A Journey Of A Heartless Necromancer

A Journey Of A Heartless Necromancer
Chapter 31 : Show Off



Kembali ke Guild Petualang.


Party Fantasia yang baru saja kembali dari leveling mereka datang kemari untuk melaporkan keberhasilan Quest yang mereka ambil sekaligus menukarkan semua drop item yang mereka dapatkan demi mendapatkan bayaran.


Sukses naik ke total level 12. Mereka juga sudah membeli Equipment baru seperti pedang baru untuk Fantasia dan perisai baru untuk Mars karena perisai lamanya sudah tidak layak pakai lagi.


“Terima kasih atas kerja kerasnya!” menerima bayaran dari resepsionis, Angel menghitung dengan benar seluruh uang yang mereka dapatkan sebelum memberikannya kepada Harkness yang ditugaskan untuk membawa seluruh uang mereka.


Melihat semua uang yang dia miliki, Harkness bergumam “Andai saja ada tempat aman untuk menyimpan semua uang ini” menghela nafas yang berat, Harkness benar-benar khawatir untuk kehilangan semua hasil kerja keras


mereka semua.


 “Mau bagaimana lagi, game ini tidak punya sistem Bank atau Basecamp agar kita bisa menyimpan semua uang dan item berharga yang Pemain miliki” sahut Rosalia yang berdiri di samping Harkness.


Angel yang mendengarkan perbincangan ini juga mengangguk setuju dengan Rosalia.


Masalah penyimpanan seperti ini sudah menjadi diskusi hangat antara para Pemain. Terutama para Pemain dengan level tinggi yang menyimpan banyak uang serta item berharga lainnya jadi takut untuk mati karena penaltinya adalah kehilangan setengah dari total uang yang mereka miliki serta ada kesempatan bagi Equipment milik mereka untuk jatuh yang jika itu adalah Equipment tingkat tinggi maka itu adalah kehilangan besar bagi mereka.


“Hei! Bagaimana kalau kita membeli Job baru?” entah dia mendengarkan perbincangan mereka atau tidak, Ruru yang sedari tadi menempel pada Fantasia tiba-tiba saja menyarankan hal itu.


“Kurasa memang sudah saatnya yah...” sahut Mars yang melihat statusnya.


Dua Job. Dua-duanya berada pada level 5 yang membuatnya menjadi 10 Job level. Di tambah dengan level Ras mereka yang berada pada level 2, membuat total level mereka menjadi 12.


Total maksimum level yang Pemain capai saat ini adalah level 110.


10 untuk total level Ras. Dan 100 untuk total Job Level.


Setiap Job memiliki total level maksimum yaitu 10 sebelum akhirnya bisa membuka akses ke Job yang lebih tinggi.


Jika Pemain hanya mengambil Job tingkat pertama, maka mereka bisa mengambil total 10 Job. Jika mereka mengambil Job sampai ke tingkat kedua, maka total 5 Job bisa mereka ambil. Jika mereka mengambil Job sampai


tingkat ketiga, maka hanya 3 Job yang mampu mereka ambil yang bisa mencapai tingkat ketiga sementara Job terakhir harus rela masih berada di tingkat pertama.


Itu atau mereka bisa menaikkan 2 Job sampai ke tingkat ketiga sementara 2 lainnya hanya berada di tingkat kedua atau Pemain juga bisa mengambil 4 Job yang semuanya berada di tingkat pertama.


Ada banyak kombinasi Job lainnya yang bisa di ambil sehingga membuat kemungkinannya menjadi tidak terbatas. Tapi intinya jumlah Job yang mampu Pemain ambil itu terbatas sehingga mereka harus memikirkannya secara matang.


Karena itulah Party Fantasia harus memikirkan hal ini secara serius karena selain ini mempengaruhi permainan mereka, harga sebuah Job tidaklah murah sehingga mereka yang punya dana terbatas harus benar-benar memikirkannya.


“Hmm...” sementara Angel berpikir keras, anggota Party yang lain setuju akan usulan dari Ruru.


Terutama Fantasia.


Dia yang ingin menjadi kuat agar tidak lagi menjadi beban bagi kawan-kawannya sangat menyambut dengan baik usulan dari Ruru.


“Apakah kita punya uang yang cukup?” perkataan Angel cukup untuk menjadi air dingin bagi seluruh Party.


Sekali lagi, harga Job tidaklah murah.


