A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 16 : Market



Di tengah malam yang sunyi, terdapat sebuah pemandangan yang tidak biasa pada suatu desa terpencil yang berada di dalam wilayah Fraksi Cahaya.


Penduduk desa yang seharusnya sudah lama terlelap kini mendapati diri mereka terikat kencang dan ditempatkan tepat di alun-alun desa yang biasanya digunakan sebagai tempat untuk menggelar upacara adat ataupun perayaan besar lainnya.


Walau angin dingin menerpa mereka, itu tidaklah seberapa mengingat situasi mereka yang mereka alami sekarang.


Tali yang mengikat mereka sangatlah kencang hingga mustahil bagi mereka untuk melarikan diri. Kain yang membungkam mulut mereka mencegah mereka untuk meminta pertolongan. Meski begitu, itu masih tidak bisa


mencegah tiga orang Ibu yang sedang menangisi putra mereka yang sudah tiada. Apalagi tubuh mereka sekarang diletakkan tepat di hadapan mereka.


Tubuh ketiga pemuda malang itu sekilas tampak biasa saja. Tapi, jika kau membalik badan mereka, maka akan terlihat sebuah luka bekas tusukan di punggung mereka yang adalah apa yang menyebabkan kematian mereka bertiga.


Selain suara tangisan ketiga ibu-ibu malang itu, terdengar juga suara isak tangis dari para anak-anak yang ketakutan sekaligus kebingungan dengan alasan kenapa mereka di ikat.


Alasan kenapa semua warga desa sekarang terikat, dan kenapa ketiga pemuda malang itu kehilangan nyawa, semua dikarenakan ulah satu orang.


Mengenakan seragam Assassin yang memperlihatkan cukup banyak kulitnya yang putih, adalah Chic yang kini duduk di teras sebuah rumah dengan pemandangan jelas ke arah alun-alun desa. Mengenakan masker membuat


wajahnya tidak mudah untuk dikenali. Namun itu tidak menghalanginya untuk menunjukkan sebuah ekspresi bosan di wajahnya.


Menyelimuti diri dengan selimut yang dia ambil dari dalam rumah warga, Chic duduk termenung menunggu Winter yang sampai sekarang masih belum datang juga.


Jika saja para pemuda sedang tidak pergi untuk mencari tiga orang anak gadis yang menghilang, para warga desa yang sedang di tahan berpikir kalau situasi mereka saat ini tidak akan mungkin terjadi.


Tapi, apa daya? Nasi sudah menjadi bubur. Apa yang sudah terjadi tidak bisa di ulang kembali.


Sembari menahan dinginnya angin malam, Chic bersyukur karena di game ini tidak ada yang namanya nyamuk atau serangga menyusahkan lainnya sekaligus mengutuk game ini yang terlalu realistis hingga ke tahap dia bisa


menggigil kedinginan seperti ini hanya karena hembusan angin semata.


Setelah sekian lama menunggu, orang yang dia tunggu-tunggu akhirnya muncul juga.


Winter yang sendirian menghadapi seluruh tim pencari akhirnya menyelesaikan tugasnya dan muncul tanpa adanya lecet sedikitpun.


Sosoknya yang mengenakan tudung hitam yang hanya menampakkan sepasang mata merah menyala sontak membuat para warga desa bergidik ketakutan. Bahkan para bocah yang sedari tadi menangis tersedu-sedu seketika diam seribu bahasa.


Apalagi setelah mereka mendapati sosok Kepala Desa yang seharusnya sedang pergi bersama dengan tim pencari kini berjalan di hadapan mereka dengan tubuh yang bersimbah darah dan tatapan mata yang kosong.


Sontak seluruh warga desa pun tahu bagaimana nasib tim pencari.


Meratapi kepergian suami serta putra mereka, para warga desa yang kebanyakan terdiri dari para perempuan dan para lansia hanya bisa meneteskan air mata.


Sampai ke desa, Winter langsung di sambut oleh pemandangan para warga desa yang di ikat dan dikelompokkan menjadi empat kelompok.


Perempuan muda di ikat bersama dengan perempuan muda lainnya. Para Ibu-ibu di ikat bersama dengan para Ibu-ibu lainnya. Para lansia di ikat bersama para lansia lainnya. Dan para anak-anak di ikat bersama dengan anak-anak lainnya.


