A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 2 : Tutorial



Mendekati gubuk yang dia temui di tengah hutan, Winter tidak bisa mendengar sedikitpun suara dari dalam gubuk. Tapi cerobong asap yang masih mengepul menandakan kalau gubuk ini ada penghuninya.


Mengintip melalui jendela, dapat terlihat pemandangan gubuk yang lusuh dan dipenuhi oleh sarang laba-laba yang bersarang sesuka hati. Meski begitu, masih terlihat ada lilin yang menyala meski hari masih siang.


Walau hanya sekilas, Winter sangat yakin sekali kalau dia melihat ada bayangan orang yang bergerak di dalam gubuk.


Yakin benar kalau di dalam ada seseorang, Winter pun mengetuk pintu sekuat tenaga “Tok... Tok... Tok... Permisi!” sejenak tidak ada jawaban “Tok... Tok.... Tok... Permisi!!!” barulah setelah dua kali mengetuk terdengar suara ribut dari dalam.


Tidak lama kemudian, pintu gubuk pun terbuka.


Yang membukakan pintu adalah seorang nenek tua renta dengan kulit keriput serta hidung yang besar. Walau begitu, matanya yang masih awas memandangi Winter dari atas hingga ke bawah seolah hendak mencari tahu


siapa gerangan yang sedari tadi mengetuk pintu rumahnya.


“Permisi, selamat siang”


Meski Winter sudah berusaha sebaik mungkin untuk bersikap ramah, tapi entah mengapa si nenek tua tetap memberikannya sebuah tatapan geram.


Dengan suara yang serak, nenek tua itu mulai berteriak kepadanya.


“Gadis muda! Ada apa gerangan hingga dirimu mengganggu istirahat orang tua ini?!”


Walau telinganya agak mendengung, Winter masih berusaha untuk bersikap ramah di hadapan orang yang sudah tua.


“Maaf kalau mengganggu, aku baru tiba di sini dan tidak tahu jalan. Kalau boleh tahu, jalan kemana menuju kota terdekat?”


“Heh, Outsider toh... Masuk, tidak enak bicara di depan pintu”


Mempersilahkan Winter masuk, nenek tua itu pun menunjukkan isi rumahnya.


Sama seperti yang Winter intip dari jendela, interior gubuk ini memanglah gelap gulita. Dengan debu tebal yang mengendap serta sarang laba-laba di setiap permukaan furniturenya membuat gubuk ini terkesan tidak pernah dihuni selama puluhan tahun.


Winter sampai menutup mulutnya agar tidak ada debu yang masuk ke dalam paru-parunya seraya dia mengikuti arahan dari si nenek.


Tidak lama si nenek pun menunjuk ke arah sebuah bangku sebagai isyarat bagi Winter untuk duduk.


Tentu saja bangku tersebut juga tertutup oleh debu dan sarang laba-laba yang membuat Winter menolak untuk


duduk di atasnya.


Barulah setelah mendapat paksaan dari si nenek Winter pun dengan enggan merebahkan pantatnya di atas bangku yang berdebu itu.


Melihat Winter yang sudah duduk, nenek tua itu pun juga ikut duduk tepat di seberang Winter.


Yang memisahkan mereka adalah sebuah meja tua yang dipenuhi oleh buku-buku tua yang sampulnya sudah ditumbuhi oleh lumut dan mungkin saja sudah tidak layak untuk di baca lagi.


“Jadi, gadis muda, siapa dan apa tujuanmu sampai berada di hutan belantara begini?”


Mendapatkan pertanyaan, Winter berpikir sejenak tentang bagaimana dia akan menjawabnya.


Dia bisa saja menjawab apa saja seperti “Aku baru Log In jadi...” atau “Apakah ini tutorial? Apakah kau NPC” tapi itu semua tidak akan menyenangkan. Itu juga akan merusak imersi yang ada. Mumpung dia berada di dalam dunia virtual, tampaknya asyik jika dia bertingkah selayaknya penduduk dunia ini.


Membulatkan pemikirannya, Winter pun akhirnya menjawab pertanyaan dari si nenek.


“Perkenalkan, nama saya adalah Winter, seorang Necromancer pemula...” belum sempat selesai bicara, Winter malah mendapatkan omelan dari si nenek.