Melihat jumlah uang yang mereka simpan, total 30.000 G mereka miliki.


“Apakah ini cukup?” tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu.


Mereka yang tidak pernah singgah ke toko Job sebelumnya tidak tahu berapa harga dari sebuah Job.


Setelah diskusi singkat, mereka akhirnya setuju untuk pergi ke toko Job terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan apakah mereka harus beli atau tidak.


Baru juga mereka sepakat untuk pergi, rencana mereka tertunda oleh sosok yang baru saja datang.


Berjalan melewati pintu masuk Guild adalah seorang gadis cantik yang mengenakan Equipment khas Job Cleric yang serba putih dari atas hingga bawah. Equipment tersebut terlihat sangat luar biasa bahkan mereka yang bukan seorang Appraiser sekalipun bisa dengan mudah tahu kalau seluruh Equipment yang orang itu kenakan bukanlah


Equipment sembarangan.


Dengan rambut putih panjang membuatnya senada dengan Equipment yang dia kenakan. Sementara sepasang mata merahnya terlihat kontras dengan Equipment miliknya yang memberikan kesan suci.


Membawa sebuah Staff besar di tangannya, dia berjalan sambil memasang muka sombong menuju meja  resepsionis.


Tentu saja kedatangannya ini mengejutkan seluruh Petualang yang ada.


“Hei, di belakangnya!”


Belum selesai mereka terkejut akan penampilan gadis itu yang tiba-tiba, keterkejutan mereka bertambah ketika mendapati sesosok Serigala besar berbulu putih yang berjalan tepat di sampingnya.


Jika bukan karena bandana hitam yang melingkar di lehernya. Mereka pasti akan mengira kalau Serigala itu adalah Mobs liar yang datang menyerang.


Berjalan dengan penuh percaya diri, para Petualang lainnya yang berada di hadapannya segera menyingkir untuk memberikan jalan kepadanya.


Itu mereka lakukan selain karena aura ‘Orang kuat’ yang gadis itu pancarkan, tapi juga karena mereka takut akan serigala besar yang berjalan di sampingnya.


Party Fantasia juga ikut menyingkir untuk memberikan jalan.


Sementara yang lain sedang dibuat kagum oleh gadis itu, Angel sendiri terus menatapnya sambil merasa kalau ini bukanlah pertama kalinya mereka bertemu namun dia tidak ingat di mana.


Hal itu bertambah kuat dengan bisikan para Petualang lainnya yang sampai di telinganya.


“Buset itu Equipment! Dapat dari mana?”


“Aku punya Job Appraiser. Aku bisa melihat kalau seluruh Equipment itu memancarkan cahaya perak! Itu artinya Equipment itu memiliki tingkat Super Rare!”


“Serius!? Super Rare?!”


“Di toko yang paling tinggi cuman Rare kan?”


“Hei! Bukannya itu serigala yang tadi pagi?!”


“Yang mana?”


“Itu loh, yang tadi pagi berjalan dengan seorang Summoner menggunakan tudung kepala beruang!”


“Itu adalah Mobs Langka White Wolf Leader! Setahuku hanya ada satu Pemain yang berhasil menjinakkannya!”


Mendengarkan perbincangan antar Pemain, Angel pun mulai menyatukan semua kepingan yang ada.


“Mobs Langka... Summoner... Tudung kepala beruang...!”


Angel akhirnya mengingatnya!


Beberapa hari yang lalu, di dalam hutan dia dan kawan-kawannya pernah bertemu dengan seorang Pemain yang mengenakan Equipment dengan tudung kepala beruang yang mampu menjinakkan seekor Mobs Langka bernama


Sword Bear yang katanya tidak pernah dikalahkan sebelumnya.


Angel ingat benar kalau Pemain itu juga memiliki rambut putih yang sama dengan Pemain yang ada di hadapannya sekarang.


Mengingat kembali, dia adalah anggota Party dari gadis penggoda bernama Chic yang tidak akan pernah dia maafkan karena berani mencuri perhatian Fantasia.


Mencoba menggali lebih dalam lagi, Angel juga ingat kalau Chic pernah meneriakkan nama Pemain itu...


“Winter?”


Tanpa sengaja mengucapkannya, suaranya yang pelan namun jelas bergema ke seluruh aula Guild Petualang.


Sontak hal ini membuat ruangan yang awalnya bising kini menjadi senyap seketika.


