
Empat hari sudah berlalu semenjak Fantasia dan kawan-kawan bermain game NFO bersama. Setiap kali mereka Log In mereka akan mengerjakan satu Quest bersama sebelum akhirnya pergi Log Out karena latar belakang mereka sebagai pelajar membuat jam bermain mereka menjadi terbatas.
Oleh sebab itu Level mereka masih tetap sama meski sudah bermain selama empat hari.
Tentu saja ini membuat Fantasia yang ingin segera bertambah kuat menjadi frustrasi hingga membuatnya Log In lebih awal dari yang biasanya dan pergi ke Guild Petualang untuk mencari informasi yang mengantarkannya untuk berbagi meja bersama dua orang Pemain lainnya yang juga baru saja bermain sama seperti dirinya.
Pemain pertama adalah seorang Archer dengan rambut biru dan yang satu lagi adalah seorang Defender dengan rambut cokelat.
Dengan Guild Petualang yang juga berfungsi sebagai kedai, membuat mereka duduk bersama di satu meja sambil memesan bir sementara Fantasia sendiri hanya meminum jus buah.
Perlu di ingat kalau mereka bertiga itu seumuran serta tidak ada yang namanya batasan umur untuk bisa menikmati minuman beralkohol di game ini.
Duduk bersama, mereka bertiga bersama-sama membahas tentang masalah yang saat ini sedang mereka alami.
“Jadi untuk bisa naik level, kau setidaknya harus Log In selama tiga hari penuh dan mengerjakan Quest secara gila-gilaan?”
“Tiga harinya memang benar, tapi katanya kau tidak perlu mengerjakan Quest dan berburu seperti biasa saja sudah cukup... Hanya saja berburunya yang harus tanpa henti dan lawan yang di lawan pun harus yang levelnya setara atau sedikit lebih tinggi darimu”
“Aku juga dengar kalau ada Mobs yang menghasilkan nilai Exp yang jauh lebih tinggi dari yang lain tapi aku tidak tahu apa itu”
“Lalu, ini hanya rumor dari jaman Beta. Tapi katanya lebih baik berburu sendiri ketimbang sama Party karena Exp yang di dapat di bagi sama rata”
Setelah mendengar ini Fantasia pun tidak bisa berkata apa-apa.
Bukan hanya jam mainnya sama seperti Pemain kasual, tapi dia yang membentuk Party enam orang yang adalah jumlah maksimal hanya bisa pasrah ketika mengetahui kalau tindakannya itu malah membuat laju levelingnya
terhambat.
Melihat isi gelasnya habis, Fantasia pun meminta tambah.
Sembari menunggu minumannya datang, Fantasia pun mulai memikirkan cara untuk bisa menaikkan Level dengan cepat.
Yang pertama adalah meminta anggota Partynya untuk leveling secara habis-habisan. Tapi itu akan membuatnya merasa tidak enak karena tujuan mereka bermain adalah untuk bersenang-senang sehingga Fantasia takut kalau tiba-tiba saja dia meminta yang berlebih itu malah akan membuat mereka marah.
Yang kedua adalah bermain solo untuk sementara waktu yang mana itu langsung ditolak karena Fantasia merasa itu akan mengkhianati teman-temannya terutama Hara yang membelikan mesin VR untuk mereka semua agar mereka bisa bermain bersama.
Yang terakhir adalah membentuk dua Party dengan masing-masing beranggotakan tiga orang. Dengan itu mereka bisa pergi Leveling secara berpisah sehingga pembagian Exp bisa menjadi lebih efektif. Sekali lagi itu ditolak dengan alasan yang sama seperti rencana pertama dan kedua.
Bingung akan apa yang harus dia lakukan, Fantasia memilih untuk kembali meminum minumannya yang baru datang untuk menyegarkan pikirannya kembali tanpa menyadari kalau Pelayan yang baru saja mengantarkan
minumannya berbeda dari Pelayan yang sebelumnya mengantarkan pesanan petamanya.
Menenggak minuman yang menyegarkan ternggorokan meski rasanya sedikit aneh, Fantasia kembali berbincang dengan kawan barunya mengenai fitur-fitur game lainnya yang juga baru saja dia ketahui.
Seperti... “Kota ini juga punya distrik lampu merah?” tanya si Archer setengah berteriak ketika si Defender memberitahukan itu kepada mereka.