“Dasar anak bodoh! Necromancer macam apa yang memperkenalkan dirinya seperti itu?! Tidakkah kau tahu kalau Necromancer itu adalah Job yang terlarang di sini?!”


Tidak menyangka kalau dirinya akan kena omel di dalam game, Winter pun hanya bisa terdiam sambil mendengarkan omelan yang ditujukan kepadanya.


“Di taruh di mana otakmu itu sebenarnya heh, kalau sampai warga desa tahu kalau kau itu suka main sama mayat, bisa-bisa kau bakal kena lempar batu sama warga sekampung!”


Di tengah omelan si nenek, Winter menyadari kalau itu semua sebenarnya adalah informasi dan juga peringatan.


Informasi kalau Job miliknya sebenarnya adalah Job yang tabu dan terlarang serta peringatan untuk tidak mengumbar Job miliknya secara sembarangan.


Walau ini semua memang berguna, alangkah lebih baiknya jika pihak game memberitahukan ini kepadanya secara normal dan bukan lewat omelan seorang nenek-nenek tua.


Tampak tidak puas setelah mengomeli Winter, nenek tua tadi pun kembali mengoceh.


“Heh, dari semua Job yang ada kau malah memilih Job terkutuk itu. Bah, sudahlah. Gadis muda, jika kau ingin pergi ke kota, maka kau tidak aku sarankan untuk mengarah ke kota Virtue yang ada di barat. Kota itu dikuasai


oleh fraksi cahaya, jika sampai mereka tahu kalau kau itu Necromancer, bisa-bisa kau dieksekusi!”


Mendengar sebuah sebutan baru, Winter pun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya “...Fraksi cahaya?”.


“Apa, itu saja kau tidak tahu?!”


Walau terlihat kesal, nenek tua itu tetap menjelaskan kepada Winter tentang pembagian fraksi di dunia ini.


Fraksi Cahaya, fraksi yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Tujuan utama mereka adalah membawa kedamaian dan ketertiban kedunia ini.


Fraksi Bayangan, fraksi yang suka menyebar keburukan dan kekacauan. Tujuan utama mereka adalah menyebar terror dan membawa petaka bagi semua kalangan.


“...Terakhir adalah fraksi Netral. Seperti namanya, mereka terdiri dari mereka yang tidak termasuk diantara dua fraksi pertama. Mereka tidak punya tujuan apa-apa selain berharap tidak terbawa ke dalam masalah yang disebabkan oleh dua fraksi itu”


Mendengarkan penjelasan dari si nenek, Winter merasa sedikit senang karena setting dunia ini yang sangat familiar baginya.


Bagaimana tidak, cahaya vs bayangan. Sungguh sebuah setting paling klasik diantara yang paling klasik.


“Hanya untuk mengingatkan, seorang Necromancer sepertimu itu secara otomatis akan termasuk ke dalam fraksi Bayangan. Karena itulah kau tidak akan pernah bisa menginjakkan kakimu ke dalam wilayah fraksi Cahaya”


Yang mana itu artinya tempat yang bisa Winter kunjungi menjadi terbatas.


“Kalau begitu, bisakah nenek memberitahuku ke arah mana kota yang dikuasai oleh fraksi bayangan?”


“Kau tidak akan protes tentang tidak... Terserahlah, jika engkau ingin menuju kota dari fraksi bayangan, maka engkau bisa mengunjungi Kota Shoddy yang berada di bagian timur.


Jika ingin pergi ke sana, kau tinggal lurus dari sini sampai kau mencapai danau besar di depan dan kau akan menemukan persimpangan. Cukup belok kanan dan lurus saja sampai kau tiba di tujuan”


“Terima kasih atas arahannya. Kalau boleh tahu, apakah harus ada sesuatu yang harus aku ketahui sebelum mencapai kota Shoddy?”


“Tidak seperti di Kota Virtue, tingkat keamanan di kota Shoddy sangatlah rendah atau bahkan tidak ada. Jadi kau harus jaga-jaga terutama terhadap copet dan pencuri... Benar juga, kalau boleh tahu berapa banyak Job yang engkau miliki?”


“Job? Hanya satu...”


Sekali lagi, nenek itu berteriak keras hingga Winter harus menutup telinganya.