Baru sadar akan ulahnya, semua sudah terlambat.


Mendengar namanya di panggil, Winter menoleh ke arah Angel dan kawan-kawannya.


Bertingkah imut dengan memiringkan kepalanya. Mata merah Winter menatap tajam pada sosok Angel sebelum akhirnya menyisir ke anggota Partynya yang lain.


Matanya menatap kepada Harkness, Rosalia, Mars, sebelum akhirnya sampai kepada Ruru yang memeluk erat tangan Fantasia yang memasang muka bingung.


“Ah!” menepuk tangannya. Winter akhirnya ingat kalau dia pernah bertemu dengan mereka. “Party si Playboy!” teriaknya dengan keras dan jelas seolah dia bangga akan kemampuan mengingatnya.


Sontak perkataan Winter mengguncang seluruh orang di dalam Guild Petualang.


Seketika kini seluruh pandangan tertuju kepada Party Fantasia.


Sama seperti Winter, mereka semua menatap satu-persatu gadis yang mengerumuni Fantasia sebelum akhirnya pandangan mereka tiba pada Fantasia sendiri.


Tentu saja sudah banyak dari mereka yang menyadari akan Party Harem yang dimiliki Fantasia. Tapi mereka semua berusaha untuk tidak memedulikannya sampai mereka mendengar apa yang Winter katakan selanjutnya.


“Jika kau ingin mencari Chic dia sedang Log Out. Ah, tentu saja bahkan setelah dia Log In sekalipun aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya tidak peduli berapa banyak uang yang kau tawarkan!”


Mudah membayangkan bagaimana reaksi semua orang ketika mendengar ini.


“Tch, tuh anak memang benar-benar seorang bajingan!”


“Itu orang anak sultan minyak atau apa sih!”


“Nih bocah! Cewek itu dikasih cinta! Bukan duit!”


“Astaga... anak orang di sangka cewek bayaran kah?!”


Dengan seluruh perhatian tertuju padanya, Fantasia yang tidak tahu harus bagaimana jadi membeku tidak bisa bergerak.


Meski sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia mendapatkan pandangan iri dan dengki dari banyak orang. Tapi setiap kali itu terjadi, entah karena orang-orang yang memandanginya berada pada jarak yang cukup jauh sehingga dia tidak menyadarinya atau itu karena Ruru dan yang lain selalu berada di sekitarnya sehingga perhatiannya teralihkan.


Namun, kini, walau kawan-kawannya berada dekat dengannya. Tapi semua perasaan iri dan dengki itu berada sangat dejkat dengannya sehingga tidak peduli seberapa bebal dirinya dia pasti akan menyadari arti dari pandangan yang diarahkan kepadanya.


Sementara Fantasia sedang diam membeku, Ruru dan Harkness dengan sigap menariknya berusaha untuk mengeluarkannya dari Guild Petualang. Sementara Mars dan Rosalia berusaha untuk membukakan jalan, Angel


menengok ke belakang dan mendapati sosok Winter sudah berada tepat di depan meja resepsionis.


Sadar benar kalau sejak awal ini adalah niatan Winter yang sebenarnya. Angel bersumpah akan mengingat ini sebelum akhirnya pergi menyusul kawan-kawannya.


...


“Ada total tiga lantai... Lantai pertama adalah Zombie, lantai kedua penuh dengan jebakan dan Skeleton, sedangkan lantai ketiga penuh akan Ghost...”


Melaporkan hasil penyelidikannya kepada petugas Guild Petualang, laporan yang Winter berikan hanya berupa garis besarnya saja tanpa memberikan detil yang akurat.


Misalnya saja Mimic yang dia temui di lantai ketiga.


Itu sengaja tidak dia laporkan karena dia ingin agar para Pemain dari fraksi cahaya merasakan penderitaan yang dulu dia rasakan secara langsung.


Malahan dia sampai menunjukkan \ kepada pegawai Guild dan menyebutkan kalau dia menemukannya di dalam Treasure Chest emas yang berada di tengah ruangan kosong.


Menggunakan ‘Appraisal’ Pegawai Guild memeriksa Staff yang Winter tunjukkan dan dibuat takjub karenanya.


Dan setelah memeriksa apa yang Winter kenakan, dia menjadi semakin bersemangat karena menganggap kalau semua Equipment yang bisa di dapatkan di dalam Dungeon itu memiliki kualitas dan performa yang tinggi.


