A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 35 : Main Quest (4)



Sword of Justice.


Sebuah Skill yang tidak bisa di dapatkan dari Job apapun. Sebuah Skill yang tidak terikat oleh Job dan siapapun dapat menggunakannya bahkan ketika mereka tidak memiliki kemampuan berpedang sekalipun.


Asalkan seseorang membawa sebuah item yang mengandung Skill ini, maka mereka bisa mengaktifkan Skill ini kapan saja yang mereka mau.


Dalam kasus Kapten Gladius, Skill “Sword of Justice” berdiam di dalam Insignia miliknya.


[Sword of Justice]


MP : All CD : 1 hari


Grade : Tier-5Art


Stats : STR


Element : Light, Sharp Attack, Magic Attack


Art Effect : Membakar seluruh MP pengguna untuk menciptakan sebuah pedang cahaya yang mensucikan segala kebatilan.


Effective Range : 10 meter


Damage : STR + (MP%)


Dengan total MP yang dia bakar adalah 230 MP membuat nilai kerusakan yang akan dihasilkan menjadi (STR + 230%) yang mana ini membuktikan seberapa berbahaya Skill ini jika berada di tangan seseorang yang memiliki banyak MP.


Untungnya Kapten Gladius yang murni seorang penyerang fisik hanya memiliki sedikit total MP.


Akan tetapi, 230 MP yang dia bakar untuk Skill ini sudah lebih dari cukup untuk membuat Winter berkeringat dingin.


Menyaksikan Kapten Gladius yang berlari ke arahnya dengan niatan membunuh, tentu Winter tidak akan diam saja menunggu ajal menjemput.


Whooosh... sebuah anak panah melesat dengan Kapten Gladius sebagai targetnya.


Sayang, anak panah mungil itu tidak ada gunanya jika disuruh untuk berhadapan dengan “Sword of Justice”. Hanya dengan satu ayunan ringan saja, anak panah itu sudah hancur berkeping-keping tanpa ada satupun debu yang tersisa.


Tahu benar kalau tembakan dari Crossbow Robert tidak akan memberikan satupun nilai kerusakan, Winter tetap memerintahkan Robert yang sedari tadi bersembunyi di balik gelapnya malam untuk terus menembaki Kapten Gladius yang sedari tadi menolak untuk menghentikan langkahnya.


Sementara itu, Kapten Gladius yang masih berlari ke arah Winter memperhatikan dari mana anak panah itu berasal sembari terus mengayunkan pedangnya untuk menangkis anak panah yang datang kepadanya.


Jarak antara Winter dengan Kapten Gladius dengan Winter kian mendekat.


Berusaha untuk menjaga jarak sejauh sebisa mungkin, Winter juga ikut menembakkan “Negative Energy” yang tentu saja langsung menghilang ketika bersentuhan dengan pedang milik Kapten Gladius. Bahkan efek Efek buruk yang dimiliki oleh “Negative Energy” juga ikut sirna ketika menyentuh cahaya yang dipancarkan oleh “Sword of


Justice”.


Ketika jarak antara mereka berdua sudah kurang dari 10 meter, Kapten Gladius akhirnya melancarkan serangan balasan pertamanya.


“Ha!” mengayunkan pedangnya secara vertikal, sosoknya yang mengayun ke arah udara kosong tentu tampak konyol di mata.


Akan tetapi, apa yang terjadi selanjutnya membuktikan sebaliknya.


Keluar dari ayunan pedang Kapten Gladius adalah sebuah cahaya murni berbentuk seperti bulan sabit yang melesat dengan cepat ke arah Winter yang berada 10 meter jauhnya.


“Tch, Negative Barrier!” menggunakan Skill yang dia dapatkan ketika Job Necromancer mencapai level 4, Winter menciptakan sebuah perisai yang sepenuhnya terbuat dari Miasma yang dipadatkan.