“Satu! Hanya satu! Sungguh bagaimana kau bisa bertahan selama ini hanya dengan satu Job! Orang normal biasanya punya dua hingga tiga Job...” dengan itu si nenek mulai mengeluarkan sebuah buku tua berdebu yang dia


ambil entah darimana. “...Ini, silahkan pilih salah satu Job yang ada di dalam daftar”


Mengambil buku tersebut, Winter dengan penuh hati-hati mulai membalik halaman buku tersebut takut untuk merusaknya jika terlalu kuat.


Berusaha untuk membaca huruf-huruf yang mulai pudar, Winter tetap kesusahan dan tidak mampumenyusun huruf-huruf tersebut untuk menjadi kata-kata yang dia mengerti.


Menyerah, Winter pun menutuskan untuk hanya bertanya saja.


“Permisi, kalau boleh tahu apakah ada Job yang bisa mengetahui kualitas atau kegunaan suatu item?”


“Hmn? Maksudmu Appraiser? Apakah kau yakin, Job itu hanya sedikit meningkatkan MP, DEX, dan INT. Apakah kau benar-benar yakin?”


“Tidak apa-apa, bagiku mengetahui sebuah informasi itu juga cukup berguna”


“Meh, bijak juga perkataanmu itu. Sudahlah, dengan ini setidaknya kau tidak akan ditipu dengan item palsu di kota nanti. Tapi ingatlah, Level tertinggi dari setiap Job adalah 10 dan level tertinggi yang bisa seseorang raih saat ini adalah 100. Ingat itu baik-baik”


Si nenek tua lalu menyerahkan buku tua lainnya. Tepat di sampul yang mulai memudar tertulis kata Appraiser “Bacalah buku ini sampai habis, dan kau akan mendapatkan Job Appraiser. Juga...” nenek tua itu lalu kembali mengambil buku lainnya. Kali ini buku tersebut memiliki sampul hitam dengan lambang tengkorak serta berjudul Nercromancy “Yang satu ini adalah hadiah untukmu, semoga bisa membantu”.


Menerima kedua buku tersebut, Winter hendak mengucapkan “Terima Kasih” namun berhenti ketika dia menyadari kalausosok nenek tua yang sedari tadi duduk di hadapannya kini sudah menghilang.


Tidak peduli ke mana dia menoleh, sosok nenek itu tidak dia temukan.


“Apakah aku baru saja berbicara kepada arwah?”


Merasa seram sendiri, Winter pun bergegas bangkit dan pergi meninggalkan gubuk tua berdebu itu.


...


Kembali berjalan menyusuri hutan yang rindang, Winter melangkahkan kakinya menuju arah yang telah ditujukan oleh si nenek tua.


Sembari berjalan, Winter sudah selesai membaca buku yang memberikannya Job Appraiser. Dengan ini dia hanya punya 8 Job lagi sebelum Winter mencapai batas Job yang mampu dia ambil.


“Apakah karena Appraiser bukanlah Job tipe bertarung?”


Skill yang ditawarkan oleh Job Appraiser pun hanya ada satu dan itupun adalah sebuah Skill Passive yang artinya selalu aktif.


[Keen Eyes]


Passive


Grade : Tier-1 Art


Effect : Membantu mengetahui nilai dan keaslian sebuah item.


Mencoba mencari tahu perbedaannya, Winter memetik salah satu rumput di dekatnya dan membawanya kehadapan matanya.


(Regular Grass)


“Heh, simpel”


Membuang rumput di tangannya, Winter menaruh perhatiannya pada mangsa yang sudah di depan mata. Apa yang ada di hadapannya sekarang adalah kelinci lainnya. Tanpa banyak pikir Winter langsung menembaknya dengan “Negative Energy” dan berhasil menorehkan total 30 kerusakan.


Walau senang kalau kerusakan yang dia hasilkan bertambah, tidak akan ada bedanya kalau kelinci itu terlalu lemah untuk bertahan dari satu serangan.


Berbeda dari sebelumnya, Winter tidak membangkitkan mayat kelinci yang baru saja dia kalahkan dan memutuskan untuk mengambil drop itemnya saja. Yang kali ini berupa kulit dan bukan daging.


