A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 33 : Main Quest (2)



Bersama dengan prajurit bawahannya, Kapten Gladius berpatroli mengelilingi desa sambil menunggangi kuda kesayangannya.


Wajahnya tampak serius ketika menyaksikan para Petualang yang masuk ke dalam hutan untuk menantang Mobs Langka bernama Mother Scorpion yang belum lama ini muncul dibagian terdalam hutan.


Karena perbedaan kekuatan, Kapten Gladius yang merasa mustahil untuk menghadapi Mobs langka itu sendiri segera meminta bala bantuan dari Kota Virtue. Berharap kesatria yang datang, malah Petualang Outsider yang datang berkunjung.


“Kebanyakan Petualang yang datang masih muda...”


“Paling tua kelihatannya baru 20 tahunan”


“Sedangkan level mereka... Hah”


“Hah... Kita saja tidak mungkin menghadapi Mobs langka sekaliber itu. Apalagi bocah seperti mereka”


Membiarkan anak buahnya saling berbincang satu sama lain, Kapten Gladius memacu kudanya karena satu putaran lagi kegiatan patrolinya akan selesai.


Menyambung apa yang bawahannya bicarakan. Dalam hatinya Kapten Gladius juga setuju akan apa yang mereka bicarkan.


Tidak peduli siapa mereka, Outsider atau bukan. Selama mereka memiliki kemampuan dan juga kemauan untuk menaklukkan Mobs langka itu, maka dia akan menerimanya dengan senang hati.


Akan tetapi, apa yang datang bukanlah kesatria yang gagah berani ataupun Petualang yang sakti mandraguna. Melainkan para bocah kemarin sore yang masih tidak tahu mana atas dan mana bawah.


“Hah...” menghela nafas panjang, Kapten Gladius memacu kudanya di bawah langit sore...


“?!” merasakan ada sesuatu yang salah, Kapten Gladius pun menghentikan langkah kudanya. Meski dirinya tidak memiliki Skill deteksi dari Job Scout, tapi pengalamannya sebagai seorang Kapten Kesatria sudah mengajarinya cara untuk merasakan bahaya hanya dengan nalurinya saja.


“Kapten, apakah ada sesuatu?” melihat ekspresi Kapten mereka, total 20 prajurit yang ada seketika paham kalau Kapten mereka baru saja merasakan sesuatu yang salah.


Dengan gerakan yang terbiasa, mereka semua masuk ke dalam mode waspada dan mulai memperhatikan


sekeliling mereka.


Seketika terlihat burung-burung mengepakkan sayap mereka dalam panik. Melayang tinggi ke angkasa, mereka terbang menjauh dari dalam hutan.


Jika seseorang memperhatikan dari arah mana burung-burung itu terbang. Maka mereka akan tahu ke arah mana mereka harus menaruh kewaspadaan mereka.


Hanya saja, burung-burung yang beterbangan datang dari segala penjuru.


Melihat ini, keringat dingin mulai mengalir di punggung Kapten Gladius. Sadar ada sesuatu yang terjadi di dalam hutan. Apa yang terjadi selanjutnya membuat firasat buruknya semakin menjadi.


“Tolooongg...!” “Lari....!!!”


Dari dalam hutan, tepatnya dari arah Mobs langka ditemukan. Terlihat para Petualang yang baru saja masuk ke dalam hutan langsung lari kocar-kacir meninggalkannya.


Beberapa masih dalam kondisi segar bugar, sementara sebagian lainnya memiliki luka di tubuh mereka.


Melihat ekspresi panik di wajah mereka semua. Jelas sekali kalau sesuatu yang buruk baru saja terjadi.


Baru saja Kapten Gladius berniat untuk menghampiri mereka, langkahnya terhenti ketika seekor kadal besar muncul tepat dari balik pepohonan di sampingnya.


Dengan tubuh sebesar kuda dewasa, sisik hijau gelap menutupi seluruh tubuhnya. Sepasang mata besar terpasang di atas kepalanya dan mampu untuk memutar dan memandang dua arah yang berbeda secara bersaman.


Melihat kadal besar itu membuka mulutnya, sontak Kapten Gladius pun mengangkat perisai di tangannya.


“Geh!” menahan batu besar yang kadal itu lontarkan dari dalam mulutnya. Hampir saja Kapten Gladius terjatuh dari atas kudanya namun tidak jadi karena dia berhasil menjaga keseimbangannya.


“Kapten!” melihat Kapten mereka yang baru saja di serang, membuat para prajurit itu tidak menyadari kalau kadal besar bukanlah satu-satunya yang muncul dari dalam hutan.