Fantasia yang bersikap seolah tidak tertarik tapi secara bersamaan tetap ikut menyimak karena pada akhirnya dia adalah seorang pemuda yang sehat.
Mencondongkan tubuh mereka ke atas meja, Fantasia dan si Archer berusaha untuk mendengarkan perkataan si Defender yang mulai berbicara sambil berbisik.
“Aku mendapatkan informasi ini dari kawanku yang selalu Log In malam. Katanya jauh di bagian barat kota, ada sebuah pertokoan yang hanya buka setelah matahari terbenam” kembali mencondongkan tubuhnya lebih jauh
lagi, kepala mereka hampir bersentuhan ketika si Defender memberitahukan ini “Bawa uang minimal 5.000 G dan kau akan mendapatkan gadis terbaik yang bisa kau bayangkan” dia juga mengingatkan “Hanya gunakan yang ada di toko, jika ada yang memanggil dari dalam gang, jangan diterima karena mereka itu maling”.
Selesai, mereka pun kembali ke posisi semula dengan si Defender memberikan seringai nakal, si Archer yang tampak sangat tertarik, dan Fantasia dengan muka semerah tomat.
Kembali menenggak minumannya, Fantasia pun berkata “Aku tidak menyangka kalau kota ini juga punya yang seperti itu” yang langsung disambung oleh si Archer “Setuju, aku pikir hanya kota Shoddy saja yang punya fitur seperti itu”.
Mendengar ini, si Defender pun tertawa “Haha, benar kan! Aku juga awalnya terkejut sampai aku lihat dengan mata kepalaku sendiri!”.
Si Archer pun menjadi lebih tertarik “Coba ceritakan lebih detil lagi!”.
Setengah mendengarkan, Fantasia yang entah mengapa merasa kepalanya sedikit pusing, mencoba untuk menengok ke arah pintu masuk yang terbuka lebar untuk melihat pemandangan dunia luar berharap itu bisa
sedikit menyegarkannya.
Menonton pemandangan orang-orang yang berlalu lalang, Fantasia secara tidak sengaja mengeluarkan suara “Woaah...” ketika melihat sosok yang baru saja masuk ke dalam Guild Petualang.
Terkejut dengan Fantasia yang tiba-tiba saja bersuara, si Archer dan si Defender mengikuti arah pandangan Fantasia dan sontak mengeluarkan suara yang serupa.
“Widih... Elok juga tu cewek”
“Fuu... Baru kali ini aku melihat gadis secantik itu”
Atas keributan yang tidak sengaja dibuat oleh mereka bertiga, para Petualang yang lain yang sedang bersantai jadi ikut melihat ke arah pintu masuk untuk mengetahui apa yang sebenarnya yang terjadi... Hanya untuk ikut terpincut pada sosok yang baru saja datang.
Mengenakan Equipment pemula yang mirip seperti yang awalnya digunakan oleh Ruru minus perban di tangan, gadis itu berjalan berlenggok-lenggok melewati para Petualang lainnya. Memiliki tubuh seksi selayaknya seorang model, kulitnya putih bersih seperti mutiara. *********** cukup besar untuk membuat banyak mata tertarik pada dua gunung itu. Wajahnya manis seperti seorang Putri Kerajaan. Walau rambutnya pendek seperti gaya rambut lelaki, tapi dengan wajah cantiknya malah membuatnya memiliki kesan seperti seorang wanita tangguh di film-film.
Sampai dia tiba di depan meja resepsionis, Fantasia tetap tidak bisa melepaskan matanya dari gadis tersebut. Menenggak gelasnya sampai habis, dengan wajah yang merah seperti tomat Fantasia pun bangkit dari kursinya dan tanpa ragu berjalan lurus menuju gadis tersebut.
“Woah, berani juga tuh anak”
“Taruhan 100 G kalau dia bakal di tolak”
“Oke, siapa takut!”
Seolah tidak mendengarkan tingkah kedua kawan barunya itu, Fantasia yang berjalan dengan tegap akhirnya tiba di depan meja resepsionis.
Menyandarkan sikutnya pada meja resepsionis, sekali lagi Fantasia mengamati wajah gadis itu dari dekat dan yakin kalau gadis itu setara atau bahkan melampaui kecantikan dari Angel dan Rosalia yang dia akui sebagai gadis tercantik yang pernah dia temui.