Melanjutkan perjalanan, Winter terus saja menemui kelinci-kelinci lainnya. Tentu saja dia mengalahkan mereka hanya dengan satu serangan. Berkat itu Winter jadi mengetahui kalau MP miliknya pulih sebanyak 1 MP setiap menitnya.


Di tengah jalan, Winter menemui makhluk lainnya yang bukan kelinci.


“Slime? Itu Slime kan?”


Tidak peduli darimana dia melihatnya, makhluk berlendir di hadapannya tidak bisa disebut sebagai makhluk lain selain Slime. Makhluk paling klasik di dunia fantasi.


Yang menjadi masalah adalah Slime di hadapannya tidak terlihat imut sama sekali. Melainkan terlihat seperti keluar langsung dari mimpi buruk.


Dengan tubuh bagaikan lumpur hidup yang tidak memiliki bentuk pasti, Slime itu bergerak merayap di atas tanah sambil memakan segala yang dia sentuh. Apa yang tersisa dari yang awalnya rumput hijau adalah tanah hitam yang berlendir.


“Negative Energy”


Tanpa banyak bicara Winter langsung menyerang Slime tersebut dan berhasil mengalahkannya dengan satu serangan sama seperti kelinci.


Apa yang tersisa darinya hanyalah semacam jelly semi-transparan yang tergeletak begitu saja di atas tanah yang masih ditutupi oleh lendir yang kotor.


“Jadi aku tidak bisa membangkitkan mayatnya yah... Drop itemnya, (Slime Fluid)? Jadi itu benar-benar Slime yah”


Kembali melanjutkan perjalanannya, Winter akhirnya tiba di depan danau yang di maksud.


Tepat di hadapannya sekarang adalah sebuah danau biru yang luas nan indah. Airnya begitu jernih dan tenang hingga tidak ada riak air yang terlihat.


“Jika saja aku bisa berenang, aku sudah pasti akan langsung melompat ke dalam air”


Karena fisiknya yang lemah membuat Winter jadi tidak punya banyak kesempatan untuk belajar berenang. Bahkan ketika keluarganya liburan ke kolam renang, Winter hanya menghabiskan waktunya berjemur di pinggiran kolam sembari menonton orang-orang yang bercanda ria di dalam air.


Melihat-lihat sekitar, Winter menemukan sebuah persimpangan lengkap dengan papan penunjuk yang kalau ke kiri akan membawanya ke kota Virtue sementara jika ke arah kanan akan membawanya menuju kota Shoddy.


Mengikuti nasehat dari si nenek, Winter pun melangkahkan kakinya menuju kota Shoddy.


...


Setelah lama berjalan, Winter akhirnya melihat kota tujuannya.


Dari kejauhan sudah terlihat sebuah dinding tinggi yang terbuat dari batu yang kokoh. Mengikuti jalan raya yang lenggang, Winter tiba di hadapan sebuah pintu gerbang yang terbuka lebar.


Terlihat ada dua orang berpakaian seperti prajurit yang menjaga gerbang tersebut. Namun mereka berdua tampak tidak berniat untuk berjaga karena mereka hanya berdiri di sana dengan tampang mengantuk di wajah mereka.


Tidak memperdulikan mereka berdua, Winter melenggang begitu saja memasuki kota yang sibuk.


Apa yang menyambutnya adalah pemandangan kota yang kumuh.


Jalanannya berlumpur dan becek seolah baru saja diguyur oleh air hujan. Bangunan di sini tidak tertata rapi dan seolah dibangun begitu saja tanpa ada perencanaan sama sekali.


Para penduduk yang tinggal di sini pun juga tidak lebih baik.


Kebanyakan dari mereka berpakaian seperti seorang gembel tanpa ada seorangpun dari mereka yang mengenakan pakaian yang rapi.


Ekspresi di wajah mereka bagaikan pemangsa yang memperhatikan setiap gerak-geriknya.


Di saat seperti inilah Winter berharap kalau dia memiliki pakaian dengan tudung sehingga dia setidaknya bisa menutupi wajahnya agar tidak mencolok. Apa daya, Winter hanya bisa mempercepat lajunya agar terhindar dari segala pandangan yang ditujukan kepadanya.


Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya Winter tiba di depan sebuah bangunan dengan lambang pedang dan perisai tergantung di atas pintu masuknya. Jika intuisinya benar, maka bangunan ini adalah Guild Petualang


tempat dia bisa menerima Misi atau Quest.