Tentu saja dia langsung mencatat ini dan oh, sayang sekali dia melewatkan seringai nakal di wajah Winter seraya pegawai Guild itu menorehkan tintanya ke dalam secarik kertas.


Winter juga tidak memberitahukan secara detil akan kekuatan dari Boss Dungeon. Dia hanya memberitahukan penampilannya saja tidak lebih.


Semua hal itu dia lakukan karena bagaimanapun dia adalah Pemain dari fraksi bayangan.


Memberikan informasi secara akurat kepada Pemain dari fraksi cahaya adalah hal yang tabu bagi dirinya. Selama dia bisa melakukannya, Winter tanpa segan akan memberikan informasi yang salah agar mereka bisa mendapatkan penderitaan secara maksimal.


“Terima kasih atas kerja kerasnya” ucap pegawai Guild dengan senyuman lebar di wajahnya “Dengan ini Quest anda telah dinyatakan selesai, silakan terima hadiahnya” menyerahkan total uang sebanyak 30.000 G yang adalah tiga kali lebih besar dari hadiah awalnya.


Jika saja Winter hanya melaporkan adanya Dungeon di Virtue City Graveyard maka hadiah yang akan dia dapatkan akan tetap sebanyak 10.000 G. Akan tetapi, bukan hanya dia memasuki Dungeon tersebut, Winter sukses


menaklukannya dan bahkan memberikan informasi yang berharga kepada pihak Guild Petualang.


Dengan ini wajar saja jika hadiah yang dia dapatkan menjadi bertambah.


“Terima kasih!” menerima seluruh uang itu dengan senyuman yang tidak kalah lebarnya, Winter pun segera pamit undur diri.


Baru saja Winter hendak meminta Blizzard untuk membantu membukakan jalan melewati lautan manusia yang sedari tadi menguping pembicaraannya. Langkahnya terhenti oleh sosok pegawai Guild yang bertubuh kekar berdiri tepat di hadapannya.


Mengenali wajah pegawai Guild itu sebagai orang yang memaksanya menerima Quest ini, memasang senyuman ramah Winter pun bertanya “Ada perlu apa yah?”.


Tidak memedulikan Winter yang berusaha bersikap imut, pegawai Guild itu hanya berkata singkat.


“Serahkan pelatmu itu, mulai sekarang kau adalah Petualang tingkat Silver”


“Oh!” seolah baru mengingatnya. Tampaknya kunjungan Winter di Guild Petualang masih belum berakhir.


...


Berjalan-jalan di pasar yang remang-remang adalah Victor yang telah kembali ke kota Shoddy.


Mengenakan set Equipment yang membuatnya terlihat seperti Petualang pemula serta topeng kayu menyeramkan di wajahnya. Menyisir pasar gelap, Victor berusaha untuk mencari item yang di pinta oleh Winter.


Dengan santai dia berjalan di antara deretan kios yang menjual berbagai macam item yang penampilannya membuatnya patut untuk dipertanyakan.


Setelah berjalan cukup jauh, Victor akhirnya sampai di sebuah toko bobrok yang sekilas lebih terlihat seperti gudang terbengkalai ketimbang sebuah toko yang masih berfungsi.


Menengok kembali pada secarik kertas di tangannya. Memang benar ini adalah tempatnya.


Meletakkan tangannya ke gagang pintu, suara deritan kayu terdengar jelas yang membuat Victor mengurangi kekuatannya takut kalau dia akan merusak pintu dan di suruh untuk ganti rugi.


Ketika pintu akhirnya terbuka, dapat terlihat deretan rak-rak yang terisi penuh oleh barang-barang dagangan yang tidak jelas apa fungsinya.


Menengok ke sana-sini, Victor menemukan sosok nenek-nenek sedang termenung di balik meja kasir dengan kedua matanya yang tertutup.


Tanpa menghiraukan nenek tua itu, Victor menyibukkan dirinya dengan melihat-lihat rak dagangan berusaha untuk mencari item yang dia butuhkan.


Karena dia tidak memiliki Job Appraiser, membuatnya tidak mampu untuk melihat deskripsi dari item-item tersebut.


Untungnya selalu ada penjelasan yang tertera di samping produk yang membuatnya tahu apa fungsi dari item yang di pajang.


