, kecil kemungkinan kalau mereka akan keluar sebagai pemenangnya”.
Memuji dirinya sendiri di dalam hati. Winter girang bukan kepalang ketika mengetahui tidak ada perubahan yang signifikan terhadap total level Kapten Gladius.
Karena perbedaan level mereka tidak terlalu berbeda. Membuat Winter menjadi percaya diri kalau Main Quest ini akan mampu mereka tuntaskan!
...
Sekembalinya Victor setelah mengurus kedua pemain kurang ajar itu, Winter segera membawanya ke salah satu ruangan kosong di dalam kuil dan membiarkan Chic berbicara berduaan bersama Maria.
Mengunci pintu dengan rapat, Winter lalu menghadap ke arah Victor dan mulai memberitahukan segala informasi yang baru saja dia dapatkan.
“Begitu, jadi rencana B gagal sebelum di mulai?” mengangkat kedua pundaknya, Winter membuat gestur seolah memang tidak ada yang bisa dia lakukan.
“Mau bagaimana lagi kan? Padahal aku mengira membiarkan Kapten kesatria untuk berhadapan dengan Mobs langka itu adalah sebuah ide yang bagus”
Walau nada yang dia gunakan membuatnya terdengar seperti orang yang menyesali segalanya. Tapi ekspresi cerahnya memberitahukan suasana hatinya yang sebenarnya.
Melihat ini, mau tidak mau Victor pun bertanta “Apa yang ada di pikiranmu?”.
Winter pun memberikan senyuman secerah matahari.
Rencana A, mereka akan langsung berhadapan dengan target dalam pertarungan.
Rencana B, mereka akan mengadu target dengan Mobs langka. Tidak peduli siapa yang akan menjadi pemenangnya. Pada akhirnya Party mereka lah yang akan menjadi yang terakhir tertawa.
Dengan rencana B sudah gagal bahkan sebelum itu di mulai, sedangkan rencana A adalah pilihan terakhir yang hanya akan mereka lakukan setelah memang tidak ada cara yang lain.
Itu artinya hanya ada rencana C yang tersisa.
“Kau sudah membawakan apa yang aku pinta, kan?”
Merogoh ke dalam penyimpanannya, Victor pun mengeluarkan total 3 buah item.
Item pertama adalah sebuah gulungan perkamen yang di segel dengan lilin merah.
Itu adalah sebuah Spells Scroll yang berisikan sihir dari element api yang memiliki daya ledak yang mampu meluluhlantakkan sebuah bangunan besar hingga rata dengan tanah.
Item kedua adalah sebuah tas kecil yang berisi serbuk halus yang berkelap-kelip seperti cahaya bintang. Itu adalah sebuah item yang jika digunakan akan membuat penggunanya menghilang di bawah cahaya bintang.
Item terakhir adalah sebuah totem kayu seukuran telapak tangan yang berbentuk seperti monyet kecil dengan telinga yang tertutup serta mulut yang menganga lebar seolah sedang berteriak sekuat tenaga.
Menerima ketiga item itu, Winter memeriksanya dengan “Appraisal” sebelum akhirnya menyimpan semuanya ke dalam penyimpanannya sendiri terkecuali item yang terakhir.
Memandangi totem monyet itu dari dekat, sebuah seringai nakal terus menempel di wajahnya.
Grade : Rare Quality : Good Type : Catalyst
Curse of Mandragora Lv. 5
Sebuah totem terkutuk yang jika di aktifkan, akan menarik perhatian semua Mobs yang ada di area sejauh 100 Km dan tidak akan berhenti bahkan ketika totem ini di hancurkan.
Usage Limit :1
Membaca sesuatu yang tidak seharusnya berada pada item di tingkat Rare. Winter sangatlah girang hingga dia terus saja mengelus-elusnya seperti sedang mengelus sebuah boneka yang lucu.
Seringai di wajahnya bertambah lebar ketika mengetahui kalau \ yang terpasang di dalam kuil tidak mampu untuk sepenuhnya menahan efek dari item yang ada di tangannya. Itu wajar mengingat \ yang terpasang di kuil ini hanyalah item peringkat rendah yang hanya berfungsi terhadap Undead serta Mobs lemah lainnya dan tidak bisa berbuat banyak terhadap sebuah item terkutuk dengan tingkat Rare.
Yah, mungkin efek dari \ memang akan berkurang setengahnya tapi itu sudah lebih dari cukup.
Melihat pemandangan Winter yang sedang menyeringai dari samping, Victor yang sudah mulai terbiasa dengan sikap Winter hanya diam sambil menunggunya selesai keluar dari dunianya sendiri.
...
Dengan alasan Mobs langka itu mustahil untuk dikalahkan, Party Winter pun segera pamit pulang kembali ke kota Virtue.
Walau merasa sedih karena temannya Chic akan segera pergi lagi, Maria yang tahu kalau dia tidak bisa menahan mereka hanya bisa menghantarkan kepergian mereka dengan senyuman di wajahnya.
Setelah Party Winter tidak lagi terlihat, Maria mengeluarkan nafas berat sebelum akhirnya kembali ke dalam kuil untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Dia terus bekerja dengan sepenuh hati tanpa menyadari kalau sesuatu telah terkubur di bawah lantai kuil.