Kera raksasa, armadilo dengan cangkang berduri, kura-kura dengan roda sebagai kakinya, hingga katak cokelat dengan punggung seperti batu muncul secara satu-persatu dari dalam hutan dan menerjang ke arah prajurit yang tidak waspada.


“Aarrghh...!!!” “Mu-musuh...!!!” “Hyaaa...!!!”


Mendapatkan serangan kejutan membuat para prajurit itu kehilangan ketenangan mereka.


Menyaksikan penampilan menyedihkan dari bawahannya, bahkan Kapten Gladius sekalipun tahu kalau ini bukan saatnya untuk memarahi mereka.


Menghindari peluru batu yang kembali terbang ke arahnya, Kapten Gladius pun berteriak memberikan perintahnya. “Tetap tenang! Musuh ada di depan mata! Ambil pedangmu dan tebas musuhmu!” berkat perintah tegas dari sang Kapten. Para prajurit yang awalnya panik kini menyadari kesalahan mereka.


Berniat untuk menebus kesalahan mereka, setiap prajurit yang ada mulai menghunuskan pedang mereka dengan tekad yang berkobar.


“Hajar!” “Jangan sampai mereka mendekati desa!” “Hiiyaaatt!!!”


Masih berada di atas punggung kuda masing-masing. Kapten Gladius dan keduapuluh prajurit bawahannya mulai bertarung melawan para Mobs yang datang dari dalam hutan.


Menyaksikan para prajurit yang bertarung dengan gagah berani. Sebagian Party Petualang yang awalnya lari kocar-kacir seketika menghentikan langkah mereka.


Terinspirasi dari pertarungan sengit di hadapan mereka, mereka yang awalnya penakut kini menjadi pemberani.


“Ini hanya game, kenapa kita harus takut!”


“Lihat Exp berjalan itu! Kalau mereka datang menghampiri, kenapa aku harus kabur?”


“Itu mangsaku! Jangan ambil!!!”


Satu-persatu dari mereka mulai berlari menerjang Mobs yang datang menyerbu. Mengikuti rekan mereka yang maju, para Petualang yang awalnya berniat kabur kini mendapatkan kembali keberanian mereka dan ikut bertarung.


Tidak seperti para Prajurit yang bertarung dalam formasi yang rapi, para Petualang bertarung dengan membabi buta namun tetap efektif dalam menghadang laju Mobs yang berdatangan.


Dalam sekejap daerah pinggiran hutan menjadi medan pertempuran.


Yang perlu disyukuri dari hal ini adalah fakta kalau mereka jauh dari desa. Dengan begitu mereka tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa dan bisa terus fokus akan lawan yang ada di hadapan mereka.


Melihat situasi yang semakin membaik, Kapten Gladius pun akhirnya bisa bernafas lega.


“Knight Sword!” dengan kilatan biru dari bilah pedangnya, total 800 kerusakan dihasilkan.


Dengan kepalanya yang terbelah menjadi dua, menandakan akhir dari kadal raksasa yang malang itu.


Sukses menghabisi lawannya, baru saja Kapten Gladius ingin membantu bawahannya yang masih bertarung. Itu pun terjadi...


Teng! Teng! Teng! Teng! Suara lonceng yang di pukul cepat bergema ke segala penjuru hingga sampai ke telinga Kapten Gladius.


Memandang ke arah suara lonceng itu berasal, betapa terkejutnya Kapten Gladius ketika menyadari ada asap hitam yang mengepul dari arah desa.


Sadar kalau desa sedang dalam bahaya. Keringat dingin pun membasahi tubuhnya. Tidak ingin kemungkinan terburuk terjadi, dia pun segera bertindak.


“Sebagian dari kalian tetap di sini dan bantu para Petualang! Sisanya, ikut denganku!”


Membagi bawahannya menjadi dua kelompok, Kapten Gladius membawa total 10 prajurit bersamanya sementara sisanya tetap berjaga di sana.


“Ha!” memaksa kudanya untuk melaju kencang, hanya satu tempat yang dia tuju. “Semoga sempat...” mengucapkan do’a nya, mereka melaju bagaikan angin menuju asap hitam yang kian mengepul di angkasa.


...


Sementara itu, Sister Maria kini sedang sibuk mengumpulkan para warga desa untuk berlindung di dalam kuil Dewi Cahaya.


Menyaksikan para Petualang yang sedang bertarung dengan para Mobs yang entah datang dari mana. Maria hanya bisa menonton dari kejauhan sembari menuntun para warga desa yang masih berada di luar untuk segera masuk ke dalam kuil.


“Sial, darimana mereka datang!”


“Apakah ini event dadakan?!”