[Negative Barrier]


MP : 20 CD : 5 detik


Grade : Tier-2 Spells


Stats : INT (Durability) MND (Size)


Element : Dark


Spells Effect : Menciptakan sebuah pelindung energi negatif yang melindungi pengguna dari serangan fisik maupun magis.


Effective Range : 5 meter.


Durability : INT + MND + 100%


Weakness : Light


Tebasan cahaya dari Kapten Gladius, yang walau hanya memiliki nilai setengah dari total kerusakan yang seharusnya bisa di dapat dari “Sword of Justice” tetap mampu menghasilkan total kerusakan sebanyak 635 kerusakan.


Ketika berhadapan dengan sebuah perisai yang terbuat dari element kegelapan, nilai kerusakan yang dihasilkan akhirnya kembali ke nilainya yang semula yaitu 1.270 kerusakan.


“Negative Barrier” yang Winter keluarkan hanya mampu menahan sebanyak total 832 kerusakan.


Akibatnya, perisai Winter seketika pecah ketika tebasan cahaya itu menyentuhnya. Melewati perisai yang sudah tiada, tebasan cahaya itu mengenai Winter.


Walau berhasil di redam, tetap saja itu adalah 303 kerusakan yang Winter terima yang mana itu langsung membawanya ke posisi sekarat dengan hanya 42 HP nya saja yang tersisa.


Untung saja itu bukanlah sebuah serangan fatal atau kritikal karena itu jelas akan merenggut semua HP yang Winter miliki.


“Akh!” menahan rasa sakit yang menerpa dirinya, Winter yang terluka tidak lagi mampu untuk menahan laju Kapten Gladius dan dia sekarang sudah sampai tepat di hadapannya.


Mengangkat pedangnya tinggi di udara, Kapten Gladius meneriakkan “Sudah berakhir!” sembari mengayunkan pedangnya ke bawah bagaikan seorang algojo yang hendak menghukum seorang kriminal.


Ketika “Sword of Justice” sudah berada tepat di atas kepalanya, bukannya rasa takut atau putus asa yang Winter rasakan. Melainkan sebuah seringai nakal malah mekar di wajah cantiknya.


“?!”


Seketika sebuah kepala terguling di atas tanah.


Dengan darah segar mengalir dari leher yang baru saja terpotong, sepasang mata di kepala itu melotot tajam pada sosok yang baru saja menebas dirinya.


Berdiri di sana adalah Winter yang masih memiliki luka tebasan di dadanya.


Tepat di atas kepalanya adalah “Sword of Justice” yang masih memancarkan cahaya yang menerangi malam. Dalam posisi masih mengayunkan pedangnya, tubuh Kapten Gladius yang sudah tidak memiliki kepala berdiri diam di sana.


Yang mencegah “Sword of Justice” untuk menggapai targetnya adalah dua orang.


Orang pertama adalah seorang pria yang mengenakan sebuah pakaian dengan aksen darah yang sangat kental. Mengenakan sebuah topeng kayu yang terlihat polos, namun topeng polosnya itu semakin memperbesar aura intimidasi yang dia pancarkan.


Meski samar, tapi terlihat ada efek cahaya kelap-kelip yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


Membawa dua pedang di tangannya, kedua pedangnya itu menembus jantung dan perut tubuh Kapten Gladius yang membuatnya mustahil untuk maju selangkah lebih jauh lagi.


Orang kedua adalah seorang gadis yang mengenakan sebuah pakaian ketat yang sangat menonjolkan lekuk tubuhnya yang menggoda. Mengenakan sebuah tudung yang tampak seperti kain usang, terlihat dia dalam posisi habis melakukan sebuah tebasan yang terbukti dari pedang pendeknya yang masih basah oleh darah.


Mempelototi sosok gadis itu dengan pandangan tajam hingga terasa menusuk, cahaya akhirnya menghilang dari mata Kapten Gladius yang kini hanya tinggal kepalanya saja.