Selain tiga mayat yang tergeletak begitu saja, tidak terlihat ada pemuda di antara para warga desa yang tersisa. Itu artinya semua pemuda dan para pria lainnya sudah di kirim untuk bergabung dengan para tim pencari yang kini sudah tiada.


Melihat Chic yang sedang duduk termenung di depan teras, Winter pun menghampirinya “Hebat juga kau bisa menangkap semua penduduk dengan mudah. Pakai dikategorikan lagi” mendapatkan pujian(?) dari Winter, Chic


sama sekali tidak merasa senang “Kau sendiri juga kenapa lama? Aku di sini kedinginan kau tahu?” yang sama sekali tidak di hiraukan oleh Winter.


Mulai menghitung para warga desa yang tertangkap, terhitung ada total 26 perempuan dari usia 16 sampai 26 tahun. 20 orang Ibu-ibu dengan kisaran umur 30 sampai 40 tahun, 16 lansia yang sudah bau tanah, serta 10 anak-anak dengan rentang usia di bawah 12 tahun. 4 di antaranya adalah lelaki sedangkan sisanya adalah perempuan.


“Ada 26... Itu artinya minimal kita akan mendapatkan 260.000 G. Kalau ada yang masih gadis bonusnya bisa lebih... Hei, Chic, mereka terima anak kecil tidak?”


“Hah? Kau serius juga mau mengambil anak-anak?” yang mana langsung di jawab “Tentu saja” seolah itu adalah hal yang paling wajar.


Mendengar percakapan Winter dan Chic, para warga desa seketika bergidik ketakutan. Jelas sudah kalau kedatangan mereka berdua adalah untuk menjual para gadis dan bahkan anak-anak yang masih kecil. Walau mereka ingin berteriak, namun kain yang membungkam mulut mereka membuat mereka tidak kuasa untuk melakukannya.


“Lalu, bagaimana dengan para Ibu-ibu dan para lansia?” yang mana sekali lagi langsung di jawab oleh Winter melalui tindakannya.


Winter yang sudah cukup terbiasa memerintahkan makhluk panggilannya hanya menggunakan pikirannya saja, membuat Zombie Kepala Desa untuk berjalan mendekati para lansia yang sedang terikat.


“Hmnm... hmnnnmhnnm...!!!”


Teriakan yang teredam dari para lansia mulai bergema di tengah malam yang dingin.


Sedetik kemudian Winter menggunakan ‘Raise Undead’ untuk menghidupkan ketiga pemuda yang mati tergeletak di atas tanah. Menggunakan pikirannya, Winter lalu memerintahkan ketiga Zombie itu untuk memakan para Ibu-Ibu.


Menyaksikan pemandangan mengerikan ini, sebuah trauma berat tertanam di dalam hati dan pikiran para warga yang tersisa terutama para anak-anak yang masih kecil dan polos.


Bahkan Chic sampai tidak bisa mempertahankan aktingnya dan secara refleks memalingkan wajahnya.


Sementara itu, orang yang menciptakan pemandangan ini, Winter. Dia dapat dengan tenang menyaksikan adegan horror yang tengah terjadi tanpa sekalipun mengedipkan matanya. Malahan jika maskernya diturunkan, maka


hanya akan ada ekspresi datar yang akan kau temukan.


Pada akhirnya Winter pun merasa bosan karena hanya berdiri saja. Menengok ke arah Chic yang mulai melihat angkasa, Winter pun menanyakan sebuah pertanyaan yang paling penting...


“Bagaimana cara kita memindahkan mereka semua?”


...


Hari sudah menjelang subuh dan bersama dengan itu angin yang bertiup pun semakin terasa dingin.


Menyelimuti tubuh mereka dengan selimut yang mereka ambil dari desa, Winter dan Chic sama-sama berusaha menggerakkan kereta kuda melewati hutan yang gelap.


Entah karena mereka sedang beruntung atau apa, mereka yang kebingungan akan bagaimana caranya membawa kembali semua ‘Jarahan’ yang mereka dapatkan karena kereta kuda yang mereka sewa jelas sekali tidak mampu


membawa 36 penumpang tidak termasuk diri mereka sendiri, secara kebetulan berhasil menemukan sebuah kereta kuda yang sedang menganggur bersama dengan dua ekor kuda yang di parkirkan tidak jauh dari desa.


Pemilik asli kereta kuda itu? Sudah di ubah menjadi Zombie oleh Winter tentunya.