“Mana aku peduli! Pokoknya habis mereka! Jangan sampai desa ini hancur!”


Berbeda dari Petualang yang sebelumnya, mereka yang berkumpul di sini kebanyakan adalah Pemain dengan level tinggi dan tidak sedikit dari mereka adalah Pemain yang sudah menginjakkan kaki mereka di game ini sejak pertama kali rilis.


Salah satunya adalah seorang pria tinggi dengan rambut hitam yang di kuncir kuda. Mengenakan Light Armor berwarna putih dia membawa sebilah katana di pinggangnya.


Lebih dikenal sebagai Lone Samurai di forum. Nama karakternya adalah Iaido.


“Jangan menyebar! Tetap bersama dan bekerja sama lah!”


Sebagai seorang Pemain senior, perkataannya mengandung bobot yang membuat para Pemain baru tidak bisa menolaknya. Sebagai pemimpin de facto dari para Pemain di desa ini, perintahnya berkumandang jauh dan berkat itu desa ini bisa bertahan dan tidak jatuh dalam seketika.


Melihat kepemimpinan Iaido yang bisa di andalkan, hati Maria menjadi tenang.


Kepala desa sudah membunyikan lonceng tanda peringatan. Para warga desa yang sedang sibuk meladang pasti bisa mendengarnya dan bergegas kembali ke desa.


Dalam situasi yang kacau, membuat banyak warga desa yang terluka.


Baik karena terkena serangan Mobs atau hanya sekedar terjatuh karena bergegas mengungsi ke dalam kuil.


Tidak peduli bagaimana mereka bisa terluka, Maria tetap memperlakukan mereka dengan cara yang sama.


Menggunakan “Minor Heal”, Maria yang sudah selesai menuntun para warga desa menuju kuil kini sedang sibuk mengobati mereka yang terluka.


Karena dia adalah satu-satunya Biarawati di sini, maka semua pekerjaan berada di tangannya.


Untungnya masih ada warga desa yang tidak terluka mau mengulurkan tangan mereka dengan ikut mengobati saudara-saudara mereka menggunakan obat-obatan yang telah Maria racik sebelumnya.


Di saat situasi semakin genting. Kapten Gladius yang telah memacu kudanya dengan kecepatan penuh akhirnya datang juga.


Melihat keadaan desa yang memprihatinkan, matanya tertuju pada sosok Iaido yang sedang memberikan perintah kepada Petualang yang lain.


Masih berada di atas kudanya, Kapten Gladius menghampiri Iaido yang baru saja selesai memberikan arahannya. “Wahai Petualang yang terhormat, bolehkah aku menduga kalau engkau adalah pimpinan para Petualang yang ada di sini?”.


Menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam game, membuat Iaido tahu benar bagaimana menanggapi NPC yang berbicara kepadanya.


“Hanya pemimpin sementara, ada yang bisa aku bantu?”


“Kalau begitu perkenalkan, Kapten dari Ordo Kesatria Penjaga Perbatasan Gurun. Gladius Guard. Dengan ini aku memberikan kalian Quest Darurat... Lindungi para warga desa apapun yang terjadi!”


Sontak layar Quest pun muncul di hadapan Iaido dan setiap pemain yang ada.



Difficulty : Gold


Client : Captain Gladius Guard


Desa tiba-tiba saja di serang oleh segerombolan Mobs yang ganas.


Tolong lindungi semua warga desa dan pastikan keselamatan mereka sampai gelombang Mobs berakhir!


Prize : 50.000 G. Secret prize for top 3 MVP


Failure : Death of more than 50% Villager


Time Limit : 1hari.


Melihat pilihan ‘Terima/Tidak’ yang muncul di hadapan mereka. Awalnya para Pemain terkejut namun seketika menjadi penuh semangat ketika selesai membaca hadiah macam apa yang akan mereka dapatkan jika Quest dadakan ini sukses mereka laksanakan.


“50K? Gass!!!”


“Gw jadi penasaran apa hadiah rahasianya”


“Aku yang akan menjadi MVP! Kalian semua minggir!”


Dengan semangat yang berkobar, setiap Pemain yang ada langsung menyentuh tombol ‘Terima’ dan langsung mengitari bangunan Kuil hingga membentuk sebuah lingkaran pertahanan.


Melihat para Petualang yang penuh semangat bertarung. Kapten Gladius akhirnya bisa bernafas lega.


Tidak ingin hanya diam saja, dia pun segera memerintahkan bawahannya untuk bergabung bersama para Petualang dan bertarung bersama.