Tanpa menaruh ragu sedikitpun, Winter pun mengarahkan kakinya masuk ke dalam bangunan tersebut.


Apa yang menyambutnya di dalam adalah pemandangan orang-orang seperti preman yang membanjirinya dengan tatapan sinis.


Tidak menyukai tatapan mereka, Winter berusaha untuk tidak mengindahkannya dan langsung berjalan menuju konter resepsionis.


“Selamat datang huaaamm... Di Guild Petualang. Hah, apakah ada yang bisa kami bantu?”


Mendapatkan sambutan tidak bersemangat dari si resepsionis laki-laki, Winter berusaha untuk tidak mengindahkannya dan langsung mengatakan maksud tujuannya kemari.


“Aku ingin mendaftar sebagai Petualang”


“Begitu... Isi formulir ini”


Menyerahkan kertas dan pena bulu, Winter pun di suruh untuk mengisi formulir pendaftaran.


Mengambil pena dan kertas tersebut, Winter mulai mengisi formulir pendaftaran yang diserahkan kepadanya. Pada saat Winter di suruh untuk mengisi Job utamanya, Winter teringat kalau sebaiknya dia menyembunyikan Job miliknya.


Karena itu dia pun hanya mengisinya dengan Job Mage yang secara umum Necromancer juga termasuk ke dalam golongan Mage.


Setelah selesai mengisi formulirnya, Winter pun menyerahkannya kembali kepada si resepsionis tersebut.


Mengambil formulir itu dengan malasnya, resepsionis itu membacanya sekilas sebelum mulai mengerjakan sesuatu di balik meja resepsionis.


Tidak lama kemudian resepsionis itupun menyerahkan sebuah pelat perunggu kepada Winter.


“Ini adalah bukti kalau kau adalah salah satu dari kami. Rank seorang Petualang ada... Copper, Iron, Silver, Gold, Platinum, Mithril, Orichalcum, dan Adamantite.


Jika kau ingin mengambil Quest, silahkan menuju papan bulletin yang ada di sana”


Berharap mendapatkan penjelasan yang lebih terperinci lagi, Winter harus kecewa karena hanya itu penjelasan yang dia dapatkan.


Melihat papan bulletin yang dimaksud, Winter pun menghampirinya.


Menduga kalau dia hanya bisa mengambil Quest yang sesuai dengan rank miliknya, Winter pun berjalan menuju papan bulletin yang menampilkan Quest untuk rank Copper.


Seperti yang dia duga, Quest tingkat rendah hadiahnya pun juga rendah.


Walau Winter masih tidak tahu harga pasaran, tapi hadiah 5.000 G yang adalah hadiah tertinggi di papan Bulletin pastilah masih termasuk sebagai sedikit.


Hanya untuk memastikan, Winter menengok ke papan sebelah dan menemukan kalau hadiah tertinggi di sana senilai 12.000 G yang mana itu membenarkan dugaannya.


Karena Winter ingin cepat membeli tudung untuk menutupi wajahnya, mau tidak mau Winter pun memilih Quest dengan bayaran tertinggi yang bisa dia ambil.


Merobek kertas Quest dari papan bulletin, Winter pun membawanya menuju resepsionis yang sebelumnya.


“Oh, yang ini... Jalan masuk menuju selokan ada di dekat air mancur. Batas waktunya adalah tiga hari, kalau gagal denda 3.000 G”


Dengan Quest yang sudah diterima, Winter pun segera bergegas keluar dari Guild Petualang karena sedari tadi dia merasakan tatapan para Petualang lainnya yang sangat menusuk.


Kembali ke jalan raya, Winter pun melangkahkan kakinya mencari pintu masuk menuju selokan tempat Questnya berlangsung.


Di tengah perjalanan, Winter tidak sengaja melewati sebuah toko dengan lambang botol ramuan tergantung di depan pintu masuknya. Menyadari kalau dia tidak punya persediaan Potion, Winter pun berharap agar dia bisa membeli beberapa.


“Hah, coba saja ini game memberikan modal awal seperti game-game pada umumnya”


Mengeluarkan ******* pasrah, Winter pun hanya bisa menelan ludah dan melanjutkan perjalanannya.