...


“Kerja bagus!” sambil meminum \ untuk memulihkan 150 HP nya, Winter memuji Chic dan Victor seolah-olah dia adalah seorang atasan yang sedang memuji bawahannya.


Karena peran ini sudah disetujui sebelumnya, tidak ada dari mereka yang protes akan hal ini.


Mencabut kedua pedangnya dari tubuh Kapten Gladius yang sudah tidak bernyawa, Victor memandang lurus ke arah para Pemain yang masih terisisa “Apa yang harus kita lakukan terhadap mereka?” tanyanya.


“Hmm...” berpikir sejenak, Winter yang melihat kalau jumlah Pemain yang tersisa itu kurang dari 10 orang akhirnya memutuskan untuk membereskan mereka semua tanpa sisa.


Ketika Victor setuju akan hal ini, Chic pun bertanya “Bagaimana dengan para Mobs itu?” melihat jumlah Mobs yang ada masih berlimpah, membuat Chic ragu untuk maju takut untuk berurusan dengan Mobs dan Pemain di saat yang bersamaan.


“Tenang saja” dengan nada yang santai Winter pun menggunakan “Negative Aura” kepada kedua rekannya “Tampaknya mereka takut kepada Miasma, jadi dengan ini kurasa tidak akan ada masalah”.


Walau ini sebenarnya tidak lebih dari tebakannya setelah melihat kalau bukannya menyerang tapi para Mobs itu malah takut kepadanya, membuat Winter beranggapan kalau alasan kenapa para Mobs itu menolak untuk mendekatinya adalah karena Skill “Negative Aura” yang melekat padanya.


Masih ragu akan perkataan Winter, Chic tetap maju sambil mengaktifkan “Cover Action” untuk menyembunyikan keberadaannya.


Dengan penampilannya yang sudah mengintimidasi, di tambah dengan efek asap hitam yang kini mengepul dari tubuhnya membuat setiap Pemain yang melihatnya menjadi bergidik ketakutan.



Grade : Uncommon     Quality : Normal     Type : Outfit


DEF : 50 M.DEF : 50 Durability : 50


Satu set pakaian berdarah yang memberikan teror kepada setiap orang yang melihatnya.


Dilengkapi dengan Skill [Terror] yang membuat orang yang (5) level lebih rendah dari pengguna terkena efek buruk ‘Fear Lv. 3’ yang akan mengurangi Stats lawan sebanyak (20%) dan memperbesar kemungkinan lawan untuk gagal ketika hendak menggunakan Skill.


Requirement : Total Level 15


Total level Victor pada saat ini adalah 24 sementara total level Pemain yang tersisa tidak ada yang mendekati level 20.


Berkat itu, Efek dari \ menjadi aktif dan setiap Pemain yang ada terkena efek “Terror” yang membuat performa mereka menjadi menurun.


Melawan Mobs dengan stats mereka saja sudah terbukti menyusahkan. Apa yang terjadi jika stats mereka yang sudah kalah oleh Mobs malah menurun?


“Arrghh!!!”


“Sialan!!!”


“Kuh, Kabur! Quest sudah gagal! Selamatkan diri masing-masing kalau tidak mau setengah uang kalian hilang!”


Melihat kalau mangsanya mulai berusaha untuk kabur, Victor tentu tidak akan membiarkan mereka kabur begitu saja. Berlari kencang, Victor merasa lega karena dugaan Winter kalau para Mobs tidak suka dengan Miasma itu benar.


Melewati para Mobs begitu saja, Victor sudah sampai di hadapan mangsa pertamanya.


“Iiiekh!” mengeluarkan teriakan yang aneh, Pemain malang itu tidak bisa apa-apa ketika pedang Victor menebas dadanya.


Berkat efek dari Skill “Fratricide” dari Job Killer, membuat kerusakan yang di timbulkan ketika melawan sesama Manusia meningkat drastis menjadi 4 kali lipat!