Dengan bergabungnya para prajurit dan para Petualang, formasi pertahanan mereka menjadi kokoh dan laju serangan Mobs pun akhirnya bisa mereka tahan.


Menyaksikan semua itu terjadi dari kejauhan, adalah Winter yang kini mengenakan set Equipment \ miliknya. Memasang seringai nakal dari balik maskernya, dia mengirimkan pesan kepada Chic dan Victor yang sudah siap di posisi mereka masing-masing.


Langit sore kini sudah berganti malam.


Berjam-jam mereka bertarung namun gelombang Mobs yang berdatangan masih belum kunjung surut juga.


Sebaliknya, jumlah mereka kini terasa jauh lebih banyak.


Tidak hanya itu!


Setiap orang yang ada dapat merasakan kalau level Mobs yang datang jauh lebih tinggi dari yang sebelumnya mereka kalahkan.


Dan, entah karena alasan apa. Tubuh Mobs yang sudah di kalahkan bukannya menghilang menjadi butiran cahaya melainkan tetap ada sebagaimana mayat yang seharusnya.


Melihat ini, firasat buruk dirasakan oleh Kapten Gladius.


Sebagai seorang kesatria, tentu dia telah di didik dengan baik semenjak dia masih kecil. Berbagai macam pengetahuan dia pelajari terutama mengenai Mobs yang jumlahnya sudah tidak terhitung lagi.


Dari buku yang pernah dia baca. Pernah dijelaskan sebuah fenomena di mana tubuh Mobs yang telah kalah namun tetap ada dan tidak berubah menjadi butiran cahaya.


Yang pertama adalah Mobs tersebut sangatlah kuat atau sangat besar sehingga membutuhkan waktu bagi mereka untuk berubah menjadi butiran cahaya. Yang kedua terdapat seseorang yang memiliki Job yang memberikan efek kepada Mobs yang mereka kalahkan agar tetap ada dan tidak berubah menjadi butiran cahaya. Yang terakhir, adanya penggunaan sebuah item yang memberikan efek yang sama seperti yang kedua.


Kemungkinan pertama jelas lewat.


Memang benar kalau Mobs yang berdatangan itu kuat-kuat dan besar-besar. Hanya saja mereka tidaklah sekuat atau sebesar itu.


Meninggalkan kemungkinan kedua dan ketiga.


Yang mana kedua kemungkinan ini hanya berbau masalah.


Tidak peduli kemungkinan yang mana itu, sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang Kapten kesatria untuk menjaga desa ini dari segala macam bahaya.


Desa tempatnya sekarang adalah sebuah desa tidak bernama yang berdekatan dengan perbatasan antara fraksi cahaya dengan fraksi netral yang merupakan sebuah daerah gurun yang tandus. Walau terdengar kejam, sudah menjadi tugas desa ini untuk yang pertama menerima segala macam bahaya yang datang dari arah gurun.


Karena itulah, dia yang adalah seorang Pemegang Insignia ditempatkan di desa terpencil ini.


“Arrghh...!!!”


Teriakan seorang Petualang malang berhasil membawa kembali Kapten Gladius dari lamunannya.


Menoleh ke arah sumber suara, terdapat sosok Petualang yang memegang perisai besar di tangannya terjatuh ke atas tanah dengan seekor katak batu berdiri di atasnya. Di saat rekan-rekannya yang lain berusaha untuk menolong, mereka kalah cepat karena katak itu sudah menindih petualang malang itu dengan bobot tubuhnya hingga nyawa Petualang itu sudah tidak lagi tertolong.


Walau itu terlihat sedih, tapi tidak ada seorangpun rekannya yang merasa bersedih.


Sebaliknya, hanya amarah yang tidak terbendung yang terpancar di mata mereka.


Sebagai Outsider. Kematian bukanlah akhir bagi mereka.


Tunggu saja beberapa saat nanti mereka juga akan bangkit lagi di Kuil Dewi Cahaya.


Yah, walau setengah uang serta satu atau dua item mereka akan hilang. Tapi itu masih lebih baik daripada kematian yang abadi.


Dengan kematian Petualang tadi, berkurang lagi tenaga bertarung mereka.


Jumlah mereka terbatas. Dan banyak dari mereka yang sudah kelelahan. Jika pertarungan ini diteruskan, maka mereka lah yang akan berakhir sebagai pecundang!


Mengingat jarak antara desa ini dengan Kota Virtue, bala bantuan mustahil untuk diharapkan.


Ke sepuluh prajurit yang dia suruh menahan Mobs di pinggiran hutan juga masih belum kunjung kembali. Dan kemungkinan besar mereka tidak akan pernah kembali.