Gadis itu, yang menyadari kalau Fantasia sedang mencoba untuk mendekatinya membiarkannya begitu saja karena dia sedang sibuk mengisi formulir pendaftaran yang baru saja diserahkan kepadanya.
Tidak berbicara apa-apa, Fantasia tetap diam di sana sambil mengintip apa yang gadis itu tulis di atas formulir.
Namanya adalah Chic. Dan Job yang dia miliki adalah Scout.
Fantasia pun tersenyum “Chic? Sebuah nama yang ‘Cantik’ sama seperti orang yang sedang menggunakannya” memberikan senyuman yang bisa membuat semua gadis mabuk kepayang, Resepsionis yang sedang berjaga
sampai menahan nafasnya sementara Chic tampak tidak terpengaruh sama sekali.
Walau begitu, karena dia sudah di sapa, mustahil baginya untuk tidak membalasnya “Terima kasih” jawabnya singkat sebelum menyerahkan kembali formulir pendaftaran yang sudah dia isi kepada resepsionis yang kini sudah tersadar dan langsung memproses pendaftaran Chic.
Menilai Chic tidak mau banyak bicara, Fantasia yang pantang menyerah memilih untuk mengambil inisiatif "Ngomong-ngomong namaku Fantasia. Itu berdasarkan kecintaanku pada gaya musik yang bebas dan tidak
dikekang oleh peraturan” untuk pertama kalinya Chic menatap langsung ke arahnya. Sempat senang, tapi apa yang Chic katakan selanjutnya jauh dari perkiraan “Oh, aku pikir maksudmu itu adalah Fantasi seperti halnya kau yang
sedang berfantasi seolah rayuan recehmu bisa berhasil padaku”.
“Oooff...” seru semua orang yang sedang menonton aksi Fantasia termasuk kedua kawannya yang kini menontonnya dengan senyuman lebar di wajah mereka.
Tampak tidak memedulikan mereka, Fantasia yang tidak kenal menyerah masih terus berusaha “Haha, namaku memang sering disalahpahami. Ha... Yang paling penting, apakah kau tahu betapa sulitnya naik level di game
ini?”. Baru hendak menjawab, seorang resepsionis wanita lainnya yang tampak lebih dewasa datang dan membisikkan “Dia playboy” di telinga Chic tanpa mampu didengar oleh Fantasia yang masih memberikan senyuman manis di wajahnya.
Setelah mendengar peringatan dari si resepsionis, Chic pun mengangguk kecil. Melihat sekilas saja Chic sudah langsung tahu kalau Fantasia sekarang sedang berada di dalam pengaruh alkohol. Walau dia sebenarnya merasa malas meladeninya, tapi ini juga adalah sebuah kesempatan emas untuk melatih aktingnya.
Sambil memberikan senyuman teramah yang bisa dia berikan, Chic pun berkata “Ya, aku tahu. Naik satu level butuh setidaknya tiga sampai empat hari kan?”.
“Benar sekali, dan perlu kau tahu juga kalau Mobs di sini itu susah di lawan. Kalau sendiri kau bisa dalam bahaya”
“Oh, benarkah?” ucap Chic dengan wajah seolah terkejut.
“Aku tidak berbohong... Kebetulan aku sedang senggang. Jadi,kalau kau mau aku bisa saja membantumu. Begini-begini aku sudah bermain sejak update terbaru. Jadi aku punya cukup banyak pengalaman” ucapnya sambil memamerkan pedangnya yang tidak ada spesial-spesialnya.
Menunjukkan wajah seolah tertarik, Chic pun berkata “Wow, aku baru tahu! Ngomong-ngomong berapa levelmu?”.
Dengan wajah yang semakin memerah, Fantasia pun menjawab dengan terbata-bata “Ah, itu... hehe, kalau soal Level...” menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya, Fantasia yang sebenarnya malu untuk memberitahukan levelnya harus merasa beruntung atau merasa sial karena dia tidak perlu memberitahukannya.
Sebab...
Tiada angin tiada hujan, sebuah tendangan melayang dan tepat mengenai pinggangnya. Dengan angka 25 yang melayang di atas kepalanya, Fantasia yang tidak sempat menghindar harus rela terkena tendangan yang membuat
Terkejut, Fantasia yang sambil mengelus tempat di mana dia baru saja diserang mendongak ke atas... Hanya untuk menemukan sosok Ruru yang sambil berkacak pinggang memberikan tatapan dingin yang belum pernah dia
tunjukkan sebelumnya.