Menggunakan Skill “Sharp Swing”, \ yang ada di tangan kanannya melewati dada Pemain malang itu dengan begitu mudahnya dan menghasilkan lebih dari 1.000 kerusakan yang mana itu langsung menebas seluruh HP yang Pemain itu miliki.


Selesai dengan mangsa pertamanya, Victor langsung lanjut menuju mangsa keduanya.


Dengan “Strong Trust” yang diaktifkan, pedang \ yang ada di tangan kirinya menembus seorang Pemain tepat di dadanya yang mana itu menghasilkan serangan kritikal yang bernilai 3.000 kerusakan yang selanjutnya berubah menjadi serangan fatal yang jelas merenggut semua HP yang Pemain itu miliki.


Ketika pedangnya di cabut, terlihat darah yang seharusnya mengalir kini membeku berkat efek yang dimiliki oleh .


Menyaksikan Victor dapat dengan mudahnya menghabisi dua Pemain begitu saja, membuat Pemain yang tersisa mengabaikan segalanya dan berlari untuk menyelamatkan diri.


Walau ada yang berhasil lari dengan selamat, tidak sedikit dari mereka yang sial karena harus berhadapan dengan Mobs sementara yang lainnya mendapati kepala mereka melayang begitu saja tanpa sadar kalau itu sebenarnya adalah ulah Chic yang setia berada di dalam bayang-bayang.


Sementara itu, mereka yang berhasil lari menjauh sebenarnya masih belum lolos dari bahaya.


Baru saja merasa lega, seorang Pemain yang berlari kabur sekuat tenaga dari pembantaian di belakangnnya harus rela ketika sebuah anak panah memancap di kakinya. Walau kerusakan yang dihasilkan tidak seberapa, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya terjatuh dan terguling-guling di atas tanah.


“Aaaa...” teriakan kesakitannya terdengar jelas di telinga para Mobs yang berada dekat dengannya.


Tidak lagi sanggup untuk kabur, Pemain malang itu harus rela menjadi santapan Mobs yang berusaha dia hindari.


Selesai menunaikan tugasnya, Robert yang masih bersembunyi tidak lagi menaruh perhatian kepada Pemain itu dan mulai mengincar Pemain lainnya.


Sementara kedua rekannya serta bawahannya sedang bersenang-senang, Winter yang sudah memanggil dua buah Skeleton sebagai pengawalnya kini menggerayangi tubuh tanpa kepala yang ada di hadapannya.


Melucuti semua Equipment yang ada, akhirnya Winter menemukan apa yang sedari tadi dia cari.


Di tangannya kini terdapat sebuah koin segi delapan yang terbuat dari perak murni dan simbol satu bilah pedang terukit di atasnya.


Sukses mendapatkan Insignia yang akan menjadi bukti keberhasilan Questnya, sebuah senyuman cerah pun merekah di wajah Winter yang sayang sekali karena tidak ada seorang pun yang melihatnya.


Berkat efek dari “Keen Eyes” membuat Winter dapat melihat aura warna-warni seperti pelangi yang menyelimuti Insignia tersebut. Sadar kalau ini artinya “Appraisal” itu mustahil, Winter hanya bisa menghela nafasnya sebelum akhirnya menyimpan Insignia tersebut di dalam penyimpanannya.


Merasa sayang kalau ditinggalkan begitu saja, Winter mengambil seluruh item dan Equipment yang Kapten Gladius miliki hingga tubuhnya kini benar-benar sudah telanjang bulat.


Iseng, Winter mencoba untuk menggunakan Raise Undead pada tubuh tersebut namun gagal. “Hm?!” mencoba sekali lagi, tentu saja Winter tetap gagal karena Kapten Gladius, meski level Kapten Glaidus hanya 2 level lebih tinggi darinya, terbukti masih cukup menantang bagi Winter yang sekarang. Menolak untuk kalah, Winter terus saja menggunakan “Raise Undead” sampai pada akhirnya tubuh tersebut akhirnya bisa bergerak kembali... Sebelum akhirnya berubah menjadi butiran debu dengan hanya menyisakan tulangnya saja.