Sedangkan bawahannya yang masih tersisa, jumlah mereka sudah turun hingga hanya tersisa dua dari mereka yang masih bisa berdiri dan bertarung sementara yang lain harus mundur ke dalam kuil karena terluka atau tewas di tangan Mobs yang ganas.


Menggigit bibirnya karena ketidakberdayaannya, tekad yang kuat kini terpancar jelas di matanya seraya Kapten Gladius mengayunkan pedangnya.


...


Sementara yang lain sedang sengit bertarung di luar sana. Maria juga sedang berkerja keras dalam pertempurannya sendiri.


Sudah lama sejak dia kehabisan MP.


MP Potion pun juga sudah habis, dengan ini Maria tidak punya lagi cara untuk memulihkan MP nya kembali.


Meski begitu, dia tetap tidak patah semangat!


Menjalankan tugasnya sebagai seorang Biarawati sampai akhir, Maria terus mengobati mereka yang terluka dengan segala stok obat-obatan yang tersisa.


Warga desa yang terluka sudah lama selesai dia obati. Sekarang, giliran para prajurit serta Petualang yang terpaksa harus mundur dari medan pertempuran karena luka yang mereka derita.


Tidak seperti game lain di mana luka Pemain hanya pada HP mereka. Di NFO luka bisa berupa luka tebasan, patah tulang, hingga kehilangan anggota badan yang jelas akan mengganggu pergerakan mereka dan rasa sakit yang timbul pun juga tidak tertahankan bagi sebagian banyak orang.


Untungnya kini Maria bukanlah satu-satunya orang dengan Job Cleric.


Para Pemain lainnya yang kehabisan MP memutuskan untuk mundur ke dalam kuil untuk memulihkan MP mereka. Sementara para Mage dan Job lainnya sedang bersantai ria, mereka yang memiliki Job Cleric memutuskan untuk menggunakan MP mereka yang tersisa untuk mengobati mereka yang terluka.


Berniat untuk memberikan kontribusi pada Quest dadakan ini. Tindakan mereka mendapatkan pujian dari dalam lubuk hati Maria yang terdalam.


Di saat Maria sedang berkonsentrasi mengobati orang yang ada di hadapannya, pintu kuil yang awalnya tertutup rapat kini terbuka lebar.


Sontak ini membuat semua orang terkejut dan secara refleks mereka semua sama-sama memandang ke arah pintu kuil. Takut kalau ada Mobs yang masuk, helaan nafas lega terdengar ketika tahu kalau yang membuka pintu hanyalah seorang prajurit yang datang sambil membawa seorang anak kecil yang gemetar ketakutan.


Setelah memasukkan anak kecil itu ke dalam kuil serta memberikannya beberapa patah kata penyemangat, prajurit tadi segera kembali menutup pintu dan berjaga di depannya untuk menghadang semua Mobs yang lolos dari para Petualang.


Ketika kebanyakan orang sudah tidak lagi tertarik kepada anak kecil itu. Hanya Maria seorang yang terus saja menaruh perhatiannya kepada anak kecil yang baru datang itu.


Dia masih sangat muda. Kira-kira 8 tahun adalah umurnya. Seorang bocah lelaki yang sehat dengan lumpur yang menempel pada pakaian yang dia kenakan.


Tentu saja Maria mengenali anak itu sebagai salah satu anak-anak yang biasa bermain di ladang tempat kedua orangtuanya bekerja.


Menduga kalau anak itu sedang bermain di luar seperti biasa sebelum Mobs datang menyerbu. Maria terheran kenapa anak itu baru datang sekarang padahal lonceng tanda peringatan sudah lama selesai dibunyikan.


Mata Maria langsung terbelalak ketika dia melihat mata anak itu.


Kedua mata anak itu memiliki simbol hati berwarna merah jambu yang cerah.


Menghabiskan waktu luangnya dengan membaca catatan yang ada di dalam kuil. Maria langsung tahu kalau mata anak itu adalah efek dari Skill Charm yang mampu mengontrol pikiran orang lain. Tubuh Maria seketika membeku ketika melihat apa yang anak itu keluarkan dari balik bajunya.


Itu adalah sebuah gulungan dengan segel berwarna merah.


Tahu benar item macam apa gulungan itu sebenarnya, Maria seketika bangkit dan berlari menuju anak itu yang perlahan mulai membuka gulungan itu.


“Tahaaaannn...!!!” teriakan Maria yang tiba-tiba tentu mengejutkan semua orang.


Tidak peduli akan reaksi orang lain, yang ada di dalam pikiran Maria sekarang hanya untuk menghentikan apa pun yang anak itu coba perbuat.


Sayang, Maria sudah terlambat.