Karena kereta kuda itu hanya berisi kotak-kotak kayu kosong, mereka pun membuangnya dan sebagai gantinya memuat para gadis yang tentunya masih dalam keadaan terikat untuk naik ke atas kereta.


Dengan mereka yang sekarang memiliki dua buah kereta, Winter dan Chic pun bagi tugas untuk masing-masing mengendarai satu kereta dan berkendara secara beriringan.


Menghabiskan waktu dengan memeriksa ini dompet yang dia ‘Temukan’, Winter sekarang memiliki tambahan uang sebanyak 20.000 G. Tidak hanya itu, Winter juga menemukan dua buah item yang menarik.



Grade : Uncommon     Quality : Normal     Type : Accessory


MP + 50 Durability : 20


Sebuah kalung dari kristal yang mampu menyimpan Mana penggunanya untuk digunakan nantinya.


Requirement : Total Level 12


Tanpa perlu disebutkan lagi Winter pun segera mengenakannya.


Walau penampilannya hanya sekedar kalung rantai yang berhiaskan sebuah kristal biru, Winter yang hanya peduli dengan efeknya dengan senang hati mengenakannya.


“Oh, slot untuk aksesoris cuma ada lima yah?”


Menyadari kalau dia hanya bisa mengenakan total 5 aksesoris, di dalam hatinya Winter pun berniat untuk segera kembali ke kota untuk mencari aksesoris baru dengan efek yang bagus. Tentu saja Winter berniat untuk membeli aksesoris sampai slot aksesoris miliknya penuh.


“Sekarang...” mengalihkan perhatiannya pada sebuah cincin perak di tangannya, Winter pun kembali menggunakan ‘Appraisal’ untuk bisa melihat efek dari cincin tersebut.



Grade : Common     Quality : Normal     Type : Accessory


STR + 5 Durability : 10


Sebuah cincin perak yang mampu meningkatkan sedikit kekuatan fisik penggunanya.


Requirement : Total Level 5


Tanpa berpikir panjang Winter pun memutuskan untuk memberikan cincin ini kepada Chic nantinya.


Karena tidak ada lagi item yang bisa dia periksa, Winter pun kembali fokus untuk mengemudikan kereta kuda yang baru pertama kali ini dia kendarai.


...


Salah satunya adalah toko ‘The First Night’ tempat di mana Chic bekerja.


Tujuan utama Winter dan Chic adalah bangunan terbesar yang berdiri di daerah tersebut.


Terbuat seutuhnya dari bahan batu, bangunan itu menjulang tinggi hingga setara dengan bangunan lima lantai dengan luas setara dengan sebuah lapangan sepak bola. Tidak terlihat adanya papan nama atau petunjuk apa pun yang memberitahukan bangunan apa itu sebenarnya. Tapi para penduduk setempat tahu benar biasa digunakan untuk apa bangunan tersebut.


Memacu kereta mereka mengitari bangunan itu, Winter dan Chic pun melewati sebuah gerbang besar yang mana adalah pintu belakang dari bangunan tersebut.


Pemandangan yang ada di dalam jauh dari kata cerah.


Apa yang terlihat adalah puluhan kereta kuda yang sedang terparkir rapi dengan sekumpulan pria kekar bertelanjang dada sedang sibuk menurunkan atau menaikkan barang-barang dari atau ke atas kereta.


Sekilas ini terlihat seperti pemandangan bongkar muat yang biasa terlihat di bandara atau dermaga. Hanya saja ada beberapa ‘barang’ yang sekilas saja sudah memberitahukanmu kalau tempat ini bukanlah tempat bongkar


muat yang biasanya.


Melewati puluhan penjaga dengan tampang sangar, Winter akhirnya memarkirkan kereta kudanya ke salah satu tempat parkir yang telah disiapkan yang lalu di susul oleh Chic yang ikut parkir tepat di samping Winter.


Belum sempat kereta berhenti sepenuhnya, sesosok pria bertudung datang menghampiri mereka berdua dengan senyum lebar di wajahnya.


“Bagus sekali, sungguh bagus sekali...” ucapnya ketika mengintip isi dari ‘kargo’ yang Winter dan Chic bawa. Seolah sudah terbiasa dengan sikap pria itu, Winter yang baru turun dari kereta menghampiri pria bertudung itu lalu berkata “Total ada 26, perawan atau tidaknya silakan cek sendiri. Juga, kalau kau mau kami juga membawa sepuluh bocah yang 6 di antaranya adalah anak gadis”.