Atas kedatangan Ruru, tentu saja membuat situasi menjadi semakin menarik.
“Mampus pacarnya datang”
“Kena sembur itu orang pastinya”
“Putusin aja mbak! Putusin!”
Tidak memedulikan sorak-sorai di belakangnya, Ruru menatap lurus ke arah Fantasia yang sedang duduk di atas lantai dengan ekspresi kosong di wajahnya. Dia tetap seperti itu hingga Fantasia yang awalnya mabuk kini sadar sepenuhnya.
“Umm...” belum sampai satu kata dia ucapkan, BANG! Suara keras terdengar ketika Ruru mengantam meja resepsionis dengan kekuatan penuh. Walau meja itu tidaklah rusak atau bahkan retak, tapi bunyinya yang nyaring
sudah cukup untuk memberitahukan apa yang sedang Ruru rasakan sekarang.
Tidak lama kemudian Mars yang baru saja datang menyusul bingung akan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tapi, dari Fantasia yang sedang terduduk di lantai sementara Ruru yang sedang marah besar sedang berdiri di hadapannya sudah cukup untuk membuatnya menebak kalau Fantasia pasti telah melakukan sesuatu yang
membuat Ruru sekesal ini.
“Hah...” mendesah lelah, Mars pun menepukkan tangannya Pok! Pok! Yang sontak menarik perhatian semua orang. “Baik, baik, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi aku yakin Fantasia merasa menyesal jadi...” belum selesai berbicara, Mars terhenti ketika melihat Ruru yang menengok ke arahnya dengan wajah seperti orang yang sedang kerasukan.
Menunjuk ke arah Chic yang sedari tadi menonton dalam diam, Ruru berkata singkat “Selingkuh” yang langsung membuat Mars mengerti segalanya.
Tanpa banyak basa-basi Mars langsung menjewer telinga Fantasia hingga angka 1 melayang setiap detiknya “Tunggu, HP ku berkurang! HP ku berkurang!!!” tanpa memedulikan jeritan Fantasia, Mars membawanya pergi
keluar Guild Petualang.
Setelah memberikan tatapan mengancam kepada Chic, Ruru akhirnya pergi mengikuti dari belakang.
Dengan kepergian mereka, Guild Petualang pun menjadi sunyi tanpa ada yang mengeluarkan suara.
“Ini pelat pengenalnya” entah tidak bisa membaca suasana atau memang ingin memecah suasana, resepsionis yang dari tadi mengurus pendaftaran Chic memberikan pelat tembaga yang langsung diterima Chic yang merasa canggung.
Chic yang sudah menyelesaikan urusannya segera beranjak pergi tanpa mengucapkan apa-apa.
Ketika suasana Guild Petualang akhirnya kembali seperti semua, terlihat seorang Archer yang dengan terpaksa menyerahkan beberapa keping uang kepada seorang Defender yang tersenyum lebar di sampingnya.
...
Duduk bersujud di pinggir sungai yang jernih adalah Fantasia yang baru saja disembur dengan air dingin oleh Ruru dan yang lainnya sehingga seluruh tubuhnya basah oleh air. di bawah tatapan semua orang, Fantasia hanya bisa berkata “Maaf” yang terdengar lemah.
Yang pertama kali berbicara adalah Angel “Apakah kau serius? Kau punya lima gadis disini dan kau masih berani untuk menggoda gadis lain?”. Fantasia kembali hanya bisa berkata “Maaf”.
Sementara Rosalia hanya bisa diam sambil memberikan ekspresi seperti sedang kesusahan, Harkness maju dan Plak! Menampar Fantasia dengan sangat keras sambil berkata “Secantik itukah gadis itu hingga kau tidak bisa menahan nafsumu?!” sebelum akhirnya dia memberikan tamparan lainnya.
Sekali lagi, hanya kata “Maaf” yang bisa Fantasia ucapkan.
Kali ini adalah giliran Mars untuk memberikan isi pikirannya “Aku bisa menutup mata perihal kau yang mabuk-mabukan di tengah siang bolong. Tapi menggoda Pemain lain yang baru saja bermain? Bagaimana jika kau ternyata memberikan prasangka buruk terhadap game ini sehingga dia tidak lagi mau bermain? Apakah kau ingin tanggung jawab untuk uang yang telah dia habiskan untuk bisa memainkan game ini?”.