“Kau bercanda?” heran sekaligus kesal akan kegagalan pertamanya dalam membangkitkan sebuah mayat menjadi Undead, Winter pun melampiaskannya kepada kepala Kapten Gladius yang masih tergeletak di atas tanah.


...


Dengan efek dari “Negative Aura” hanya bertahan selama 20 menit. Membuat Chic dan Victor harus bergegas menghabisi semua Pemain yang tersisa kalau tidak mau berhadapan dengan para Mobs yang sedari tadi menghindari mereka.


Untungnya Pemain yang tersisa sangatlah lemah sehingga tidak sampai 10 menit pekerjaan mereka sudah selesai. Memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik mungkin, mereka bekerja sama untuk mengumpulkan semua item dan Equipment yang dijatuhkan oleh para Pemain yang sudah mati.


Ketika semua sudah selesai, hanya tinggal 3 menit waktu yang tersisa.


Bergegas kembali kepada Winter, sungguh terkejut mereka berdua ketika melihat apa yang Winter sedang lakukan.


“Hm♪ Hm♪ Hm♪” sambil bersenandung riang Winter dengan tangan yang terampil menumpuk tulang-belulang hingga membentuk sebuah totem tulang dengan kepala Kapten Gladius sebagai hiasan terakhirnya.


Di lihat dari samping, sosok Winter yang mengenakan jubah dari kulit manusia sedang membangun sebuah totem dari tulang dan kepala manusia memang adalah sebuah pemandangan yang seram namun tidak terasa aneh.


Apalagi ketika Winter itu sendiri memang adalah seorang Necromancer yang selalu berurusan dengan mayat orang mati semakin membuat tidak ada yang mampu mempertanyakan pemandangan ini.


Mengangguk puas akan hasil karyanya, Winter baru menyadari kalau kawan-kawannya sudah menunggu di belakangnya.


“Oh, kalian sudah selesai?” dengan nada yang ringan Winter pun menengok keadaan desa yang kini telah porak-poranda dan dipenuhi oleh puluhan hingga ratusan Mobs tanpa terlihat adanya sosok Manusia di dalamnya “Kalau sudah selesai, bagaimana kalau sekarang kita pulang?”.


Sama-sama menganggukkan kepala mereka, Chic dan Victor pun mengikuti Winter tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


...


Kembali ke dunia nyata.


Di dalam sebuah kamar yang dipenuhi oleh boneka-boneka yang lucu dan juga imut. Terdapat sesosok gadis yang sedang meringkuk di balik selimut.


Rambut pirangnya tampak acak-acakan serta mata biru indahnya kini penuh dengan air mata.


Tangannya yang memegang sebuah ponsel gemetar hebat ketia dia membaca isi dari forum yang dia buka.


•         (NFO) The Newbie Warrior


B*ngs*t! Quest kita gagal!


•         (NFO) The Newbie Defender


Arrgh... Jika bukan karena ulah si Heartless Necromancer maka kita pasti sudah menang!


•         (NFO) The Newbie Swordsman


Huh, bahkan veteran seperti Iaido serta NPC tangguh seperti Kapten Gladius pun tidak mampu melawannya?


•         (NFO) The Newbie Archer


Siapa sangka kalau Heartless Necromancer punya kawan yang sedang bersembunyi! Jika bukan karena ulah mereka, maka Kapten Gladius pasti bisa menang!


Ketika air mata membasahi layar ponsel yang masih menyala, gadis itu, Maria. Semakin meringkuk di balik selimutnya.


“Kapten...”


Mengucapkan nama orang yang dia sayangi namun kini telah tiada, Maria melewati malamnya dalam kesedihan.