Setelah memeriksa kalau memang ada anak kecil di atas kereta, senyuman di wajah pria bertudung itu tidaklah memudar tapi malah semakin melebar “Tentu saja, lebih banyak variasi jauh lebih baik” memberikan kode isyarat dengan tangannya, sekumpulan pria kekar pun datang menghampiri dan mulai menurunkan ‘kargo’ yang ada di atas kereta dan membawanya ke suatu tempat.


Selang beberapa lama, seorang pria kurus berlari menghampiri mereka bertiga dan langsung membisikkan sesuatu ke telinga pria bertudung. Setelah itu dia langsung kembali berlari pergi entah kemana.


“Hehe... Sungguh sebuah pekerjaan yang sempurna yang kalian lakukan. Terkecuali tiga orang, semua gadis yang kalian bawa itu masihlah suci dan belum tersentuh oleh siapapun. Sebagai bonus tambahan dari anak-anak yang kalian bawa, total hadiah yang kalian dapatkan menjadi sebanyak ini”


Menerima sekantong besar uang, dengan cepat Winter pun memeriksanya dan menemukan kalau bayaran yang dia dan Chic dapatkan menjadi total 500.000 G yang jika di bagi dua menjadi 250.000 G.


“Senang telah bekerja dengan Anda” setelah mengatakan itu, pria bertudung itu pun pergi meninggalkan Winter dan Chic.


Chic yang masih tidak percaya dan tidak tahu harus digunakan untuk apa uang yang baru saja dia dapatkan, mendapati tangannya di tarik oleh Winter “Hei, mumpung uang kita banyak, kenapa tidak langsung kita belanjakan saja?”.


...


Setelah Log Out sebentar untuk beristirahat, Winter dan Chic kembali Log In dan menemukan kalau matahari sudah tinggi di angkasa.


Sesuai dengan yang sudah disepakati, mereka berdua pun berniat untuk membeli Equipment baru dengan menggunakan uang yang baru saja mereka dapatkan.


“Jadi, kenapa kita berada di sini?” ucap Chic yang heran kenapa mereka yang seharusnya pergi berbelanja malah berjalan di tengah daerah kumuh yang tidak terawat.


Melirik ke kiri dan ke kanan, dapat terlihat kalau para penduduk yang berada di sana tidak terlihat ramah dan bahkan tidak salah jika menyebut mereka terlihat seperti preman dan gelandangan.


Berbeda dari Chic yang penuh waspada, Winter di sisi lain tetap berjalan dengan santai seolah dia sedang berada di halaman belakangnya sendiri.


“Tenang saja, jangan terlihat tegang seperti itu atau mereka akan menanggapmu sebagai mangsa mudah”


“Maka dari itu, kenapa kita berada di sini?” pertanyaan dari Chic itu malah di jawab oleh sebuah senyuman nakal yang sayangnya tidak terlihat karena Winter sedang mengenakan masker. Namun tatapan matanya sudah lebih dari cukup bagi Chic untuk mengetahui maksud Winter yang sebenarnya.


Dengan patuh Chic pun berjalan mengikuti Winter sampai pada akhirnya mereka tiba di sebuah gang sempit yang buntu.


Setelah memastikan kalau memang ini tempatnya, Winter pun mengetuk dinding yang ada di hadapannya secara berirama.


Hening, tiba-tiba saja bagian kecil dinding itu terbuka dan menampakkan sebuah bola mata yang memandangi Winter dan Chic dari atas hingga ke bawah. Setelah puas, lubang kecil pada dinding itu kembali tertutup.


Sebagai gantinya dinding di samping kanan mereka terbuka dan menampakkan sebuah tangga yang menuju ke bawah.


Tanpa merasa ragu sedikitpun Winter melangkahkan kakinya menuruni tangga itu sambil diikuti oleh Chic yang diam-diam merasa bersemangat karena dirinya merasa seperti sedang berperan di dalam sebuah film mata-mata.


Sesampainya di dasar tangga mereka berdua di sambut oleh pemandangan sebuah pasar malam yang ramai.


Toko-toko berjejer di kiri dan kanan menjajakan produk mereka masing-masing. Walau tidak terdengar adanya teriakan para pedagang yang sedang menarik pembeli, tapi transaksi masih tetap ramai terjadi di setiap toko


yang buka.