Walaupun Fantasia ingin mengatakan satu atau dua hal perihal dia yang kedapatan mabuk, tapi sekali lagi dia hanya bisa berkata “Maaf” karena tindakannya yang memang terkesan mengkhianati kelima temannya ini.
Yang terakhir adalah Ruru yang masih menatapnya dengan tatapan dingin.
Maju selangkah, Ruru memegangi wajah Fantasia agar mata mereka saling bertemu. Mengharapkan Ruru untuk memukulnya seperti halnya Harkness yang menamparnya, apa yang Fantasia dapat malah “Kencan, akhir pekan,
Mall Nusantara” di bawah tatapan dingin Ruru, Fantasia hanya bisa mengangguk.
Dengan ini telah diputuskan kalau Fantasia akan mengajak mereka berlima untuk berkencan di Mall Nusantara yang adalah Mall terbesar yang ada di Kota mereka.
Puas, Angel kini mengatakan kegiatan apa yang akan mereka lakukan hari ini.
“Razor Bear?” tanya Fantasia yang baru pertama kali ini mendengar nama Mobs itu. “Itu benar!” ucap Angel dengan penuh percaya diri “Aku mencarinya di Wiki dan Forum. Katanya Mobs yang satu ini walau susah dihadapi tapi Exp yang diberikan sangat menggiurkan. Cukup kalahkan dua dan kau akan naik level seketika!”.
Mendengar ini, Fantasia yang perasaannya sedang buruk seketika langsung bersemangat seolah dia yang sebelumnya hanyalah bohong belaka.
“Akan tetapi!” ucap Rosalia dengan lantang “Sebagai hukuman akan apa yang telah kau perbuat, kau harus menemani kami leveling sampai setidaknya kita semua mencapai total level 10. Tentu saja semua item penyembuhan seperti Potion kau yang bayar”.
Menyetujui persyaratan dari Rosalia, Fantasia pun berjanji untuk menemani mereka sampai total level mereka mencapai level 10.
Dengan suasana penuh semangat, mereka pun berangkat menuju tempat dimana Razor Bear biasa ditemukan.
...
Tidak lama setelah dirinya mendaftarkan diri di Guild Petualang, Chic yang untuk pertama kalinya dikejar-kejar oleh para pujangga yang hendak bertukar pertemanan dengannya terpaksa harus mengerahkan semua Skillnya hanya untuk bisa bersembunyi dari para pengejar yang keras kepala.
Setelah setengah jam lamanya, barulah para pengejar itu menyerah dan kembali ke kegiatan masing-masing. “Seharusnya aku menutup wajahku...” keluar dari persembunyiannya, Chic pun kembali melanjutkan perjalanannya berdasarkan pesan yang Winter kirimkan kepadanya.
“Disini yah” melihat sebuah rumah dua lantai yang tampak rapi bersih di hadapannya, Chic melihat ke kanan dan ke kiri mengamati jalanan yang kosong melompong tanpa ada tanda kehidupan sebelum akhirnya mengetuk pintu rumah.
Tok... Tok... Tok... Membukakan pintu adalah Winter yang hanya mengenakan Jubah biasa “Kau lama juga, ada apa?” menunjukkan wajah yang kusam, Chic pun menjawab “Ini semua karena Skill Passive ku” yang seketika langsung membuat Winter tersenyum lebar “Cuit... Cuit... Ada orang yang populer yah...”.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam, terlihat kalau semua perabotan rumah tersusun dengan rapi terkecuali beberapa botol kosong yang berserakan di atas meja. Mengecualikan botol-botol itu, dari keadaannya dapat terlihat
kalau rumah ini sebelumnya memiliki seorang penghuni. Namun, sejak tadi Chic tidak bisa merasakan keberadaan oranglain selain dirinya dan Winter.
“Ini rumah kosong atau memang ada pemiliknya?”
“Dulunya ada nenek-nenek yang menghuni rumah ini. Hanya saja dia sekarang pasti sudah menjadi abu di bawah selokan jadi aman mengatakan kalau rumah ini sudah kosong” jawab Winter santai seakan memang begitulah seharusnya.