Setelah cukup lama mencari, Victor akhirnya menemukan item pertama yang dia cari. Tidak lama kemudian dia akhirnya menemukan item kedua yang dia butuhkan.


Akan tetapi, tidak peduli kemana dia mencari. Victor tidak bisa menemukan item ketiga yang juga adalah item yang paling Winter inginkan.


“Apakah ada yang bisa aku bantu...?”


Tanpa Victor sadari kini terdapat seekor hamster putih yang mengenakan seragam berwarna hijau sedang berdiri di atas rak dan berbicara kepadanya.


Masuk ke dalam mode waspada, Victor bertanya “Kau siapa?”.


“Maaf jika diri ini mengejutkan pelanggan yang terhormat...” menggunakan tata krama bagaikan seorang Bangsawan manusia, hamster itu pun memperkenalkan dirinya “...diriku adalah seorang pemandu yang


ditugaskan untuk membantu para pelanggan yang mengunjungi toko kecil ini”.


Menengok kembali ke balik meja kasir, Victor menemukan kalau nenek tua itu masih berada di sana. Mengira kalau hamster yang ada di hadapannya adalah seekor Makhluk Summon atau semacamnya, pikirannya pun menjadi sedikit lebih tenang.


Sadar kalau hamster itu muncul untuk membantunya, Victor pun tidak akan sungkan.


“Aku membutuhkan sebuah Spells Scroll dengan element api”


Spells Scroll.


Itu adalah sebuah item berupa gulungan perkamen yang mampu menyimpan sihir di dalamnya.


Item ini sangat berguna bagi mereka yang tidak memiliki Job yang berkaitan dengan sihir namun masih ingin menembakkan sihir.


Meski memang terdengar kuat, tapi ada batasannya.


Spells Scroll akan langsung menghilang setelah habis di gunakan. Itu membuat penggunannya harus pintar dalam memutuskan kapan dan di mana item ini harus digunakan.


“Spells Scroll, kan?” menggumamkan itu, si hamster lalu menjentikkan jari kecilnya dan seketika seluruh ruangan toko pun berubah.


Apa yang dulunya adalah interior toko yang bobrok dan dipenuhi oleh rak-rak yang berisikan barang-barang aneh. Kini digantikan oleh interior seperti toko buku yang dipenuhi oleh rak-rak yang berisikan gulungan-gulungan warna-warni.


Takjub sekaligus heran akan apa yang baru saja terjadi. Victor lalu mendapati kalau hamster itu menunjuk ke arah belakangnya.


“Item yang pelanggan cari bisa ditemukan di sana”


Menengok ke belakang, benar saja terdapat sebuah rak yang di cat merah dan di dalamnya terpajang ratusan Spells Scroll yang di kumpulkan sesuai kategori mereka masing-masing.


“Fire Strom” “Flame Pillar” “Firebolt” membaca judul itu secara satu-persatu. Barulah Victor sadar kalau itu adalah nama dari sihir yang tersimpan di dalam gulungan-gulungan itu.


Melihat-lihat sebentar. Tidak butuh waktu lama bagi Victor untuk menemukan apa yang dia cari.


“Ugh” sayang, harga yang tertera di sana membuatnya tertegun.


50.000 G hanya untuk satu Spells Scroll sekali pakai.


Itu adalah sebuah harga yang sudah lebih dari cukup untuk membeli Equipment atau Job baru.


Dengan cepat Victor pun mengirimkan pesan kepada Winter yang seketika langsung di jawab “Beli!”.


Mendapatkan persetujuan dari Winter. Victor pun tanpa ragu lagi meraih Spells Scroll tersebut.Lagipula uang yang dia gunakan adalah uang patungan dari mereka bertiga jadi beban di kantongnya jauh lebih ringan.


Apalagi mengingat mereka bertiga termasuk ke dalam deretan Pemain dengan penghasilan tertinggi di seluruh server. Meski dia tidak tahu peringkat yang sebenarnya, tapi Victor sangat yakin akan hal ini.


Bersama dengan dua item lainnya, dia pun membawanya ke meja kasir untuk melakukan pembayaran.


“Terima kasih atas kunjungannya!”


Mendapatkan salam dari si hamster, Victor segera berjalan keluar dari toko.


Tanpa menoleh ke belakang, Victor pun mempercepat langkahnya hingga sosoknya menghilang di antara kerumunan orang-orang.