“Pasar gelap yah” bisik Chic dengan pelan ke telinga Winter yang di balas dengan sebuah anggukan “Pria bertudung itu yang memberitahukan ini kepadaku”.


Berbaur dengan para pembeli lainnya, Winter dan Chic melangkahkan kaki mereka untuk mencari toko yang menjual Equipment.


...


Setelah mencari cukup lama, mereka berdua akhirnya tiba di depan sebuah toko Equipment yang tersembunyi jauh di dalam tempat yang paling tersembunyi bahkan di dalam pasar gelap sekalipun. Satu-satunya alasan kenapa mereka bisa menemukan tempat ini adalah karena peta yang diberikan oleh si pria bertudung kepada Winter.


Tidak ada papan nama atau penanda apapun yang menunjukkan kalau tempat di hadapan mereka sebenarnya adalah sebuah toko.


Hanya terdapat sebuah pintu berlumut yang menempel di dinding dengan sebuah gagang pintu yang telah berkarat yang terlihat di hadapan mereka. Winter sampai berkali-kali membaca catatan yang diberikan kepadanya hanya untuk memastikan.


“Apakah kau punya sapu tangan atau semacamnya?” tanya Winter yang jelas tidak mau menyentuh gagang pintu yang berkarat itu. Paham akan perasaan Winter, Chic pun meminjamkannya sapu tangan yang selalu dia bawa.


Meletakkan sapu tangan itu di atas gagang pintu, baru Winter mau memutar gagang pintu itu dan membukanya.


Apa yang menyambut mereka adalah kegelapan.


Bukan karena ruangan itu yang gelap karena minim cahaya, tapi karena terdapat semacam tabir kabut berwarna hitam yang seolah menutupi apa yang ada di baliknya.


“Hei, kita tidak sedang menuju ruang boss kan?”


“Jangan bercanda, memangnya ini game Jiwa apa?”


Meski dia mengatakan itu, Winter tidak akan menyangkal kalau tabir asap hitam yang ada di hadapannya memang mengingatkannya akan ruangan boss yang ada di dalam game yang mengharuskanmu mati berkali-kali kalau mau belajar bagaimana cara memainkannya dengan benar.


Memberanikan dirinya Winter langsung berjalan melewati tabir asap hitam itu.


Setelah merasakan sensasi seperti menggelitik, kali ini Winter di sambut oleh pemandangan sebuah toko yang terang menderang.


Di bawah cahaya lentera warna-warni adalah berbagai macam jenis Equipment yang terpajang dengan rapi di rak-rak yang berhiaskan ukiran-ukiran yang unik.


Chic yang menyusul kemudian tampak menggigil seolah dirinya baru saja dijilati oleh banyak orang.


Tanpa memedulikan kondisi Chic di belakangnya, Winter berjalan menyusuri rak-rak dagangan dengan ‘Keen Eyes’ miliknya yang bekerja secara maksimal di tambah dengan Skill baru yang dia dapatkan setelah Job Appraiser miliknya naik ke level 5.


[Surrounding Awareness]


Passive


Grade : Tier-3 Art


Stats : DEX


Element : Neutral


Spells Effect : Meningkatkan ketajaman pengguna dalam mengamati area sekitarnya.


Effective Range : 5 meter.


Berkat Skill ini Winter merasa seperti mampu mengetahui nilai semua Equipment yang ada di sekitarnya.


Bagi mata Winter semua hal yang ada di dalam toko ini memberikan warnanya tersendiri.


Ada yang memiliki warna biru, ada yang berwarna ungu, hingga ada yang berwarna perak dan juga keemasan.


Berkat Skill ‘Appraisal’ yang sudah naik, membuat Winter sekarang mampu mengetahui status dari Equipment hingga ke tingkat Rare. Berkat itu Winter bisa menduga kalau setiap tingkatan Equipment memiliki warnanya tersendiri.


Dengan Common di tunjukkan dengan warna abu-abu, Uncommon dengan warna biru, serta Rare dengan warna ungu.


Melihat masih ada warna perak dan keemasan yang tidak bisa dia lihat statusnya dengan menggunakan 'Appraisal’, membuat Winter menduga kalau semua Equipment itu memiliki tingkat yang lebih tinggi dari yang bisa dia lihat dengan menggunakan ‘Appraisal’.


Di saat Winter sibuk melihat-lihat, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang menyapanya dari belakang.


“Wahai pelanggan terhormat, apakah ada yang bisa saya bantu?”