Tidak mau menggali lebih jauh lagi, Chic yang kelelahan hanya berbaring di sofa panjang yang sudah tidak lagi empuk.
Menyaksikan Winter yang sedari tadi mengutak-atik perabotan yang ada di rumah seolah dia tidak punya pekerjaan lain, Chic pun bertanya “Kemana Victor?” yang di jawab oleh Winter yang sedang asyik bermain dengan sebuah boneka lusuh “Mencari informasi, tapi sebentar lagi dia juga pasti kembali”.
Panjang umur, baru juga disebut Victor sudah kembali dan langsung duduk di sofa kecil yang ada di dekat Chic. “Selamat kembali!” ucap Winter yang dibalas Victor dengan sebuah anggukan.
Setelah beberapa saat, Winter pun ikut duduk bersama mereka sambil memeluk sebuah boneka beruang lusuh yang berbeda dari yang dia mainkan sebelumnya.
Dengan Chic yang berganti menjadi posisi duduk, Victor pun mulai memberitahukan semua penemuannya.
Yang pertama kali Victor sebutkan adalah progres para Pemain dari Fraksi cahaya yang terbilang stagnan tanpa ada kemajuan yang berarti. Semua orang sedang berfokus untuk mengetahui Build macam apa yang paling ampuh serta daerah mana yang cocok untuk leveling.
Mendengar ini, Winter pun berkomentar “Ehh... Mereka itu damai juga yah” yang langsung disetujui oleh Chic dengan cara mengangguk. Melanjutkan penjelasannya, kali ini Victor memberitahukan beberapa fasilitas penting yang ada di kota ini yang membuat Winter yang sedari tadi bermain boneka masuk ke dalam mode serius.
Sejam lebih bercerita, Victor akhirnya selesai menyebutkan informasi-informasi penting yang berhasil dia dapatkan dan beralih kepada informasi yang kurang berguna untuk rencana mereka tapi masih cukup penting untuk disebutkan.
“Oh, jadi setelah mengalahkan Mobs Langka ini kau pasti akan mendapatkan Equipment?” tanya Winter dengan penuh antusias yang langsung dikonfirmasi oleh Victor “Aku sendiri juga baru tahu. Tapi karena sudah ada tiga orang yang mendapakan Equipment dari Mobs ini, aku jadi yakin kalau informasi ini benar adanya”.
“Jadi seperti apa rupa Mobs Langka ini?” tanya Chic yang juga ikut penasaran.
“Banyak” jawab Victor yang mulai menyebutkan Mobs Langka apa saja yang pernah ditemukan “Serigala putih, White Wolf Leader. Elang emas, Golden Hawk. Lalu yang belum ada yang berhasil mengalahkannya, Sword Bear.
Walau mereka berhasil dikalahkan, yang baru pasti akan muncul lagi setelah beberapa waktu berlalu. Akan tetapi karena susah untuk menemukan keberadaan mereka, membuat para Pemain dengan level tinggi di kota ini fokus untuk memburu mereka walau harus menginap di hutan selama berhari-hari”.
Puas mendengarkan penjelasan dari Victor, Winter pun berdiri sambil melemparkan boneka beruang yang sedari tadi dia mainkan entah kemana lalu menepuk tangannya untuk menarik perhatian mereka berdua.
“Baiklah, berhubung target kita levelnya masih lebih tinggi dari kita, bagaimana kalau kita berdiam dulu di sini dan leveling sampai perbedaan total level kita tidak terlampau jauh darinya?” mendapatkan persetujuan dari kedua rekannya, Winter pun melanjutkan “Job Victor adalah Warrior, Chic adalah Scout, dan aku adalah Summoner. Tapi... Karena Makhluk Summonku yang ada semuanya adalah Undead, aku jadi pengen punya Mobs normal
untuk Makhluk Summonku yang baru!”.
Mengangkat tinggi tangan kanannya tinggi ke udara, Winter pun berseru “Mari kita buru semua Mobs langka yang ada dan jadikan mereka sebagai Summonku yang baru!!!”.
Melihat Winter yang penuh dengan semangat, Victor pun berbisik pada Chic “Apakah dia selalu seperti ini?” yang langsung di jawab “Kalau lagi mabuk, iya”.
Tidak mengindahkan kedua rekannya yang saling bisik, Winter sudah menetapkan tujuannya.